Syekh ‘Adil ‘Ali asy-Syuruf, Aktivis Dakwah, Pemikir Politik, dan Ahli Hadis


Penulis: M. Ali Dodiman*


MuslimahNews.com, KISAH INSPIRATIF — Sosok yang akan penulis paparkan ini mungkin sangat jarang diketahui, kecuali oleh para pengemban dakwah di Yordania. Cerita tentang beliau penulis dapatkan dalam sebuah artikel majalah berbahasa Arab Shautul Ummah. Sebagai tambahan, penulis cantumkan juga hasil kajian Syekh ‘Adil Syuruf tentang Jihad.

Pendidikan Awal

Pada awalnya, beliau mulai beraktivitas keislaman bersama Al-Ikhwan al-Muslimuun di Yordania. Beliau hadir dalam kajian-kajian mereka di Darul Ikhwan.

Kitab-kitab mereka sebagian besar sudah dibaca. Kemudian, pada tingkat tsanawiyah (SMA), beliau berkenalan dengan sebagian aktivis dakwah Khilafah yang rajin hadir di Masjid Murabithiin di Jabal Najhah, Amman. Melalui mereka inilah beliau akhirnya bergabung dalam pembinaan bersama mereka.

Beliau juga memperdalam tsaqafah pergerakan Khilafah dengan banyak muthala’ah. Selain itu, beliau belajar tilawah Al-Qur’an dan Bahasa Arab kepada Syekh Husein, Imam Masjid Al-Murabithin.

Digembleng untuk Mengkaji Tsaqafah

Ketika di Lebanon, Syekh ‘Adil bertemu dengan sekretaris Syekh Taqiyuddin an-Nabhani rahimahullaahu ta’ala. Sekretaris tersebut menyampaikan permintaan dari Syekh Taqiyuddin kepada Syekh ‘Adil untuk menulis satu topik tertentu yang dipilih sendiri. Syekh ‘Adil memberikan alasan bahwa dirinya lemah dan belum mampu dalam tsaqafah. Lalu Syekh Taqiyuddin memaksanya untuk menulis.

Ketika Syekh ‘Adil telah menulis, dikirimkan kepadanya komentar Syekh Taqiyuddin bahwa analisis dan pendapatnya salah. Syekh Taqiyuddin memaksa kembali kepada Syekh ‘Adil agar menulis dan menulis lagi.

Maka, dipilihlah suatu topik bahasan lain dan Syekh ‘Adil menulis topik tersebut. Maka, setelah Syekh Taqiyuddin membacanya, dikirimlah komentar beliau kepada Syekh ‘Adil bahwa analisis dan pendapatnya benar. Maka, Syekh Taqiyuddin menasihati kepada para aktivis dakwah agar mereka memperhatikan dan mengembangkan tsaqafah islamiah.

Menurut hemat penulis, secara tidak langsung beliau ingin mengatakan kepada kita bahwa siapa pun dapat menguasai tsaqafah manakala ia serius (jaddiyah) dan senantiasa terus meningkatkan kemampuannya dengan berlatih dan mempraktikkannya.

Buktinya, Syekh ‘Adil pun bisa, padahal sebelumnya ia merasakan ketakmampuannya dalam menulis dan menganalisis. Sehingga pesan itu, tentunya, relevan juga bagi kita sekarang. Bahkan, bagi siapa pun yang mau mengambil manfaat dari setiap nasihat.

Dakwah di Lingkungan Tempat Kerja

Seorang pengemban dakwah, di mana pun ia berada, akan senantiasa melaksanakan kewajiban agung ini. Sebagaimana halnya Syekh Ahmad ad-Da’ur yang berdakwah, baik ketika di parlemen maupun saat di penjara.

Demikian pula Syekh ‘Adil. Ketika beliau menjadi pengajar/guru di Kota Ash-Shalthu, beliau juga mengemban dakwah Islam kepada para guru dan murid-muridnya di sekolah.

