Syekh Syahadah ‘Ar’ar (Abu Shafwan), Teladan dalam Perjuangan

Beliau memang pantas untuk dibanggakan karena perjuangannya dalam dakwah membela kebenaran. Beliau dikenal sebagai salah satu tokoh pergerakan Khilafah yang pemberani bagaikan singa, orang yang alim dan mujahid fi sabilillah.


Penulis: M. Ali Dodiman*


MuslimahNews.com, KISAH INSPIRATIF — Syekh Abu Shafwan atau Ir. Syahadah ‘Ar‘ar dilahirkan di sebuah desa bernama Shurif, distrik/provinsi Al-Khalil, Palestina. Beliau lahir tahun 1923, setahun sebelum Khilafah Utsmaniyah runtuh.

Syekh Abu Shafwan menjalani pendidikan dasarnya semasa dengan Syekh Abdul Qadim Zallum rahimahullah, Al-Hajj Nashir Ahmad Asy-Syarbatiy rahimahullah dan almarhum Ibrahim Abdurrahman Jahsyan.

Ketika di sekolah dasar, beliau menempuh jarak 15 kilometer untuk sampai ke sekolahnya dengan berjalan kaki. Meskipun demikian, Syekh Abu Shafwan termasuk murid yang menonjol dalam hal pendidikannya. Syekh Abu Shafwan lulus sebagai seorang insinyur pertanahan dan bekerja di Kuwait.

Kiprah Perjuangannya

Desa Shurif begitu membanggakan tokoh-tokoh mereka. Salah satu yang mereka banggakan adalah Al-Ustadz Ir. Syahadah ‘Ar’ar atau dikenal juga dengan Abu Shafwan.

Beliau memang pantas untuk dibanggakan karena perjuangannya dalam dakwah membela kebenaran. Beliau dikenal sebagai salah satu tokoh pergerakan Khilafah yang pemberani bagaikan singa, orang yang alim dan mujahid fi sabilillah.

Dalam sebuah pertempuran di Jabal Al Khalil di Palestina beliau pernah menyelamatkan seorang pemimpin para mujahid yaitu Asy-Syahid Ibrahim Abu Diyah.

Seperti yang sering penulis sampaikan, upaya-upaya menghalangi dakwah Khilafah memang gencar dilakukan. Ketika pihak intelijen mengetahui bahwa Syekh Syahadah ‘Ar’ar adalah salah seorang anggota pergerakan Khilafah, beliau ditangkap.

Penangkapan beliau dilakukan pada malam hari, bahkan saat beliau masih memakai piyama. Pihak Intelijen Kuwait membawanya ke bandara untuk dideportasi ke Yordania dalam keadaan berpakaian yang sama (piama).

Ketika terjadi penyerahan Tepi Barat (West Bank) oleh Raja Yordania kepada Yahudi, sejumlah aktivis pergerakan Khilafah itu dihadapkan ke Mahkamah Militer. Salah satunya adalah Syekh Abu Shafwan yang saat itu membacakan sendiri pembelaan (pleidoi)nya.

Layak Menjadi Teladan

Syekh Abu Shafwan rahimahullah telah menaati perintah dari Allah swt dengan mengatakan kata-kata yang haq di depan penguasa jahat. Yakni penguasa yang menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah swt. Itulah yang sebut oleh Rasulullah sebagai afdhalu al-jihad (jihad yang utama).

Sikapnya ini membuat beliau menjadi sosok yang layak diteladani oleh generasi penerusnya saat ini. Beliau memang menjadi salah satu pemimpin pergerakan yang berada dalam satu barisan dengan orang-orang terpilih dari umat.

Indra penglihatannya yang tidak pernah luput untuk memperhatikan umat. Apa yang keluar dari mulut dan lisannya menjadi lampu penerang bagi umat dengan hujah-hujah yang meluncur dari Kitabullah.

