Palestina, Al-Quds, Jihad, dan Khilafah (Bagian 2/2)

Sambungan dari Bagian 1/2


Penulis: Arief B. Iskandar


MuslimahNews.com, ANALISIS — Bagi kaum muslim, akar persoalan Palestina (sejak Yahudi menjajah Palestina tahun 1948 hingga hari ini) sesungguhnya bersinggungan paling tidak dengan tiga aspek: (1) akidah/syariah Islam; (2) sejarah; (3) politik.

1. Aspek akidah/syariah (Keutamaan Al-Quds/Yerusalem).

Dalam pandangan Islam, Tanah Palestina (Syam) adalah tanah milik kaum muslim. Di tanah ini berdiri Al-Quds, yang merupakan lambang kebesaran umat ini, dan ia menempati posisi yang sangat mulia. Ada beberapa keutamaan dan sejarah penting yang dimiliki Al-Quds.

Pertama: Tanah wahyu dan kenabian.

Ibnu Abbas menuturkan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda, “Para nabi tinggal di Syam dan tidak ada sejengkal pun kota Baitul Maqdis kecuali seorang nabi atau malaikat pernah berdoa atau berdiri di sana.” (HR at-Tirmidzi).

Kedua: Tanah kiblat pertama.

Arah kiblat pertama bagi Nabi Muhammad saw. dan kaum muslim adalah Baitulmaqdis (Al-Quds) sampai Allah Swt. menurunkan wahyu untuk mengubah kiblat ke arah Ka’bah (QS al-Baqarah [2]: 144).

Ketiga: Masjidilaqsa adalah tempat suci ketiga bagi umat Islam dan satu dari tiga masjid yang direkomendasikan Nabi saw. untuk dikunjungi.

Beliau bersabda, “Tidaklah diadakan perjalanan dengan sengaja kecuali ke tiga masjid: Masjidku ini (Masjid Nabawi di Madinah), Masjidilharam (di Makkah) dan Masjidilaqsa.” (HR al-Bukhari dan Muslim)

Rasulullah saw. pun bersabda, “Sekali salat di Masjidilharam sama dengan 100.000 salat. Sekali salat di Masjidku (di Madinah) sama dengan 1.000 salat. Sekali salat di Masjidilaqsa sama dengan 500 salat.” (HR ath-Thabrani dan al-Bazzar)

Keempat: Tanah ibu kota Khilafah.

Yunus bin Maisarah bin Halbas bahwa Nabi Muhammad saw. pernah bersabda, “Perkara ini (Khilafah) akan ada sesudahku di Madinah, lalu di Syam, lalu di Jazirah, lalu di Irak, lalu di Madinah, lalu di al-Quds (Baitul Maqdis). Jika Khilafah ada di al-Quds, pusat negerinya akan ada di sana dan siapa pun yang memaksa ibukotanya keluar dari sana (al-Quds), Khilafah tak akan kembali ke sana selamanya.” (HR Ibn Asakir)

2. Aspek Sejarah.

Tercatat bahwa Syam (Palestina adalah bagian di dalamnya) pernah dikuasai Romawi selama tujuh abad (64 SM-637 M). Namun, cita-cita agung untuk merebut Syam dari imperium Romawi digelorakan oleh Rasulullah saw. kepada para Sahabat, di antaranya kepada Muadz pada suatu hari.

Beliau bersabda, “Muadz! Allah Yang Mahakuasa akan membuat kalian sanggup menaklukkan Syam, setelah kematianku…”

Tepat pada tahun ke-8 H sebanyak tiga ribu pasukan yang dipimpin oleh Zaid bin Haritsah bergerak menuju Balqa’, salah satu wilayah Syam. Di sana sudah menanti bala tentara Romawi yang berjumlah dua ratus ribu di bawah pimpinan Herqel, seorang kaisar Romawi.

Sampailah detik-detik yang menegangkan: 3.000 pasukan kaum Muslim berhadapan dengan kekuatan besar berjumlah 200.000 pasukan. Saat itu, sebagian Sahabat berharap agar Rasul saw. mengirim tentara tambahan.