Direktur sekolah itu memutuskan menulis surat kepada intelijen mengenai aktivitas Syekh ‘Adil. Syekh ‘Adil pun dipanggil dan diinterogasi oleh intelijen. Setelah peristiwa itu, Syekh terpaksa keluar dari sekolah itu.

Baca juga:  Syekh Yusuf Ahmad Mahmud as-Sabatin (Abu Izz), Imam Keluarga Pengemban Dakwah (1928—2005)

Perjalanan hidup Syekh ‘Adil dalam mengemban dakwah telah menyebabkan beliau sering mengecap kehidupan di penjara. Intelijen menangkapnya hingga tiga kali.

Pertama, pada periode (1978—1981 M) beliau dituntut hukuman tiga tahun dan divonis tiga tahun penuh di penjara Al-Mahathah. Selama di penjara, beliau menekuni kitab Al-Muhallanya Ibnu Hazm.

Kedua, periode (1983-1985M) dituntut 3 tahun dan dijalaninya selama 1 ½ tahun dan keluar (bebas) dari penjara “Al Mahathah” karena adanya amnesti (pengampunan umum).

Ketiga, pada periode (1987-1989M) dituntut 3 tahun dan beliau jalani 1 ½ tahun. Kemudian bebas dari penjara “Sawaqah” karena adanya pengampunan juga. Terakhir kalinya, beliau ditangkap dan menjalani 6 bulan di sel penjara intelijen di bawah penyiksaan, ancaman, dan pemaksaan.

Aktivitas di Pergerakan

Pada awal tahun 80-an beliau mulai mencurahkan waktu, tenaga dan pikiran pada aktivitas kepartaian bersama kelompok dakwah khilafah. Beliau sibuk menjadi penanggung jawab di Marik kemudian di selatan kota Aman, Yordania.

Dalam beberapa waktu, aktivitas pergerakan di Yordania mengalami masa yang sulit karena banyak terjadi penangkapan dan perburuan aktivis dakwah. Banyak aktivisnya yang masuk penjara pada masa Ahmad ‘Ubaidat yang menjadi pemimpin oposisi pada tahun 90-an.

Karya-Karya Syekh ‘Adil Syuruf

Syekh ‘Adil meninggalkan berbagai karya tulis yang sangat berharga. Beliau adalah seorang jenius yang memiliki kemampuan berpikir di atas rata-rata. Beliau adalah salah satu dari sekian banyak pemikir politisi pergerakan Khilafah yang peka dan produktif.

Yang menjadikannya seperti itu dikarenakan sejak masih muda, beliau telah membuat perpustakaan pribadi. Perpustakaan pribadinya memiliki koleksi kitab-kitab induk dan buku-buku referensi dalam bidang tafsir, hadis, fikih, ushul fikih, sastra, sejarah, sains, tsaqafah (budaya), dan politik. Selain itu, di perpustakaannya ditambah dengan sesi-sesi kajian mingguan, bulanan, enam bulanan (semester), dan tahunan.

Maka, dari perpustakaan dan berbagai kegiatan di sana, telah dihasilkan tulisan-tulisan Syekh ‘Adil, antara lain:

  1. Al Ibda’u al Fikriy (Berpikir Kreatif)
  2. Al Wa’yu as Siyasiy (Kesadaran Politik)
  3. Al Jihad (Jihad)
  4. ‘Ishmatu al Aimah ‘inda as Syi’ah (Kema’shuman Para Imam menurut Syi’ah)
  5. Al Fithrah (Fitrah)
  6. Al Jamaa’ah
  7. Al Muwada’atu ma’a Bani Dlamrah
  8. Dukhulu Khuza’ah fi Shulhi al Hudaibiyah wa Fathi al Makkah (Masuknya Khuza’ah dalam Perjanjian Hudaibiyah dan Penaklukan Mekah)
  9. Ziyadatu al Iman wa Naqshuhu (Bertambah dan berkurangnya Keimanan)
  10. Al Qital Khalfa Hukaami al Muslimiina al Yaum (Berperang di bawah Penguasa Kaum Muslimin Saat Ini)
  11. ‘Alaqatu al Isnad bi al Hadits al Mutawatir (Hubungan Isnad dengan Hadits Mutawatir)
  12. Al Hadits al Mutawatir
  13. Al Qaim al Rafii’ah (Nilai-nilai Luhur)
  14. Mafhumu al Daulati Mafhumun Islamiyyun (Konseo Negara adalah Konsep Islami)
  15. Al Wasilatu Ilal Haram Haramun
  16. Dan tema-tema lainnya dalam bentuk tulisan atau tanya jawab.
Baca juga:  Al-Ustadz Hafizh Shalih, Berdakwah di Enam Negara

