Idulfitri di Tanah Suci, Mengikuti Jejak Rasulullah Saw.

MuslimahNews.com, LEBARAN SEDUNIA — Idulfitri dirayakan dengan meriah di Makkah dan Madinah. Takbir dikumandangkan menggunakan pengeras suara di masjid. Hal ini sebagaimana dicontohkan Rasulullah saw. Beliau melakukan takbir mulai dari Magrib hingga menjelang pelaksanaan Salat Idulfitri.

Foto: republika.co.id

Semua mal, toko, kios barbekyu, dan tukang jahit menjadi ramai pada malam hari jelang Idulfitri. Namun, kebanyakan masyarakat Makkah dan Madinah lebih memilih beribadah di masjid. Mereka mengaji, berdoa, dan berzikir, serta merenungi semua kesalahan atau perbuatan yang sudah dilakukan selama satu tahun.

Keesokan harinya, pada saat salat id, jemaah akan padat sekali. Jika ingin mendapatkan barisan depan, kita harus berangkat sangat awal. Jemaah salat Id tak hanya memenuhi ruangan dalam, tapi juga setiap sudut dekat masjid, bahkan sampai jalan raya dipadati para jemaah.

Sesudah salat id, imam besar akan menyampaikan khotbah selama satu jam. Biasanya khotbah berisi tentang nasihat bagi umat muslim agar selalu meningkatkan ketakwaan serta menjaga tali silaturahmi sampai kapan pun.

Menjelang Idulfitri tiba, warga akan menghiasi rumah mereka. Para ibu akan memasak untuk hidangan di hari raya. Sajian makanan dalam menyambut lebaran hampir sama seperti saat puasa Ramadan. Ada kurma, coklat, serta beberapa makanan manis lainnya.

Baca juga:  Ramadan Beranjak Pergi, Idul Fitri Momentum Raih Kemenangan Hakiki

Malban adalah salah satu sajian manis mirip dengan permen yang terkenal sebagai kudapan manis khas Timur Tengah. Malban terbuat dari pasta buah yang ditutup dengan kacang lalu dikeringkan.

Makanan wajib lainnya adalah kunafa yaitu kue yang terbuat dari tepung terigu dan mentega. Lalu diisi dengan kismis, kelapa parut, kacang-kacangan, dan krim. Kunafa sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu dan dianggap sebagai kelezatan abad lama.

Foto: sekolahumroh.com

Ada juga nasi kabsa yang terbuat dari beras (beras basmati), cabai, daging, dan sayuran. Daging yang digunakan berupa daging ayam, sapi, unta, kambing, ikan, dan udang. Makanan ini biasanya dihidangkan dalam 1 nampan besar untuk dimakan bersama-sama oleh 4 hingga 7 orang.

Setelah selesai salat, umat Islam di Arab akan berjabat tangan dan saling bermaafan. Lalu mereka pergi ke rumah kakek-nenek, di mana paman dan keluarga lainnya bergabung di sana untuk menikmati hidangan hari raya. Mereka berkumpul dengan keluarga besar, berjabat tangan dan saling mengucapkan selamat Idulfitri. Laki-laki dan perempuan berada di ruangan yang berbeda.

Mereka biasanya memberi anak-anak ‘eidiyya’ yakni sejumlah hadiah yang diberikan oleh anggota keluarga yang lebih tua kepada anak-anak untuk membuat mereka bahagia. Para pria biasa memberi uang tunai, sedangkan para wanita memberi coklat, permen, dan bingkisan.

Baca juga:  Warga Gaza: Ini adalah Idul Fitri Tersulit dalam Hidup Saya
Foto: tstatic.net

Orang-orang kaya akan turun ke jalan, menunjukkan kepedulian dan kemurahan hati mereka pada sesama. Biasanya para pria akan pergi membeli beras dan bahan pokok lain dalam jumlah besar, lalu menaruhnya di depan pintu rumah orang-orang miskin secara acak tanpa perlu diketahui siapa pemberinya.

Pada malam harinya, muslim Madinah akan mengunjungi keluarga terdekat untuk bersilaturahmi, saling memaafkan, dan menikmati santap malam dengan menu khas lebaran.

Ada satu tempat yang istimewa di Madinah, terkait Idulfitri. Dulu Rasulullah melaksanakan salat id di lapangan terbuka. Salah satu tempat yang biasa digunakan oleh Rasulullah saw. mendirikan salat Id adalah di lapangan yang terletak di kawasan al-Manakha.

Kawasan ini terletak 300 meter dari Masjid Nabawi. Sebagai bentuk penghormatan atas kebiasaan Rasul saw. mendirikan salat di tempat tersebut, didirikanlah sebuah masjid yang diberi nama Masjid Al-Mushalla, yakni masjid tempat salat. Abu Hurairah berkata, “Setiap kali Rasulullah melalui Al-Mushalla, Baginda akan menghadap ke arah kiblat dan berdoa.”

Masjid Al-Musalla kini dikenal sebagai Masjid Al-Ghamamah. Masjid ini terletak di sebelah timur Madinah, yaitu berhadapan dengan Pasar Tamar. Masjid ini berdampingan dengan Masjid Nabawi di sebelah barat. Dari arah Babus Salam, bila kita melihat ke arah barat akan terlihat masjid yang memiliki kubah-kubah kecil. Warna masjidnya kelabu dan berkubah putih.

Baca juga:  Dakwah Rasulullah Saw. Era Makkah

Khalifah Umar bin Khaththab merupakan orang yang membangun masjid ini persis di tempat salat Nabi saw. Adapun bangunan masjid yang ada sekarang ini adalah peninggalan Sultan Abdul Majid al-Utsmani.

Di Madinah, Idulfitri tidak identik dengan baju baru. Nabi Muhammad saw. mencontohkan untuk mengenakan pakaian terbaik dan minyak wangi, namun tak harus baju baru. Hal ini juga menjadi kebiasaan warga Madinah. [MNews/Rgl]

Tinggalkan Balasan