Pleidoi Syekh Syahadah ‘Ar’ar

Lalu, seperti apa pembelaan yang dibacakan oleh Syekh Syahadah ‘Ar’ar pada 7 Februari 1968 ini di hadapan Mahkamah Keamanan Negara? Inilah kutipannya:

Bismillahirrahmaanirrahiim

Tuan Hakim,

Sesungguhnya permasalahan yang ada di hadapan Anda yang akan diputuskan adalah permasalahan politik, bukan permasalahan yang terkait dengan kriminal.

Permasalahan itu terkait dengan masa depan negeri-negeri (Islam). (Jadi), tidak ada masalah melakukan kritik politik atau mengungkapkan konspirasi.

Oleh karena itu, seperti telah dikemukakan di atas, maka dari pihak saya akan melakukan pembelaan. Hal itu menjadi kewajiban bagi saya untuk menjelaskan kepada Mahkamah tentang permasalahan yang utama.

Wahai Hakim,

Sesungguhnya menurut tuduhan yang diajukan ke Mahkamah adalah (karena) keanggotaan dalam pergerakan Khilafah, penyebaran dan publikasi selebaran.

Adapun tuduhan keanggotaan di gerakan itu, maka saya tidak membantah hal itu, karena sebagian besar (penduduk) di negeri ini bisa jadi ia anggota pergerakan itu, atau berjalan bersama pergerakan itu secara terang-terangan, dan hati mereka pun bersama pergerakan itu, dan tidak didapati pada salah satu departemen pemerintahan di negeri ini, maupun departemen kementerian hingga ke istana kerajaan kecuali dia itu secara global bersama atau menjadi bagian dari pergerakan itu (dalam masalah ini).

Oleh karena itu, saya tidak menerima hal itu sebagai sebuah tuduhan. Keanggotaan di pergerakan itu bukanlah sebuah tuduhan akan tetapi suatu kemuliaan dan kehormatan yang diberikan oleh Allah bagiku dan merupakan nikmat yang besar setelah nikmat Islam.

Adapun mengenai tuduhan pendistribusian selebaran, maka sesungguhnya selebaran apa pun, jika seseorang mendistribusikannya, maka tidak bisa dihukum.

Sesungguhnya, yang dihukumi itu adalah materi (isi) yang terkandung dalam selebaran. Oleh karena itu, maka tuduhan itu bukan pada pendistribusian selebaran akan tetapi pendistribusian materi (isi) yang terkandung dalam selebaran. Jadi, pembelaanku dan perkataanku tentang materi (isi) selebaran.

Materi selebaran ini—yang sedang dipermasalahkan—adalah pengungkapan apa-apa yang dilakukan oleh Raja Husein yang bersekongkol dengan Israel yakni menyerahkan Tepi Barat; dan penjelasan bagaimana sandiwara penyerahan ini berjalan. Penyerahan Tepi Barat oleh Raja Husein merupakan perkara yang telah diketahui oleh penduduk Yordania sebagai pengkhianatan.

Para politisi pun mengetahui secara umum. Seluruh penguasa negara Arab pun mengetahuinya. Bahkan, seluruh penduduk negara-negara Arab pun mengetahuinya. Perkara tersebut semasyhur dan sepopuler Yahudi Iskariot dan Abi Rughal. Maka, hukumlah seluruh orang-orang yang mengetahui hal tersebut dan seluruh orang yang menyebarkannya.

Benar, perkara ini telah populer, bahwa fakta yang sebenarnya hal itu (penyerahan Tepi Barat) adalah sebuah pengkhianatan. Kami dalam selebaran menuduh Raja Husein menyerahkan Tepi Barat atau kami menuduhnya berkhianat.

Boleh jadi dikatakan oleh kalian bahwa kalian akan mengadili atas tuduhan pencemaran nama baik Raja Husein dengan menuduhnya berkhianat sehingga mengharuskan kalian mengajukan (kami) ke pengadilan.

Jika memang itu yang menjadikan aku diajukan ke pengadilan maka ini jawabanku: Sesungguhnya kecaman bukan suatu yang dilarang.

Kecaman adalah menimpakan tuduhan tertentu. Ini bisa dibuktikan. Apabila kecaman tersebut terbukti maka gugurlah kecaman tadi karena pada saat itu menjadi suatu yang benar.

