Idulfitri di Tunisia, Eidul-Fitrin

MuslimahNews.com, IDULFITRI SEDUNIA — Muslim Tunisia menyebut Idulfitri dengan Eidul-Fitrin. Mereka merayakan Eidul-Fitrin selama tiga hari. Sebelumnya, mereka akan membuat biskuit spesial untuk diberikan kepada keluarga dan kolega, termasuk baklava dan beberapa jenis kaak (roti keras).

Roti Kaak. Foto: aa.com.tr

Pada pagi 1 Syawal, para lelaki muslim Tunisia akan berangkat ke masjid untuk menjalankan salat Id. Sementara para perempuan boleh ikut bersama mereka ke masjid atau tinggal di rumah saja.

Para wanita akan menata rumah untuk perayaan Idulfitri. Mereka juga menyiapkan pakaian serta mainan baru untuk anak-anak. Setelah itu, mereka mempersiapkan makan siang di rumah keluarga besar, yaitu di rumah orang yang dituakan.

Tradisi khas Tunisia saat hari raya adalah membagi-bagikan kado. Aneka hidangan pun disajikan untuk memuliakan tamu.

Sebagian anak-anak menemani ayah mereka untuk berkunjung ke paman, bibi, kakek, dan nenek, serta teman-teman mereka untuk mengucapkan selamat hari raya. Para wanita dan beberapa anak tinggal di rumah untuk menyambut para keluarga yang datang berkunjung ke rumah.

Idulfitri di Tunisia terasa semarak, hal ini dikarenakan mayoritas penduduknya (98 persen) adalah muslim. Negeri yang terletak di Afrika bagian utara ini mendapatkan sebutan Tunis El Khadra, yang artinya daerah yang banyak tanaman hijau.

Baca juga:  [News] Aktivasi Pasal 80 Tunisia, Bisakah "Memanen Anggur dari Tumbuhan Liar"?

Dulu, pada masa pemerintahan Ben Ali, masyarakat Tunisia tidak berani menunjukkan identitas keislamannya. Ben Ali adalah tokoh sekularisme Tunisia. Pada masa pemerintahannya, penggunaan hijab dilarang di sekolah dan kantor karena dianggap kuno dan melawan arus modernisme Tunisia.

Setelah lepas dari pangkuan Khilafah, Tunisia dijajah Prancis. Akibatnya, selain kehilangan kekayaan alamnya, Tunisia juga kehilangan identitas keislamannya. Cara berpakaian dan pergaulan masyarakatnya sudah terpengaruhi barat.

Konstitusi Tunisia memang menyuruh taat pada ajaran Islam, presidennya juga harus muslim, tapi dakwah dan pendirian partai politik atas dasar Islam dilarang. Islam di Tunisia sebatas bingkai formal. Praktik agama adalah urusan individual, sedangkan negara terpisah dari Islam.

Meski ada Republique Tunisienne Ministere des Affaires Religieuses (Wizarat al-Sayau’u al-Diny), namun agama diposisikan sebagai urusan individu. Negara hanya memfasilitasi keperluan agama masyarakat yang berhubungan dengan administrasi, seperti ibadah haji, perkawinan, dan lain-lain. Sementara praktik poligami resmi dilarang sejak 1956 dan dianggap sebagai pelakunya bisa dihukum pidana.

Setelah revolusi Arab spring tahun 2011, umat muslim di Tunisia berani menunjukkan keislamannya. Cahaya Islam pun mulai tampak di negeri yang dulu sangat kental menerapkan Islam ini.

Baca juga:  [News] Aktivasi Pasal 80 Tunisia, Bisakah "Memanen Anggur dari Tumbuhan Liar"?

Salah satu jejak penerapan Islam di Tunisia adalah Masjid dan Universitas Al Zaytuna. Masjid ini terletak di ibu kota Tunisia. Luasnya mencapai 5.000 meter persegi dengan sembilan pintu masuk.

Al Zaytuna didirikan pada 116 Hijriah atau 731 Masehi oleh Obeid Allah Habhab Ibn Al. Gaya arsitekturnya yang khas menjadi inspirasi pembangunan masjid lainnya di Tunisia. Menaranya setinggi 43 meter dan meniru menara Almohad dari Masjid Kasbah.Sedangkan Universitas Al Zaytuna merupakan perguruan tinggi pertama yang didirikan di Afrika Utara. Pendirinya adalah Numan Al Ghassani sekitar abad ke-13 Masehi.

Foto: www.aa.com.tr

Dari Universitas Al Zaytuna lahir banyak cendekiawan muslim. Yang paling terkenal adalah Ibnu Khaldun yang dikenal sebagai ahli sejarah sosial. Di sini, beragam disiplin ilmu dipelajari oleh ribuan mahasiswa dari berbagai penjuru dunia, antara lain, ilmu Al-Qur’an, hukum, sejarah, tata bahasa, sains, dan kedokteran.

Ribuan buku dan manuskrip tersimpan di universitas ini. Sayangnya, ketika bangsa Spanyol menaklukkan Tunisia pada 940 dan 989 Hijriah atau 1534 dan 1574 Masehi, banyak manuskrip dan buku penting yang dijarah. Hingga kini, Universitas Al Zaytuna menjadi pusat pengembangan ilmu di Tunisia. Kelak, kebangkitan Islam akan mewujud kembali di negeri ini. [MNews/Rgl]

Tinggalkan Balasan