Keluarga Muslim Tetap Memelihara Ketakwaan Selepas Ramadan


Penulis: Najmah Saiidah


MuslimahNews.com, KELUARGA — Alhamdulillaah wa syukru lillaah sudah sebulan penuh kita menjalani ibadah di bulan Ramadan. Kini tiba akhirnya kita berpisah dengan bulan yang penuh berkah, bulan yang penuh rahmat dan ampunan Allah, bulan dibebaskan dari siksa neraka, bulan yang dijanjikan dikabulkannya doa dan diampuni dosa.

Karena itu, banyak di antara kita yang juga bersedih ketika Ramadan akan berlalu. Mungkinkah kita akan kembali menjumpai Ramadan di tahun depan?

Rangkaian doa kita panjatkan ke hadirat Allah Swt.:

“Yaa Allah! Janganlah Engkau jadikan puasa ini sebagai puasa yang terakhir dalam hidupku. Seandainya Engkau menetapkan sebaliknya, maka jadikanlah puasaku ini sebagai puasa yang dirahmati, bukan puasa yang sia-sia.”

“Seandainya masih ada padaku dosa yang belum Engkau ampuni atau dosa yang menyebabkan aku disiksa karenanya, sehingga terbitnya fajar malam ini atau sehingga berlalunya bulan ini, maka ampunilah semuanya wahai Zat Yang Paling Pengasih dari semua yang mengasihi.”

“Ya Allah! Terimalah puasaku dengan sebaik-baik penerimaan, perkenan, pemaafan, kemurahan, pengampunan, dan keridaan-Mu. Sehingga Engkau memenangkan aku dengan segala kebaikan, segala anugerah yang Engkau curahkan di bulan ini.”

 “Selamatkanlah aku dari bencana yang mengancam atau dosa yang berterusan. Demikian juga, dengan rahmat-Mu masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang mendapatkan (keutamaan) di Lailatulqadar. Malam yang telah Engkau tetapkan lebih baik dari seribu bulan.”

“Semoga perpisahanku dengan bulan Ramadan ini bukanlah perpisahan untuk selamanya dan bukan juga pertemuan terakhirku. Semoga aku dapat kembali bertemu dengan Ramadan mendatang dalam keadaan penuh harapan dan kesejahteraan.”

Aamiin…


Saat ini, kita berjumpa dengan Idulfitri, hari di mana sejatinya lahir pribadi-pribadi yang bertakwa, penuh dengan ketaatan kepada Allah; hasil dari pelaksanaan puasa Ramadan sebulan penuh. Sudahkah hal ini tecermin dalam diri dan keluarga kita?

Allah Swt. berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيۡكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُون

“Hai orang-orang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana puasa itu pernah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa.” (QS Al-Baqarah: 183)

Takwa yang diharapkan tentu takwa yang sebenar-benarnya takwa. Demikian sebagaimana yang juga Allah Swt. tuntut atas diri kita.

Kata taqwâ berasal dari kata waqaa yang artinya melindungi. Kata tersebut kemudian digunakan untuk menunjuk pada sikap dan tindakan untuk melindungi diri dari murka dan azab Allah Swt.. Caranya tentu dengan menjalankan semua perintah Allah Swt. dan menjauhi larangan-Nya.

Pengertian takwa tersebut sebagaimana dikatakan Thalq bin Habib, seorang tabi’in, salah satu murid Ibnu Abbas ra..

Dikatakan, “Takwa adalah mengerjakan ketaatan kepada Allah Swt. berdasarkan cahaya-Nya dengan mengharap pahala-Nya dan meninggalkan kemaksiatan kepada Allah berdasarkan cahaya-Nya karena takut terhadap azab-Nya.” (Tafsîr Ibnu Katsîr, I/2440)

Di sinilah pentingnya kita menyiapkan diri kita—dan tentu saja keluarga kita—untuk bisa terus merawat ketakwaan dan ketaatan kepada Allah, yang telah kita dan keluarga kita bangun ketika menjalani bulan mulia dan penuh keberkahan ini.

Lalu, bagaimana upaya kita agar ketakwaan kita tetap terawat baik, bahkan makin dan terus meningkat?

Mengawalinya pada Bulan Syawal

Islam memang luar biasa. Allah Swt. telah menjadikan bulan Syawal mengiringi bulan Ramadan, di mana di dalamnya Allah mensyariatkan puasa enam hari dengan penuh keutamaan dan sangat besar fadhilah (fadilat) serta ganjarannya.

