[Hadits Sulthaniyah] ke-32 dan 33: Hidup di Bawah Seorang Pemimpin yang Adil, Lebih Baik daripada Beribadah Selama 60 Tahun

Hadis mengenai “Beberapa Aspek Penting dalam Pemerintahan dan Persatuan” (Hadis ke-31—39)


MuslimahNews.com, HADITS SULTHANIYAH — Hadis ke-32: “Sehari (hidup di bawah) Imam (penguasa) yang adil, lebih baik daripada beribadah selama enam puluh tahun. Dan (pelaksanaan satu hukum) had di muka bumi jauh lebih bersih daripada (ditimpa) hujan selama empat puluh hari.” (Sunan al-Kubra lil Baihaqi, jilid 8/162)

Hadis ke-32: “Tiga orang di mana pada Hari Kiamat nanti, Allah tidak akan menoleh kepada mereka, (yaitu) Imam yang suka berdusta, orang tua yang berzina, dan seorang amil yang sombong.” (Musnad Ahmad No. 9222)

Penjelasan:

a. Ada sejumlah riwayat lain yang menunjukkan bahwa Allah memberikan pahala yang besar bagi pemimpin yang adil. Dia mendapatkan rida Allah karena telah menerapkan hukum-hukum-Nya atas seluruh anggota masyarakat secara adil, serta menyelesaikan persengketaan di antara mereka secara adil pula.

b. Pemimpin yang adil menjadi salah satu kelompok manusia yang mendapatkan naungan syafaat dari Allah, pada hari ketika tidak ada lagi naungan (perlindungan) kecuali bagi orang-orang yang mendapatkan rida-Nya. Sebaliknya, pemimpin yang zalim, yang gemar berbohong kepada umatnya—sebagaimana penjelasan Rasulullah—menjadi salah satu golongan yang tidak akan dilihat (ditelantarkan) oleh Allah pada Hari Pembalasan, saat ketika semua orang membutuhkan rahmat Allah.

Baca juga:  [Hadits Sulthaniyah] ke-28: Larangan Menggelapkan Harta Orang Lain

c. Apabila seorang Imam yang berbohong kepada umatnya tidak akan diperhatikan oleh Allah pada Hari Kiamat nanti, wajar kiranya bila pemimpin yang menindas dan bersikap zalim kepada rakyatnya akan berada dalam keadaan yang lebih buruk. Sedangkan penindasan dan kezaliman yang paling besar adalah ketika para pemimpin itu memberlakukan hukum-hukum kufur (selain hukum Islam) terhadap umatnya.

d. Pemberlakuan sanksi hukum sebagaimana yang diperintahkan Allah—ketika syarat-syarat pemberlakuan sanksi itu terpenuhi—diibaratkan seperti hujan yang turun selama 40 hari, yang bermakna suatu rahmat dan anugerah yang luar biasa bagi sebuah padang pasir yang sangat kering. Oleh karena itu, sanksi-sanksi semacam itu tidak bisa disebut sebagai sanksi yang biadab, mengingat Allah memuji pemberlakuan sanksi-sanksi tersebut; di samping bahwa efek jera dari pemberlakuan sanksi-sanksi tersebut akan mendatangkan keamanan dan ketenteraman di tengah masyarakat. [MNews/Gz]


Sumber: Abu Lukman Fathullah, 60 Hadits Sulthaniyah (Hadits-Hadits tentang Penguasa), 2010

Tinggalkan Balasan