Idulfitri di Malaysia dan Singapura, Satu Rumpun, Satu Akidah

MuslimahNews.com, IDULFITRI SEDUNIA – Muslim Malaysia dan Singapura sama-sama termasuk rumpun Melayu, sehingga terdapat kemiripan tradisi Idulfitri antara kedua negara ini. Di kedua negara ini, idulfitri disebut Hari Raya Puasa atau Hari Raya Aidilfitri.

Persiapan perayaan idulfitri sudah dilakukan sejak seminggu sebelum hari raya. Seperti Indonesia, Malaysia juga memiliki tradisi mudik atau yang disebut “Balik Kampung”. Biasanya para warga di sana mudik seminggu sebelum idulfitri untuk mengunjungi orang tua dan bermaafan.

Saat pagi Idulfitri tiba, warga Malaysia dan Singapura melakukan ibadah salat Id di masjid. Dilanjutkan dengan ziarah kubur keluarga tercinta.

Setelah ziarah kubur dituntaskan, muslim Malaysia dan Singapura akan saling bermaafan dengan mengucapkan kalimat “Maaf zahir dan batin” kepada keluarga dan kerabat.

Aneka kuliner nikmat menemani kebersamaan dengan keluarga di Singapura. Ketupat, rendang, dan lontong merupakan makanan khas idulfitri di negeri Singa ini. Juga cemilan manis seperti ondeh-ondeh dan kue-kue kering. Menu ini mirip dengan hidangan idulfitri di Malaysia, yakni ketupat, rendang, lemang, dan kuih raya (kue-kue dan biskuit).

Berbagai menu tersebut dihidangkan saat open house yang dilakukan setelah salat Id. Pintu rumah dibuka lebar-lebar, siap menerima tamu, baik keluarga maupun teman dari berbagai latar belakang status sosial, agama dan ras.

Baca juga:  [News] Solidaritas yang Kuat terhadap Palestina Belum Menyentuh Akar Masalahnya

Busana yang dikenakan saat idulfitri di Malaysia dan Singapura sangat khas, yaitu baju tradisional kurung Melayu yang terbuat dari sutra atau batik tulis. Para wanita mengenakan khimar (tudung) dengan warna yang cerah dan senada.

Di Malaysia dan Singapura juga terdapat tradisi yang selalu dinanti anak-anak, yaitu pembagian duit raya yang dibagikan para orang tua. Orang-orang kaya pun bersedekah dengan mendatangi rumah orang fakir miskin dan memberikan sedekah. Jadi warga yang miskin tak perlu antri untuk menerima sedekah.

Ada satu tradisi Idul Fitri di Malaysia yang unik. Pada hari Lebaran, tiap rumah menggelar ‘Open House’ alias membuka pintu lebar-lebar.

Siapa pun boleh masuk ke kediaman kita, meski sang tamu bukan beragama Islam. Ini bertujuan untuk mempererat tali silaturahmi dan menghargai perbedaan terlepas dari agama, status sosial, dan ras.

Muslim di Singapura terdapat di Kampong Glam, berjarak sekitar 15 menit berkendara dari hotel butik M Social Singapore atau 40 menit dari bandara Changi. Begitu menjejakkan kaki di sana, aroma rempah-rempah akan kuat menggoda hidung.

Sedangkan muslim di Malaysia menempati jumlah yang besar. Islam sampai di Malaysia pada ke 3 H (abad 10 M). Hal ini berdasarkan pada penemuan batu nisan di Tanjung Ingris, Kedah pada tahun 1965.

Baca juga:  Pengaruh Suksesi Perpolitikan Malaysia Terhadap Indonesia

Pada batu nisan tersebut tertulis nama Syekh Abdu Al Qadir Ibnu Husayn syah yang meninggal pada tahun 291 H (940 M). Beliau adalah seorang dai keturunan Persia. Penemuan ini merupakan suatu bukti bahwa Islam telah datang ke Malaysia pada sekitar abad ke 3 H (10 M).

Sayangnya, kolonialisasi tanah Melayu telah menyebabkan nilai-nilai dan tatanan Islam dalam kehidupan masyarakat Melayu mengalami kemerosotan. Kebijakan kolonial Portugis mencegah penyebaran Islam dan perkembangan usaha dagang Muslim. Belanda yang datang setelah mengalahkan Portugis pada tahun 1641 M lebih toleran kepada para penguasa Melayu. Pada tahun 1795 M Belanda ditaklukan oleh Inggris. Di bawah kolonialisasi Inggris, perkembangan ajaran agama Islam dan pengaruhnya pada kehidupan Melayu menjadi terbatas.

Alhamdulillah, pada era 1970-1980-an dakwah Islam mulai berkembang lagi. Muslim Malaysia tergerak untuk mengamalkan ajaran Islam secara lebih serius seperti: aktif salat berjemaah di masjid, menghadiri wirid pengajian, banyak beramal saleh, mengucapkan salam saat bertemu selama musim, dan berhati-hati saat membeli makanan agar tidak membeli yang haram, memakai busana muslim seperti jilbab atau baju kurung dan telekung bagi wanita, memakai sarung, serban dan peci atau pakaian lainnya yang jelas jelas mencirikan ketaatan sebagai muslim.

Baca juga:  Kisruh Demokrasi di Malaysia

Gerakan kebangkitan Islam juga terlihat di kalangan mahasiswa di kampus-kampus Malaysia. Mereka secara aktif mengadakan pengajian, puasa bersama, salat malam bersama, dan juga mengadakan zikir dan renungan malam bersama. Demikianlah idulfitri di Malaysia dan Singapura. Keduanya merupakan sat,u rumpun melayu dan satu akidah, yaitu Islam. [MNews/Rgl]

Tinggalkan Balasan