[Editorial] Menolong Palestina dengan Serius Mewujudkan Kepemimpinan Islam

MuslimahNews.com, EDITORIAL – “Dan yang kami tekankan lagi bahwasanya masalah utama ini adalah penjajahan Israel atas Palestina. Dan apabila penjajahan ini hilang, akan ada keamanan yang tercipta di Palestina.” (Dubes Palestina, Zuhair Al-Suhn, liputan6.com, 28/05/2021)

Meski gencatan senjata telah disepakati, tensi antara Israel dan Palestina sampai saat ini masih tinggi. Beberapa bentrokan tetap terjadi di beberapa wilayah, bahkan hingga memakan korban jiwa.

Sabtu (29/5/2021) lalu misalnya, Reuters melansir berita, pada Jumat (28/5/2021) satu lagi pemuda Palestina tewas ditembak tentara Israel. Saat itu, ia turut dalam aksi unjuk rasa memprotes pendudukan wilayah oleh pemukim ilegal Israel di kota Nablus Tepi Barat.

Namun seperti biasa, Israel selalu punya alasan untuk membenarkan tindakan zalimnya. Mereka mengatakan, petugas lapangan merasa perlu melakukan pengamanan. Pasalnya, unjuk rasa berlangsung ricuh, bahkan terjadi pelemparan.


PLAYING victim tampaknya memang menjadi senjata yang selalu digunakan pihak Israel untuk menarik simpati masyarakat dunia. Bangsa Israel terus menampilkan diri seakan-akan merekalah korban dalam krisis Palestina.

Mereka selalu mengatakan dirinya tak bersalah dan ada pada posisi terus diserang. Maka menjadi hak mereka untuk membela diri dan melakukan perlawanan, termasuk menggunakan senjata mematikan.

Mereka tampak berharap masyarakat dunia lupa bahwa krisis berkepanjangan ini sejatinya akibat ulah tangan mereka. Dengan pongahnya, mereka jarah tanah Palestina atas nama doktrin agama.

Ironisnya, miliaran umat Islam dunia dan puluhan negeri Islam dengan jutaan bala tentaranya, ternyata tak berdaya di hadapan mereka. Padahal jumlah penduduk Israel sangat sedikit dan luas wilayahnya pun hanya “seuprit”.

Apa yang menjadikan Israel begitu digdaya, hingga tak ada satu pun negara yang mampu menghentikannya? Bahkan lembaga-lembaga internasional selevel PBB dan OKI pun hanya bisa mengecam dan mengeluarkan berbagai resolusi tak berguna.


SEPANJANG sejarah manusia, bangsa Israel memang selalu menjadi cerita. Tentang keangkuhan, pembangkangan, dan pengkhianatan. Keberadaannya seakan-akan menjadi batu uji bagi keberagamaan sekaligus kemanusiaan.

Namun hari ini, bangsa Israel telah menjelma menjadi entitas negara. Dan kedudukannya benar-benar bak anak istimewa. Kelahirannya dibidani oleh negara Eropa yang adidaya di masanya. Lalu diasuh dan dilindungi oleh Amerika sebagai adidaya berikutnya.

Baca juga:  Palestina dan Negeri-Negeri Muslim yang Tertindas

Maka dari sejarahlah kita melihat, bahwa pendirian negara Israel sesungguhnya terkait dengan target negara adidaya mencengkeramkan kuku-kuku penjajahan mereka. Tak hanya di wilayah Palestina, tapi juga di wilayah Timur Tengah lainnya.

Bahkan dari sejarah pula kita melihat, bahwa pendirian negara Israel, ada kaitannya dengan perang antara peradaban Barat dengan dunia Islam.

Ia dibuat demi menjadi duri di jantung dunia Islam. Karena kawasan ini masih menyimpan potensi besar untuk menjadi pusat kebangkitan peradaban cemerlang yang sebelumnya berhasil mereka tumbangkan.


