[News] Agresi ke Al-Quds Meningkat, Sikap Lancang Penjajah Yahudi

MuslimahNews.com, INTERNASIONAL — Al Jazeera mengabarkan (12/5/2021) militer Israel terus membombardir Jalur Gaza yang dikepung pada Selasa (11/5/2021), menargetkan beberapa daerah setelah roket ditembakkan dari daerah kantong tersebut.

Otoritas kesehatan di Gaza mengatakan setidaknya 32 warga Palestina, termasuk 10 anak-anak, tewas dalam serangan udara Israel di Jalur itu sejak Senin malam, setelah Hamas meluncurkan roket dari wilayah pesisir menuju Israel.

Tembakan roket terjadi setelah Hamas mengeluarkan ultimatum yang menuntut Israel mundur dari kompleks Masjidilaqsa di Yerusalem Timur yang diduduki setelah berhari-hari melakukan  kekerasan. Yang kemudian ultimatum itu diabaikan Israel.

Dalam pernyataan yang dikeluarkan Selasa pagi, pemimpin Hamas Ismail Haniyeh mengatakan serangan roket akan berlanjut sampai Israel menghentikan semua adegan terorisme dan agresi di Yerusalem dan Masjidilaqsa.

“Jika (Israel) ingin meningkatkan kekerasan, kami siap untuk itu. Tapi jika ingin berhenti, kami juga siap,” tegasnya

Kantor urusan kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa di wilayah Palestina (UN-OCHA) mengatakan pasukan Israel telah melukai 1.000 warga Palestina di Yerusalem Timur pada 7—10 Mei. Lembaga ini menyebut 735 orang cedera karena peluru karet.

“Pada 10 Mei, 657 warga Palestina terluka, sebagian besar di tubuh bagian atas, dengan setidaknya satu warga Palestina kehilangan matanya,” paparnya.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu mengatakan Hamas dan Jihad Islam akan “membayar harga yang sangat mahal”, setelah seharian tembakan roket Gaza dan serangan udara Israel di daerah pantai Palestina.

Baca juga:  [News] KTT Tripartit, Pendelegasian Amerika untuk “Menenangkan” Palestina

Di lain pihak Sami Abu Shehadeh, anggota Knesset Palestina dan pemimpin partai Balad, mengatakan Benjamin Netanyahu mengizinkan “kekerasan” ini dalam upaya mempertahankan kekuasaannya. “Untuk bertahan dari krisis politik ini dia menemukan dirinya sekarang, dan agar dia tidak kehilangan kendali dan tidak kehilangan kursinya sebagai perdana menteri, dia siap untuk melakukan apa pun,” jelasnya.

“Semua peningkatan eskalasi yang kita lihat sekarang memiliki target politik yang jelas dari sudut pandang Netanyahu, dan dia siap melakukan apa saja untuk mempertahankan kekuasaannya termasuk pembantaian yang akan kita lihat di Gaza. Apa yang terjadi di sini adalah keputusan politik yang jelas bahwa Netanyahu bertanggung jawab untuk mempertahankan kekuasaan,” imbuhnya.

Seiring dengan itu Ali Abunimah, seorang penulis dan salah satu pendiri situs Electronic Intifada, menyampaikan bahwa mengerikan melihat Israel sekali lagi memutuskan untuk mencoba menebus penghinaannya di Yerusalem dengan membunuh warga Palestina, terutama anak-anak di Gaza.

“Apa yang terjadi kemarin di Yerusalem adalah Israel menderita kekalahan yang memalukan ketika perlawanan rakyat Palestina, tanpa dukungan dari pemerintah mana pun, tanpa dukungan dari Otoritas Palestina, mengalahkan Israel. Memaksa mereka untuk membatalkan aksi pemukim, dan terus melawan pembersihan di Syekh Jarrah,” ucapnya.

Hamas dan faksi-faksi perlawanan lainnya mencoba berkata kepada Israel, “Jangan berpikir Anda dapat menyerang Yerusalem dan menyerang orang-orang Palestina di Tepi Barat dan beranggapan faksi perlawanan tidak menanggapi Anda. Itu adalah kesalahan perhitungan strategi utama oleh Israel yang berpikir dapat melakukan apa saja yang diinginkan karena telah memecah belah rakyat Palestina, ada sebagian kecil di Tepi Barat dan  sebagian kecil lainnya di Gaza,” jelasnya

Baca juga:  Hadis tentang Kekalahan Yahudi

Penyebab Keberanian dan Kelancangan Penjajah Yahudi

Peristiwa ini ditanggapi pengamat politik internasional, Ustaz Farid Wadjdi. Ia menyatakan apa yang terjadi di Al-Quds mestinya menggerakkan seluruh kaum muslimin yang bagaikan satu tubuh.

“Al-Quds adalah tempat suci terjadinya peristiwa Isra Mikraj yang dikabarkan dalam Al-Qur’an,” jelasnya.

“Apa yang terjadi saat ini di kompleks Al-Quds oleh penjajah Yahudi merupakan peristiwa yang telah terjadi berkali-kali, juga terhadap kaum muslimin Palestina di sana. Teror, pemaksaan, pengusiran kaum muslim Palestina dari tanahnya sendiri, dan pembunuhan ini terjadi setelah kaum muslimin disekat-sekat dalam berbagai nation state,” tambahnya.

Ustaz Farid menyampaikan keberanian, arogansi, dan kelancangan penjajah Yahudi ini disebabkan beberapa hal.

Pertama penjajah Yahudi sangat paham ada AS dan negara-negara barat di belakangnya. Sikap politik AS tersebut yaitu menjadikan eksistensi penjajahan Yahudi sebagai “harga mati” bagi mereka, bersifat permanen dari presiden ke presiden. Sehingga, meskipun jumlah penduduk Israel hanya sedikit sekitar 7—8 juta orang, membuat mereka sangat berani, lancang, dan arogan.

“Padahal orang-orang Yahudi ini pengecut, tetapi karena tahu di belakangnya ada AS yang akan mendukung mereka apa pun yang terjadi, maka mereka pun menjadi berani dan lancang,” cetusnya.

Baca juga:  Penjara Tidak Menghalangiku Berdakwah (Syekh Yusuf Makharza Abu Hammam, Ulama Palestina)

Kedua, penjajah Yahudi paham sikap pengkhianatan dan lemahnya penguasa-penguasa negeri muslim yang “paling-paling” hanya akan mengecam. Walaupun kekuatan militer negeri-negeri muslim ini kuat dan besar, tetapi tidak akan diarahkan dan dimobilisasi untuk membebaskan tanah Palestina dari penjajah Yahudi ini.

“Penguasa-penguasa muslim ini telah tunduk kepada Barat. Bahkan, negara-negara Arab satu persatu telah melakukan normalisasi hubungan dengan penjajah Yahudi. Ini adalah bentuk pengkhianatan,” tukasnya.

Ketiadaan Institusi Politik Pemersatu, Kelemahan Umat Islam

Selain itu, penjajah Yahudi paham bahwa tidak ada institusi politik yang menyatukan negeri-negeri Islam dan bisa menggerakkan pasukan-pasukan kaum muslimin yang jumlahnya besar.

Jika dari 1,5 miliar umat Islam, 10 persennya saja menjadi pasukan militer, sudah menghasilkan jutaan tentara. Tentara-tentara ini didukung umat Islam dengan jihad fi sabilillah dalam rangka membebaskan Palestina.

“Tetapi saat ini institusi politik itu tidak ada. Ini adalah kelemahan umat Islam, padahal jumlahnya besar tapi tidak mampu menyelesaikan masalah Palestina,” tandasnya.

Ustaz Farid menyayangkan yang terjadi sebaliknya, saat tentara-tentara ini justru diarahkan membunuhi saudara-saudaranya sendiri, seperti yang terjadi pada Houthi di Yaman, Iran ke Suriah untuk mempertahankan rezim Bashar Assad, dan Turki yang memerangi pemberontak Kurdi.

“Mereka lebih melakukan hal ini dibanding membebaskan Palestina,” pungkasnya. [MNews/Ruh]

Tinggalkan Balasan