Di Hari Lansia, Sudahkah Kita Membahagiakan Keluarga?


Penulis: Najmah Saiidah


MuslimahNews.com, KELUARGA Tidak banyak yang tahu jika 29 Mei 2021 kemarin adalah Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN). Tema yang dipilih untuk memperingati HLUN adalah “Lansia Bahagia Bersama Keluarga”.

Berdasarkan hasil survei Universitas Indonesia, para lanjut usia (lansia) di Indonesia merasa lebih bahagia saat tinggal bersama keluarga dibandingkan mendapat perawatan dari caregiver.

“Ketika disurvei, karena mereka membutuhkan perawatan jangka panjang, siapakah yang mereka harapkan? Ternyata jawabannya 87% ingin dirawat oleh anggota keluarganya sendiri.” (antaranews.com, 30/5/2021)

Bukan masalah peringatannya yang menggelitik, tapi kita semua diingatkan tentang kewajiban kita kepada orang tua kita semua yang rata-rata mereka memang sudah lansia. Bahkan, banyak di antara kita yang sudah tidak memiliki orang tua kandung.

Pertanyaannya, sudahkah kita membahagiakan mereka? Atau mereka masih saja direpotkan oleh anak-anaknya?

Sebuah fakta yang tidak bisa kita mungkiri, banyak para orang tua—terutama nenek—yang harus mengasuh para cucunya karena para ibunya harus pergi bekerja dengan berbagai macam alasan. Bahkan, beberapa waktu lalu masih saja ada anak yang memidanakan ibu atau bapaknya karena alasan ekonomi.

Yang mencemaskan, ketika orientasi hidup sudah berubah, yang justru menjadikan materi sebagai tujuan sebagaimana yang diserukan oleh kaum feminis. Pada akhirnya, aktivitas mengasuh anak dinilai sebelah mata, padahal ia merupakan aktivitas mulia, mengingat peran utama perempuan adalah sebagai ummun wa rabbatul baiti.

Darinya dilahirkan generasi yang berkualitas prima, generasi pejuang Islam tepercaya. Ketika kita paham hal ini, tentu kita tidak akan menyerahkan pengasuhan anak kita sepenuhnya kepada orang lain.

Mereka—para orang tua kita—tidak ada satu pun yang akan menolak menjaga cucu-cucunya, yakni anak-anak kita. Tapi sungguh, sudah seharusnya kita yang sadar diri, terlebih mengasuh dan mendidik anak-anak kita adalah kewajiban dan tanggung jawab kita. Demikian pula halnya berbakti kepada kedua orang tua, terutama ibu, merupakan kewajiban kita pula.

Fiqh aulawiyaatlah seharusnya yang kita terapkan dalam masalah ini. Mana yang wajib harusnya kita dahulukan daripada yang mubah dan seterusnya.

Jika begini, kita akan teringat pada sosok Uwais al-Qarni, sosok pemuda yang lebih dikenal penduduk langit daripada penduduk bumi, karena sedemikian besar baktinya kepada ibunya, maasyaa Allah.

Uwais Al-Qarni, Anak yang Sangat Berbakti

Di Yaman, seorang pemuda bernama Uwais al-Qarni yang berpenyakit sopak tinggal bersama ibunya. Ia adalah pemuda yang saleh dan sangat berbakti kepada ibunya yang sudah sepuh dan lumpuh. Ia merawat dan memenuhi segala sesuatu yang dibutuhkan oleh ibundanya.

Uwais sangat ingin bertemu Rasulullah saw., hingga kerinduan yang selama ini dipendamnya tak dapat ditahannya lagi.

Pada suatu hari, ia datang mendekati ibunya, mengeluarkan isi hatinya dan memohon izin kepada ibunya agar ia diperkenankan pergi menemui Rasulullah saw. di Madinah.

Baca juga:  Adab Seorang Anak kepada Orang Tuanya

Ibu Uwais al-Qarni walaupun telah uzur, merasa terharu ketika mendengar permohonan anaknya. Ia memaklumi perasaan Uwais al-Qarni seraya berkata, “Pergilah wahai Uwais anakku! Temuilah Nabi di rumahnya. Dan bila telah berjumpa dengan Nabi, segeralah engkau kembali pulang.”

Betapa gembiranya hati Uwais al-Qarni mendengar ucapan ibunya itu. Segera ia berkemas untuk berangkat. Namun, ia tak lupa menyiapkan keperluan ibunya yang akan ditinggalkannya, serta berpesan kepada tetangganya agar dapat menemani ibunya selama ia pergi. Sesudah berpamitan sembari mencium ibunya, berangkatlah Uwais Al-Qarni menuju Madinah.