Sehingga tidak bisa dijatuhkan sanksi atas si pengecam. Saya menyadari bahwa sesungguhnya kami mengecam Raja Husein atas penyerahan Tepi Barat, yaitu menuduhnya sebagai pengkhianat.

Kami siap membuktikan pengkhianatan ini. Bersama kami ada saksi-saksi mengenai hal tersebut. Aku berusaha bertanggung jawab membuktikan pengkhianatan ini dengan saksi-saksi.

Hanya saja, Raja Husein mendorong-dorong dan mengajukan kami ke pengadilan dikarenakan kami mendiskreditkannya sebab dia sendiri tidak memedulikan pengkhianatan yang dilakukannya setiap hari.

Dia baru-baru ini sekitar seminggu lalu menyampaikan memorandum pada Liga Arab untuk mengumumkan kepada negara-negara Arab. Raja Husein mengatakan di dalam memorandumnya bahwa terdapat kemungkinan jatuhnya Tepi Timur dari Yordania.

Raja Husein merasa tak mampu memikul tanggung jawab Tepi Barat dan Tepi Timur secara bersamaan. Oleh karena itu, Raja Husein meminta dari mereka kesepakatan untuk melakukan perjanjian damai dengan Yahudi untuk mengembalikan Tepi Barat.

Perkataan ini disampaikan Raja Husein secara jelas kepada Liga Arab dan seluruh negara Arab. Perkataan ini artinya, Raja Husein mengancam negara-negara Arab bahwasanya jika negara-negara Arab tidak sepakat dengan Raja Husein atas Perjanjian yang dilakukan sepihak dengan Israel, maka sesungguhnya Raja Husein akan menyerahkan Tepi Timur sebagaimana telah diserahkannya Tepi Barat.

Apakah orang yang mencatat kejelasan ini peduli terhadap pengkhianatan-pengkhianatan ini?

Pengkhianatan ini terus berulang dan terus dilakukan. Apakah setelah penjelasan ini boleh mengajukan seseorang ke pengadilan dengan tuduhan bahwa dia mendiskreditkan Raja Husein atas pengkhianatannya?

Maka dari itu, saya akan bertanggung jawab untuk membuktikan pengkhianatan Raja Husein dengan saksi-saksi yang kuat sehingga dapat meyakinkan pihak hakim atas kebenaran yang saya tuduhkan pada Raja Husein berupa pengkhianatan.

Dengan demikian dakwaan terbantah. Pembelaan Selesai.

Demikianlah sebuah pembelaan yang dikemukakan dengan tegas dan lugas serta penuh keberanian.

Mengapa Syekh Memiliki Keberanian?

Syekh Abu Shafwan adalah generasi awal yang dibimbing langsung oleh syekh mujadid abad ke-20. Yakni Taqiyuddin an-Nabhani yang dikenal sebagai pelopor dan pemimpin pergerakan Khilafah.

Selain itu, sahabat Syekh Abu Shafwan adalah pengganti Syekh Taqiyuddin an-Nabhani, yaitu Syekh Abdul Qadim Zallum.

Begitu pun, saudara dan teman-teman Syekh Abu Shafwan adalah orang-orang terbaik dan teladan dalam dakwah. Seperti Syekh Ahmad Ad-Da’ur–yang berjuang melanjutkan kehidupan Islam di tengah-tengah para anggota parlemen dan lantang menyuarakan kebenaran, hingga ditangkap rezim penguasa.

Juga Syekh Atha Abu as-Rasytah, yang dikenal juga sebagai pemimpin pergerakan di era selanjutnya. Wajar jika kebersamaan beliau dengan orang-orang yang memiliki karakter hebat dan mulia ini sekaligus membentuk pribadi Syekh sebagai teladan dalam dakwah.

Orang-orang seperti merekalah yang patut dicontoh oleh generasi saat ini yang sama-sama hidup dalam masyarakat yang dilingkupi kezaliman akibat penerapan aturan sekuler dan penjajahan kapitalisme neoliberal. [MNews/SNA-Juan]

*Penulis Buku Memoar Pejuang Syariah dan Khilafah, Al-Azhar Fresh Zone Publishing, 2012

Tinggalkan Balasan