PADA masa keemasan Islam, yakni saat kaum muslim dan tanah airnya dipersatukan dalam institusi Khilafah, entitas Yahudi bukanlah siapa-siapa. Mereka hanyalah makhluk terkutuk lagi hina yang berdiaspora dan tak disukai di mana-mana lantaran kelicikannya.

Namun semenjak kekalahan di perang Salib, Inggris dan sekutunya terus berusaha menghancurkan Khilafah dengan berbagai taktik licik. Mereka meracuni pemikiran umat Islam demi memecah belah kekuatannya. Mereka pun menyusupkan antek-anteknya ke jantung pemerintahan Islam demi membuat makar dari dalam.

Bahkan Inggris berhasil menyeret Khilafah ke dalam perang dunia pertama yang berujung kekalahan di pihak Khilafah.  Lalu atas dasar itu, wilayah umat Islam yang menjadi ganimah dibagi menjadi wilayah pengaruh Inggris dan sekutu perangnya, yakni Prancis.

Maka di tahun 1916, terjadilah perjanjian Sykes-Picot, yang menandai pembagian pengaruh Inggris atas Palestina. Lalu di tahun berikutnya, keluarlah deklarasi Balfour yang mengamini rencana pemimpin Zionis untuk menjadikan wilayah Palestina sebagai cikal bakal negara Israel.

Maka sejak saat itu, Palestina pun menjadi incaran kaum Zionis. Namun sekalipun kondisinya sudah lemah, keberadaan institusi Khilafah masih menjadi benteng penjaga yang mampu menghentikan ambisi Inggris dan zionis untuk mewujudkan mimpinya.

Ketegasan Khalifah saat menolak bujukan Herzl yang ingin membeli tanah Palestina begitu fenomenal dan mengagumkan. Hingga Inggris dan Zionis sepakat berkesimpulan, bahwa institusi Khilafah benar-benar harus segera dihancurkan.

Maka tahun 1924 menjadi sejarah paling kelam bagi umat Islam. Di tangan antek Inggris Mustafa Kemal, yang juga seorang Yahudi Dunamah, Khilafah Islam yang berpusat di Turki akhirnya benar-benar hancur.

Baca juga:  [Ramadan Sedunia] Ramadan di Palestina, Saatnya Menghias Masjidilaqsa

SEJAK hilangnya institusi Khilafah itulah, kaum muslim hidup bercerai-berai dan jatuh makin dalam di cengkeraman penjajahan. Gelombang migrasi bangsa Yahudi ke Palestina pun tak bisa dibendung.

Hingga pasca-Perang Dunia II, tepatnya di tahun 1947, Majelis Umum PBB mengeluarkan sebuah resolusi yang membagi wilayah Palestina menjadi dua. Yakni wilayah untuk bangsa Arab Palestina dan untuk bangsa Yahudi.

Pada tahun berikutnya (1948), “negara” Israel pun dideklarasikan. Sejak saat itu, bangsa Palestina makin menderita di bawah pendudukan Israel. Mereka terusir hingga wilayahnya terus menyempit tanpa ada lagi yang membela. Pemimpin negara-negara Arab pun bungkam, bahkan diam-diam berdiri di belakang negara adidaya.

Kalaupun mereka terlibat dalam Perang Enam Hari pada tahun 1967, nyatanya itu hanya basa-basi. Terbukti, perang ini hanya sempat melahirkan konsensus internasional yang dikeluarkan Majelis Umum PBB. Yakni konsensus yang menyatakan bahwa permukiman Yahudi di wilayah Palestina–seperti di tepi Barat dan Yerusalem Timur–merupakan pelanggaran HAM.

Namun konsensus ini dan semua upaya yang melibatkan Israel dan negara adidaya, termasuk pendirian PLO dan gagasan solusi dua negara yang digaungkan PBB (Amerika) hingga sekarang, sama sekali tak memberi solusi berarti bagi krisis Palestina.

