Pembebasan Masjidilaqsa

MuslimahNews.com, FOKUS — Israel menyerang warga Palestina kembali. Melansir Al Jazeera, hingga Sabtu (15/5/2021) pagi, setidaknya 137 warga Palestina, termasuk 36 anak-anak, telah tewas. Sementara itu sebanyak 920 orang cedera. (Nasional.kontan.co.id)

Selanjutnya Gaza mengalami serangan terberatnya dan Dewan Keamanan (DK) PBB akan rapat darurat. Melansir AFP pada Selasa (18/5/2021), DK PBB akan rapat darurat hari ini untuk mengakhiri konflik Israel dan Palestina terkini yang telah menewaskan lebih dari 220 orang, mayoritas adalah warga Palestina. (Kompas.com)

Ramadan yang lalu, Israel juga menyerang Palestina. Pihak berwenang Palestina menyebutkan selain puluhan yang tewas itu, sekitar 2.700 orang lainnya cedera dalam peristiwa yang mereka sebut sebagai “pembunuhan massal”. (bbc.com)

Seperti biasanya, menanggapi pembantaian tersebut, negara-negara yang tergabung dalam Organisasi Kerja sama Islam (OKI), pada Ahad (16/5/2021) menggelar pertemuan secara virtual dan dihadiri oleh 16 perwakilan negara. Dalam pertemuan tersebut, negara anggota OKI membahas situasi terkini konflik antara Israel dan Palestina.

Pertemuan tersebut akan menghasilkan resolusi negara-negara anggota OKI. Ada sejumlah poin yang bisa diharapkan masuk dalam resolusi, antara lain, seruan kepada komunitas internasional, khususnya Dewan Keamanan PBB, untuk mengambil langkah konkret atas tindakan kekerasan dan pelanggaran hukum internasional. (kontan.co.id)

Berita terakhir, pada Jumat dini hari, 21 Mei 2021, warga Palestina mengumumkan kemenangannya dan terjadi gencatan senjata dengan Israel. Warga Palestina merayakannya dengan takbir sebagaimana merayakan Idulfitri yang sempat tertunda, dan mengumumkan kemerdekaannya.

Akankah kemerdekaan Palestina ini bisa dipertahankan oleh Palestina sendiri? Artinya Palestina mampu membebaskan dirinya sendiri? Atau harus dibebaskan oleh negeri-negeri Islam yang tergabung dalam OKI? Atau harus dibebaskan oleh institusi Islam yang kuat yang bernama Khilafah?

Untuk menjawab pertanyaan ini, mari kita menengok sejarah Palestina terlebih dahulu, agar kita mampu untuk menganalisis dan memberi solusi tuntas kepada Palestina, berupa pembebasan Masjidilaqsa dan wilayah Palestina secara keseluruhan, tanpa kecuali.

Sejarah Masjidilaqsa (Palestina)

Masjidilaqsa (Palestina) adalah milik kaum muslimin, sejak Allah Swt. menyatukan negeri ini dengan Baitullah Al-Haram, ketika meng-isra’-kan Rasul-Nya dari Masjidilharam menuju Masjidilaqsa.

Baca juga:  Sistem Ini Tidak Akan Melindungi Muslim Palestina

Firman Allah QS Al-Isra’[17]: 1,

سُبۡحَٰنَ ٱلَّذِيٓ أَسۡرَىٰ بِعَبۡدِهِۦ لَيۡلٗا مِّنَ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِ إِلَى ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡأَقۡصَا ٱلَّذِي بَٰرَكۡنَا حَوۡلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنۡ ءَايَٰتِنَآۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡبَصِيرُ

“Mahasuci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.”

Dari ayat tersebut, sungguh Allah Swt. telah menjadikan tempat tersebut sebagai bumi yang suci lagi diberkahi. Hati kaum muslimin terpaut erat dengan ibu kota Palestina (Baitulmaqdis, Yerusalem), karena Allah Swt. telah menjadikannya sebagai kiblat yang pertama, sebelum Allah memerintahkan untuk menghadap ke arah kiblat ke Baitullah, Makkah.

