[Tapak Tilas] Pembebasan Irak dan Akhir Kekuasaan Persia


Penulis: Siti Nafidah Anshory, M.Ag.


MuslimahNews.com, TAPAK TILAS — Perang Riddah selesai sudah. Musailamah al-Kadzdzab akhirnya mati di tangan Wahsyi. Sementara Thulaiha yang juga mengaku sebagai nabi, kalah telak saat perang tanding melawan Khalid bin Walid radhiyallaahu ‘anhu.

Foto: Ilustrasi sosok Khalid bin Walid. panduhidayatullah.com

Begitu pun para penolak zakat dan para bughat (pemberontak) lainnya. Mereka akhirnya tunduk di hadapan wibawa kepemimpinan Khalifah Abu Bakar Shiddiq radhiyallaahu ‘anhu.

Sikap tegas beliau ini tentu membawa dampak positif baik bagi internal maupun eksternal. Di kalangan internal, soliditas dan kepercayaan diri sebagai entitas sosial dan politik makin kokoh. Umat Islam benar-benar berhasil melewati ujian terberat pasca wafatnya Rasulullah saw..

Adapun di kalangan eksternal, manuver politik Abu Bakar ra. ini telah mendongkrak wibawa negara dan posisinya sebagai negara yang tak bisa dipandang sebelah mata. Karena negara Islam tidak akan membiarkan setiap upaya yang akan merongrong eksistensi negara dan segala bentuk makar yang akan menghalangi fungsinya sebagai pembawa risalah Islam ke seluruh dunia.

Maka, setelah semua problem internal itu selesai dan kondisi negara Islam kembali stabil, khalifah Abu Bakar ra. mulai fokus menghadapi ancaman dan tantangan dari luar. Yakni ancaman dan tantangan yang datang dari dua negara adidaya, Persia (Sassanid) dan Romawi (Bizantium).

Irak, Misi Pertama Perluasan Dakwah Sang Khalifah

Saat kepemimpinan dipegang oleh Khalifah Abu Bakar ra., daerah kekuasaan Islam sudah hampir melingkupi seluruh semenanjung Arabia yang dihuni berbagai suku Arab. Karenanya, menjadi tugas beliau untuk membebaskan wilayah-wilayah terdekat sebagai salah satu kewajibannya sebagai pemimpin negara, yakni melanjutkan penyebaran risalah Islam ke seluruh dunia.

Terlebih, beliau teringat sabda Rasulullah saw. saat bersama-sama menggali parit Khandaq sebelum Perang Ahzab. Saat memecahkan sebuah batu besar, Rasulullah saw. pernah bersabda bahwa beliau melihat Kerajaan Persia dan kekayaan negeri itu akan jatuh ke tangan kaum muslimin dan digunakan untuk jihad fī sabīlillāh.

Khalifah Abu Bakar ra. merasa bahwa momen untuk mewujudkannya telah tiba. Beliau pun membidik wilayah Irak sebagai tempat yang pertama akan dibebaskan, mengingat Irak saat itu merupakan daerah pengaruh imperium Sassanid atau Persia.

Foto: Peta wilayah Irak. wdl.org

Untuk misi ini dibentuklah pasukan jihad di bawah pimpinan Khalid bin Walid ra.. Namun sebetulnya, sebelum pasukan Al-Walid ini bergerak, wilayah Irak sudah dimasuki pasukan kaum muslim di bawah pimpinan Al-Mutsanna bin Haritasah asy-Syaibani.

Sebelumnya, Al-Mutsanna sempat meminta izin kepada Khalifah untuk memimpin kaumnya memerangi Persia di Irak. Khalifah Abu Bakar pun mengizinkan. Beliau memberikan kabar gembira dengan apa yang dilakukannya, seraya memberikan kekuasaan terhadap orang yang berada di sisinya.

Namun, ketika Khalifah mulai fokus untuk menaklukkan kekuasaan Persia, beliau memandang bahwa Khalid lebih tepat untuk mengemban misi besar ini. Terlebih saat itu posisi pasukan Khalid masih ada di Yamamah (dekat Riyadh sekarang), setelah sukses memenangi perang melawan pasukan Musailamah al-Kadzdzab di sana.

Baca juga:  [Tapak Tilas] Kota Baghdad, dari Kejayaan dan Kehancuran

Khalifah pun berkirim surat kepada Khalid agar segera bergerak menuju Irak dari arah barat daya atau arah bawah, tepatnya dari daerah Ablah. Di saat yang sama, beliau pun memerintahkan Mutsanna dan kaumnya yang berjumlah 8.000 yang sudah ada di salah satu sisi wilayah Irak agar segera bergabung bersama pasukan Al-Khalid untuk turut menyukseskan misinya.

Di samping mengerahkan pasukan Khalid di Yamamah dan pasukan Mutsanna, Khalifah Abu Bakar memerintahkan pasukan yang dipimpin ‘Iyadh bin Ghunm yang telah berhasil menaklukkan Daumatil Jandal dan posisi sedang berada di An-Nabaj dan Hijaz agar juga turut bergerak menuju Irak dari atas di arah timur laut, yaitu wilayah Al-Mushayyikh. Lalu sang Khalifah memerintahkan semua pasukan ini untuk bertemu di tengah-tengah kawasan Irak.