Diriwayatkan dari Abu Ayyub Al-Anshari ra., beliau telah berkata bahwasanya Rasulullah saw. bersabda,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ، كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barang siapa yang berpuasa pada bulan Ramadan, kemudian diikuti dengan puasa enam hari pada bulan Syawal, adalah (puasanya itu) seperti puasa sepanjang tahun.” (HR Muslim)

Mengerjakan puasa sunah sebanyak enam hari pada bulan Syawal mengikuti puasa fardu pada bulan Ramadan diibaratkan seperti berpuasa sepanjang tahun. Bahkan, kita bisa langsung memulainya di hari ke-2 bulan Syawal. Ini diperkuat lagi dengan hadis riwayat Tsauban, bahwa Rasulullah saw. bersabda,

“Berpuasa sebulan (di bulan Ramadan itu disamakan) dengan sepuluh bulan berpuasa dan berpuasa enam hari selepasnya (di bulan Syawal disamakan) dengan dua bulan berpuasa, maka yang sedemikian itu (jika dicampurkan menjadi) genap setahun.” (HR Imam Al-Darimi)

Di sinilah sesungguhnya ayah dan ibu memiliki peran besar dalam mengajak keluarganya untuk melanjutkan amalan kebaikan yang biasa dilakukan saat Ramadan pada bulan-bulan selanjutnya . Dimulai dengan berpuasa sunah di bulan Syawal selama enam hari, tentu saja kedua orang tua menjadi contoh bagi anak-anaknya.

Merawat Ketakwaan Keluarga Selepas Ramadan

Beriringan dengan saum sunah Syawal, banyak aktivitas lainnya yang bisa kita dan keluarga lakukan selepas Ramadan, agar ketakwaan kita kepada Allah makin meningkat. Semoga menjadi amal kebaikan yang paling dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya.

Rasulullah saw. bersabda, “Amal (ibadah) yang paling dicintai Allah adalah amal yang dikerjakan terus menerus meskipun sedikit.”

Tentu saja, jika dilakukan bersama-sama seluruh anggota keluarga akan lebih terasa keberkahan dan kebersamaannya.

1) Menjaga keistikamahan salat berjemaah dan salat-salat sunah.

Ketika Ramadan, setiap malam kita tidak pernah ketinggalan melakukan salat tarawih secara berjemaah. Maka, tentu saja salat lima waktu secara berjemaah yang hukumnya wajib itu sangat penting kita rawat.

Sebab, amalan wajib harus didahulukan dan diutamakan daripada amalan sunah. Apalagi salat merupakan cahaya dalam kehidupan. Terlebih lagi, dengan berjamaah, kita akan mendapatkan pahala 27 kali dibandingkan salat sendirian.

Demikian halnya salat sunah yang tidak pernah ketinggalan ditunaikan ketika Ramadan, maka selepasnya tentu saja harus makin digencarkan. Setiap anggota keluarga saling mengingatkan anggota keluarga lainnya.

Terlebih ketika tahajud—di sepertiga malam—suami atau istri membangunkan pasangannya kemudian membangunkan anak-anak sebagaimana yang biasa dilakukan ketika membangunkan sahur selama bulan Ramadan. Kemudian memanjatkan doa bersama, dilanjutkan dengan salat Subuh berjemaah, baik di rumah atau di masjid.

Tentu hal ini akan makin menguatkan ikatan keluarga sekaligus melimpahkan pahala dan keberkahan untuk keluarga.

2) Meneruskan tilawah Al-Qur’an bersama keluarga.

Tilawah Al-Qur’an dan menadaburinya telah rutin dilakukan di bulan Ramadan. Insyaallah tetap bisa kita amalkan bersama keluarga, misal setelah atau menjelang salat Subuh setelah tahajud bersama, jika di waktu lain tidak mungkin dilakukan bersama.

Di samping mendapatkan pahala membaca Al-Qur’an, setiap anggota keluarga bisa saling memperbaiki bacaannya jika ada pembacaan yang salah, baik pengucapan maupun tajwidnya.

Bisa juga dilanjutkan dengan kultum atau muraja’ah. Sehingga, dengan kebersamaan ini, insyaallah makin banyak ilmu yang kita dapatkan, makin baik pula tilawah dan hafalan kita.

Keluarga kita makin harmonis, dan lebih dari itu, ketakwaan dan ketaatan kita kepada Allah makin meningkat pula.

3) Memperbanyak amalan sunah lainnya, seperti saum sunah, zikir, dan sedekah.

Semoga keluarga kita termasuk orang-orang yang selalu menjaga amalan sunah, seperti saum sunah, banyak berzikir kepada Allah, bersedekah, dan sebagainya.

Insyaallah kita akan terlindungi dari segala keburukan dan mendapatkan pahala yang besar, serta akan makin memperkuat idrak shilah billah, sehingga akan makin mendekatkan kita kepada Allah, dan pada akhirnya akan meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Swt..

