KeluargaRemaja

Remaja Butuh Visi Hidup


Penulis: Ummu Fairuzah


MuslimahNews.com, REMAJA — Beberapa hari lalu, di Bali sempat muncul pembahasan bahwa pandemi membuka peluang meningkatnya kenakalan remaja. Ada juga kasus viral penghinaan terhadap Palestina oleh siswi SMA di Bengkulu yang dinilai sebagai bentuk kenakalan remaja.

Satu lagi muncul pengakuan seorang remaja di salah satu web online bahwa menjadi fanatik K-Pop adalah satu cara menghindari kenakalan remaja akibat pergaulan yang melanggengkan maskulinitas toksik.

Memang, kenakalan remaja menjadi salah satu problem pelik yang menimpa kehidupan sosial dan pendidikan negeri ini. Prestasi remaja yang tidak sedikit justru tertutupi banjir pemberitaan seputar kenakalan remaja bahkan kriminalitas remaja.

Mungkin, anak-anak kita—tanpa kita sadari—berpeluang untuk menjadi “remaja nakal” dan baru menyesal ketika kejadian yang tidak diinginkan menimpa anggota keluarga kita.

Membangun Visi Hidup

Sebenarnya, ketika anak terhindar dari kenakalan remaja, bukan lantas persoalan selesai. Kenakalan remaja hanyalah akibat dari kekosongan visi dan misi hidup para remaja.

Ada kesalahan pandangan kebanyakan orang tua yang menganggap tugas remaja cukup belajar agar menjadi pintar berprestasi di sekolah lalu mendapatkan nilai yang bagus. Remaja dianggap tidak perlu diajak bicara tentang hakikat kehidupan dan bagaimana seharusnya kehidupan ini berjalan.

Padahal menurut Islam, di tangan remaja masa depan agama dan peradaban manusia digantungkan. Keberhasilan membangun visi besar kehidupan kepada para remaja, akan menyelamatkan dunia. Sebaliknya, kehancuran dunia berawal dari kegagalan generasi terdahulu menanamkan visi besar kehidupan kepada generasi muda.

Dalam surah Adz-Dzariyat ayat 56 disampaikan bahwa tujuan penciptaan jin dan manusia tidak lain hanyalah untuk beribadah kepada Allah Swt.. Inilah visi besar seorang mukmin.

Adapun dalam surah Ali Imran ayat 110 secara jelas Allah Swt. menggariskan misi hidup kaum muslimin dengan predikatnya sebagai khairu ummah, yakni melakukan amar makruf nahi mungkar dan memegang teguh keimanan kepada Rabb-nya.

Inilah visi dan misi hidup yang perlu ditanamkan dengan baik oleh orang tua kepada para remaja muslim hari ini.

Mengukuhkan Tanggung Jawab

Ibarat tanaman, akar yang bagus tidak cukup untuk menegakkan batang. Tanaman harus dirawat dengan baik agar pertumbuhannya maksimal, daunnya lebat, tidak mudah terserang hama, cepat berbuah atau berbunga.

Demikian juga remaja muslim, mereka membutuhkan asupan tsaqafah Islam yang cukup, lingkungan keimanan yang kondusif, stimulus yang cukup tentang kondisi umat agar mantap arah pandang hidupnya kelak harus menjadi siapa dan harus berbuat apa untuk agama dan umatnya.

Apa yang terjadi saat ini di Gaza dan Masjidilaqsa misalnya, sangat bagus menjadi media bagi orang tua untuk menumbuhkan tanggung jawab anak usia remaja sebagai bagian dari umat Rasulullah saw., umat yang satu, umat yang seharusnya menyandang predikat khairu ummah (umat terbaik).

Orang tua bisa mengajak remaja berpikir tentang apa yang menyebabkan saudara seakidah dihinakan di tanah suci; memberikan gambaran bagaimana Bumi Syam dibebaskan oleh kaum muslimin dengan kehormatan dan kemuliaan; dan betapa Al-Quds sangat menantikan kepemimpinan yang diberkahi untuk membebaskannya kembali.

Para remaja kita perlu memahami bahwa pada diri mereka yang diberi keluangan waktu, keleluasaan belajar dengan sarana yang lebih memadai.

Bagi mereka, ada tuntutan lebih untuk beramal saleh, melipatgandakan kontribusinya pada perkara-perkara yang utama, tidak menyibukkan diri dengan permainan dan senda gurau belaka.

Remaja kita perlu didukung untuk tidak malu menyuarakan visi dan misi besarnya kepada teman dan komunitasnya; menjadikan dakwah sebagai poros hidupnya, menikmati manisnya iman.

Berikan Keteladanan

Suri teladan terbaik dalam amal, ucapan, dan sifat-sifat akhlak adalah Rasulullah saw.. Berikutnya teladan dari para Sahabat beliau. Namun, tidak mudah memvisualisasikan kehadiran sosok-sosok mulia ini untuk masa sekarang. Remaja butuh teladan yang dekat agar mudah mereka indra.

Maka, berusaha menjadi contoh dalam melakukan segala kebaikan dan meninggalkan kemungkaran dan memilih perkara-perkara yang utama, merupakan pilihan bijak bagi orang tua.

Seribu kata tidak akan mampu mengalahkan satu amal nyata. Sebaliknya, satu cacat perilaku bisa menghapus seribu petuah bijak. Tak ada manusia yang sempurna, tak ada orang tua yang tak pernah bersalah. Pilihan rasionalnya adalah Ayah dan Bunda bersama ananda berusaha menjadi lebih baik meraih predikat mukhlisin dan muttaqin, meniti jalan sabar, mengharap rida-Nya. [MNews/Gz]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *