Palestina Butuh Militer, OKI Sibuk Memberi Retorika


Penulis: Nida Alkhair


MuslimahNews.com, OPINI — Komite Eksekutif Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) mengadakan pertemuan luar biasa pada tingkat menteri luar negeri (menlu) pada Ahad (16/5/2021). Pertemuan virtual ini diketuai oleh Arab Saudi dalam rangka mengecam agresi Israel terhadap Palestina.

Ringkasan pernyataan bersama sebagai hasil pertemuan tersebut adalah:

1. Mengutuk serangan yang diluncurkan oleh Israel terhadap rakyat Palestina.

2. Hasutan, provokasi, ancaman terhadap nyawa warga sipil yang tidak bersalah, menyebabkan penderitaan parah bagi rakyat Palestina.

3. Memperingatkan Israel tentang dampak berbahaya kelanjutan agresi Israel.

4. Israel adalah kekuatan pendudukan dan tidak memiliki hak sah apa pun atas tanah Palestina.

5. Menegaskan pentingnya perwalian Hashemite historis, Situs suci Islam dan Kristen di Al Quds.

6. Penolakan dan kecaman terhadap permukiman Israel yang tengah berlangsung di tanah yang diduduki.

7. Itu semua adalah pelangaran berat hukum internasional yang mencapai tingkat kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan.

8. Keprihatinan khusus pada langkah kebijakan Israel yang melakukan penjajahan atas tanah Palestina.

9. Mendesak Israel bertanggung jawab penuh atas kerusakan situasi.

10. Mendesak Dewan Keamanan PBB untuk bertindak cepat mengakhiri kebiadaban Israel terhadap rakyat Palestina.

11. Menegaskan bahwa Dewan Keamanan PBB gagal memikul tanggung jawab menangani krisis Israel Palestina.

12. Memanggil komunitas internasional untuk mematuhi komitmen kolektif dan mengambil tindakan dan langkah untuk memaksa Israel memenuhi kewajibannya sebagai penguasa pendudukan.

13. Kesiapan untuk terlibat dalam semua upaya mendukung keadilan Palestina

14. Concern bahwa agresi Israel bertepatan dengan peringatan 73 tahun pemindahan paksa 800 ribu orang pada 1948.

15. Menegaskan bahwa Al-Quds Al-Shareef dan Masjid Al Aqsa adalah garis merah untuk Islam.

16. Menghargai peran yang dimainkan oleh Ketua Komite Al-Quds dalam melindungi tempat-tempat suci di Al Quds Al-Shareef

Baca juga:  Palestina, Urusan Kita!

17. Mengundang negara anggota untuk memberikan dukungan untuk rakyat Palestina dan tindakan hukum internasional melalui PBB.

18. Memutuskan untuk melaksanakan kontak yang diperlukan untuk dilaksanakannya resolusi ini.

Dukungan Sang Adidaya

Pernyataan OKI ini seolah elok didengar. Istilah “mengutuk”, “menegaskan”, “mendesak”, “memperingatkan” dan narasi sejenis disampaikan seolah akan membuat Israel ketakutan dan takluk pada pernyataan ini. Namun, nyatanya tidak demikian.

Telah puluhan tahun pendudukan Israel atas Palestina sejak 1947, selama itu narasi “kutukan” dan “kecaman” sudah berulang kali diluncurkan OKI. Namun pendudukan Israel atas Palestina makin masif. Wilayah Palestina terus tergerus hingga tersisa belasan persen saja. Sementara pemukiman Yahudi terus dibangun di atas genangan darah dan air mata muslim Palestina.

Jangankan berharap pada pernyataan OKI, belasan resolusi Dewan Keamanan PBB saja tak diacuhkan Israel. Semua resolusi itu tak bernilai apa-apa selain retorika.

Yang terbaru, AS telah memblokir rapat darurat Dewan Keamanan (DK) PBB untuk membahas permasalahan Israel dan Palestina yang seharusnya digelar pada Jumat (14/5/2021). Untuk mengadakan rapat, semua anggota DK PBB harus sepakat terlebih dulu. Jika ada satu dari lima belas anggota tak setuju, maka DK PBB tak dapat menggelar rapat.

Amerika telah menggunakan pengaruhnya yang kuat di PBB untuk menggagalkan rapat. Esok hari, Amerika akan terus menggunakan pengaruh internasionalnya untuk melindungi Israel. Lantas, atas alasan apa kita masih harus percaya PBB? Sementara PBB selalu mengabdi pada kepentingan AS.

Lantas, akankah pernyataan OKI kali ini akan berbeda efeknya dan mampu membuat Israel tunduk? Tidak!

Penyebabnya jelas. Israel kuat dan berani menghadapi dunia internasional karena mendapat dukungan negara adidaya dunia yaitu Amerika Serikat. Israel adalah sekutu AS. Meski Presiden AS berganti-ganti, dari Partai Republik maupun Demokrat, negara ini tetap mitra utama Israel.

