Yerusalem (Al-Quds) Bumi yang Dijanjikan untuk Yahudi?


Penulis: Ustaz M. Taufik N.T.


MuslimahNews.com, TSAQAFAH — Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

يَا قَوْمِ ادْخُلُوا الْأَرْضَ الْمُقَدَّسَةَ الَّتِي كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَلَا تَرْتَدُّوا عَلَى أَدْبَارِكُمْ فَتَنْقَلِبُوا خَاسِرِينَ

“Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari ke belakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi.” (QS Al Maidah: 21)

Sebagian orang, ketika membaca ayat ini bertanya-tanya, apakah benar bahwa Palestina (tanah Kan’an), tepatnya al-Quds/Baitulmaqdis (Yerusalem), adalah tanah yang dijanjikan Allah untuk Yahudi, sebagaimana yang diklaim oleh Zionis Israel bahwa merekalah pewaris tanah itu?

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam hal ini.

Pertama, bahwa tanah yang dimaksud dalam ayat tersebut diperselisihkan oleh ahli tafsir, sebagian memandang bahwa tempat tersebut adalah Baitulmaqdis[1], sebagian yang lain berpendapat itu adalah Mesir, dan sebagian lainnya Arîhâ (tempat dekat Baitulmaqdis) (Tafsir Ar Razi, 3/522-523).

Kedua, makna “allatiy katabaLlâhu lakum” juga beda ahli tafsir mengartikannya[2]. Dalam tafsir al Qurthuby (6/125) dinyatakan bahwa maknanya adalah,

فَرَضَ دُخُولَهَا عَلَيْكُمْ وَوَعَدَكُمْ دُخُولَهَا وَسُكْنَاهَا لَكُمْ

“Dia mewajibkan kalian memasukinya, dan menjanjikan kalian akan memasukinya dan mendiaminya.”

Bahkan dalam tafsir Jalalain (h. 140), hanya dimaknai,

أَمَرَكُمْ بِدُخُولِهَا

“Dia memerintahkan kalian untuk memasukinya.”

Ketiga, ketetapan tersebut hanya berlaku bagi hamba-hamba-Nya yang saleh. Oleh sebab itu, ketika umatnya Nabi Musa menolak untuk memasuki tanah tersebut, dan hanya menginginkan enaknya saja dengan mengatakan,

Baca juga:  Penjara Tidak Menghalangiku Berdakwah (Syekh Yusuf Makharza Abu Hammam, Ulama Palestina)

قَالُوا يَا مُوسَى إِنَّا لَنْ نَدْخُلَهَا أَبَدًا مَا دَامُوا فِيهَا فَاذْهَبْ أَنْتَ وَرَبُّكَ فَقَاتِلَا إِنَّا هَا هُنَا قَاعِدُونَ

“Mereka berkata, ‘Hai Musa, kami sekali-sekali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja.’” (QS Al Maidah: 24)

Maka, Allah haramkan tanah tersebut bagi mereka selama 40 tahun, dan barulah mereka bisa memasuki tanah tersebut setelah orang-orang zalim tersebut mati dan digantikan generasi saleh dari kalangan mereka, dipimpin oleh Yusya’ bin Nun.

قَالَ فَإِنَّهَا مُحَرَّمَةٌ عَلَيْهِمْ أَرْبَعِينَ سَنَةً يَتِيهُونَ فِي الْأَرْضِ فَلَا تَأْسَ عَلَى الْقَوْمِ الْفَاسِقِينَ

Allah berfirman, “(Jika demikian), maka sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi (padang Tiih) itu. Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasik itu.” (QS Al Maidah: 26)

Setelah mereka menguasai Palestina, seiring berlalunya waktu, ketika kesalehan mereka hilang, kebobrokan sistem yang mereka lakukan menjadikan mereka terkalahkan dan sempat ratusan tahun menjadi bangsa yang tertindas kembali, hingga ketika kesadaran mereka mulai tumbuh kembali, Allah kirimkan Thalut untuk memimpin mereka dan akhirnya berjaya kembali.

Baca juga:  Yahudi Radikal Membobol Masjid Al-Aqsha, Rakyat Palestina Diusir dari Yerusalem

Intinya, bumi ini akan diwariskan kepada hamba-hamba-Nya yang saleh. Hal ini berlaku umum, bahwa bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hamba-Nya yang saleh.

وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِنْ بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ

“Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauhulmahfuz, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang saleh.” (QS Al Anbiya’: 105)

Dan ketika kaum Yahudi kufur kepada Allah, mengingkari para rasul, membunuh para nabi, melanggar ikatan janji, menolak risalah yang datang kepada rasul yang dijanjikan dalam kitab mereka (QS. Al-A’raf: 157), maka bukan tanah yang “dijanjikan” yang mereka dapat, melainkan laknat Allah turun kepada mereka. Ketentuan ini berlaku dulu, sekarang, dan sampai kapan pun.

Keingkaran mereka terhadap Nabi Muhammad Saw., berarti juga keingkaran mereka kepada Taurat, dan itu menggugurkan predikat kesalehan mereka, hingga mereka tidak memenuhi syarat mendapatkan apa yang ditentukan untuk mereka, sebagaimana pula seorang ahli waris akan kehilangan hak warisnya ketika dia murtad atau membunuh orang yang akan diwarisinya.

Kelima, adapun dalih mereka dengan ayat Taurat (yang telah mereka ubah-ubah pula), diantaranya: “Berfirmanlah Tuhan kepada Abram, ‘Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu..,” (Kejadian 12:1)

Baca juga:  Perjuangan Palestina Bukan Gerakan Nasionalisme

Juga ayat, “Berfirmanlah Tuhan kepada Abram, ‘Pandanglah sekelilingmu dan lihatlah dari tempat engkau berdiri itu ke utara dan selatan, timur dan barat; karena segala tanah yang kau lihat itu akan Kuberikan kepadamu dan kepada anak cucumu sampai selama-lamanya’.” (Kejadian 13:15)

Ayat ini bukan alasan bagi Israel untuk menyerang dan menganeksasi Palestina (al-Quds), karena jika pun ayat itu benar, maka yang namanya anak cucunya Abram (Nabi Ibrahim) bukan hanya mereka, orang-orang Arab juga anak-cucu Nabi Ibrahim, bukankah Nabi Muhammad juga dzuriyat Nabi Ibrahim dari jalur Nabi Ismail? Lagi pula apa buktinya kalau mereka adalah dzuriyat Nabi Ibrahim? Bukankah mayoritas orang-orang Yahudi sekarang berasal dari keturunan yahud al-khazar, orang lain yang masuk dalam agama tersebut pada abad 9—10 Masehi.?[3]

Lagi pula, ketika Nabi Ibrahim meminta kepada Allah agar dzurriyat-nya menjadi imam bagi manusia, Allah menyatakan, “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang zalim.” (QS Al-Baqarah: 124)

Oleh karena itu, aneksasi Israel ke Al-Quds, sama sekali tidak memiliki alasan agama, baik Islam maupun agama mereka sendiri, yang terjadi adalah politisasi agama untuk mendukung ambisi mereka. Allâhu A’lam. [MNews/Rgl]

Tinggalkan Balasan