[Editorial] Agenda Besar Umat Pasca-Ramadan dan Idulfitri

MuslimahNews.com, EDITORIAL — Ramadan dan Idulfitri baru saja pergi. Namun, di balik kegembiraan menyambut hari raya, tersimpan segudang kesedihan.

Sebagaimana tahun lalu, kaum muslimin kini merayakan Idulfitri dalam suasana yang tak biasa. Selain wabah corona yang terus menggila, berbagai persoalan pun tak henti mendera.

Kita lihat kondisi umat, nyatanya belum beranjak dari sebelumnya. Ramadan ke Ramadan belum bisa mengubah apa-apa. Maksiat tetap merajalela, bahkan rasanya kian parah saja.

Rupa-rupanya, Ramadan baru berfungsi sebagai bulan skorsing maksiat sementara. Karena masyarakat kita kadung beriman pada akidah sekularisme yang meminggirkan peran agama.

Di masyarakat seperti ini, agama hanya boleh eksis saat Ramadan saja. Itu pun hanya ala kadarnya. Sementara di luar Ramadan, hawa nafsu dan akal manusia justru menjadi kendalinya.

Inilah ironi Ramadan dan Idulfitri di negeri sekuler kapitalisme. Negeri yang basa-basi menghormati bulan suci, namun membiarkan 11 bulan lainnya terkotori. Negeri yang mengaku berketuhanan, namun menjadikan hukum Allah sebagai permainan dan olok-olokan.


SELAIN kemaksiatan, Ramadan ke Ramadan pun nyatanya tak menghentikan aneka kezaliman. Di dalam negeri rakyat dibelit berbagai kebijakan menyusahkan. Alih-alih menyejahterakan, negara malah menggadaikan hak milik rakyat demi kepentingan pemilik modal.

Suara rakyat pun terus dibungkam. Mereka yang kritis pelan-pelan disingkirkan. Dalam keseharian, mereka dipaksa menerapkan hukum-hukum kufur yang bertentangan dengan Islam.

Bahkan tak jarang ajaran Islam dijadikan bulan-bulanan, dituding biang teror dan perpecahan. Hingga para pendakwahnya pun dicap radikal yang layak dikriminalkan.

Di luar sana, banyak kaum muslim yang masih mengalami teror berkepanjangan. Muslim Palestina diusir dan dibantai zionis Israel, bangsa terzalim di dunia. Muslim Uighur secara sistematis dimusnahkan bangsa komunis Cina.

Begitu pun muslim Rohingya dan yang lainnya di berbagai negara. Mereka pun terus mengalami penganiayaan oleh rezim yang memusuhi agama mereka. Ironisnya, semua ini terjadi di hadapan para penguasa muslim yang memilih pura-pura tuli buta.

Lantas, jika saum Ramadan adalah jalan menuju takwa, apa buktinya? Jika Idulfitri adalah hari kemenangan, menang dari apa?


FAKTANYA, meski Ramadan dan Idulfitri telah lewat ratusan kali, tetap saja yang berkuasa adalah sekularisme dan kekufuran. Keduanya mengungkung kehidupan umat hingga kehilangan muruah dan wibawa.

Lalu, kapan kemenangan itu tiba?

Sungguh, umat dikatakan menang saat mereka dan agamanya bisa benar-benar berdaulat dan eksis di antara agama-agama yang lainnya. Bahkan kemenangan itu tampak saat agama mereka menjadi pusat orientasi umat-umat yang lainnya.

Allah Swt. berfirman,

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ

“Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, untuk memenangkannya di atas segala agama, meskipun orang-orang musyrik tidak suka.” (QS Ash-Shaf [61]: 9)

Dan firman-Nya,

إِذَا جَآءَ نَصْرُ ٱللَّهِ وَٱلْفَتْحُ وَرَأَيْتَ ٱلنَّاس

يَدْخُلُونَ فِى دِينِ ٱللَّهِ أَفْوَاجًا

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah.” (QS An-Nasr: 1—2)

Tentu saja kemenangan ini tak mungkin hanya mewujud dalam konteks individu muslim saja. Kemenangan ini justru harus mewujud dalam konteks entitas masyarakat Islam sebagaimana di masa-masa sebelumnya. Empat belas abad umat tampil sebagai sebaik-baik umat sekaligus sebagai umat pertengahan yang direpresentasi oleh kekuasaan politik Islam, yakni Khilafah Islam yang kekuasaannya mendunia.