Namun, Abdullah bin Rawahah ra. memberikan semangat kepada seluruh pasukan sembari berkata, “Wahai kaum muslim, demi Allah… bersaksilah bahwa kita tidak berperang karena banyaknya pasukan. Kita tidak berperang melawan mereka kecuali atas nama Islam yang dengan itulah Allah telah memuliakan kita. Berangkatlah, berjihadlah! Sesungguhnya hanya ada satu pilihan bagi kita: menang atau syahid!”

Mendengar seruan ini, kaum muslim segera bangkit melawan musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya walau dengan jumlah yang tidak seimbang.

Dalam pertempuran itu, panglima perang kaum muslim, Zaid bin Haritsah syahid, lalu diganti oleh panglima kedua, Ja’far bin Abi Thalib. Ja’far pun syahid, kemudian tonggak kepemimpinan diserahkan kepada panglima Islam yang ketiga, Abdullah bin Rawahah. Beliau pun syahid. Akhirnya, pasukan Islam dipimpin Khalid bin Walid.

Perjuangan panjang dan melelahkan kaum muslim itu baru menuai hasil pada masa kepemimpinan Khalifah Umar bin al-Khaththab ra. (638 M).

Sayang, setelah dikuasai kaum muslim sekian abad hingga masa Kekhilafahan Abbasiyah, tanggal 25 November 1095, Paulus Urbanus II menyerukan Perang Salib, dan tahun 1099 pasukan Salib menaklukkan Al-Quds. Mereka membantai sekitar 30.000 warga Al-Quds dengan sadis tanpa pandang bulu (wanita, anak-anak, dan orang tua).

Namun, alhamdulillah, pada tahun 1187, Shalahuddin al-Ayyubi sebagai komandan Pasukan Muslim berhasil membebaskan kembali Al-Quds dari pasukan Salib yang telah diduduki selama sekitar 88 tahun (1099—1187).

3. Aspek politik.

Aspek politik dari isu Palestina ini tidak bisa dilepaskan dari zionisme dan imperialisme Barat. Zionisme adalah gerakan orang-orang Yahudi untuk mendirikan negara khusus bagi komunitas mereka di Palestina.

Theodore Hertzl merupakan tokoh kunci yang mencetuskan ide pembentukan negara tersebut. Ia menyusun doktrin zionismenya dalam bukunya yang berjudul Der Judenstaad’ (The Jewish State).

Secara nyata, gerakan ini didukung oleh tokoh-tokoh Yahudi yang hadir dalam kongres pertama Yahudi Internasional di Basel (Swiss) tahun 1895. Kongres tersebut dihadiri oleh sekitar 300 orang, mewakili 50 organisasi zionis yang terpencar di seluruh dunia.

Sebagai gerakan politik, zionisme tentu membutuhkan kendaraan politik. Zionisme lalu menjadikan ideologi kapitalisme—yang berjaya dengan imperialismenya—sebagai kendaraan politiknya.

Zionisme ternyata berhasil menuai berbagai keuntungan politis berkat dukungan negara-negara kapitalis dan imperialis Barat, terutama Inggris dan Amerika Serikat, sejak dimulainya imperialisme (penjajahan) tersebut hingga saat ini.

Sejak awal pendiriannya, keberadaan negara Israel tidak lepas dari kepentingan negara-negara imperialis Barat, terutama Inggris dan Amerika Serikat. Peran Inggris dalam pembentukan negara Israel tampak nyata dalam Deklarasi Balfour, berupa surat dari kementerian luar negeri Inggris, Arthur James Balfour, kepada pemimpin Zionis Inggris, Lord Rothschild pada 2 November 1917.

Surat ini menjadi dasar pengakuan Inggris terhadap keberadaan negara zionis di Palestina. Deklarasi ini pulalah yang diadopsi oleh LBB (Liga Bangsa-bangsa) untuk memberikan mandat resmi kepada Inggris untuk menguasai Palestina.

Sebagai penguasa di Palestina, Inggris memiliki kepentingan besar untuk mendukung berdirinya negara Israel. Keberadaan negara Zionis di jantung Timur Tengah ini akan menimbulkan konflik dan ketidakstabilan di wilayah ini.

Dalam kondisi seperti ini, Inggris bisa lebih mudah menanamkan pengaruhnya di sana. Selain itu, krisis ini akan menyedot energi dan dana umat Islam dan mengalihkan upaya kaum muslim untuk menegakkan kembali Khilafah Islam yang dibubarkan tahun 1924 oleh Kemal Ataturk yang berkonspirasi dengan Inggris.

