Bukan Moderasi Beragama, Khilafahlah yang Akan Menghentikan Arogansi Israel!


Penulis: Juanmartin, S.Si., M.Kes.


MuslimahNews.com, OPINI — Pada saat jutaan umat muslim dunia merayakan Idulfitri, warga Palestina justru harus melaksanakan hari raya di tengah gempuran pasukan Israel laknatullah.

Di Gaza yang notabene merupakan wilayah sasaran pengeboman serangan udara Israel, hanya terdapat sejumlah orang yang melakukan salat Idulfitri di luar, dengan latar belakang gedung yang hancur.

Di tengah kecaman yang diberikan masyarakat global atas tragedi yang tengah terjadi di Palestina, Indonesia melalui menteri luar negeri Retno Marsudi menyampaikan kecaman atas apa yang terjadi di Palestina.

Seolah tak mengambil pelajaran atas kejadian penyerangan tentara Israel yang terus berulang, kecaman ini tak ubahnya basa-basi politik luar negeri yang katanya bebas aktif itu.

Uniknya, Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas justru lebih memilih untuk menyampaikan ucapan selamat memperingati Kenaikan Isa Almasih kepada seluruh umat Nasrani di Indonesia. Ia mengatakan, peringatan Hari Kenaikan Isa Almasih dan Idul Fitri yang jatuh pada hari ini merupakan momentum untuk merajut kebersamaan dan memperkuat moderasi beragama.

Semangat moderasi beragama yang tengah gencar digaungkan di negeri ini seolah memaksa umat Islam untuk amnesia atas genosida dan perampasan kaum Yahudi pada tanah yang merupakan kiblat pertama kaum muslimin, Palestina.

Dalam konteks moderasi beragama, tragedi apa pun yang dialami oleh kaum muslimin tak bisa disangkutpautkan dengan motif agama. Sikap moderat yang ditunjukkan sebagai implementasi proyek moderasi beragama ini pada akhirnya memandulkan sikap kritis dan sensitivitas akidah yang selayaknya dimiliki oleh sesama muslim.

Palestina Ditindas, Sikap Moderat Bukan Solusi!

Sebagaimana dikutip dari detiknews.com, warga Palestina yang tewas akibat gempuran Israel bertambah lagi. Kini korban warga Palestina yang tewas melebihi 100 orang.

Baca juga:  [Diskusi WAG] Mencermati Karakter Yahudi, Adakah Solusi Selain Jihad untuk Menyelamatkan Palestina? 

Pada Jumat (14/5/2021), Kementerian Kesehatan Gaza menyatakan sebanyak 103 warga Palestina terbunuh akibat konflik dengan Israel yang meningkat 4 hari belakangan ini. 103 warga tewas itu termasuk 27 anak-anak dan 11 wanita. (AFP)

Tak hanya itu, gempuran Israel juga melukai hampir 580 orang Palestina. Dari pihak Israel, setidaknya 6 warga Israel dan 1 warga India juga turut menjadi korban tewas akibat konflik di wilayah tersebut.

Berdasarkan berita terbaru, Menteri Pertahanan Israel, Benny Gantz bahkan telah mengizinkan sembilan ribu tentara cadangan Israel untuk bergerak ke Jalur Gaza.

Kecaman yang diberikan lembaga-lembaga dunia hanyalah basa-basi. Seperti Sekjen Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) António Guterres yang mengimbau agar konflik antara Israel dan Palestina segera dihentikan.

Mengapa? Sebab, lembaga dunia seperti ini sengaja dibentuk untuk menambah kesengsaraan kaum muslimin. Di belakang lembaga-lembaga dunia itu, ada para pemimpin kafir Barat yang berdiri bersekongkol memberikan dukungan pada Israel.

Oleh karena itu, ungkapan Presiden AS Joe Biden setelah berbicara dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di tengah pecahnya kekerasan selama berhari-hari, di mana akhirnya Biden mengatakan bahwa Israel memiliki hak untuk mempertahankan diri, kian menunjukkan wajah asli para pemimpin kafir yang bersekongkol untuk melakukan genosida dan merampas tanah umat Islam!

Jadi, mengatakan bahwa apa yang terjadi di tanah Palestina hari ini adalah tragedi kemanusiaan saja itu tidak cukup! Sebab secara vulgar para pemimpin Barat menunjukkan persekongkolan mereka.

Penguasa dunia yang berdiri di belakang Israel inilah yang membuat telinga “bangsa kera” itu tuli dari berbagai kecaman. Kecaman untuk Israel yang terus menggempur Palestina tak akan didengar meski datang dari Recep Tayyip Erdogan hingga Raja Arab Saudi Salman bin Abdul aziz al-Saud sekalipun.