Setelah menempuh perjalanan jauh, akhirnya Uwais al-Qarni sampai juga di Kota Madinah. Namun, ternyata Nabi tidak berada di rumahnya, beliau sedang berada di medan pertempuran.

Dalam hati Uwais al-Qarni bergolak perasaan ingin menunggu kedatangan Nabi saw. dari medan perang. Tapi kapankah Nabi pulang? Sedangkan masih terngiang di telinganya pesan ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan itu, agar ia cepat pulang ke Yaman, “Engkau harus lekas pulang.”

Akhirnya, karena ketaatannya kepada ibunya, pesan ibunya mengalahkan suara hati dan kemauannya untuk menunggu dan berjumpa dengan Nabi saw.. Ia segera pulang dan menitipkan pesan kepada Aisyah ra..

Ketika Aisyah ra. menyampaikan pesannya, Rasulullah saw. menceritakan tentang Uwais. Meski belum pernah berjumpa, Rasulullah saw. seperti sudah mengenal betul pemuda miskin itu.

Ia memuji Uwais dengan mengatakan kepada para Sahabat yang lain, “Suatu ketika, apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah doa dan istigfarnya. Dia adalah penghuni langit, bukan orang bumi. (HR Ahmad)

Uwais senantiasa merawat dan memenuhi semua permintaan Ibunya. Hanya satu permintaan yang sulit ia kabulkan. “Anakku, mungkin Ibu tak lama lagi akan bersama dengan kamu, ikhtiarkan agar Ibu dapat mengerjakan haji,” pinta ibunya.

Uwais tercenung, perjalanan ke Makkah sangatlah jauh. Orang-orang biasanya menggunakan unta dan membawa banyak perbekalan, padahal Uwais tak memilikinya.

Ia terus mencari jalan keluar, dibelilah seekor anak lembu, ia membuatkan kandang di puncak bukit. Setiap pagi beliau bolak-balik menggendong anak lembu itu naik turun bukit. Makin hari makin besar, dan tentu saja makin besar tenaga yang harus dikeluarkan. Tetapi karena tiap hari latihan, beban itu tak terasa.

Setelah delapan bulan berlalu, sampailah musim Haji. Lembu Uwais sangat besar, demikian halnya otot dan tenaga Uwais, makin kuat. Ia menjadi kuat mengangkat apa pun. Tahulah sekarang orang-orang apa maksud Uwais menggendong lembu setiap hari. Ternyata ia latihan untuk menggendong Ibunya.

Uwais menggendong ibunya berjalan kaki dari Yaman ke Makkah! Subhanallah, alangkah besar cinta Uwais pada ibunya. Ia rela menempuh perjalanan jauh dan sulit, demi memenuhi keinginan ibunya. Ia berjalan tegap menggendong ibunya tawaf di Ka’bah.

Baca juga:  Uwais ibn Qarni

Ibunya terharu dan bercucuran air mata telah melihat Baitullah. Di hadapan Ka’bah, ibu dan anak itu berdoa. “Ya Allah, ampuni semua dosa ibu,” kata Uwais. “Bagaimana dengan dosamu?” tanya ibunya heran. Uwais menjawab, “Dengan terampuninya dosa Ibu, maka Ibu akan masuk surga. Cukuplah rida dari Ibu yang akan membawa aku ke surga.”

Maasyaa Allah, itulah keinginan Uwais yang tulus dan penuh cinta. Allah Swt. pun memberikan karunianya. Uwais seketika itu juga disembuhkan dari penyakit sopaknya. Hanya tertinggal bulatan putih di tengkuknya. Itulah tanda untuk Umar bin Khaththab dan Ali bin Abi Thalib, dua Sahabat utama Rasulullah saw. untuk mengenali Uwais di kemudian hari.

Pada saat Uwais Al-Qarni berpulang ke rahmatullah, banyak hal luar biasa terjadi. Pada saat dia akan dimandikan, tiba-tiba sudah banyak orang yang berebutan untuk memandikannya. Ketika dibawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana pun sudah ada orang-orang yang menunggu untuk mengafaninya.

Demikian halnya ketika orang pergi hendak menggali kuburannya, di sana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan dibawa menuju ke pekuburan, luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk mengusungnya.

Mari kita Belajar dari Uwais Al-Qarni

Kadang, makin dewasa sering kali lebih sedikit waktu yang bisa digunakan untuk berinteraksi dengan orang tua, meski masih tinggal bersama. Sebab, masing-masing memiliki kesibukan sendiri-sendiri. Namun, selalu harus kita jaga dan tumbuhkan keinginan untuk selalu membahagiakan mereka di sela-sela kesibukan kita.