Kepentingan AS atas krisis Palestina juga sama, yakni sebagai media negara itu untuk menanamkan pengaruhnya, sekaligus untuk mengalihkan perhatian kaum muslim bahwa musuh sejati mereka adalah Amerika Serikat.

Eratnya hubungan zionisme dengan imperialisme Barat, terutama AS, dapat dilihat dari beberapa fakta berikut.

Semasa masih menjadi presiden, Bill Clinton (14/8/2000) pernah berkata, “Kami harus menjalin hubungan erat dengan Israel, sebagaimana telah saya lakukan sepanjang kekuasaan saya sebagai presiden dan sepanjang 52 tahun lampau.”

Pada awal-awal kekuasaannya sebagai presiden AS, George W. Bush, ketika mengucapkan selamat kepada Ariel Sharon dalam Pemilu tanggal 6/2/2001, juga menyatakan, “Amerika akan bekerja sama dengan semua pemimpin Israel sejak berdirinya pada tahun 1948. Hubungan bilateral kami sangat kokoh layaknya batu karang.”

Presiden AS Barack Obama, sejak awal kampanyenya untuk pemilihan presiden, juga mengungkapkan hal senada: dukungan total dan tanpa syarat terhadap Yahudi-Israel. Presiden AS Donald Trump juga menunjukkan dukungan serupa, bahkan sangat kuat terhadap Israel. Di antaranya dengan pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Demikianlah sikap resmi Pemerintah AS terhadap Israel dari dulu hingga kini. Wajar jika berbagai kebijakan politik yang kotor dan kejam yang ditempuh Israel di Timur Tengah akan selalu mendapatkan dukungan dari AS.

Jalan Damai: Jalan Tak Berujung

Dengan adanya konspirasi zionisme-imperialisme ini, jelas perdamaian apa pun yang digagas oleh negara-negara Barat pimpinan AS—meski itu melibatkan PBB—adalah perdamaian yang penuh kepura-puraan.

Terakhir, peta jalan (road map) yang diprakarsai oleh kwartet AS, Uni Eropa, Rusia, dan PBB jelas bernasib sama dengan usulan perdamaian yang lain seperti Konferensi Madrid (Oktober 1991) dan Perjanjian Oslo (September 1993).

Berdasarkan peta jalan ini, dijanjikan sebuah negara Palestina yang merdeka pada tahun 2005. Faktanya, hingga tahun 2017 ini, kemerdekaan Palestina masih sebatas mimpi. Bahkan ada kesan, Amerika sebagai penyokong utama institusi Israel, siap untuk terus menghambat kemerdekaan Palestina dan pengakuan dari PBB.

Melihat kenyataan perdamaian yang digagas oleh AS, Eropa, atau PBB selama ini, wajar kalau kemudian banyak pihak yang meragukan niat “tulus” AS dan Israel bagi berdirinya negara Palestina.

Bagi banyak elite politik di Israel sendiri, berdirinya negara Palestina yang merdeka adalah menakutkan. Ketakutan akan negara Palestina tampak dari riset yang dilakukan Jhon Edwin Mroz.

Dalam bukunya, Beyond Security: Private Perception Among Arab and Israelis, disebutkan bahwa 90% masyarakat Israel secara terbuka menolak pendirian negara Palestina merdeka dan pembentukan militer negara Palestina. Di AS sendiri, kelompok Yahudi tampak tidak begitu setuju terhadap perjanjian damai ini.

AS dan Israel juga punya kartu truf yang selalu berhasil digunakan untuk alasan membatalkan perjanjian dan menyudutkan Palestina, yaitu kegagalan otoritas Palestina membasmi terorisme—sebutan yang sering digunakan untuk aksi intifadah.

Padahal semua tahu, memberangus intifadah adalah mustahil meski oleh otoritas Palestina sendiri. Sebab, perlawanan intifadah sudah demikian mendarah daging dalam perjuangan rakyat Palestina.

Dukungan rakyat Palestina sendiri terhadap perjuangan intifadah sangat besar. Intifadah akan sulit dihentikan selama pemerintah Israel melakukan tindakan terorisme negara terhadap rakyat Palestina.

