[News] Idulfitri di Palestina, Antara Bom dan Ancaman Perang Skala Penuh

MuslimahNews.com, INTERNASIONAL — Kamis pagi, warga Palestina menghadapi Idulfitri di tengah pemboman tanpa henti oleh Israel, sebagaimana diberitakan Al Jazeera live updates (13/5/2021). Pengeboman besar-besaran di jalur Gaza ini berlanjut hingga Kamis pagi ketika pasukan Israel melancarkan serangkaian serangan udara di berbagai lokasi.

Sebelumnya, Arabnews (12/5/2021) mengabarkan persiapan Idulfitri terhenti di jalan-jalan yang sebagian besar kosong karena toko-toko menutup daun jendela dan orang-orang tetap tinggal di dalam rumah.

Juru bicara Hamas Fawzi Barhoum menyampaikan selama agresi Zionis terhadap rakyat, Yerusalem, Al-Aqsha dan Jalur Gaza berlanjut, perlawanan Palestina, terutama Hamas, akan tetap berada dalam keadaan bentrok permanen.

Presiden Otoritas Palestina, Mahmoud Abbas juga telah memutuskan pembatalan semua perayaan pada Idulfitri, serta mengibarkan bendera setengah tiang tanda berduka terhadap para martir yang tewas (Wafa, 11/5/2021)

Gulfnews (13/5/2021) menggambarkan kondisi hari raya Idulfitri di Palestina di saat jutaan warganya terus berduka, menguburkan yang meninggal, dan bersiap untuk serangan Israel yang lebih banyak.

Tindakan Israel dilakukan sejak mendekati Ramadan, mereka memutuskan mengusir keluarga Palestina dari rumah leluhur mereka di Yerusalem Timur. Kebijakan penggusuran telah dilakukan Israel selama puluhan tahun untuk mengambil alih kota tersebut, yang diakui oleh komunitas internasional sebagai ibu kota negara Palestina di masa depan.

Bentrokan kekerasan tak terhindarkan. Ratusan warga Palestina terluka ketika mereka mencoba menghentikan pasukan Israel dan penjajah Yahudi menyerbu Al-Haram Al-Sharif. Saat ini krisis akibat kebijakan kolonial Israel yang menindas, tampaknya telah di luar kendali. Menjadi pemicu terjadinya ancaman perang skala penuh.

Saat muslim di seluruh dunia merayakan Idulfitri, orang-orang Palestina bersiap untuk “tangan besi” Netanyahu. Sementara jutaan muslim menikmati makan Idulfitri tradisional dengan kehadiran keluarga mereka yang bahagia, orang-orang Palestina akan bergegas ke tempat yang aman untuk melindungi anak-anak mereka yang, tidak seperti anak-anak muslim lainnya saat ini, tidak akan menikmati suara petasan. Sebaliknya, mereka akan melarikan diri dari suara bom Israel yang memekakkan telinga.

Tiga Peristiwa

Di pihak lain media ideologis di sana menggambarkan Idulfitri tahun ini dengan tiga peristiwa.

Pertama, peristiwa adanya bangsa yang bersinar dan mewangi. Bersinar dengan kilau logamnya, seperti emas murni. Karena menunjukkan cinta untuk agamanya dan pembelaan kesuciannya. Kombinasi antara ikatan puasa dengan kesabaran, dan keberanian untuk tegak berdiri. Menghadapi para tiran penindasan dan rezim kegagalan.

Kedua, peristiwa yang menampakkan rezim pengecut dan lemah. Tetap diam meski terjadi pelanggaran terhadap Al-Aqsha selama sepuluh malam dan mengecewakan rakyatnya, sehingga tidak ada lagi yang diharapkan dari mereka. Mereka telah mengecewakannya sebelumnya. dan mengkhianatinya ketika mereka menyerahkannya kepada Yahudi yang bergerak dengan kekuatan dan senjata.

Ketiga, peristiwa adanya orang-orang Yahudi yang dikalahkan dan kepengecutan mereka sebagaimana biasa. Bersembunyi di balik senjata. Hati mereka dipenuhi dengan teror dan kelemahan.

Media ini menyatakan siapa pun yang melihat bangsa Islam, kecintaannya pada agamanya, keberanian anak-anaknya, dan kesediaannya untuk berkorban, menyadari bahwa kembalinya Ramadan menjadi bulan kemenangan dan penaklukan.

Tetapi kurang mendapat keselamatan dari kelompok preman pengecut dari para penguasa ini, untuk diganti dengan seorang pangeran dari orang-orang beriman yang berani dan ksatria. Seorang khalifah muslim yang tidak cukup hanya dengan mencela dari jauh, tetapi salat Idulfitri di mihrab Al-Aqsha dengan tentaranya yang tumbuh di pekarangannya. [MNews/Ruh]

Tinggalkan Balasan