Melihat Kemesraan AS-Israel, di Mana Posisi Kaum Muslimin Sesungguhnya? 


Penulis: Asy Syifa Ummu Sidiq


MuslimahNews.com, OPINI — Langit bumi para nabi masih memerah. Kilatan-kilatan cahaya terlihat berpendar disertai dentuman yang memekakkan telinga. Darah dan air mata terus mengalir membasahi Palestina. Ratusan korban berjatuhan, namun tak satupun negara muslim yang mengulurkan tangannya. Hanya sebuah kecaman, sambil menunggu perintah dari Dewan Keamanan (DK) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Nyatanya, tak ada keputusan PBB terkait serangan zionis ke Palestina. Dilansir oleh bisnis.com (17/5/21), PBB gagal menyatukan satu suara menyikapi kekejaman Israel atas Palestina karena gangguan AS. Negara Adidaya tersebut dikabarkan menghalangi keputusan DK PBB untuk memberikan sikap atas kekerasan bangsa Yahudi.

Belakangan juga diketahui bahwa AS ternyata menjual senjata pintarnya ke Israel. Seperti yang diberitakan oleh viva.co.id (18/5/21), peralatan perang bernama bom Joint Direct Attack Munition atau Amunisi Serangan Langsung Gabungan (JDAM) telah dibeli negara zionis. Harganya mencapai US$735 juta, atau senilai dengan Rp10,5 triliun.

Keberpihakan AS

Berdasarkan dua peristiwa di atas, kita dapat mengetahui di mana keberpihakan AS sesungguhnya. Joe Biden digadang-gadang sebagai tokoh yang mampu menebar kedamaian dunia, terutama bagi Islam, ternyata jauh panggang dari api.

Saat pemilihan presiden yang lalu, ia dipilih dengan harapan berpihak pada kaum muslim. Kenyataannya, tak sedikitpun hatinya tergerak untuk membantu Palestina. Negara Paman Sam itu malah menjual senjata canggih kepada penjajah bumi para nabi.

Oleh karena itu tak sepantasnya sebagai seorang muslim kita menggantungkan harapan pada AS. Masih ingat dengan Bush? Mantan presiden AS yang melakukan polarisasi antara sekutunya dan teroris? Bagaimana tentara AS di bawah kendalinya telah meluluh-lantakkan Afganistan dan Irak?

Seluruh pemimpin AS pun akan begitu terhadap kaum muslimin. Selama mereka memakai mabda Kapitalisme yang menjadi musuh bebuyutan ideologi Islam. Hanya saja mungkin caranya berbeda, jika Bush secara terang-terangan, maka yang saat ini dengan sembunyi-sembunyi.

Kepentingan Abadi

Sesungguhnya sikap manis AS yang ditampakkan di hadapan kaum muslimin hanya sebagai pemerah bibir. Baginya tidak ada kebaikan kecuali hanya demi melancarkan kepentingan. Bagi AS, zionis Israel adalah duri yang sengaja ditanam di Timur Tengah untuk menebar teror dan menghembuskan perpecahan di sana. Masih ingatkan bagaimana AS dengan PBB sebagai kepanjangan tangannya telah menyetujui berdirinya negara Israel di tanah Palestina?

Semua itu dilakukan untuk memenuhi kepentingannya. Agar pamor negara Adidaya terus tersemat dalam dirinya. AS tetap menjadi negara nomor satu dan ditakuti dunia. Negara itu berusaha menahan kebangkitan kaum muslim di Timur Tengah. Itulah sebabnya penjualan senjata berpresisi tinggi tetap dilakukan di tengah memanasnya suasana antara Israel dan Palestina.

Islam Tetap Menang

Secanggih apapun senjata bangsa Yahudi, tak akan mampu mengalahkan kaum muslimin. Sebesar apapun mereka menghujani roket ke Palestina, justru akan menambah keyakinan akan kemenangan. Bagi rakyat Palestina, jika mereka gugur dalam medan pertempuran atau menjadi korban, maka surga telah dijanjikan. Tapi jika mereka menang, pahala dan kemerdekaan ada dalam genggaman.

Seperti apapun keadaannya sekarang, Islam pasti menang. Karena Allah telah memberikan janjiNya, bahwa Islam akan memimpin dunia. Pertanyaannya hanya satu, dimana peran kita untuk menolong saudara seiman? Apakah kita diam atau memberikan kontribusi demi kemenangan Islam?

Kemerdekaan Palestina Membutuhkan Peran Seluruh Negeri Muslim

Kebebasan Palestina tak akan begitu saja didapatkan. Diperlukan perjuangan dan dukungan seluruh muslim. Karena tanah para nabi itu adalah peninggalan turun-temurun kaum muslimin. Bagi kita secara pribadi, hanya dapat menyeru dan menyampaikan kepada khalayak umum bahwa Palestina butuh bantuan. Tidak hanya bantuan materi dan obat-obatan, tapi juga butuh bantuan militer.

 

Kekuatan militer ini tidak mungkin dapat dikirimkan secara pribadi. Karena yang berhak mengirimkan militer adalah pemimpin negeri muslim. Jadi, sebagai pemimpin negeri kaum muslim seharusnya tidak menjadikan AS dan Israel sebagai kawan. Tapi menjadikan mereka sebagai musuh besar. Jika para memimpin negeri muslim berani bertindak mengirim pasukan tanpa menunggu keputusan PBB, maka Palestina akan dibebaskan. []

 

Tinggalkan Balasan