Karena itu, sulit pula mengharapkan perjanjian damai dengan Israel akan memecahkan persoalan krisis Palestina. Sebab, perjanjian damai selama ini tidak pernah menyentuh persoalan substansial dari krisis berkepanjangan ini.

Masalah substansial Palestina sebenarnya adalah perampasan tanah Palestina oleh Israel dengan dukungan Inggris, AS, dan PBB. Jadi, keberadaan negara Israel yang didukung oleh Barat itulah yang menjadi pangkal persoalan Palestina dan krisis Timur Tengah. Dengan demikian, selama negara Israel berdiri, persoalan Palestina tidak akan selesai.

Selain itu perdamaian Israel-Palestina sejatinya merupakan upaya mengulur-ulur waktu dan menghentikan jihad kaum muslim terhadap Israel. Perdamaian tidak lain hanyalah untuk kepentingan politik masing-masing pihak yang pro perdamaian seperti AS, Inggris, Fatah, dan para penguasa Arab.

AS dan Israel sangat berharap perjanjian ini akan memperlemah perlawanan jihad rakyat Palestina. Tidak aneh jika AS dan Israel mensyaratkan masalah ini—menghentikan intifadah—untuk memasuki tahap perundingan berikutnya.

AS dan Israel dengan cerdik memanfaatkan otoritas Palestina untuk memberangus jihad ini. Perang saudara sesama komponen Palestina jelas akan memperlemah perlawanan terhadap Israel.

Jihad Sebagai Solusi

Tentang nasib rakyat Palestina, almarhum Syekh Ahmad Yasin memberikan dua alternatif: menyerah kalah atau terus melawan!

Kalau rakyat Palestina mau hidup di bawah penjajahan Israel, maka pilihannya menyerah. Jika mereka mengharap kemerdekaan dan kehidupan mulia di kemudian hari, pilihannya hanya melawan!

Sebuah wawancara di Majalah Al-Mujtama’ Kuwait dalam Peringatan 15 Tahun Hamas beberapa tahun lalu memperlihatkan bagaimana sikap Syekh Ahmad Yasin terhadap upaya perdamaian yang selama ini sering digembar-gemborkan banyak pihak. Hal itu hanya bentuk kekalahan “banci” yang justru akan melenyapkan hak-hak fundamental bangsa Palestina.

“Kita harus mengetahui bahwa operasi-operasi jihad dan perlawanan telah memberikan bangsa Palestina haknya untuk eksis dan membela diri.

Kita (bangsa Palestina) maju jauh (dari kondisi dulu) dan musuh mundur karena operasi-operasi jihad dan resistensi.

Mereka menginginkan kita menghentikan operasi-operasi ini untuk memecah tekad bangsa untuk hidup merdeka. Negeri kita dijajah dan ingin kita bebaskan.

Kita tidak menghabisi bangsa Yahudi atau orang selain kita, tetapi yang kita inginkan adalah Negara Islam di atas negeri dan hak kita.” (Syekh Ahmad Yasin)

Kata-kata Syekh Yasin ini memang akhirnya dibuktikan oleh beliau sendiri dengan gerakan Hamasnya. Selain beliau yang gugur sebagai syahid, banyak pula tokoh-tokoh Hamas lain yang juga syahid seperti Imad Aqil, Yahya Ayyash, Muhyiddin Syarif, Rantisi, dll; bahkan termasuk anak-anak di bawah umur yang terjun ke medan perang dengan gagah berani.

Di mata Syekh Ahmad Yasin, syahid mereka tidak membuat spirit juang bangsa Palestina kendor dan buyar. Ketika Ayyash syahid, arsitek-arsitek lain tumbuh bagai jamur. Ketika satu pejuang syahid, seribu pejuang baru muncul. Kemenangan terwujud atau mati syahid.

Generasi pejuang sekarang ini antre untuk mempersembahkan jiwa dan raganya di jalan jihad walau perjalanan masih panjang. Memang jalan penuh dengan bahaya dan kematian syahid adalah jalan menuju kemenangan.