Dalam sejarah peradaban Islam, Khilafah inilah yang telah menunjukkan kemampuannya menjaga kedaulatan syariat sekaligus menjaga kemuliaan umat. Khilafah menerapkan seluruh hukum-hukum Allah dengan sempurna. Hingga ketakwaan hakiki benar-benar terealisasi dan karenanya terbukalah pintu-pintu keberkahan dari langit dan bumi.

Allah Swt. berfirman,

وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ وَلٰكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.” (QS Al-A’raf: 96)


NAMUN, umat Islam hari ini sudah lama tak berpenjaga setelah hampir 100 tahun mereka hidup tanpa Khilafah. Musuh-musuh Islam telah berhasil meruntuhkannya hingga umat Islam terjerumus dalam kehinaan dan perpecahan.

Tanpa Khilafah, umat hidup tanpa aturan yang benar. Mereka pun selalu kalah dalam persaingan politik internasional. Bahkan posisinya terus menjadi bulan-bulanan. Bangsanya diperbudak dan kekayaan negeri-negerinya diperebutkan sebagai objek jajahan.

Maka terwujudnya kembali Khilafah sudah menjadi tuntutan zaman. Agar umat bisa kembali meraih kemenangan hakiki yang sejatinya menjadi tujuan Ramadan dan Idulfitri.

Datangnya kemenangan ini memang merupakan keniscayaan. Bahkan sudah Allah Swt. janjikan. Dia berfirman,

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا ۚ وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh di antara kalian, bahwa Dia benar-benar akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa;

Dia benar-benar akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridai untuk mereka; dan Dia benar-benar akan menukar keadaan mereka —sesudah mereka berada dalam ketakutan— menjadi aman sentosa.

Mereka tetap menyembah Aku tanpa mempersekutukan Aku dengan sesuatu pun. Siapa saja yang kafir sesudah janji itu, mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS An-Nuur

Hanya saja, Allah Swt. meminta kita untuk berjuang. Yakni beramal saleh untuk mewujudkan seluruh prasyarat datangnya kemenangan dengan segala kesungguhan dan keistikamahan. Termasuk menapaki jalan dakwah yang tahapan-tahapannya telah Allah dan Rasul-Nya tunjukkan.

Jalan dakwah itu tak lain adalah jalan dakwah pemikiran dan politik yang berlandaskan ideologi Islam. Jalan inilah yang di masa lalu terbukti telah sukses mengantarkan umat pada tegaknya kekuasaan politik Islam, sejak di masa Rasulullah hingga masa-masa setelahnya.

Melalui dakwah seperti ini, umat akan kembali disadarkan tentang tujuan hidup dan visi penciptaan. Sekaligus disadarkan tentang hakikat risalah Islam sebagai pemecah seluruh problem kehidupan yang bukan sekadar agama ritual.

Dengan cara ini pula, umat Islam akan kembali pada identitas dirinya sebagai umat pilihan. Sekaligus akan terwujud pada diri mereka ketakwaan hakiki yang dibutuhkan sebagai modal perubahan.

Ya, takwa inilah yang akan mendorong mereka siap melakukan perubahan mendasar dalam kehidupan. Yakni siap menjadikan akidah dan aturan Islam sebagai sistem hidup menggantikan sekularisme dan kekufuran. Dan dengan begitu mereka akan kembali meraih kemenangan.


MADRASAH Ramadan di alam sekuler memang sulit mewujudkan takwa hakiki yang dibutuhkan untuk kebangkitan. Namun seharusnya cukup menjadi bekal bagi mereka yang sadar untuk melakukan pergerakan dakwah ideologis lebih kencang lagi di tengah-tengah umat.

Semoga Allah Swt. selalu menolong hamba-hambanya yang sungguh-sungguh berjuang. Serta menyegerakan tegaknya Khilafah Islam yang dijanjikan. Agar umat kembali mulia dan kembali tampil sebagai pemenang yang siap menyebar rahmat ke seluruh alam. Laa hawla wa laa quwwata illaa billaah. [MNews/SNA]

Tinggalkan Balasan