Sebenarnya, masalah Palestina telah dirancang oleh musuh-musuh Islam, dengan mendirikan “negara” Israel di jantung wilayah Khilafah Utsmaniyah. Tujuannya adalah menghancurkan Khilafah dan memecah belahnya menjadi negeri-negeri kecil yang tak berdaya, dan senantiasa menghalangi kebangkitan kaum muslimin untuk bersatu meraih kejayaannya kembali. (Iyad Hilal, Palestina, Akar Masalah dan Solusinya, Bogor, Pustaka Thariqul Izzah, tahun 2003, Cetakan kedua, hlm. 13)

Hal ini sebagaimana dikatakan Lord Cambel saat menyambut pendirian “negara” Yahudi yang diupayakan Gerakan Zionis yang didirikan oleh Theodore Hertzl tahun 1896 M.

Lord Cambel menyatakan,

“Di sana terdapat satu bangsa yang saling berhubungan, tinggal di seputar Teluk. Bahasa mereka satu, agama mereka satu, tanah mereka saling berhubungan dan dulu bergabung (jadi satu), dan harapan mereka juga satu.

Hari ini mereka berada di bawah kekuasaan kita, tetapi ia mulai menggeliat. Lalu apa yang akan terjadi pada kita jika ia bangun dan menjadi raksasa?

Oleh karena itu, wajib bagi kita untuk memastikan pengikatan bangsa ini dengan mengadakan negara di tengah-tengah mereka, yang nanti menjadi teman kita dan menjadi musuh bagi penduduk wilayah itu, dan negara itu menjadi kekuatan yang menusuk raksasa tidur itu setiap kali ia hendak bangun.”

(Ali Muhammad Ash-Shalabi, Bangkit dan runtuhnya Khilafah Utsmaniyah, Jakarta, Pustaka al Kautsar, tahun 2004).

Baca juga:  Mencermati Karakter Yahudi, Adakah Solusi Selain Jihad untuk Menyelamatkan Palestina?

Selanjutnya, masalah Palestina muncul sebagai masalah politik sejak tahun 1916 M, ketika wilayah Turki Utsmani dibagi-bagi di antara negara Eropa, dengan perjanjian Sykes-Picot, dilanjut perjanjian Balfour. Kedua negara lalu memberikan bantuan harta, senjata dan bantuan lainnya bagi berdirinya negara Israel tersebut. (Fathi Yakan, Islam di Tengah Persekongkolan Musuh Abad-20, Jakarta, Gema Insani Press, tahun 1992, Cetakan kelima, hlm. 53—54).

Perkembangan berikutnya, agar kepentingan negara adidaya di Timur Tengah yang ikut memberi saham yang cukup besar terhadap eksistensi negara Israel tetap terjaga dan terjamin. Sehingga, tidak heran jika berbagai kecaman terhadap Israel–hanya sekadar kecaman–mengalir. Namun, seperti biasa, kecaman itu segera lenyap ditelan waktu. (voaindonesia.islam.com)

Sejak pendudukan Israel atas Palestina, Israel merampas tanah Palestina hingga makin lama wilayah Palestina makin sempit. Di samping itu, serangan Israel telah menciptakan neraka bagi Palestina. Penduduknya banyak yang telah gugur, sisanya makin menderita.

Sejak tahun 1938 sampai 2021, sudah 33 serangan brutal Israel ke Palestina. Ribuan orang syahid, luka-luka, dan kehilangan tempat tinggal.

Pembebasan Masjidilaqsa (Palestina)

Permasalahan Palestina bukan sekadar permasalahan kemanusiaan, yaitu tidak terpenuhinya hak-hak penduduk Palestina, melainkan permasalahan akidah.

