Idulfitri di Amerika Serikat, Tradisi Gedung Putih dan Pemboikotannya

MuslimahNews.com, IDULFITRI SEDUNIA – Saat Idulfitri, tak ada libur di Amerika Serikat. Hal ini tak lepas dari posisi umat Islam sebagai minoritas di negeri Paman Sam ini. Meski demikian, tetap merayakan Idulfitri dengan semarak. Agar bisa merayakan Lebaran, sebagian muslim Amerika rela mengambil cuti.

Acara open house rutin digelar tiap tahun sejak pukul 12.00 hingga 16.00 waktu setempat. Ragam pakaian muslim dan batik membuat suasana semarak, apalagi sambil menikmati kuliner Lebaran khas Indonesia seperti opor ayam, ketupat, rendang, sambal goreng hati, serta aneka kue tradisional.

Ada sebuah tradisi unik di Amerika yaitu perayaan Idulfitri di Istana Kepresidenan Amerika Serikat, Gedung Putih. Tradisi ini berawal pada 9 Desember 1805. Presiden AS saat itu, Thomas Jefferson bertemu dengan Duta Besar Tunisia untuk AS, Sidi Soleman Mellimelli. Saat itu Sang duta besar sedang menjalankan puasa Ramadan. Jefferson tertarik dengan aktivitas ibadah Mellimelli dan mengundangnya untuk berbuka puasa di Gedung Putih.

Di dalam undangan tertera “dinner was to have been on the table precisely at sunset” (makan malam akan dilakukan tepat saat matahari tenggelam). Penyesuaian waktu makan malam dengan iftar ini merupakan upaya sang presiden untuk mengapresiasi puasa Ramadan yang dijalankan Mellimelli.

Kaum Muslim dari luar AS menjadi sosok yang memperkenalkan tradisi Idul Fitri di Amerika. Setelah duta besar Tunisia di awal abad ke-19, orang Afrika di era perbudakan, dan imigran Arab di awal abad ke-20, maka menjelang pertengahan abad ke-20 pendatang asal Bengali-lah yang merayakan Idulfitri secara terbuka di tengah masyarakat Amerika.

Di dalam negeri, organisasi-organisasi muslim di AS melakukan berbagai pendekatan agar eksistensi kaum muslim diakui dan diapresiasi. Hasilnya, pada Idulfitri tahun 1996 Ibu Negara Hillary Clinton mengundang sejumlah muslim untuk merayakan Idulfitri di Gedung Putih.

Makan malam sebagai penanda iftar di akhir Ramadan menjadi kebiasaan di masa pemerintahan selanjutnya, termasuk di bawah George W. Bush dan Barack Obama. Tradisi ini terhenti di masa kepresidenan Donald Trump.

Sejak tahun 2017, Trump ia tidak lagi menyelenggarakan apa yang dikenal sebagai “ifter dinner for the end of Ramadan” (makan malam menandai akhir Ramadhan) ini, meski pemerintahannya tetap mengucapkan “Eid Mubarak” (Selamat Idulfitri) pada kaum muslim. Hilangnya tradisi ini terjadi setelah Menteri Luar Negeri, Rex Tillerson, dilaporkan menolak rekomendasi jamuan tersebut.

Namun pada tahun 2021 ini organisasi-organisasi muslim Amerika Serikat memboikot perayaan Idul Fitri virtual Gedung Putih pada hari Minggu (16/5) yang menandai akhir bulan suci Ramadan untuk memrotes dukungan pemerintahan Biden pada kekerasan Israel terhadap warga Palestina.

Dewan Hubungan Islam Amerika telah bergabung dengan organisasi-organisasi muslim nasional Amerika lainnya untuk memboikot perayaan Idulfitri Gedung Putih, karena tanggapan yang meningkat dan mengecewakan dari pemerintahan Biden terhadap pelanggaran hak asasi manusia oleh pemerintah Israel terhadap warga Palestina di Gaza dan Yerusalem Timur

Ribuan orang berunjuk rasa di kota-kota besar Amerika, termasuk Washington, New York, dan Boston, menuntut pemerintahan Biden berbuat lebih banyak untuk mengatasi pelanggaran hak asasi manusia oleh pemerintah Israel terhadap warga Palestina. [MNews/Rgl]

Tinggalkan Balasan