Al-Aqsha Terluka, Duka bagi Umat Muslim Dunia


Penulis: Chusnatul Jannah


MuslimahNews.com, OPINI — “Aku tidak akan melepaskan walaupun sejengkal tanah ini (Palestina) karena ia bukan milikku. Tanah itu adalah hak umat Islam. Umat Islam telah berjihad demi kepentingan Palestina. Mereka telah menyiraminya dengan darah mereka. Maka biarkanlah orang-orang Yahudi itu menggenggam jutaan uang mereka. Jika negeriku tercabik-cabik, maka sangat mungkin mendapatkan negeri Palestina, tanpa ada imbalan dan balasan apa pun. Namun harus diingat, bahwa hendaknya pencabik-cabikan itu dimulai dari tubuh dan raga kami. Namun tentunya saya juga tidak akan menerima, raga saya dicabik-cabik sepanjang hayat masih di kandung badan.” (Sultan Abdul Hamid II)

Itulah jawaban tegas Khalifah tatkala penggagas berdirinya negara Zionis, Theodore Herzl melobi Sultan untuk memberikan Palestina kepada Yahudi. Ia mengiming-imingi Sultan dengan memberikan tawaran yang cukup menggiurkan kala itu. Yaitu melunasi utang-utang Khilafah Utsmani yang saat itu berada dalam kondisi terpuruk.

Sultan Abdul Hamid II mengatakan, selama ia masih hidup, ia lebih rela menusukkan pedang ke tubuhnya sendiri daripada melihat tanah Palestina dikhianati dan dipisahkan dari Khilafah Utsmaniyah.

Kini, Palestina kembali berdesing akibat serangan polisi Israel kepada jemaah Masjidilaqsa. Akibat serangan itu, setidaknya 178 warga terluka. Sejak Senin malam, militer Israel membombardir Gaza. Sebanyak 24 orang gugur, 9 di antaranya adalah anak-anak, dan 107 warga terluka akibat serangan tersebut. (Republika, 11/5/2021)

Kemerdekaan untuk Palestina, Mungkinkah Tercipta?

Jika di sini kita menghidupkan 10 malam terakhir Ramadan, di Palestina, kaum muslim berbekal batu untuk menjaga Al-Aqsha dari serangan Zionis. Mata mereka terjaga agar kesucian kiblat pertama umat Islam tersebut tak dikotori Zionis.

Serangan Israel di penghujung Ramadan mendapat reaksi dari berbagai negara. Berbagai kecaman dan kutukan untuk Israel bergelora. Mereka mempertanyakan peran PBB dan OKI dalam menyelesaikan kekerasan berdarah yang terjadi di Palestina.

Baca juga:  [Nafsiyah] Karena Kita Harus Berpihak

Apakah masalah Palestina cukup hanya diselesaikan dengan kecaman saja? Apakah kecaman itu akan menurunkan arogansi Israel? Apakah dengan kecaman itu akan mengubah status Palestina sebagai negara yang merdeka?

PBB tak berperan apa-apa. Meski organisasi itu mengklaim sebagai organisasi pembawa perdamaian, nyatanya perdamaian itu hanyalah jargon kosong.

Justru deklarasi PBB pada 1948 yang menyatakan negara Israel “resmi” berdiri di atas tanah Palestina inilah yang menjadi pemicu penjajahan dan pendudukan Israel atas tanah Palestina. Mereka juga menawarkan solusi semu, yaitu two state solution sebagai dasar pembagian tanah Palestina untuk bangsa Arab dan Yahudi.

Ditambah pengkhianatan negara Arab yang melakukan normalisasi dengan Israel. Mereka menjalin hubungan diplomatik dengan Israel. Seperti yang dilakukan UEA, Bahrain, Mesir, dan Yordania,

Solusi dua negara yang ditawarkan PBB sejatinya tidak akan membuat Palestina merdeka. Itu hanyalah akal-akalan AS sebagai sekutu abadi Israel untuk memberi ruang bagi Israel mendominasi wilayah Palestina. Sejak AS menyatakan Yerusalem sebagai ibu kota Israel, dia tak lagi layak menjadi negosiator atau menyebut dirinya sebagai polisi dunia.

Organisasi Kerja sama Islam (OKI) juga tidak memberi dampak apa-apa bagi Palestina. Ada tidaknya OKI tak berpengaruh sama sekali. Perannya mandul. Arogansi dan kebrutalan Israel tidak bisa dijawab dengan solusi dua negara ataupun kecaman dan kutukan.

Persoalan Palestina sejatinya berakar pada berdirinya Israel di bumi para Nabi. Mereka mencuri Palestina dari pemiliknya, yaitu kaum muslim. Inilah yang harus dipahami umat bahwa Palestina tidak akan selesai hanya dengan kecaman, kutukan, bantuan kemanusiaan, atau obat-obatan. Sebab, yang sesungguhnya terjadi adalah penjajahan dan pendudukan Israel atas Palestina. Maka, solusi atas masalah tersebut adalah dengan mengusir Israel dari wilayah Palestina.