Baca juga:  Satu Desa Dihancurkan Israel, 200 Warga Palestina Diusir Pergi

Indonesia yang notabene merupakan negara dengan mayoritas penduduknya beragama Islam pun seolah tak mampu berbuat apa-apa. Pemimpinnya bahkan tengah sibuk mengaruskan proyek moderasi beragama.

Atas alasan mencegah munculnya terorisme agama dan meredam kemunculan kelompok ekstrem radikal, proyek moderasi dijalankan.

Di saat yang sama, mereka tak mampu melabeli arogansi Israel atas saudara seakidah mereka sebagai terorisme. Padahal, jutaan nyawa penduduk Palestina telah hilang karena kekejaman bangsa Israel.

Saking sibuk memoderasi ajaran Islam, mereka tak menyadari bahwa hal yang paling ditakuti Israel termasuk AS sebagai sekutunya adalah persatuan umat Islam dalam skala global.

Jika umat Islam di Palestina dijajah secara fisik, dirampas tanahnya dan diserang secara membabi-buta, di negeri muslim lainnya termasuk umat Islam di Indonesia, dijajah melalui pemikiran, di mana para kafir penjajah menawarkan berbagai konsep sesat dan menyesatkan, hingga kaum muslimin tak tahu siapa musuh mereka, bahkan menjauhi solusi tuntas atas permasalahan kaum muslimin sedunia yakni Khilafah.

Khilafah, Solusi Tuntas Kaum Muslimin Sedunia

Sejak kaum Yahudi menginvasi dan bercokol di bumi yang diberkahi, Palestina, berbagai solusi telah ditawarkan. Meski demikian, pengkhianatan terus saja dilakukan Israel. Berulang kali dunia mengakomodir kesepakatan damai kedua negara, sebanyak itu pula bangsa Yahudi melanggar kesepakatan itu.

Mereka yang pada dasarnya berstatus sebagai penggarong tanah kaum muslimin, bukannya menyadari kesalahannya mereka justru kian melonjak dan memperluas wilayah rampasannya. Kondisi ini didukung oleh Amerika Serikat yang merupakan sahabat karib Israel.

Kesengsaraan umat Islam di Palestina diperparah oleh sikap para pemimpin muslim yang hanya mencukupkan diri dengan memberikan kutukan dan menyarankan jalan perundingan bagi Palestina dan Israel.

Masalah Palestina sungguh tidak akan pernah selesai hanya dengan konferensi, pernyataan, pertemuan organisasi Islam, demonstrasi, bantuan kemanusiaan, kecaman di sana sini, apalagi dengan menawarkan konsep moderasi beragama.

Baca juga:  Lebih dari 6.000 Warga Palestina Ditangkap Israel Selama Tahun 2018

Hal terpenting yang harus dilakukan adalah mengirimkan tentara kaum muslimin dan di bawah komando seorang imam yang diangkat dengan baiat, yang kemudian memerintah tentaranya untuk membebaskan Palestina.

Petaka yang dialami oleh kaum muslimin di seluruh dunia, termasuk Palestina, sesungguhnya berawal dari kebijakan kolonialis berupa pendudukan Yehuda di sana setelah Kekhilafahan Islam runtuh.

Kebijakan politik Barat yang memecah belah umat, sesuai dengan Perjanjian Sykes Picot pasca-Perang Dunia II, setelah Barat menghancurkan Khilafah secara terstruktur dan kemudian penjajah Eropa memecah umat dengan cara meletakkan sebuah negara Yahudi yang sesuai dengan Deklarasi Balfour.

Jadi, pembebasan Palestina memiliki kaitan dengan pendirian Khilafah. Sejarah Palestina menunjukkan bahwa pendudukan Yahudi ini tidak akan terjadi melainkan karena pengkhianatan para penguasa Arab dan negara-negara Muslim.

Hukum internasional adalah mitos dan suatu kebohongan global. Ajakan perundingan pun tak akan pernah menghasilkan solusi.

Masalah Palestina juga tak akan tuntas dengan membentuk aliansi dengan kaum kuffar untuk melawan persekutuan AS dan Israel, sebagaimana yang dilakukan Erdogan dengan mengajak Presiden Putin untuk melawan mereka. Sebab, sesama penjajah tak memiliki sikap lain kecuali tamak akan negeri-negeri kaum muslimin.

Bukan pula sikap moderat yang akan mendiamkan Israel. Sikap ini bahkan tak ubahnya dengan mereka yang bisu saat melihat saudaranya dibantai di rumah sendiri!

Umat Islam harus bersatu, menegakkan Khilafah yang akan mengusir kaum Yahudi dari bumi para nabi dan mempersatukan kaum muslimin sedunia, hingga predikat kaum muslimin sebagai sebaik-baik umat diraih kembali. [MNews/Gz]

Tinggalkan Balasan