[Editorial] Mengikhtiarkan Kemenangan

MuslimahNews.com, EDITORIAL – Banyak yang pesimis masalah Palestina bisa tuntas terselesaikan. Terbukti, Jumat dini hari (21/5/2021) gencatan senjata baru saja diumumkan dan sebagian muslim merayakannya sebagai hari kemenangan, namun beberapa jam kemudian ada kabar Masjidilaqsa kembali diserang.

Situasi seperti ini sebetulnya gampang diprediksi. Siapa pun tahu, bangsa Yahudi memang dikenal suka ingkar janji. Mereka pun tak mungkin mau menerima kekalahan. Apalagi memberi Palestina sebuah kemerdekaan.

Mereka dan para pembelanya akan terus berbuat makar, tak peduli berapa yang harus jadi korban. Targetnya, setiap jengkal tanah Palestina bisa sepenuhnya mereka rebut dalam genggaman. Bukan semata alasan keyakinan, tapi lebih karena politik kepentingan.


DILIHAT dari sejarah, kedudukan tanah Palestina sebagai tanah wakaf kaum muslimin benar-benar tak bisa diragukan. Pembebasannya dari penjajahan Romawi, adanya Perjanjian Umariyah, dan penyerahan kunci gerbang Baitulmaqdis secara sukarela oleh Uskup St. Sophronius kepada Khalifah Umar, mengonfirmasi kedudukannya sebagai tanah kharajiyah milik umat Islam.

Sejarah pula yang membuktikan bahwa berdirinya “negara Zionis” sendiri tidak bisa lepas dari perang peradaban yang sangat panjang antara Islam dan kekufuran. Barat, khususnya Inggris, sengaja mendirikan negara ini untuk menjadi duri dalam daging bagi umat Islam serta demi melanggengkan penjajahan.

Mereka bekerja sama dengan aktor-aktor Zionis yang haus kekuasaan dan hatinya dipenuhi dengan dendam. Mereka sematkan isu agama agar agenda ini mendapat dukungan kuat dari Yahudi dalam skala internasional.

Sudah sejak lama mereka terus berusaha menggoyang kekuatan negara Khilafah Islam, institusi yang belasan abad sukses menjaga kewibawaan umat Islam. Namun sayangnya, kelemahan internal di dunia Islam nyatanya turut membantu musuh untuk meraih tujuan yang diinginkan.

Baca juga:  Palestina Butuh Militer, OKI Sibuk Memberi Retorika

Saat itu, negara Khilafah berhasil diseret dalam Perang Dunia yang memosisikannya berada di pihak yang kalah. Lalu negara-negara Barat pun menjadikan wilayah Khilafah sebagai rampasan perang dan mengerat-ngerat wilayahnya melalui perjanjian internasional.

Maka kita pun tahu, pada tahun 1916 terjadi perjanjian rahasia Sykes-Picot yang telah memuluskan target pendirian Israel, karena Palestina resmi menjadi wilayah di bawah pengaruh Inggris. Perjanjian ini diperkuat dengan Deklarasi Balfour (1917)  yang berisi legitimasi kerajaan Inggris atas rencana Rothschild dan Herzl untuk mendirikan negara Zionis di Palestina.

Setelah itu, gelombang migrasi bangsa Yahudi ke tanah ini pun berlangsung begitu masif dan sangat mulus. Peristiwa inilah yang menjadi awal bencana besar yang dialami penduduk Palestina hingga sekarang. Terutama ketika negara monster itu akhirnya berhasil diproklamasikan pada tahun 1948.


ENTAH berapa banyak darah yang sudah tertumpah di Palestina sejak Yahudi menapakkan kakinya di sana. Yang pasti, sejengkal demi sejengkal, tanah Palestina direbut dengan paksa tanpa sedikit pun rasa iba.

Doktrin “tanah harapan” dan “bangsa pilihan” benar-benar tertancap di setiap jiwa dan raga bangsa Yahudi, tak terkecuali anak kecil yang baru dilahirkan. Sementara, kaum muslim Palestina dan sebagian kaum Nasrani yang terikat oleh sejarah perjanjian Umariyah, nyaris sulit untuk bertahan.

Sebagian mereka memilih eksodus meninggalkan tanah kelahiran, sebagian lagi memilih bertahan dalam situasi yang penuh ketakpastian.

Saudara-saudara mereka di luar, nyaris tak bisa berbuat apa-apa. Para pemimpin negara yang muslim hanya mampu beretorika tanpa memberi solusi nyata. Malah sebagian mereka turut mengukuhkan penjajahan dan bertanggung jawab atas pembunuhan terstruktur warga Palestina.

