Idulfitri di Somalia, Ciid ul-Fitriga

MuslimahNews.com, IDULFITRI SEDUNIA — Masyarakat Somalia menyebut Idulfitri dengan ciid ul-fitriga. Selain salat Id, memakai baju baru, dan bermaafan, muslim di Somalia merayakan Idulfitri dengan jamuan makan yang lezat. Hidangan khas Somalia saat lebaran adalah xalwo (halwo atau halva).

Satu lagi kuliner lebaran khas Somalia adalah cambaabur. Roti ini mirip dengan injera, roti asal Afrika, tetapi memiliki bumbu yang berbeda. Cambaabur disajikan dengan taburan gula dan yoghurt sebagai topping. Selain Somalia, cambaabur juga sangat populer di Djibouti.

Bentuk cambaabur menyerupai crepes. Roti ini terbuat dari tepung gandum yang diberi bumbu berupa bawang putih, bawang bombai, kunyit, dan rempah-rempah. Adonan dituang di wajan datar, dimasak hingga matang, kemudian dilipat bentuk segitiga.

Foto: akamaized.net

Sayangnya, kebahagiaan merayakan Idulfitri ini dirasakan di tengah nestapa rakyat Somalia. Berapa tidak, negeri ini mengalami berbagai krisis. Mulai dari konflik internal, penyakit, hingga serangan hama. Akibatnya, banyak penduduk yang harus mengungsi.

PBB mengungkapkan bahwa sekitar 1,3 juta orang mengungsi di Somalia sepanjang 2020. Secara keseluruhan, 3,1 juta warga Somalia yang paling rentan, termasuk satu juta anak balita. Bencana alam akibat perubahan iklim memperparah krisis itu, terutama banjir dan kekeringan.

Padahal dulunya, di bawah sistem Khilafah, Somalia berada dalam kesejahteraan dan kemakmuran. Islam masuk ke Somalia tak lama setelah Rasulullah hijrah. Pada akhir abad ke-9, umat Islam membangun kehidupan di pesisir utara Somalia. Vasco da Gama yang pernah ke Mogadishu, ibu kota Somalia, pada abad ke-15, mencatat bahwa itu adalah kota besar.

Foto: republika.co.id

Di sana berdiri rumah-rumah beberapa lantai. Istana yang tinggi dan besar berada di di pusat kota. Di sana juga banyak masjid dengan menara yang menjulang tinggi. Masjid dua mihrab milik Zeila al-Qiblatayn berasal dari abad ke-7, dan merupakan masjid tertua di kota tersebut.

Kota Mogadishu kemudian dikenal sebagai Kota Islam dan mengendalikan perdagangan emas Afrika Timur selama beberapa abad. Pada abad ke-16, banyak kapal dari Kerajaan Cambaya di India modern berlayar ke Mogadishu.

Mereka membawa kain dan rempah-rempah. Komoditas itu ditukar dengan emas, lilin, dan gading. Mogadishu memiliki daging, gandum, barley, kuda, dan buah yang melimpah di pasar pesisir. Komoditas ini yang menghasilkan kekayaan luar biasa bagi para pedagang Somalia. Mogadishu juga menjadi sentra industri tekstil yang terkenal.

Foto: detik.net.id

Selama lebih dari 1.400 tahun, Islam menjadi bagian penting dari masyarakat Somalia. Hampir seluruh warga Somalia yang berjumlah 10,3 juta jiwa adalah Muslim. Meski demikian, ada juga warga Somalia yang menganut Kristen dan kepercayaan lokal. Mereka bisa hidup harmonis meski ada beragam agama di sana. Semoga Somalia meraih lagi Kesejahteraannya di bawah Khilafah. [MNews/Rgl]

Tinggalkan Balasan