Semua ajuan solusi itu hanya memberi kesempatan lebih bagi Israel untuk melakukan genosida dan membersihkan wilayah Palestina dari pemiliknya. Hingga akhirnya Israel bisa menguasai seluruh wilayah sebagaimana yang diinginkannya.


OLEH karenanya, tampak bahwa apa yang disampaikan Dubes Palestina benar adanya. Masalah Palestina bukan sekadar konflik biasa, tapi berakar dari penjajahan zionis Israel.

Kita juga melihat, bahwa penjajahan Israel tak mungkin terjadi jika tanpa dukungan negara adidaya dan para anteknya. Karena jika mereka mau, akan mudah membungkam kekuatan Israel dengan berbagai cara dan sumber daya yang mereka punya.

Yang kita lihat, alih-alih membantu bangsa Palestina mengusir sang penjajah, mereka justru sibuk mendorong legitimasi negara Israel dan memaksa Palestina dan negeri muslim lainnya dengan berbagai perjanjian damai, gencatan senjata, dan solusi dua negara yang justru berarti pengakuan atas keberadaan “negara Yahudi”.

Maka, bagaimana bisa semua tawaran solusi itu mampu menghentikan kebiadaban penjajah Israel yang terjadi di hadapan mata dunia? Bagaimana bisa pula umat Islam menyerahkan solusi persoalan mereka pada pihak penyebab persoalan tersebut?

Baca juga:  Lebih dari 6.000 Warga Palestina Ditangkap Israel Selama Tahun 2018

Sungguh, kita tak pantas berharap pada semua pihak yang berdiri di kubu yang sama, yaitu kubu penjajah Israel. Terlebih, terbukti bahwa bangsa Israel tak mengerti bahasa manusia, melainkan hanya mengerti bahasa senjata.

Hanya perang atau jihadlah yang bisa menghentikan mereka. Namun, jihad defensif yang selama ini sudah dilakukan oleh bangsa Palestina ternyata tak cukup untuk mengusir mereka. Bangsa Palestina benar-benar butuh bantuan kaum muslim lainnya untuk membebaskan mereka.

Hanya saja, siapakah yang mampu mewujudkan harapan mereka? Jelas bukan para penguasa yang sudah teracuni paham kebangsaan dan sudah terjangkiti penyakit wahn.

Harapan mereka hanya akan terwujud jika telah muncul kembali kepemimpinan yang tegak di atas landasan Islam di tengah-tengah umat. Yakni kepemimpinan yang akan menjadi benteng penjaga dan mengerahkan segala daya menghapus penjajahan. Itulah Khilafah Islam ‘ala Minhaj an Nubuwwah yang dijanjikan.

Khilafah inilah yang hari ini sedang terus diperjuangkan oleh sebagian umat Islam yang sadar. Meski mereka berjuang dalam diam, mereka kian mendapat dukungan dari umat. Karena umat tak bisa menutup mata bahwa sistem sekuler yang melingkupi mereka hanya melahirkan kerusakan dan kezaliman.

Memang tak ada jaminan kapan Khilafah ini akan tegak. Entah berapa lama lagi bangsa Palestina harus bersabar dan berjuang sendirian melawan penjajahan. Namun, masa itu pasti akan tiba. Pasti nyata!

Mungkin Allah Swt. sedang memberi kita kesempatan untuk berkontribusi dalam perjuangan. Sehingga kita akan mendapat pahala berjuang di akhir zaman, yang pahalanya 50 kali lipat para Sahabat pada masa Rasulullah Shalallaahu ‘alayhi wa sallam.

Tugas kita hari ini hanyalah berusaha. Serius menapaki jalan perjuangan sesuai yang Rasul contohkan. Selebihnya, Allahlah yang akan menyempurnakan hasil sesuai janji-Nya.

Allah Swt. berfirman, “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu dan kamu akan dikembalikan kepada Allah yang Maha Mengetahui yang gaib dan yang nyata. Lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS At-Taubah: 105) [MNews/SNA]

Tinggalkan Balasan