Silaturahmi, Bukan Sekadar Tradisi


Penulis: Wiwing Noeraini


MuslimahNews.com, FOKUS — Ada sebuah kebiasaan menarik di negeri ini saat Idulfitri ataupun setelahnya, yang sering disebut dengan istilah “syawalan”.

Berbagai kegiatan pertemuan diadakan, ada pertemuan keluarga, pertemuan alumni sekolah atau kampus, pertemuan masyarakat se-RT bahkan sedesa, dan lain lain. Pertemuan-pertemuan tersebut melibatkan kerabat maupun bukan. Umumnya, masyarakat menyebutnya sebagai silaturahmi.

Sebagian melakukan karena menganggapnya sebagai bagian dari tradisi hari raya. Sebagian lainnya meyakini bahwa apa yang mereka lakukan adalah bagian dari menyambung tali silaturahmi, yang akan membukakan pintu-pintu rezeki dan memanjangkan usia.

Sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw., “Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambungkan tali silaturahmi.(HR Mutttafaqun ‘alaih)

Bagaimana Islam memandang hal ini?

Memahami Makna Silaturahmi

Silaturahmi atau silaturahim ( صِلَةُ الرَّحِمِ/shilah ar-rahim) menurut bahasa berasal dari kata “shilah” dan “ar-rahim”. Shilah artinya hubungan, dan ar-rahim—bentuk jamaknya al-arhamberarti rahim dan kerabat.

Kata “arham” dalam Al-Qur’an disebutkan sebanyak tujuh kali dengan makna “rahim”, dan lima kali dengan makna “kerabat”. Karena itu, silaturahmi secara bahasa adalah hubungan yang muncul karena rahim atau hubungan kekerabatan yang terkait melalui rahim.

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, ‘Ar-rahim secara umum dimaksudkan untuk kerabat dekat. Antara mereka terdapat garis nasab (keturunan), baik berhak mewarisi atau tidak, dan sebagai mahram atau bukan.”

Menurut Imam an-Nawawi, silaturahmi adalah berbuat baik kepada kerabat sesuai dengan keadaan orang yang hendak menghubungkan dan keadaan orang yang hendak dihubungkan. Terkadang berupa kebaikan dalam hal harta, terkadang dengan memberi bantuan tenaga, terkadang dengan mengunjunginya, memberi salam, dan cara lainnya. (Imam Nawawi, Syarh Shahih Muslim II, 201)

Allah Swt. dan Rasulullah saw. telah memerintahkan menjalin silaturahmi. Allah Swt. berfirman,

۞ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاۤئِ ذِى الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi bantuan kepada kerabat, dan Dia melarang (melakukan) perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. (QS AnNahl: 90)

Imam al-Hakim dan Ibnu Hibban meriwayatkan dari jalur sanad Hariq al-Muharibi bahwa Rasulullah saw. bersabda,

Tangan orang yang memberi (nafkah) itu tinggi (kedudukannya). Mulailah dengan orang yang menjadi tanggunganmu, kemudian ibumu, kemudian ayahmu, kemudian saudara perempuanmu, kemudian saudara laki lakimu, kemudian yang dekat denganmu dan yang dekat denganmu.

Kepada Siapa Menjalin Silaturahmi?

Allah Swt. telah memerintahkan kaum muslim untuk menjalin hubungan silaturahmi dan berbuat kebaikan terhadap kerabat secara keseluruhan. Kerabat di sini ada dua macam.

Pertama, kerabat yang mewarisi seseorang jika orang tersebut meninggal. Mereka terdiri dari dua kelompok, yakni ashabul furudh (orang-orang yang tercantum dalam daftar penerima warisan) dan al-‘ashabah (mereka yang tidak memiliki bagian yang ditentukan dari warisan, tapi syariat menyatakan mereka mengambil sisa dari harta warisan).

Kedua, dzawi al-arham. Yaitu orang-orang yang tidak mendapatkan bagian warisan dan bukan pula ‘ashabah. Mereka berjumlah sepuluh orang yang terdiri dari: (1) Bibi dari pihak bapak; (2) Bibi dari pihak ibu; (3) Kakek dari ibu; (4) Putra dari anak perempuan; (5) Putra dari saudara perempuan; (6) Anak perempuan dari saudara laki-laki; (7) Putri dari paman pihak bapak; (8) Putri dari paman pihak ibu; (9) Paman dari ibu; (10) Anak laki-laki dari saudara laki-laki seibu; serta siapa saja yang memiliki hubungan dekat dengan mereka. (Syekh Taqiyuddin an-Nabhani, Al Nizham al-Ijtima’i fi al-Islam)

Adapun untuk mereka yang tidak ada hubungan kerabat dengan kita, berbuat baik kepada mereka tidak termasuk dalam menjalankan perintah bersilaturahmi. Sehingga, pahalanya pun tidak sama dengan pahala bersilaturahmi.

Berbuat baik kepada sesama muslim yang bukan keluarga ataupun kerabat, masuk ke dalam aktivitas shilah ukhuwwah (menghubungkan tali persaudaraan sesama muslim), bukan silaturahmi.

Cara Menjalin Silaturahmi

Silaturahmi bisa dilakukan kapan saja, tidak harus saat hari raya. Bahkan salah kalau ada yang memahami bahwa silaturahmi hanya dilakukan saat hari raya.

Hanya saja, tidak bisa dimungkiri, karena kesibukan masing-masing keluarga dan jarak antarkeluarga  yang satu dengan yang lain jauh, maka waktu silaturahmi yang sangat memungkinkan bertemu dengan kerabat banyak adalah saat hari raya.

