Idulfitri Momen Memaksimalkan Kiprah

Allahu akbar… Allahu akbar… Allahu akbar…
Laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar…
Allaahu akbar wa lillaahilhamd.


Penulis: Asy Syifa Ummu Sidiq


MuslimahNews.com, OPINI — Setelah sebulan berpuasa, hari yang dinanti tiba. Hari raya bagi seluruh kaum muslim di mana pun berada. Idulfitri adalah momen merayakan kemenangan. Karena sebulan penuh kita digembleng, beribadah, bertobat dan mohon ampunan Allah Ta’ala. Diri ini pun makin bertambah takwa.

Idulfitri di Tengah Keterpurukan

Namun, sebagaimana Idulfitri sebelumnya, di tengah sukacita perayaan hari raya, duka masih tetap menyelimuti kita semua. Corona masih mengintai setiap insan manusia. Israel di sepuluh hari terakhir kembali mengirimkan rudalnya ke Palestina. Muslim di Xinjiang hidup terlunta-lunta dan selalu disiksa.

Rentetan penderitaan menghunjam kaum muslimin. Menyiksa lahir dan batin. Bukan hanya itu, pemikiran-pemikiran liberal pun mampu melemahkan kondisi umat Islam.

Isu pluralisme melalui teori moderasi Islam dimasukkan untuk mengotori pemahaman. Islamofobia sengaja disebar agar timbul benih-benih ketakutan dan permusuhan. Ide kesetaraan gender (feminisme), nasionalisme, dan demokrasi terus didengungkan agar kapitalisme tetap mencengkeram seluruh umat Islam.

Kehilangan Jati diri

Seluruh penderitaan yang kita rasakan, harusnya membangkitkan kesadaran. Bahwa kaum muslimin seakan kehilangan gelar khairu ummah. Sebutan umat terbaik tak lagi disandang oleh umat Islam. Yang ada hanya ada keterpurukan, penyiksaan, penghinaan, hingga keterbelakangan.

Baca juga:  Ramadan Beranjak Pergi, Idul Fitri Momentum Raih Kemenangan Hakiki

Selain itu, hak-hak kaum muslim pun dirampas paksa. Hidup mereka dibayang-bayangi rasa takut. Kekayaan mereka direnggut oleh sistem korup. Ulama-ulama yang lurus dikriminalisasi. Hingga masyarakat pun tidak lagi bebas berpendapat karena jerat undang-undang.

Semua itu telah menodai kesucian hari nan fitri. Kita tak bisa menikmati kemenangan sejati. Secara individu mungkin mendapatkannya, tapi kemenangan sebagai umat terbaik di hadapan umat lain, belum. Justru saat ini kita hidup dalam sistem sekuler yang jauh dari Islam.

Memaksimalkan Kiprah dalam Dakwah

Masih ingatkah kita dengan tujuan berpuasa selama Ramadan? Allah menyeru kepada seluruh orang yang beriman untuk menjalankan puasa. Tujuan terakhir berpuasa adalah untuk meningkatkan ketakwaan kita. Di hari yang fitri ini, seharusnya kita memperoleh ketakwaan yang berlipat ganda.

Ketika kita melihat, mendengar, dan merasakan penderitaan umat Islam di seluruh dunia, masihkah kita diam-diam saja? Padahal, ketakwaan kita sudah bertambah. Idealnya, jika bertambah ketakwaan seseorang, bertambah pula kepekaan terhadap sekelilingnya. Apalagi dengan kondisi saudara di Palestina, Xinjiang, India, Myanmar, dan tempat lainnya. Tidakkah tergerak hati untuk menolong mereka?

Dari Abi Musa dari Nabi saw., beliau bersabda, “Sungguh (sebagian) mukmin kepada (sebagian) mukmin lainnya seperti bangunan, yang menguatkan sebagian dengan sebagian lainnya.” Dan beliau menyilangkan jari-jarinya. (HR Bukhari dan Muslim)

Baca juga:  Makna Selamat Idul Fitri, Taqabbalallahu Minna Waminkum dan Minal Aidin wal Faizin

Selain itu, sebagai panggilan keimanan, kita dituntut untuk taat secara total. Wajib mengambil Islam tanpa tebang pilih. Menolak pemikiran asing yang bertentangan dengan Islam. Membenarkan yang salah dan meluruskan pemahaman yang bengkok. Akan tetapi, hal itu tidak bisa kita lakukan kalau hanya berdiam diri.

“Perumpamaan orang yang mengingkari kemungkaran dan orang yang terjerumus dalam kemungkaran adalah bagaikan suatu kaum yang berundi dalam sebuah kapal. Nantinya, ada sebagian berada di bagian atas dan sebagiannya lagi di bagian bawah kapal tersebut.

Yang berada di bagian bawah kala ingin mengambil air, tentu ia harus melewati orang-orang di atasnya. Mereka berkata, ‘Andai kata kita membuat lubang saja sehingga tidak mengganggu orang yang berada di atas kita.’

Seandainya yang berada di bagian atas membiarkan orang-orang bawah menuruti kehendaknya, niscaya semuanya akan binasa. Namun, jika orang bagian atas melarang orang bagian bawah berbuat demikian, niscaya mereka selamat dan selamat pula semua penumpang kapal itu.” (HR Bukhari no. 2493)

Sampai di sini, dapat dipahami jika kita hanya berdiam diri, maka kemungkaran, keterpurukan kaum muslim akan tetap ada. Oleh sebab itu, diperlukan upaya dan kemauan yang sungguh-sungguh untuk memperbaiki semuanya. Hanya dakwah amar makruf nahi mungkar jalan satu-satunya. Seyogianya kita maksimalkan kiprah, berjuang demi tegaknya Islam dalam naungan Khilafah Rasyidah. [MNews/Gz]

Tinggalkan Balasan