Idulfitri di Negara Stan, Geliat Kebangkitan Setelah Dikungkung Komunisme

MuslimahNews.com, IDULFITRI SEDUNIA — Afghanistan, Kazakhstan, Uzbekistan, dan Tajikistan adalah negara-negara yang bekas jajahan Uni Soviet. Kata “stan” merupakan bahasa Persia dan Urdu yang berarti tempat. Negara-negara stan terletak di Asia Tengah dan Asia Selatan.

Mayoritas penduduk negara stan adalah muslim. Maka, Idulfitri di wilayah ini disambut dengan meriah. Persiapan menyambut Idulfitri sudah dilakukan sejak 15 hari sebelumnya.

Muslim di Afghanistan biasanya akan berbelanja baju, furnitur, karpet, permadani, dan makanan. Tak lupa, mereka juga membersihkan rumah.

Pada malam Idulfitri, mereka memasak aneka hidangan. Di antaranya adalah sheer khurma, manti, dan bolani (roti isi). Anak perempuan berkumpul untuk saling menggambar henna di tangan.

Pada hari pertama Idulfitri, muslim Afghanistan melakukan salat Id,  lalu berkumpul bersama keluarga sambil menikmati hidangan yang telah disiapkan. Suasana makin penuh sukacita ketika para orang tua memberi uang saku lebaran pada anak-anak.

Kaum muslim di sana saling berkunjung dan memberikan ucapan selamat lebaran dan saling mendoakan. Biasanya mereka mengucapkan “Eid Mubarak, Roza wa Namaz Qabool” yang artinya Idulfitri yang diberkati.

Yang menarik, ada sebuah tradisi unik saat lebaran di Afghanistan yaitu perang telur. Dalam permainan ini, kaum lelaki berkumpul di taman dengan membawa telur rebus yang berwarna-warni.

Satu pemain mengadu telur yang mereka bawa dengan pemain lain, hingga telur tersebut pecah. Acara ini menjadi ajang silaturahmi antar keluarga, kerabat, dan rekan.

Suasana meriah juga terasa saat lebaran di Kazakhstan. Setelah salat Id, umat Islam Kazakhstan menikmati makanan bersama keluarga, menu khasnya adalah egg paratha. Anak-anak pun bersukacita karena mendapat hadiah dari orang tua.

Anak-anak juga berjalan keliling mengunjungi tetangga. Mereka mengucapkan sebuah sajak dan mendapatkan hadiah berupa uang atau permen dari orang yang didatangi.

Saat malam hari, anak-anak melakukan permainan dan menyalakan kembang api. Suasana pun makin meriah.

Sementara muslim Uzbekistan menyiapkan lebaran sejak hari Arafa, yaitu sehari sebelum hari raya. Mereka membuat kue tradisional seperti chak-chak, kush-tili, bugirsok, dan orama. Kudapan ini selalu tersaji di meja saat hari raya.

Mereka juga masak pilaf atau palov yaitu nasi yang dimasak bareng daging domba atau sapi, wortel, dan bawang. Palov biasanya dihidangkan di atas piring keramik bernama kosa. Biasanya mereka akan saling bertukar palov dengan tetangga.

Adapun di Tajikistan, setelah menjalankan salat Id serta menikmati palov dan sumalak, umat Islam akan berkumpul dengan keluarga, kerabat, dan teman dekat. Anak-anak pun mendapatkan hadiah.

Kesempatan merayakan Idulfitri dan melakukan ibadah salat, puasa, dan lain-lain merupakan hal yang disyukuri di negara-negara stan. Dulu, selama berpuluh tahun di bawah kungkungan komunisme, mereka tidak bisa menjalankan ibadah dengan tenang.

Ketika dijajah Uni Soviet, umat Islam di negara-negara stan dilarang menjalankan Islam. Umat Islam yang ketahuan menunaikan ibadah salat atau haji pasti akan dijatuhi hukuman berat. Rezim Khrushchev menggulirkan propaganda anti-Islam. Bahkan pemimpin Kremlin secara terang-terangan menyatakan perang terhadap agama, termasuk Islam. Larangan itu tak menyurutkan muslim di sana untuk beribadah, meski harus secara sembunyi-sembunyi

Setelah keruntuhan Uni Soviet pada 1991, semangat berislam pun tumbuh dan terus meningkat. Di Afghanistan, Islam sangat berpengaruh dalam segala aspek kehidupan mereka. Bila ini terusik, maka rakyat akan gusar.

Masjid memiliki peran sentral di negeri para mullah ini. Masjid bukan hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai tempat tinggal untuk para tamu, tempat pertemuan, dan tempat perayaan keagamaan serta sekolah. Hampir setiap warga Afghanistan pernah belajar di masjid pada masa mudanya.

Islam masuk ke Afghanistan sejak masuknya Ashim bin Umar at-Tamimi pada masa khalifah Umar bin Khattab. Pada 870 M pengaruh Islam telah mengakar di seluruh negeri.

Sementara Islam dibawa oleh orang Arab ke Kazakhstan dan mencapai kawasan ini pertama kalinya pada abad ke-8. Islam pertama kali menyebar di bagian selatan Turkestan, kemudian berangsur-angsur tersebar ke utara.

Ketika dikuasai Uni Soviet, terjadi pelemahan Islam dengan memperkenalkan budaya pra-Islam. Para ulama Kazakh banyak yang mengalami penyiksaan. Kaum Muslim Kazakhstan kian terdesak oleh ideologi Komunis saat itu.

Setelah runtuhnya Uni Soviet, orang Kazakhstan melakukan upaya gigih untuk merevitalisasi institusi agama Islam. Orang Kazakh terus mengidentifikasi diri dengan keyakinan Islam mereka.

Aktivitas keagamaan kian meningkat. Banyak masjid dan sekolah agama yang dibangun. Masjid Sultan Khazret di Nur-Sultan (saat masih bernama Astana), ibu kota Kazakhstan menjadi masjid terbesar di Asia Tengah.

Geliat Islam yang sama terjadi di Tajikistan dan Uzbekistan. Menurut otoritas keagamaan Tajikistan, jumlah jamaah haji tahun 2008 melonjak 10 kali lipat dibanding tahun 2000. Berseminya kembali ajaran Islam ditandai dengan tampilnya pemuka agama sebagai sosok penting di tengah masyarakat.

Jumlah masjid di Uzbekistan meningkat pesat, sebelum tahun 1989, jumlah masjid di sana hanya 160 buah, tapi kini sudah mencapai ribuan. Selain itu, telah diaktifkan pula institusi-institusi pendidikan Islam seperti madrasah-madrasah di seluruh negeri dan pendirian sebuah perguruan tinggi Islam di Tashkent. [MNews/Rgl]

Tinggalkan Balasan