Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq Menghentikan Sepak Terjang Nabi Palsu


Penulis: Nabila Ummu Anas


MuslimahNews.com, TARIKH KHULAFA — Di antara kebijakan tegas Khalifah Abu Bakar ra adalah menumpas para nabi palsu. Nabi Muhammad saw. adalah nabi terakhir, khatamul anbiya. Ketika ada yang mengaku sebagai nabi dan utusan Allah maka dapat dipastikan dia adalah nabi palsu.

Allah Swt. berfirman, “Muhammad itu bukanlah bapak dari seseorang di antara kalian, melainkan dia adalah utusan Allah dan penutup para nabi. Dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al Ahzab : 40)

Dari Tsauban ra bahwa Rasulullah saw. bersabda, ”…Aku adalah penutup para nabi, tidak ada lagi Nabi sesudahku…” (HR. Abu Dawud)

Mendengar Rasulullah Muhammad saw. telah wafat, maka bermunculan orang-orang yang mengaku sebagai nabi. Mereka mengaku telah menerima wahyu dari Allah.
Dengan kebohongannya, dia menyampaikan dan memengaruhi masyarakat untuk menjadi pengikutnya. Tidak hanya menyebarkan ajarannya yang palsu dan memperbanyak pengikut, namun mereka juga memperluas wilayah dengan kekuatan pasukan.

Bagi Khalifah Abu Bakar ra, munculnya nabi palsu dan sepak terjangnya tidak boleh dibiarkan karena sangat jelas mengganggu stabilitas keamanan di dalam negeri. Kelancangan mereka dengan membentuk pasukan militer dan memperluas wilayah kekuasaannya berpotensi membuat opini umum baru yang akan menyurutkan eksistensi ketangguhan Negara Madinah.

Nabi Palsu Bani Asad: Thulaihah bin Khuwailid

Di antara yang memproklamirkan diri sebagai Nabi adalah Thulaihah bin Khuwailid. Dia beranggapan Malaikat Jibril telah menyampaikan wahyu kepadanya. Saat itu Nabi saw. masih hidup.

Maka Rasulullah saw. memerintahkan Dhirar bin al Azwar al Asadi untuk memerangi Thulaihah dan para pengikutnya. Ketika penyerangan akan dilakukan, sampailah berita bahwa Rasulullah saw. wafat. Maka Thulaihah pun semakin bertingkah hingga Bani Ghaththfan dan Bani Asad ikut bergabung dengannya.

Khalifah Abu Bakar ra mengirim Khalid bin Walid untuk memerangi Thulaihah dan pasukannya di daerah Samir dan Bazakhah. Pasukan Thulaihah berhasil dipukul mundur. Dia melarikan diri menuju Syam dan tinggal bersama Bani Jafnah, sampai Abu Bakar meninggal dunia. Pada masa kekhalifahan Umar bin Khaththab, Thulaihah kembali masuk Islam.

Mengakhiri Riwayat Musailamah al Kadzdzab

Adalah Musailamah al Kadzdzab, seorang laki-laki dari Yamamah yang mengaku telah menerima wahyu dan sebagai nabi. Dia dan pengikutnya pernah datang ke Madinah menemui Rasulullah saw. Ditemani Tsabit bin Qais bin Syammas, Rasulullah saw. mendatangi Musailamah. Saat itu Rasulullah saw. memegang pelepah kurma.

Tepat di depan Musailamah dan pengikutnya, Rasulullah saw. berkata, “Jika engkau meminta pelepah kurma ini dariku, aku tidak akan memberikannya kepadamu. Aku juga tidak akan menyerahkan urusan Allah kepadamu. Jika aku berpaling, niscaya Allah akan membinasakanmu. Aku telah diberitahu tentang dirimu dalam mimpi dan ini adalah Tsabit, akan menjawabmu mewakiliku.” Kemudian Nabi saw. pergi meninggalkannya.

Setelah Musailamah al Kadzdzab kembali ke wilayahnya dan Nabi saw. baru pulang dari Haji Wada, ia mengirimkan utusan yang membawa surat kepada Nabi saw. Di dalam surat tersebut, Musailamah menyatakan sebagai sekutu Nabi Muhammad saw. dalam kepemimpinan. Rasulullah saw. membalas surat tersebut dan menyatakan bahwa bumi ini milik Allah dan akan diwariskan kepada hamba-hamba-Nya yang Dia kehendaki.

Setelah Rasulullah saw. wafat, Khalifah Abu Bakar ra memutuskan untuk memerangi Musailamah al Kadzdzab beserta pengikutnya. Abu Bakar menyerahkan bendera perang kepada Ikrimah bin Abi Jahal dan memerintahkan pasukan Ikrimah menyerang Musailamah di wilayah kekuasaannya.

Khalifah Abu Bakar ra juga memberangkatkan pasukan yang dipimpin Syurahbil bin Hasanah di belakang Ikrimah sebagai pasukan pembantu. Akan tetapi Ikrimah tidak menunggu pasukan Syurahbil dan segera menyerang pasukan Musailamah. Karena jumlah pasukan kaum muslimin sedikit dibandingkan pasukan musuh, akhirnya pasukan Ikrimah berhasil dipukul mundur.

Mendengar kekalahan tentara Ikrimah, Khalifah Abu Bakar ra mengirim pasukan yang dipimpin Khalid bin Walid untuk menyelesaikan Musailamah al Kadzdzab. Khalid bin Walid bersama pasukan yang jumlahnya besar terdiri dari kaum muslimin Muhajirin dan Anshar. Pasukan Syurahbil diperintahkan untuk menunggu kedatangan pasukan Khalid bin Walid. Untuk kemudian mereka menjadi pasukan gabungan yang akan menyerang pasukan Musailamah yang berjumlah hampir empat puluh ribu orang.

Peperangan berkecamuk dengan hebat. Kaum muslimin satu sama lain saling memberikan semangat dan bertempur habis-habisan di medan perang. Musailamah dan pasukannya terdesak, dipukul mundur dan berlindung di perkebunan milik Musailamah.

Pasukan kaum muslimin terus menyerang, hingga dari pihak musuh banyak yang terbunuh, termasuk Musailamah al Kadzdzab.

Perempuan Mengaku Sebagai Nabi
Sajah binti Harits bin Suwaid, adalah seorang perempuan dari kalangan Nashrani Arab Bani Taghlab yang juga mengaku sebagai nabi setelah wafatnya Rasulullah saw. Bani Taghlab dan Bani Tamim menjadi pengikut nabi palsu ini.

Sajah memiliki pasukan dan memperluas wilayah kekuasaan dengan kekuatan tentaranya. Ketika bertemu dengan Musailamah al Kadzdzab di Yamamah, Sajah berhasil diperistri olehnya.

Setelah mendengar pasukan Khalid bin Walid telah mendekati Kota Yamamah, Sajah segera kembali ke wilayahnya meninggalkan Yamamah. Kemudian dia tinggal di tengah kaumnya Bani Taghlab. Mendengar berita Musailamah telah terbunuh, Sajah kembali memeluk Islam dan hidup sampai era Khalifah Muawiyah. [MNews/Rgl]

Sumber: Tarikh Khulafa, Prof. Dr. Ibrahim al Quraibi, Qisthi Press

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *