[Editorial] Kontekstualisasi Al-Qur’an Tanpa Formalisasi, Mungkinkah?

MuslimahNews.com, EDITORIAL — Ramadan tinggal beberapa hari lagi. Setiap mukmin pasti berharap berakhirnya Ramadan akan mengantarkannya kepada derajat takwa.

Salah satu ciri takwa adalah menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup. Mereka yang bertakwa tak sedikit pun ragu terhadap kebenaran Al-Qur’an, lantaran yakin posisinya sebagai wahyu Allah, Zat yang menciptakan manusia, alam semesta, dan kehidupan.

Allah Swt. berfirman,

الۤمّۤ ۚ

ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيْهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَ

“Alif Laam Miim. Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa” (QS Al-Baqarah: 1—-2)

Karenanya, mereka yang bertakwa tentu tak akan menjadikan Al-Qur’an—yang dari Ramadan ke Ramadan selalu berusaha dikhatamkan—semata sebagai bacaan. Mereka akan berusaha agar Al-Qur’an bisa diterapkan dalam kehidupan.

Namun pertanyaannya, mengapa kehidupan di bawah naungan Al-Qur’an itu belum juga mewujud? Padahal puluhan tahun umat ini melewati Ramadan. Bahkan tak terhitung berapa kali mereka mengkhatamkan Al-Qur’an.


YANG lebih menyedihkan, sejalan dengan derasnya arus liberalisasi dan sekularisasi di dunia Islam, muncullah segolongan orang yang mengaku mukmin tapi justru mempropagandakan pelemahan fungsi Al-Qur’an.

Mereka mengatakan bahwa teks-teks dan narasi Al-Qur’an tak relevan lagi dengan perkembangan zaman. Lalu mereka menafikan, bahkan menolak gagasan memformalisasi Al-Qur’an. Dan pada saat yang sama justru gencar menyerukan rekonstruksi atas nama kontekstualisasi dan pembumian Al-Qur’an.

Adapun orang-orang yang berjuang untuk menegakkan Al-Qur’an justru mereka tuding sebagai kelompok radikal. Sebagiannya lagi dituding sebagai pemecah belah persatuan. Seakan-akan pemilik kalam mulia ini tak paham bagaimana mengatur kehidupan.

Baca juga:  [Diskusi WAG] Tak Cukup Substansi, Wajib Formalisasi Al-Qur'an

Begitu naifnya mereka hingga tak sungkan membuat berbagai pembenaran. Tafsir pun mereka mainkan sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Bahkan metode tafsir dan ijtihad pun tak luput dari rekayasa akal pikiran.

Kaum liberalis sekuler ini mengatakan para mufasir tradisionalis terlalu skriptualis dalam memahami teks-teks Al-Qur’an. Mereka terlalu fokus pada gramatikal, hingga menjadikan Al-Qur’an tak fungsional, kaku, dan kearab-araban. Bahkan tafsir mereka dianggap sarat kepentingan dan dipengaruhi cara pandang pribadi tentang suatu persoalan.

Mereka lalu menyodorkan pendekatan tafsir yang disebut sebagai tafsir hermeneutika. Yakni tafsir yang berangkat dari kajian bahasa, sosiohistoris (asbab nuzul) dan filosofis yang dipandang bisa menjawab tantangan zaman.


BAGI mereka, metode ini adalah solusi untuk membumikan Al-Qur’an. Padahal nyatanya, justru menjauhkan manusia dari hakikat kebenaran Al-Qur’an.

Betapa tidak, metode tafsir ini sejatinya bukan metode penafsiran baru. Ia sudah lama digunakan sebagai metodologi penafsiran Bibel yang ingin dicangkokkan kepada Al-Qur’an.

Padahal ada perbedaan fakta antara Bible dan Al-Quran. Teks-teks Bibel diakui tak luput dari campur tangan manusia (sudah menjadi corpus terbuka). Sehingga apa yang tertera dalam teksnya memang tak luput dari konteks zamannya.

Sementara Al-Quran, baik teks maupun maknanya mutlak berasal dari Allah Azza wa Jalla. Kemurnian teks dan konteksnya bisa dibuktikan sepanjang masa. Bahkan ini semua menjadi mukjizat yang berlaku selamanya.

Dengan demikian, hukum-hukum yang tertera secara tekstual dalam Al-Qur’an adalah hukum-hukum yang kontekstual di setiap masa. Termasuk hukum-hukum yang selama ini menjadi sasaran kritik dan menjadi target otak-atik kaum sekuler liberalis.

Baca juga:  [Diskusi WAG] Tak Cukup Substansi, Wajib Formalisasi Al-Qur'an

Misalnya soal hudud dan jinayah. Juga soal jihad, waris, talak, rujuk, pakaian wanita, hubungan muslim-kafir, dan yang lainnya. Semua hukum ini dipastikan sangat relevan dengan kondisi zaman. Dipastikan pula mampu menjadi solusi berbagai persoalan.

وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلًا ۚ لَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِهِ ۚ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al-Qur’an) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-An’am: 115)


DENGAN demikian, teks-teks Al-Qur’an tak perlu ditafsir ulang. Bahkan kaum muslim harus waspada terhadap narasi yang mengajak pada penyingkiran Al-Qur’an dari pengaturan kehidupan.

Maklum, musuh-musuh Islam terus melakukan berbagai cara untuk menjauhkan umat dari rahasia kebangkitannya. Yakni akidah dan hukum-hukum Islam yang bersumber dari Al-Qur’an.

Musuh-musuh Islam memang tampak nyaris putus asa. Gelombang kesadaran umat untuk kembali kepada Islam kafah melalui pembumian Al-Qur’an makin hari semakin kuat saja. Hal ini sejalan dengan makin dekatnya umat kepada Al-Qur’an, dengan kian banyaknya generasi para penghafal Al-Qur’an.

Mereka sadar bahwa mencederai Al-Qur’an hanya mungkin dilakukan melalui metode penafsiran. Karenanya mereka serius melakukan proyek perusakan dengan bantuan ulama-ulama su’u yang dibayar dengan uang dan kedudukan. Mereka jadikan tafsir Al-Qur’an untuk memuluskan proyek penjajahan. Sekaligus melanggengkan sistem sekuler demokrasi yang menjadi pengukuh penjajahan.

Misal, mereka propagandakan tafsir mubadalah yang melegitimasi pemikiran-pemikiran kesetaraan gender. Atau tafsir tematik lain yang mengeksploitasi makna ayat untuk mendukung propaganda pluralisme dan mendukung kebijakan kapitalistik yang zalim dan merusak.

Baca juga:  [Diskusi WAG] Tak Cukup Substansi, Wajib Formalisasi Al-Qur'an

Ayat perintah ta’awun mereka gunakan untuk melegitimasi sistem keuangan riba. Ayat tentang lita’aarafu dan kalimatin sawaain mereka tafsirkan sebagai dalil pluralisme dan relativisme. Ayat tentang perintah tawassuth dijadikan dalih untuk mengaruskan moderasi Islam.

Bahkan, ada juga ayat-ayat yang digunakan untuk mendukung kebijakan kapitalis neoliberal. Seperti ayat jangan merusak di muka bumi sebagai alat untuk menggiring umat mendukung proyek green economy kapitalisme. Atau ayat perintah menaati ulil amri mereka gunakan untuk membungkam kritik dan muhasabah pada rezim yang pro penjajah.


SUNGGUH, umat semestinya sadar, bahwa wujud takwa yang hakiki adalah dengan hidup bersama Al-Qur’an. Yakni dengan menerapkan hukum-hukum yang ada di dalamnya tanpa pengecualian di bawah institusi politik Islam.

Dengan cara inilah, karakter risalah Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin akan segera terwujud. Umat Islam akan kembali tampil sebagai umat mulia dan menjadi pionir peradaban. Sementara kaum kafir akan tunduk merendah di hadapan naungan institusi politik Islam.

Hanya saja, mewujudkan hakikat takwa ini memang membutuhkan proses penyadaran. Karena proyek penyesatan dan gempuran serangan pemikiran sudah sedemikian dahsyat. Hingga umat sulit membedakan mana kebenaran, mana kebatilan.

Inilah yang harus terus digencarkan, mendakwahkan Islam kafah sebagai solusi kehidupan. Pada saat yang sama, harus ada upaya membongkar setiap makar musuh Islam. Termasuk membongkar hakikat berbagai narasi pemikiran dan gagasan yang akan merusak Islam. Salah satunya, gagasan tentang kontekstualisasi Al-Qur’an. Wallaahu a’lam. [MNews/SNA]

Tinggalkan Balasan