Baca juga:  [Ramadan Sedunia] Ramadan di Palestina, Saatnya Menghias Masjidilaqsa

Solusi atas Palestina

Sekat nasionalisme telah mengikis ikatan akidah Islam di antara kaum muslim. Meski sebagian negeri Islam menaruh perhatiannya pada Palestina, tapi mereka tetap lemah di hadapan musuh Islam.

Mereka menyerukan solusi dua negara yang menjadi andalan dalam meja diplomasi ala PBB. Mereka masih saja menggantungkan harapan pada PBB sebagai penjaga perdamaian.

Solusi dua negara sejatinya adalah pengakuan secara tidak langsung atas entitas Yahudi sebagai sebuah negara. Dukungan kemerdekaan untuk rakyat Palestina hanya sebatas dukungan sosial dan kemanusiaan. Dukungan itu tidak tampak pada upaya pembebasan seluruh tanah Palestina dari tangan Yahudi.

Solusi hakiki bagi Palestina bukanlah dengan solusi dua negara, bukan one state solution, bukan pula dengan memerdekakan Palestina sesuai konsep negara bangsa, melainkan harus dibebaskan dari penjajahan dan menjadi bagian dari Khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah.

Yahudi Israel harus diusir dari Palestina dan memerangi mereka dengan mengerahkan militer negeri-negeri Islam. Jika kekuatan militer negeri-negeri Islam digabung, itu sudah cukup meluluhlantakkan Israel.

Palestina butuh bantuan militer. Hanya dengan memerangi Israel, tanah Palestina bisa kembali ke pangkuan kaum muslim. Pertanyaannya, beranikah para pemimpin muslim bersatu menyerukan perlawanan dengan memerangi Israel?

Dibutuhkan keberanian besar untuk bersatu melawan Israel. Sayangnya, kepentingan nasional masing-masing negeri Islam menjadi hambatan terbesar. Sekat nation state membuat para pemimpin muslim hanya mampu mengecam dan mengutuk.

Tidak ada penjaga dan pelindung hakiki bagi umat Islam di seluruh dunia. Junnah yang mampu menggetarkan para musuh Islam, yaitu khalifah bagi kaum muslim layaknya Umar bin Khaththab dan Shalahudin al-Ayubi.

Baca juga:  Israel "Berjaya" dengan Dukungan Adidaya, Palestina Merana Tanpa Pembela

Khatimah

Sejarah Palestina sangat erat kaitannya dengan kaum muslim. Di tanah itu, para Nabi berpijak dan singgah. Selain itu, Masjidilaqsa adalah masjid ketiga umat Islam setelah Masjidilharam dan Masjid Nabawi. Dalam surah Saba’ ayat 18 disebutkan,

“Dan Kami jadikan antara mereka dan antara negeri-negeri yang Kami limpahkan berkah kepadanya, beberapa negeri yang berdekatan dan Kami tetapkan antara negeri-negeri itu (jarak) perjalanan. Berjalanlah kamu di kota-kota itu pada malam dan siang hari dengan aman.”

Para mufasir menjelaskan yang dimaksud ‘negeri-negeri yang Kami limpahkan berkah kepadanya’ ialah Negeri Syam meliputi Yordania, Suriah, Lebanon, dan Palestina. Sedangkan maksud ‘beberapa negeri yang berdekatan’ adalah daerah-daerah antara Syam dan Yaman

Palestina adalah tanah kharajiyah milik kaum muslim warisan Khalifah Umar bin Khaththab ra.. Palestina terjaga dan terlindungi sepanjang peradaban Islam menaunginya.

Dalam naungan Islam, Palestina mampu mewujudkan kehidupan tiga agama (Islam, Nasrani, Yahudi) secara damai. Tatkala Palestina terlepas dari tangan kaum muslim, kedamaian itu rusak.

Jika menelisik sejarah, pihak manakah yang memiliki perilaku mulia dalam menjaga kesucian Palestina? Pihak mana pula yang paling memiliki perilaku destruktif saat ia menguasai Palestina? Akan didapati hanya Islam yang mampu memberikan ketenangan dan ketenteraman kehidupan di Kota Suci tersebut.

Tanah Palestina akan kembali ke pangkuan kaum muslim manakala umat memiliki kepemimpinan tunggal yang akan mengerahkan tentara terbaik melawan Israel. Kepemimpinan yang menyatukan negeri Islam dalam satu institusi.

Yaitu negara Khilafah Islamiah, negara yang mampu menandingi kekuatan musuh Islam demi menjaga martabat dan kemuliaan Islam. Bukan para pemimpin muslim yang lemah karena sekat negara bangsa. [MNews/Gz]

Tinggalkan Balasan