Dengan demikian, tampak bahwa misi penaklukan wilayah Irak memang merupakan misi yang sangat besar. Selain karena kawasan Irak sejak lama merupakan pusat kekuasaan negara adidaya Persia, penaklukan ini sekaligus bentuk pembuktian terhadap kabar yang disampaikan Rasulullah saw. pada saat Perang Khandaq.

Pembebasan Irak, Pembuka Penaklukan Persia

Strategisnya wilayah Irak salah satunya tampak dari surat yang dikirim Khalifah Abu Bakar kepada Khalid dan Iyadh. Beliau memerintahkan keduanya agar segera berlomba-lomba untuk cepat sampai di Hirah, salah satu kota penting di Irak. Lalu meminta mereka mengamankan daerah tersebut sebagai basis penyerbuan ke markas kebanggaan Persia, yakni Kota Madain yang posisinya dekat Al-Hirah.

Foto: Pengepungan Al-Hirah. wikipedia.org

Al-Hirah memang mempunyai posisi strategis dalam militer. Ia adalah jantungnya wilayah Irak. Siapa yang menguasainya, ia akan mampu menguasai seluruh wilayah yang berada di Barat Sungai Eufrat. Inilah yang juga dipahami oleh para penguasa Persia.

Letaknya sekira tiga mil di selatan Kufah, sedangkan dari Najef berjarak satu jam berkuda ke arah tenggara. Jalan-jalan dari berbagai arah memang bertemu di Al-Hirah.

Dari timur, Al-Hirah bertemu dengan Madain melewati Sungai Eufrat. Dari utara, Al-Hirah bertemu dengan Hait serta terhubung dengan Al-Anbar. Sedangkan dari barat, Al-Hirah bertemu dengan Syam serta terhubung dengan Al-Ablah di wilayah Bashrah di Irak. Juga terhubung dengan Kaskur, As-Sawad, dan An-Nu’maniyah di sungai Dajlah.

Foto: Madain ibu kota Persia. Republika.co.id

Karena posisi strategis inilah, Khalifah Abu Bakar menjadikan pembebasan Al-Hirah di Irak sebagai target utama. Selain akan menjadi kunci kemenangan dalam melawan Persia, kelak tempat ini juga sangat penting dalam menghadapi pertempuran melawan pasukan Romawi di Syam atau Suriah.

Baca juga:  [Tapak Tilas] Di Mu'tah, Mereka Memburu Syahadah

Strategi mengepung kota yang ditetapkan khalifah Abu Bakar ternyata memang efektif. Satu demi satu wilayah yang dilewati pasukan muslim tunduk menjadi muslim bahkan sebagiannya turut dalam pasukan jihad fī sabīlillāh.

Penaklukan yang Tak Mudah

Meski Khalifah sudah menetapkan strategi yang cerdik dengan mencengkeram jantung kota dari berbagai arah, tetapi pada praktiknya tentu bukan perkara mudah. Untuk membebaskan Kota Al-Hirah, pasukan Al-Walid harus melewati beberapa kali peperangan.

Ketika semua pasukan muslim sampai di wilayah Irak, sesuai kesepakatan, mereka berkumpul terlebih dulu di daerah Al-Ablah. Menurut tarikh, saat itu terkumpul sekira 18.000 pasukan gabungan yang keseluruhannya dipimpin oleh Khalid bin Walid.

Namun, sebelum berjalan memasuki Irak, Khalid telah mengirimkan surat peringatan kepada Hurmuz, yang merupakan penguasa Al-Ablah. Di surat itu ia berkata, “Masuk Islamlah, niscaya kamu akan selamat, atau kamu mengakui atas dirimu dan kaummu sebagai ahlu dzimmah dan membayar jizyah. Apabila tidak, janganlah kamu menyalahkan kecuali terhadap dirimu sendiri. Sesungguhnya aku datang kepada kalian dengan membawa kaum yang suka mati, sebagaimana kamu suka hidup.”

Namun Hurmuz menolak. Hingga terjadilah beberapa kali pertempuran. Yakni pertempuran Dzu as-Salasil, disebut demikian karena antara satu pasukan dengan pasukan Hurmuz diikat dengan rantai agar tidak ada yang melarikan diri.

Perang ini berakhir dengan kekalahan pasukan Hurmuz. Lalu dilanjut dengan pertempuran Al-Madzar, di mana Hurmuz mendapat bantuan tambahan dari pasukan Kisra. Di perang ini pun pasukan muslim menang telak.

Berikutnya pertempuran Al-Wajlah yang merupakan pertempuran sangat sengit karena melibatkan pasukan Persia yang sangat besar. Namun, pasukan muslim tetap menang.

Pertempuran berikutnya terjadi di Ullais yang diikuti dengan penaklukan daerah Amghisyia. Dalam pertempuran ini, pasukan Persia di bawah pimpinan Jaban dibantu oleh sebagian kaum Nasrani Arab di bawah pimpinan Abdul Aswad Al-Ajali yang bergabung dengan orang-orang ajam.