Kini, Palestina menunggu generasi masa depan, yaitu jail at-tahrir (generasi pembebas). Tidak ada kekuatan dunia yang dapat mematahkan perlawanan intifadah (jihad); tidak AS, Inggris, atau Israel; tidak pula kekuatan lain di dunia.

Benih-benih arus gerakan Islam mulai tumbuh di wilayah-wilayah Palestina terjajah tahun 1948 pascaperang tahun 1967. Para tokoh yang terlibat dalam gerakan ini di antaranya adalah Syekh Ahmad Yasin, Hamid Baitawi, Muhammad Fuad Abu Zaid, Ahmad Haj Ali, dan Said Bilal.

Secara umum, arus gerakan Islam ini mengadopsi pemikiran dan minhaj Ikhwanul Muslimin, bercita-cita jauh ke depan guna mendirikan Daulah Islamiah di seluruh muka bumi. Selain itu tentu mereka terus bersemangat untuk berjihad melawan musuh, bahkan mereka telah mendirikan keluarga jihad (usrah al-jihad) sejak tahun 1979.

Sumbangsih Indonesia

Lalu, dalam konteks Indonesia, apa sumbangsih yang bisa diberikan bagi upaya memerdekakan Palestina?

Pertama: Harus ditegaskan kembali bahwa mendukung kemerdekaan Palestina bukan sekadar pilihan, tetapi keharusan. Pasalnya, sejak awal Indonesia adalah antipenjajahan. Sikap ini pun tentu didasarkan pada pengalaman sejarah rakyat Indonesia yang amat menderita hidup di bawah penjajahan lebih dari 350 tahun.

Pengalaman pahit dan getir ini sejatinya harus selalu ada saat kita melihat penderitaan bangsa Palestina. Karena itu, abai dalam membantu bangsa-bangsa terjajah sesungguhnya adalah sikap yang ahistoris.

Kedua: Politik luar negeri Indonesia yang bebas-aktif juga seharusnya mendorong Indonesia untuk selalu aktif mendukung setiap upaya memerdekakan bangsa-bangsa yang masih terjajah, seperti Palestina.

Karena itu, Indonesia seharusnya bisa mengubah gaya diplomasinya menjadi lebih tegas, bukan sekadar formalitas belaka. Tekanan yang kuat terhadap Israel, AS, dan Eropa sebagai pihak yang selama ini setia mendukung Israel, serta PBB, harusnya lebih lantang dan lebih sering disuarakan oleh Indonesia.

Indonesia harusnya tidak boleh kehilangan nyali saat berhadapan dengan negara-negara dan lembaga internasional tersebut. Pemutusan segala hubungan dengan Israel, juga dengan AS, seharusnya bisa dijadikan opsi jika kedua negara tetap dengan kepongahannya menjajah Palestina. Indonesia juga tidak boleh selalu ikut inisiatif negara-negara Barat terutama AS maupun PBB jika itu merugikan Palestina dan malah menguntungkan Israel.

Ketiga: Opsi militer, tentu dengan dukungan negera-negara muslim—khususnya negara-negara Arab—yang tergabung dengan OKI, harusnya bukanlah hal yang tabu, terutama jika Indonesia dan negeri-negeri muslim tidak ingin melihat bangsa Palestina terus-menerus mengalami ethnic cleansing.

Terus berulangnya kekejaman rezim Zionis Yahudi yang telah memakan ratusan ribu korban, sejatinya menyadarkan bangsa-bangsa muslim—termasuk Indonesia—bahwa sekadar kecaman terhadap entitas Israel tidak akan pernah bisa menghentikan kejahatan bangsa agresor tersebut.

“Bahasa kekerasan”—sebagaimana ditunjukkan oleh para mujahid Palestina lewat gerakan intifadahnya—tentu bukanlah pilihan buruk karena terbukti selalu membuat gentar entitas Yahudi tersebut. Padahal, para mujahid itu sering hanya bersenjatakan lemparan batu.

Bagaimana jika gerakan perlawanan itu dilakukan oleh negara-negara yang tergabung dengan OKI dengan puluhan ribu tentaranya? Tentu ini akan cukup bisa menghentikan aksi kekejaman entitas Yahudi itu.

Memang, sepertinya ini pilihan mustahil. Sebetulnya bukan mustahil. Persoalannya, hanyalah pada keberanian negara-negara muslim, termasuk Indonesia, untuk mengambil sedikit risiko berseberangan dengan Barat, khususnya AS, yang menjadi sekutu utama Israel.