Akar permasalahan di Palestina adalah perampasan tanah Palestina (tempat suci kaum muslimin: Masjidilaqsa, QS Al Isra’[17]; 1) oleh Zionis. Selanjutnya, Zionis Israel meminta Tanah Palestina dibagi dua wilayah yaitu negara Israel (perampas) dan Palestina. (Iyad Hilal. Palestina, Akar Masalah dan Solusinya. Bogor, Pustaka Thariqul Izzah, tahun 2003, Cetakan kedua, hlm. 13).

Sudah nyata, bahwa mereka senantiasa memusuhi Islam. Firman Allah QS Al-Baqarah ayat 120,

وَلَن تَرۡضَىٰ عَنكَ ٱلۡيَهُودُ وَلَا ٱلنَّصَٰرَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمۡۗ قُلۡ إِنَّ هُدَى ٱللَّهِ هُوَ ٱلۡهُدَىٰۗ وَلَئِنِ ٱتَّبَعۡتَ أَهۡوَآءَهُم بَعۡدَ ٱلَّذِي جَآءَكَ مِنَ ٱلۡعِلۡمِ مَا لَكَ مِنَ ٱللَّهِ مِن وَلِيّٖ وَلَا نَصِيرٍ

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah, ‘Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar).’ Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.”

Dengan demikian, persoalan Palestina jelas bukan hanya persoalan bagi penduduk Palestina atau bangsa Arab saja, melainkan pada kenyataannya adalah persoalan Islam, persoalan kaum muslimin seluruh dunia.

Baca juga:  [News] Sokongan kepada Israel, Pengingkaran terhadap Realitas dan Jati Diri Muslim

Karenanya, bukan persoalan kemanusiaan semata, tapi persoalan akidah. Persoalan Palestina dan tempat-tempat suci Islam adalah persoalan negeri Islam yang telah dirampas oleh Zionis dengan bantuan negara-negara adidaya serta penguasa kaum muslimin yang menjadi kaki tangan mereka. (Iyad Hilal, Palestina, Akar Masalah dan Solusinya).

Dengan mengkaji latar belakang pendudukan Israel atas Palestina dan mengkaji solusi yang yang telah diberikan selama ini, maka tidak ada solusi lain kecuali kaum muslimin wajib berjuang membebaskan Palestina dan bersatu, bersungguh-sungguh menegakkan kembali institusi Islam yang akan menaungi Palestina.

Mengapa demikian? Karena terbukti solusi moderat atau jalan tengah, atau adanya dua negara berdampingan secara damai, tidak akan pernah terwujud.

Lihatlah betapa biadabnya pembantaian yang dilakukan oleh Israel. Lihatlah perampasan wilayah yang dilakukan Israel, betapa luasnya dan makin meluas. Sementara, wilayah Palestina makin sempit.

Sering kali Israel mengingkari kesepakatan gencatan senjata, mengapa kaum muslimin masih percaya? Mengapa setiap selesai gencatan senjata, wilayah Israel makin meluas? Apalagi solusi kecaman dan resolusi. Sudah berapa kecaman dan resolusi dari negara-negara anggota OKI diveto negara Dewan Keamanan Tetap PBB? Masihkah kita berharap solusi yang tidak menyolusi itu?

Hanya institusi Islam yang telah melindungi Palestina hampir 13 abad (selama 1.280 tahun). Palestina dibebaskan Khalifah Umar bin Khaththab tahun 636 M.

Karenanya, tentu institusi Islam yang bernama Khilafah yang akan melindunginya kembali, mempertahankan seluruh wilayah/tanah kaum muslim. Rasulullah saw. telah bersabda,

إِنَّمَا اْلإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَراَئِهِ وَيُتَّقَى بِهِ

“Sesungguhnya Imam adalah laksana perisai, orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya.” (HR Muslim). [MNews/Tim WAG]

*Artikel ini adalah artikel pengantar Diskusi Online WAG pada Ahad, 23/5/2021

Tinggalkan Balasan