Beliau juga memiliki keunggulan dalam bidang ilmu hadis. Beliau telah menulis banyak penelitian dan men-tahqiq beberapa makalah. Karyanya tersebut–yang berjilid-jilid banyaknya itu—sebagian besar tidak dipublikasikan. Sebagian yang beliau keluarkan adalah untuk kepentingan mahasiswa magister dan doktoral yang membutuhkannya.

Beberapa kitab tahqiq dan takhrij hadis karya beliau antara lain:

  1. Tahdzib Al Muwafaqat li Muhammad bin Husain Al Jaizani
  2. Tahqiq Ahadits Durru Sahaabah
  3. Kitab at Ta’aqubaat ‘ala al Maudlu’at
  4. Ahaaditsu wa Atsaru min Kitaabi Mu’ini al Hukkami
  5. Risalatu an Nishfi min Syu’bani lil Qaari
  6. At Tashriih fi Syarhi at Tasriih li ‘Ali bin Sulthan Muhammad al Qaari al Harawiy
  7. Al Asma’ul Husna li Ibni Hajar
  8. Ahadits al Majalis al Salmasiyati lil Salafi
  9. Takrij Ahadits Risalati Al Ahkam Thibbiyah li Muhammad al Natsyah
  10. Al Muntakhab min Hadits Musa bin ‘Uqbah
  11. Al Mu’jamu Al Musytabah li Abi al Fadhli Al Harawiy
  12. Al Bayyinat fi Bayani Ba’dli al Ayaati lil Qaariy
  13. Mukhtashar Idlahi al Isykal li Al hafizh ‘Abdul Ghaniy bin Sa’id al Azdiy
  14. Hadits Ahmad bin ‘Abdullah bin Khalid al Juyabariy fi Masaili ‘Abdillah bin Salam
  15. Tashnif Imam Abi Bakr Ahmad bin al Husain al Baihaqi
  16. Takhrij wan Tahqiq HaditS Arhamu Ummatiy bi Ummatiy li Ibni ‘Abdul Hadiy
  17. Bukhari wa Kitabuhu al Adabu al Mufrad
  18. Fadla’ilu adz Dzikri
  19. Tahqiq An Nahyi ‘an al Iftirasyi wa an Naqri wa al Iithan
  20. Tahqiq Hadits Ath’u Abaaka wa Thalaqaha
  21. Tahqiq Hadits Anta wa Maaluka li Abiika dll

Syekh ‘Adil Wafat

Syekh ‘Adil ‘Ali asy-Syuruf meninggal pada 19 September 2003. Beliau meninggalkan seorang istri yang juga mengemban dakwah untuk melangsungkan kembali kehidupan Islam. Istrinya tersebut adalah putri dari Syekh Yusuf Ahmad Mahmud as-Sabatiin rahimahullah, yaitu Najah as-Sabatiin.

Istri Syekh ‘Adil ini adalah salah seorang pemudi aktivis dakwah Khilafah di Yordania yang produktif dalam menulis buku. Selain itu juga produktif menulis di internet baik lewat situs atau pun blog yang beliau buat.

Kutipan Tulisan Syekh ‘Adil ‘Ali asy-Syuruf

Berikut ini salah satu tulisan Syekh ‘Adil ‘Ali asy-Syuruf berjudul Al-Jihad, yang beliau tulis pada 16 November 2000 M/20 Syakban 1421H.