Sudah saatnya Dunia Islam menunjukkan “wibawa”-nya di hadapan negara-negara tersebut. Sebab, segala potensi sesungguhnya ada di Dunia Islam: potensi ideologi, ekonomi, sumber daya alam, geopolitik, demografi, dll..

Lagi pula, inilah sesungguhnya yang selama ini menjadi pesan inti dari “Amir Syuhada” Syekh Ahmad Yasin, sebagaimana terpapar di atas.

Persoalannya tinggal berpulang pada keyakinan (akidah) kita dan harga diri kita sebagai bangsa muslim sebagai khairu ummah, juga status kita yang bersaudara—termasuk dengan bangsa Palestina—yang diikat oleh ikatan ukhuwah islamiah, yang tentu melampaui batas-batas negara yang disekat-sekat oleh nasionalisme dan nation state.

Pentingnya Khilafah

Kaum muslim harus sadar bahwa isu Palestina adalah isu Islam. Dengan seluruh kenyataan di atas, cara satu-satunya bagi umat untuk memandang Palestina adalah melalui perspektif Islam.

Kita harus bekerja bersama umat untuk menyangkal seruan kepada kaum muslim dan para penguasa muslim, yang berusaha memberikan bingkai nasionalisme atas krisis Palestina; dari “isu Islam” berubah menjadi sekadar “isu Arab”, kemudian berubah lagi menjadi hanya “isu Palestina”, dan sekarang hanya menjadi “isu Gaza”.

Padahal, nasionalisme yang berbasiskan ‘ashabiyah sejatinya adalah ide jahat yang bisa menghancurkan umat (baca: HR al-Bukhari dan Muslim).

Kaum muslim tentu rindu melihat wilayah Palestina dibebaskan dari pemerintahan tiran Israel. Agar hal ini bisa terlaksana, umat memang membutuhkan seorang khalifah, pemimpin seluruh kaum muslim.

Rasulullah saw. telah bersabda, “Imam (Khalifah) adalah perisai, di belakangnya kaum Muslim berperang dan berlindung.” (HR Muslim)

Di sinilah pentingnya umat ini untuk serius dan sungguh-sungguh untuk memperjuangkan kembalinya Khilafah ‘ala minhaj an-Nubuwwah.

Hanya dengan Khilafahlah Palestina bisa dibebaskan dan dimerdekakan secara nyata. Karena itu, sungguh penting bagi kita merenungkan kembali pernyataan bernas dari Syekh Ahmad Yasin, sang “Amir Syuhada”, dalam salah satu kutipan khotbahnya:

“Umat ini tidak akan pernah memiliki kemuliaan dan meraih kemenangan kecuali dengan Islam. Tanpa Islam, tidak pernah ada kemenangan. Kita selamanya akan selalu berada dalam kemunduran sampai ada sekelompok orang dari umat ini yang siap menerima panji kepemimpinan yang berpegang teguh dengan Islam, baik sebagai aturan, perilaku, pergerakan, pengetahuan, maupun jihad. Inilah satu-satunya jalan. Pilihlah oleh Anda: Allah atau binasa!”

‘Ala kulli hal, seluruh komponen bangsa ini sejatinya peduli dengan krisis Palestina. Jika tidak, kita sesungguhnya telah “berkhianat” kepada bangsa Palestina, saudara sesama muslim; kepada Umar bin al-Khaththab ra. yang telah membebaskan Tanah Palestina untuk pertama kalinya; kepada Sultan Abdul Hamid II dan para khalifah yang beratus-ratus tahun mempertahankan Bumi Palestina; kepada Syekh Ahmad Yasin dan para syuhada yang telah mempersembahkan darah dan nyawanya demi kemerdekaan Palestina; bahkan kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya yang telah menetapkan Palestina sebagai tanah wakaf milik kaum muslim.

Karena itu, marilah kita mengakhiri “pengkhianatan” kita, dengan terus berupaya memerdekakan Palestina hingga benar-benar merdeka, tentu dengan kemerdekaan yang sejati! WalLahu a’lam bi ash-shawab. [MNews/Gz]

Tinggalkan Balasan