Meski demikian, hari raya tahun ini pun kita masih dalam kondisi pandemi. Larangan mudik diberlakukan dengan sanksi cukup berat. Ujung-ujungnya, kita tetap tidak bisa bertemu kerabat. Oleh sebab itu, silaturahmi masih bisa dilakukan secara daring.

Pertemuan keluarga yang biasanya usai Idulfitri terselenggara di tempat salah satu sanak saudara, bisa dilakukan dari rumah masing-masing. Meski nilai rasanya berbeda, namun kedekatan hati tetap bisa dijaga. Silaturahmi tetap terjalin.

Yang paling penting dipahami adalah wujud dari silaturahmi itu sendiri, yakni hubungan kekeluargaan yang tetap terjaga. Di antara kerabat akan muncul perhatian dan kepedulian satu sama lain. Bisa saling mengetahui dan memahami kondisi masing-masing, sehingga akan memberikan sikap yang tepat sesuai keadaan.

Silaturahmi juga diwujudkan dengan membantu dan meringankan kerabat yang kesulitan. Jika miskin, bisa kita beri zakat atau sedekah dengan syarat mereka bukan orang yang nafkahnya dalam tanggungan kita. Adapun jika mereka termasuk orang yang mampu, bisa kita beri hadiah.

Salah satu kemuliaan ajaran Islam adalah sunah memberikan hadiah kepada orang lain. Hal ini akan melembutkan hati, menimbulkan rasa cinta dan kasih sayang; serta menghilangkan perasaan yang dapat merusak persaudaraan, seperti hasad, dengki, dendam, dan iri.

Rasulullah saw. bersabda,

تَهَادُوا تَحَابُّو

Hendaklah kalian saling memberi hadiah, niscaya kalian akan saling mencintai.” (HR Bukhari)

Silaturahmi juga dilakukan dengan memberikan nasihat pada kerabat yang melakukan keburukan atau menyimpang dari ajaran Islam. Silaturahmi bisa menjadi sarana dakwah untuk mengajak keluarga dan kerabat taat pada syariat. Tentu saja dengan memilih waktu dan cara yang tepat supaya target menyampaikan kebenaran Islam tidak mengganggu suasana akrab dan menyenangkan.

Haramnya Memutus Silaturahmi

Salah satu hal yang terpenting dalam silaturahmi adalah haramnya memutus tali silaturahmi. Siapa pun yang melakukannya, nerakalah yang lebih layak untuknya.

Rasulullah saw. bersabda,

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ

Tidaklah masuk surga orang yang suka memutus (memutus tali silaturahmi).” (HR Muslim)

Abu Hurairah ra. menuturkan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda,

“Sesungguhnya Allah telah menjadikan makhluk. Tatkala telah selesai, bangkitlah rahim (tali persaudaraan) seraya berkata, ‘Di sinilah tempat orang yang menjaga diri dari keterputusan.’ Allah Swt. berfirman, ‘Ya, relakah engkau jika Aku akan berhubungan dengan orang yang menyambungkan diri denganmu dan memutuskan hubungan dengan orang yang memutus hubungan denganmu?’ Rahim menjawab, ‘Baiklah.’ Allah Swt. melanjutkan, ‘Itulah bagianmu.’”

Setelah itu Rasulullah saw. bersabda, “Jika kalian mau, bacalah olehmu ayat ini,

فَهَلْ عَسَيْتُمْ اِنْ تَوَلَّيْتُمْ اَنْ تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ وَتُقَطِّعُوْٓا اَرْحَامَكُمْ

‘Maka, apakah sekiranya kamu berkuasa, kamu akan berbuat kerusakan di bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? (QS Muhammad 22).’” (HR Muttafaqun ‘alaihi mengikuti lafaz Al-Bukhari)

 Rasulullah saw. juga bersabda,

لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ وَلَكِنْ الْوَاصِلُ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا

Orang yang menyambung silaturahmi itu bukanlah yang menyambung hubungan yang sudah terjalin, akan tetapi orang yang menyambung silaturahmi ialah orang yang menjalin kembali hubungan kekerabatan yang sudah terputus.(HR Bukhari)

Tak Sekadar Tradisi

Dari berbagai penjelasan di atas, tampak jelas bahwa silaturahmi adalah bagian dari syariat Islam. Islam mengajarkan dengan terperinci, apa itu silaturahmi, kapan bisa dilakukan, kepada siapa harus menjalin silaturahmi, bagaimana caranya, bahkan menjelaskan juga haramnya memutus tali silaturahmi. Semuanya berhubungan dengan kewajiban berbuat baik pada keluarga maupun kerabat.

Untuk itu, sangat disayangkan jika banyak di antara umat Islam yang masih rancu memahami makna silaturahmi ini dan bagaimana menjalankannya. Sebagian menganggap bahwa silaturahmi hanya sebatas tradisi hari raya, sehingga mencukupkan silaturahmi hanya saat hari raya.

Ada juga yang menganggap silaturahmi cukup dengan menanyakan kabar di telepon atau saling menyapa di media sosial, atau cukup dengan membuat forum-forum pertemuan keluarga, kemudian mengobrol, makan-makan, lalu pulang.

Tak sekadar itu, silaturahmi mencakup semua perbuatan baik yang kita lakukan kepada keluarga dan kerabat. Menghormati mereka, menyantuni ketika mereka kekurangan, mengunjungi mereka, saling memberi hadiah, saling tolong-menolong, juga saling menasihati dalam kebaikan dan takwa. Yang tak kalah penting adalah menjauhkan diri dari pecahnya persaudaraan. Semua amalan tersebut termasuk dalam makna bersilaturahmi.

Islam pun mendorong kita untuk menjalin silaturahmi ini dengan niat menjaga hubungan kekeluargaan dan kekerabatan demi menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya, bukan hanya sekadar menjalankan tradisi. [MNews/Gz]

Tinggalkan Balasan