“Jihad secara syar’i adalah mengerahkan segenap upaya dalam perang fi sabilillah, baik secara langsung atau membantu dengan harta, pendapat (pandangan), atau memperbanyak kuantitas ataupun yang lainnya.

Baca juga:  Al-Ustadz Muhammad Fathi Salim, Cendekiawan dan Pejuang Milik Umat

Sabilillah secara bahasa adalah setiap perbuatan baik yang akan mendekatkannya kepada Allah Swt.. Adapun secara syar’i, sabilillah disebutkan untuk makna yang khas yaitu seruan (dari) Allah (untuk memeluk/tunduk) kepada Islam dan menghadapi seruan kepada kekufuran.

Allah Swt. berfirman dalam surah An-Nisa: 76,

الَّذِينَ آمَنُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۖ وَالَّذِينَ كَفَرُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ الطَّاغُوتِ فَقَاتِلُوا أَوْلِيَاءَ الشَّيْطَانِ ۖ إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا

“Orang-orang yang beriman mereka berperang fi sabilillah (di jalan Allah) dan orang-orang kafir, mereka berperang di jalan tagut.”

Allah Swt. juga berfirman dalam surah Ali Imran: 13,

‏قَدْ كَانَ لَكُمْ آيَةٌ فِي فِئَتَيْنِ الْتَقَتَا فِئَةٌ تُقَاتِلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَأُخْرَى كَافِرَةٌ يَرَوْنَهُمْ مِثْلَيْهِمْ رَأْيَ الْعَيْنِ‏

“Sesungguhnya telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu (bertempur), Segolongan bertempur di jalan Allah (sabilillah) dan (segolongan lain) kafir.”

 Allah Swt. juga berfirman dalam surah At-Taubah: 40,

وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَى وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا

“…Dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi.”

Kalimat “orang-orang kafir” adalah syirik dan seruan kepada kemusyrikan. Kalimatullah adalah tauhid dan seruan Allah adalah kepada Islam.

Imam Bukhari mengeluarkan hadis no. 2810 juz 6 hlm. 27—28, dan yang lainnya dari Abu Musa al -Asy’ari ia berkata, seorang laki-laki datang kepada Rasulullah saw., ia berkata,

“Seseorang berperang demi ganimah, seseorang lagi demi untuk dikenang, seseorang lagi untuk melihat tempatnya. Siapakah yang di jalan Allah (fi sabilillah)?” Nabi bersabda, “Siapa yang berperang agar kalimat Allah tinggi, maka dia di jalan Allah (fi sabilillah).”

Perkataan Rasulullah saw. adalah definisi dari makna fi sabilillah, yakni meninggikan kalimat Allah atau meninggikan seruan kepada Islam, dengan mengalahkan seruan syirik dan menyebarkan Islam. Sehingga, perhitungan, ketundukan, ittiba’, dan peribadatan, semua untuk Allah Swt..

“Dan perangilah mereka, sehingga tidak ada lagi fitnah dan agama seluruhnya untuk Allah.”

Tinggi agama Allah yang dimaksud adalah tinggi hakiki (sebenarnya) bukan majazi (kiasan). Dalam hadis Abu Musa al-Asy‘ari ra., dijelaskan bahwa perang dengan niat (mendapatkan) ganimah atau agar dikenang (ketenaran) adalah perang yang pencapaiannya berupa ganimah atau ketenaran riil.

Perang dengan niat jihad, pencapaiannya adalah tingginya seruan kepada Islam secara riil. Jika perang terhadap orang kafir kosong dari tujuan merealisasikan tingginya kalimatullah, maka bukanlah jihad. Maka, tujuan merealisasikan Islam itulah yang menjadikan perang sebagai jihad.

Demikian, sekilas pandangan Syekh ‘Adil ‘Ali asy-Syuruf terhadap masalah jihad. [MNews]

*Penulis buku Memoar Pejuang Syariah dan Khilafah, Al-Azhar Fresh Zone Publishing, 2012

Tinggalkan Balasan