Kita ajak keluarga kita untuk terus membiasakan saum sunah, menyisihkan sebagian harta, baik dalam keadaan lapang maupun sempit. Juga membiasakan membaca zikir pagi dan petang, zikir sebelum tidur, zikir keluar dari rumah, dan sebagainya. Manfaatkanlah waktu dengan memperbanyak zikir kepada Allah Swt. dalam berbagai kesempatan.

Keutamaan amalan sunah terdapat dalam hadis Qudsi berikut, Allah berfirman,

“Dan senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunah, sehingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku akan memberi petunjuk pada pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, memberi petunjuk pada penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, memberi petunjuk pada tangannya yang ia gunakan untuk memegang, memberi petunjuk pada kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia memohon sesuatu kepada-Ku, pasti Aku mengabulkannya, dan jika ia memohon perlindungan, pasti Aku akan melindunginya.” (HR Bukhari)

4) Makin giat menuntut ilmu dan menghadiri majelis ilmu.

Dalam kondisi apa pun, menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi kaum muslimin, apakah mempelajari buku-buku keislaman, ataupun mengikuti dan menghadiri majelis ilmu.

Terlebih lagi, keluarga pengemban dakwah tentu saja harus terus meningkatkan kualitas diri dengan memperkaya tsaqafah dan kemampuan untuk berdakwah. Memperbanyak membaca buku, menghafal ayat Al-Qur’an dan hadis, atau berguru untuk mempelajari berbagai tsaqafah Islam, hingga menghadiri majelis-majelis taklim. Semua itu adalah sebagian dari aktivitas yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kualitas kita sebagai pengemban dakwah.

Apalagi jika program ini dilakukan bersama keluarga, tentu akan makin menyenangkan. Di samping kita bisa mendapatkan pemahaman lebih banyak, kita juga bisa berdiskusi dengan anggota keluarga lainnya sehingga makin paham.

Dalam momen ini pun, kita sebagai orang tua akan makin mudah menguatkan pemahaman kepada anak-anak kita. Mengikuti kajian rutin bersama bisa menjadi ajang pembinaan dan menjalin kedekatan di antara anggota keluarga.

5) Terus berjuang menyampaikan dakwah Islam.

Selepas Ramadan, pada umumnya umat masih berada pada tingkat girah Islam yang tinggi, tentu saja kesempatan ini tidak kita lewatkan untuk terus makin menguatkan semangat mereka.

Inilah saat yang amat mendukung untuk mengajak umat kembali ke jalan Allah Swt. dan memuliakan agama-Nya. Menyadarkan umat tentang permasalahan besar yang dialami kaum muslimin—yaitu tidak diterapkannya syariat Islam secara kafah dan tidak adanya junnah ‘perisai kaum muslimin yaitu Khilafah’—menjadi agenda penting kita.

Juga menyeru manusia ke jalan Islam, menentang kebijakan penguasa yang bertentangan dengan syariat Islam, serta mengajak umat dan tentu saja keluarga kita untuk makin giat melakukan amar makruf nahi mungkar ketika kemungkaran makin merajalela di hadapan kita.

Benar, bahwa saat ini kita sudah di batas akhir Ramadan. Namun ingatlah, bahwa puasa tidak akan berakhir, masih ada saum-saum sunah menanti kita. Demikian halnya, Al-Qur’an tidak akan pergi, masjid-masjid tidak akan ditutup, dam umat masih membutuhkan dakwah. Ijabah doa tidak akan berhenti dan pahala tidak akan terputus. Sudah seharusnya kita beribadah hingga datang kematian kepada kita.

Mari kita terus berjuang mendakwahkan Islam di tengah-tengah umat, hingga tegaknya Islam di muka bumi ini dan nyawa berpisah dari tubuh ini.

Jadilah kita dan keluarga kita sebagai orang orang yang setiap saat beribadah, bukan menjadi orang yang hanya beribadah dan melakukan banyak amal kebaikan di bulan Ramadan saja.

Mudah-mudahan Allah memanjangkan umur kita dalam keadaan selalu berjuang untuk membela Islam dan syariatnya. Semoga puasa kita diterima oleh Allah dan dosa-dosa kita diampuni oleh Allah.

Semoga Allah selalu menjaga kita dan keluarga kita berada pada syariat-Nya sesuai dengan tuntunan Rasul-Nya, serta selalu memberikan kita taufik, menolong kita untuk istikamah dalam ketakwaan, menunjuki kita jalan yang lurus, dan melindungi kita dari seluruh hal yang buruk. Aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin. Wallahu a’lam bishawwab. [MNews/Juan]

Tinggalkan Balasan