Baca juga:  Bendera Israel Berkibar di Papua, Netizen: Saat Semua Mengecam, di Negara Kita Masih Ada yang Mengibarkan Bendera Israel

Sebagaimana dulu Inggris menyuplai militer Israel di awal pendiriannya, kini AS yang mendukung penuh militer Israel. Sementara umat Islam tidak memiliki negara adidaya yang akan mendukung dan melindungi Palestina. Kondisi ini sungguh tak imbang. Yang terjadi di Palestina bukan perang, melainkan pendudukan bangsa penjajah terhadap penduduk asli.

Sebelumnya, Donald Trump telah mengumumkan Yerusalem sebagai ibukota Israel. Umat Islam pun tak punya kuasa untuk mencegahnya, melarangnya, atau memberi sanksi yang efektif. Amerika sangat paham, para penguasa negeri Islam tidak akan melakukan apapun yang mengancam eksistensi Israel. Amerika juga paham, para penguasa negeri Islam akan mengulangi retorika yang sama: mengecam dan mengutuk. Tidak lebih dari itu.

Maka, sudahi bermain narasi, wujudkan solusi hakiki. Persoalan utama di Palestina adalah adanya entitas Yahudi yang merebut tanah umat Islam Palestina dengan dukungan Sang Adidaya, Amerika. Maka solusi atas persoalan ini adalah menghilangkan entitas Israel dari Bumi Palestina. Bukan dengan diplomasi atau narasi, tapi dengan pengiriman militer. Militer gabungan negara-negara muslim anggota OKI sudah lebih dari cukup untuk membuat Israel bertekuk lutut.

Namun, solusi ini tak pernah diambil oleh negara-negara OKI maupun PBB. Setiap tahun, narasi basa-basi selalu diputar ulang setiap kali Israel melancarkan serangan. Padahal Bumi Palestina sudah bersimbah darah para syuhada. Tak hanya orang dewasa, anak-anak pun menjadi korban kebiadaban Yahudi. Lantas, dimanakah nurani para pemimpin OKI?

Kejahatan Israel dan Amerika tidak akan berlanjut jika para pemimpin negeri muslim mau berbuat nyata melindungi Palestina dengan bala tentara. Diamnya para penguasa muslim sebenarnya adalah bantuan dan dukungan terhadap kejahatan Israel. Hakikatnya, mereka tengah tolong menolong dalam kejahatan dengan kaum agresor.

Baca juga:  Tentara Israel Bunuh Bocah Palestina Saat Aksi Protes di Perbatasan

Sang Pembebas

Padahal para pemimpin itu seharusnya memposisikan diri sebagai cucu-cucu Salahudin al Ayyubi, Sang Jenderal pembebas Baitulmaqdis. Juga sebagai cucu-cucu Khalifah al Mu’tashim Billah yang pada tahun 837 menjawab seruan seorang muslimah yang dilecehkan oleh pasukan Romawi di kota Ammuriah.

Maka Sang Khalifah mengirimkan tentara yang panjang barisannya tidak putus dari gerbang istana khalifah di kota Baghdad hingga kota Ammuriah (Turki). Kota Ammuriah dikepung oleh tentara Muslim selama lima bulan hingga akhirnya takluk pada 13 Agustus 833.

Tak perlu banyak retorika, cukup tindakan nyata. Sebagaimana yang dilakukan Khalifah Harun ar Rasyid terhadap Nakfur, Raja Romawi yang menyalahi kesepakatan dengan Khilafah Abbasiyah. Sang Khalifah pun membalas surat Nakfur dengan kertas atau kulit yang dipakai Nakfur, yaitu ditulis di belakangnya,

“Dari Harun ar-Rasyid, Amirul Mukminin, kepada Nakfur, Anjing Romawi. Jawabannya seperti yang kamu lihat, bukan seperti yang kamu dengar.”

Surat itu pun dikirim bersama dengan pasukan Khilafah. Pada saat itu, Harun ar-Rasyid memimpin pasukannya hingga sampai di Kota Heraklius, sehingga terjadilah peperangan dan menjadi momentum penaklukan yang gemilang.

Demikianlah sikap penguasa muslim yang seharusnya, menjadi pembebas Palestina. Tak perlu banyak retorika tanpa makna. Yang terpenting adalah aksi nyata melindungi muslim Palestina dan semua muslim di seluruh penjuru dunia dari penjajahan. Namun pemimpin seperti Salahudin al Ayyubi, Mu’tashim Billah, dan Harun ar Rasyid hanya lahir dalam sistem Islam, bukan sistem sekuler seperti saat ini. Wallahu a’lam. [MNews]

Tinggalkan Balasan