Idulfitri di Belanda, Pernah Akrab, Kini Fobia

MuslimahNews.com, IDULFITRI SEDUNIA — Di Belanda, Idulfitri lebih dikenal dengan sebutan Suikerfeest (pesta gula), karena pada hari itu banyak dihidangkan makanan manis. Sebutan itu muncul dari komunitas Maroko dan Turki di Belanda.

Muslim Indonesia di Belanda banyak tinggal di Amsterdam, Den Haag, Groningen, Leiden, Rotterdam, Utrecht, dan Wageningen. Saat Idulfitri, mereka akan melakukan salat Id di Masjid Al-Hikmah, Den Haag. Sesudahnya, mereka akan mengikuti halal bi halal di KBRI.

Selain sebagai sarana silah ukhuwah, halal bi halal juga menjadi obat kangen suasana di tanah air. Berbagai kuliner khas Indonesia disajikan. Di antaranya, lontong opor, sate, soto Betawi, sup konro, keredok, lumpia, lapis sagu, lupis, pastel, dan lain-lain. Juga minuman seperti wedang ronde, es cendol, dan es buah juga tersedia.

Berkumpul bersama sesama muslim merupakan hal yang ditunggu-oleh oleh warga muslim Belanda. Di negeri kincir angin ini, warga muslim berjumlah satu juta jiwa atau sekitar lima persen dari populasi yang mencapai 16 juta jiwa.

Banyaknya warga muslim di Belanda menjadikan mereka negara terbesar penduduk muslimnya setelah Prancis. Islam merupakan agama dengan perkembangan paling pesat.

Pada awalnya, hubungan muslim Belanda dengan warga Belanda berlangsung akrab. Warga menghormati keyakinan umat Islam. Sejumlah masjid pun dibangun, penggunaan pengeras suara untuk azan juga diperbolehkan, meski hanya ketika salat Jumat. Sejumlah perkantoran memberikan fasilitas tempat salat.

Namun sejak abad ke-21, sentimen anti-Islam meluas akibat provokasi dan tudingan negatif terhadap Islam. Para orientalis dan kalangan anti-Islam terus menerus menanamkan rasa takut dan kebencian terhadap muslim dan Islam. Mereka khawatir Islam akan semakin berkembang pesat di Belanda dan mengancam budaya dan nilai-nilai yang mereka yakini.

Islamofobia makin parah, sebagian masyarakat terang-terangan mendukung kelompok yang mencitraburukkan Islam. Muncul desakan untuk mengambil hak-hak muslim, menutup masjid, dan mengharuskan mereka untuk mengikuti gaya hidup Barat. Bahkan terjadi pelarangan terhadap hijab.

Geert Wilders, seorang anggota parlemen Belanda, merupakan orang yang sangat anti-Islam dan terus meniupkan kebencian terhadap Islam ke tengah masyarakat. Wilders memantik kemarahan komunitas muslim Belanda, dan bahkan dunia, dengan pemutaran film Fitna yang melecehkan Islam. Wilders juga menggagas rancangan undang-undang tentang pembatasan hijab.

Sungguh, butuh dakwah yang extra keras untuk membalik narasi jahat tentang Islam. Namun, Islamofobia bukanlah sesuatu yang alami tumbuh di masyarakat. Islamofobia diproduksi oleh para penguasa yang benci Islam, berikut media pendukungnya.

Selain aktivitas dakwah lisan, butuh pula tindakan riil yang menghentikan penghinaan terhadap Islam yang dilindungi oleh para pemimpin Barat. Namun pelaku penghentian ini haruslah pemimpin sah umat Islam, yaitu seorang Khalifah. Hanya Khilafah yang mampu membungkam pihak-pihak yang melecehkan Islam. [MNews/Rgl]

Tinggalkan Balasan