Adapun sebagiannya lagi, justru masuk dalam jebakan politik dan propaganda negara-negara besar di bawah komando Amerika dan sekutunya. Yakni dengan mendukung solusi yang menjauhkan dari penyelesaian sebenarnya, berupa seruan pemberian kemerdekaan Palestina dalam format solusi dua negara.

Baca juga:  Membersihkan Benalu dari Tanah Palestina

Selain propaganda itu, dunia, termasuk sebagian kaum muslim di negeri ini, tampaknya juga sudah termakan propaganda bahwa persoalan Palestina bukan persoalan agama, tapi kemanusiaan semata. Hingga lagi-lagi membuat mereka terjauhkan dari solusi tuntas yang justru ada pada ajaran agama.


DALAM pandangan Islam, persoalan Palestina adalah persoalan akidah, sekaligus persoalan hukum syariat. Ia akan tuntas ketika dipandang sebagai persoalan penjajahan yang hanya bisa dihilangkan dengan jihad dan Khilafah.

Palestina jelas tak bisa merdeka dengan perundingan-perundingan, kecuali mereka relakan sebagian besar tanahnya yang telah dirampas sebagai milik si perampas.

Namun, bagaimana caranya penduduk Palestina dan para penguasa yang mengambil solusi ini bisa mempertanggungjawabkan lepasnya tanah wakaf milik umat kepada seluruh umat Islam hingga hari kiamat? Bagaimana caranya mereka menebus dosa?

Sungguh solusi itu hanya akal-akalan penjajah dan sekutu mereka untuk mengulur waktu hingga penduduk Palestina benar-benar musnah. Namun mereka rupanya lupa, kaum mukminin yang kelurusannya terjaga begitu meyakini bahwa ujung dari semua cerita adalah kembalinya Palestina ke tangan mereka.

Dalam Al-Qur’an surah QS Al-Isra: 4 disebutkan bahwa mereka akan mengalami kekalahan kedua, setelah sebelumnya melakukan kerusakan dan mengalami kekalahan yang pertama. Yakni tatkala melakukan berbagai makar sejak mereka terusir dari Madinah hingga terusir dan terlunta-lunta setelah terjadi perjanjian Umariyah di Palestina.

Dunia pun menyaksikan, mereka memang kembali merajalela saat Inggris mendukung eksistensi mereka dan membuat “negara Zionis” di Palestina. Maka, saat inilah umat Islam akan membuktikan ujung cerita, bahwa Yahudi pasti akan kembali kalah dengan terhina.

Baca juga:  Larangan Normalisasi Adalah Perintah Allah SWT

Dalam hadis Rasul saw. sampai digambarkan, perang jihad antara pasukan mukmin dengan mereka akan melibatkan pepohonan dan bebatuan. Yang mana mereka semua akan membantu pasukan mukmin, kecuali pohon berduri bernama Gharqad saja.


LANTAS, kapankah hari itu tiba?

Jawabannya sebagaimana disebut dalam QS Al-Isra’ ayat 5 dan 7. Yakni saat muncul hamba Allah yang memiliki pasukan luar biasa (Ibadan lana uli ba’sin syadidin). Ia tak lain adalah seorang Khalifah yang kemunculannya kembali telah dijanjikan oleh Allah dalam Al-Qur’an dan oleh Rasulullah saw..

Tentu saja keberadaan janji Allah ini tak boleh membuat kita mengambil sikap diam. Karena kita diperintah untuk berjuang menapaki sunatullah demi mendatangkan sebab-sebab kemenangan. Seraya menguatkan optimisme bahwa langkah apa pun yang kita tujukan untuk merealisasikan Khilafah, akan berujung pada kemenangan.

Oleh karenanya, kesempatan berjuang inilah yang semestinya kita manfaatkan. Agar kelak saat kita berpulang, kita punya hujah di hadapan Allah, bahwa kita tak diam melihat kezaliman. Sekaligus kita berhujah, bahwa kita punya peran dalam merealisasikan kemenangan, sekalipun belum tentu kemenangan itu akan sempat kita rasakan.

Allah Swt. berfirman,

وَقُلِ ٱعْمَلُوا۟ فَسَيَرَى ٱللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُۥ وَٱلْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَٰلِمِ ٱلْغَيْبِ وَٱلشَّهَٰدَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

Dan katakanlah, “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang mengetahui akan yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS At-Taubah: 105) [MNews/SNA]

Tinggalkan Balasan