Jika kita menyelami kisah Uwais, bagaimana ia membahagiakan ibunya, luar biasa. Ia berpikir keras, sangat ulet, bekerja keras, dan selalu menempuh sababiyah (kaidah sebab akibat) dengan sungguh-sungguh, sehingga apa yang direncanakannya berjalan dengan lancar seolah tanpa hambatan.

Bagaimana ia persiapkan seluruhnya dengan matang, ia membeli lembu dan membuat kandang di atas bukit untuk ia berlatih menggendong lembu naik turun bukit, agar ketika musim haji ia sudah terbiasa sehingga bisa menggendong ibunya yang lumpuh dari Yaman ke Makkah dan juga bisa menjalani ritual haji sambil menggendong ibunya dengan lancar, sampai akhirnya apa yang diinginkannya dan ibunya tercapai.

Upaya sungguh-sungguh yang Uwais lakukan berbuah kebaikan, ia bisa membahagiakan ibunya. Uwais dengan sangat sederhana menunjukkan bagaimana rasa sayang dan cintanya kepada ibunya, betapa ia patuh dan taat kepada ibunya. Ia tidak membiarkan ibunya kesepian sekejap pun.

Ketika ia pergi hendak menemui seseorang yang sangat ingin ditemuinya—Rasulullah saw.—ia pun berangkat setelah mendapat rida ibunya. Ia ingat-ingat betul pesan ibunya, agar segera pulang setelah bertemu dengan Rasulullah saw.. Dan ketika sampai di Madinah ia tidak bisa menemui Rasulullah saw. karena sedang berperang, maka ia pun teringat pesan ibunya.

Baca juga:  Uwais ibn Qarni

Ia rela mengorbankan keinginan dan kerinduannya untuk bertemu dengan orang yang sangat dicintai oleh umatnya demi memenuhi pesan dan janji kepada ibunya sebelum ia melakukan perjalanan, agar segera kembali setelah berjumpa Rasulullah. Demikian berbaktinya ia pada ibunya.

Pelajaran berharga lainnya yang kita bisa ambil adalah Uwais selalu siap dalam kondisi apa pun untuk merawat ibunya. Ia penuhi segala kebutuhan ibunya dengan bekerja sebagai penggembala kambing. Tidak pernah sedikit pun ia membebani ibunya apalagi membuat susah ibunya.

Ia dengan ikhlas merawat ibunya, mendengarkan apa yang ibundanya inginkan dan harapkan, menjaga adab terhadap ibunya yang sudah sepuh, serta senantiasa mendoakan ibunya.

Banyak sekali pelajaran yang kita bisa dapatkan dari Uwais al-Qarni, Islam telah mengajarkan untuk selalu berbakti kepada orang tua, jangan pernah memperlakukan mereka dengan buruk. Kita dahulukan kepentingan mereka dari pada kepentingan sendiri. Sebab, mereka telah mengasuh dan mendidik kita dengan penuh kasih dan sayang. Apalagi seorang ibu yang harus menanggung beban penderitaan sejak mengandung.

Jangan lupa pula, kisah Uwais ini juga mengajarkan kepada kita, bahwa sebagai seorang anak hendaknya kita selalu mendoakan orang tua sebagaimana yang telah diajarkan Allah melalui Al-Qur’an,

Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka, tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri dari padanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.(QS At-Taubah: 114)

Semoga kisah Uwais al-Qarni bisa kita jadikan pelajaran untuk kita semua. Perjuangan yang berbuah manis. Benarlah janji Allah, bahwa setiap kebaikan sekecil apa pun pasti akan ada balasannya dari Allah. Sungguh setiap langkah Uwais telah menggetarkan langit.

Pantaslah para malaikat terkesima dan membalas tasbih tak henti. Bakti yang luar biasa dan amal kebaikan yang tak bertepi dari Uwais mengangkat dirinya sebagai sosok yang sangat masyhur di seantero langit.

Umar bin Khaththab dan Ali bin Abi Thalib pernah diminta Rasulullah saw. untuk memintakan doa kepada Uwais al-Qarni, karena doanya tidak terhalang dan pasti diijabah.

Lalu, bagaimana dengan kita? Siapkah kita mengambil pelajaran dari apa yang telah dilakukan Uwais? Insyaa Allah. Wallahu a’lam bishshawwab. [MNews/Rgl]

Tinggalkan Balasan