Konon, pertempuran di dua daerah ini terjadi sangat dahsyat. Bahkan, korban perang sangat banyak hingga sungai yang ada di Ullais berubah menjadi sungai darah. Namun seperti sebelumnya, pertempuran pun berakhir dengan kemenangan pasukan muslim karena dorongan mereka benar-benar fii sabiilillah.

Maka, penaklukan kawasan Ullais dan Amghisyia merupakan pintu pembuka bagi penaklukan Kota Al-Hirah. Kota ini akhirnya bisa ditaklukkan tanpa pertempuran, setelah pemimpin pasukannya melarikan diri setelah semua strategi membendung pasukan muslim gagal total.

Khalid pun dengan mudah mengepung istana-istana di Al-Hirah dan memberi mereka tiga pilihan: menerima Islam, membayar jizyah dan mereka tetap dalam kekafiran, atau memilih berperang.

Maka, para pemimpin Persia di Al-Hirah memilih berdamai dengan pasukan Islam dan menyatakan siap membayar jizyah.

Atas pilihan inilah Khalid berkata, “Celaka kalian, sesungguhnya kekafiran itu menyesatkan. Sungguh bodohlah orang Arab yang melakukannya.”

Baca juga:  [Tarikh Khulafa] Penaklukan Wilayah Syam

Dari Al-Hirah, Kejayaan Persia Berakhir Sudah

Penaklukan Al-Hirah memang benar-benar menjadi kunci kemenangan pasukan Islam atas negara Sassanid atau Persia. Dari sini, pasukan Khalid dengan mudah menaklukkan wilayah-wilayan Irak lainnya, apakah melalui pertempuran atau tanpa pertempuran.

Banyak di antara kabilah-kabilah di luar Hirah yang sukarela datang untuk menyatakan tunduk setelah mereka mendengar sepak terjang dan wibawa pasukan muslim yang merepresentasi negara Islam yang berpusat di Madinah.

Maka, di samping fai dan ganimah, mengalir pulalah kharaj (pajak tanah pertanian) dan jizyah (pajak kepala sebagai bukti ketundukan) dari daerah ini ke Madinah.

Pada saat yang sama, kondisi di kawasan ini berangsur normal, bahkan penduduknya bisa merasakan keadilan dan kesejahteraan hidup di bawah naungan Islam. Hingga berangsur-angsur melemahlah pengaruh kekuasaan Sassanid (Persia) di sana dan makin kokohlah kekuasaan Islam di benteng-benteng perbatasan kekuasaan Bizantium yang adidaya.

Menurut riwayat, penaklukan Kota Al-Hirah yang menjadi kunci pembuka penaklukan Irak ini terjadi pada 12 Hijriah. Selanjutnya, setelah seluruh Irak tunduk di masa akhir kepemimpinan Khalifah Abu Bakar, kian masiflah penaklukan Kota Suriah oleh pasukan Al-Walid bersama pasukan khusus yang telah dibentuk sebelumnya.

Khatimah

Sekitar 14 abad, Irak berada dalam naungan kepemimpinan Islam. Bahkan salah satu daerahnya, yakni Kota Baghdad, pernah menjadi pusat kepemimpinan Islam sekaligus menjadi pusat kegemilangan peradaban Islam dalam beberapa abad lamanya.

Foto: Baghdad pada masa kejayaan Islam. Republika.co.id

Namun, sejak kepemimpinan itu hilang pada tahun 1924, Irak menjadi salah satu negeri muslim dari lima puluh lebih negeri muslim yang sudah dikerat-kerat dalam format negara kebangsaan ala penjajah Barat. Di bawah sistem buatan penjajah ini, kondisinya jauh dari mulia.

Foto: Saat Irak diserang pasukan sekutu, 2003. republika.co.id

Irak dari masa ke masa, jatuh dari satu rezim ke rezim boneka negara-negara Barat yang saling berebut demi minyak dan pengaruh politik di sana. Bahkan saat ini, meski Irak sudah jadi negara merdeka, kondisinya masih tetap sama.

Irak hari ini masih dalam cengkeraman Amerika. Tak punya pengaruh politik dalam kancah internasional. Bahkan di dalam negeri, rakyatnya merasakan berbagai ketidakadilan akibat korupsi yang merajalela.

Foto: Sisa-sisa kejayaan Islam. Liputan6.com

Sungguh Irak akan kembali mulia jika mereka kembali ke pangkuan Islam bersama negeri-negeri yang lainnya. Terlebih Irak adalah tanah kharajiyah yang statusnya tak akan pernah berubah hingga hari kiamat.

Menyatukan kembali negeri-negeri Islam di bawah naungan satu kepemimpinan Islam tentu membutuhkan perjuangan panjang. Karena hal itu hanya mungkin terjadi di atas landasan kesadaran yang benar, yakni kesadaran akan Islam sebagai akidah sekaligus aturan kehidupan. [MNews/Gz]

Tinggalkan Balasan