Ramadan Momen Meraih Kemenangan Hakiki


Penulis: Dedeh Wahidah Achmad


MuslimahNews.com, FOKUS — Ramadan sering kali diidentikkan dengan momen untuk meraih kemenangan. Ramadan adalah kesempatan untuk menempa diri dengan berbagai amalan saleh sebagai wujud ketaatan pada syariat-Nya.

Setiap perintah dijalankan sekalipun mungkin terasa berat, seperti saum dengan menahan haus dan lapar beserta berbagai perkara yang membatalkannya. Demikian juga, salat malam tetap dijalankan sekalipun di tengah lelah dan kantuk.

Allah Swt. telah menjanjikan, semua ketaatan tersebut akan mengantarkan pada derajat takwa (lihat: QS Al-Baqarah: 183). Orang yang sukses menjalankan ketaatan saat bulan Ramadan, akan berhasil menjadi pemenang, yakni mendapat gelar muttaqin. Sebaliknya, siapa pun yang gagal menempuh jalan ketaatan, pasti akan berakhir dengan kerugian, sebagaimana disabdakan baginda Rasulullah ﷺ,

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ

Betapa banyak orang yang berpuasa, namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR Ath-Thabrani dalam Al-Kabir)

Mendapatkan kemenangan pasti menjadi harapan setiap orang. Siapa pun tidak mau termasuk ke dalam golongan orang-orang yang kalah dan merugi. Pengaruh kemenangan amaliyah Ramadan tidak hilang sekalipun Ramadan telah berlalu. Nilainya justru akan tampak dan terasa pada aktivitas pada bulan-bulan berikutnya, apakah dia mampu mewujudkan karakter takwa dalam dirinya? Atau kembali terjerumus pada ajakan hawa nafsu dan mengabaikan rambu-rambu syariat?

Apa makna kemenangan hakiki, serta bagaimana cara meraihnya? Inilah yang penting dipahami agar kita mampu mewujudkannya.

Makna Kemenangan

Jika kita menelaah nas-nas terkait kemenangan, bisa dipahami bahwa kemenangan yang dimaksudkan Allah Swt. bukan disematkan secara individual, tapi ditujukan untuk kemenangan agama Islam dan seluruh muslim.

Berikut di antara dalil-dalil yang menegaskan pemahaman tersebut,

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ

“Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, untuk memenangkannya di atas segala agama, meskipun orang-orang musyrik tidak suka.” (QS Ash-Shaf [61]: 9)

يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

“Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci.” (QS Ash-Shaf [61]: 8)

Lalu kapan kemenangan agama Islam terjadi? Ternyata bukan hanya ditunjukkan oleh banyaknya penganut agama Islam. Kemenangan itu datang ketika ajaran Islam diterapkan secara sempurna untuk mengatur dan mengurusi kehidupan manusia, sehingga tercapai keadilan dan kesejahteraan. Pada saat itulah, pertolongan dan kemenangan nyata akan tampak.

Sebagaimana dijelaskan Allah dalam QS An-Nasr yang menggambarkan peristiwa kemenangan Rasulullah saw. dan para Sahabat menundukkan orang kafir Makkah. Manusia pun berbondong-bondong masuk Islam karena kerinduan untuk hidup di bawah naungannya.

إِذَا جَآءَ نَصْرُ ٱللَّهِ وَٱلْفَتْحُ وَرَأَيْتَ ٱلنَّاس

يَدْخُلُونَ فِى دِينِ ٱللَّهِ أَفْوَاجًا

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah.” (QS An-Nasr: 1—3)

Berbeda jauh dengan kondisi sekarang, di mana sistem Islam tidak ditegakkan. Umat Islam dihinakan, ajarannya dilecehkan; ulama dan aktivis dakwah difitnah, diintimidasi, bahkan mendapat ancaman penjara dan pembunuhan. Ajaran Islam yang dicontohkan oleh Baginda Nabi saw. justru dijauhi dan dianggap ancaman, termasuk oleh orang yang mengaku beragama Islam. Penghinaan ini terus datang silih berganti tanpa ada pihak yang menghentikannya dengan tuntas.

Tentu saja kondisi ini tidak boleh menyurutkan langkah perjuangan menyongsong kemenangan. Kita seharusnya semakin mengukuhkan keyakinan bahwa kemenangan itu dekat dan pasti datangnya karena merupakan janji Allah, Zat yang tidak mengingkari janji.

Ketika cahaya kemenangan Islam hadir, para penghinanya tidak akan dibiarkan merajalela, mereka akan ditindak sesuai dengan aturan syariat.

Allah Swt. berfirman,

وَأُخْرَى تُحِبُّونَهَا نَصْرٌ مِنَ اللَّهِ وَفَتْحٌ قَرِيبٌ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ

“Dan (ada lagi) karunia lain yang kamu sukai, (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang mukmin.” (QS Ash-Shaf [61]: 13)

Upaya Mewujudkan Kemenangan

1) Yakin bahwa kemenangan pasti datang.

Tidak sedikit ayat Al-Qur’an yang menjelaskan tentang kemenangan. Kedatangannya pasti terjadi, yakni tegaknya kebenaran (Islam) yang akan mengalahkan kebatilan. Di antaranya adalah firman Allah Swt.

وَقُلْ جَاء الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوق

“Dan katakanlah, ‘Kebenaran telah datang dan yang batil telah lenyap.’ Sungguh, yang batil itu pasti lenyap.” (QS Al-Isra’: 81)

Terkait ayat ini, Imam asy-Syaukani berkata, “Sesungguhnya kebatilan meskipun terkadang menang terhadap kebenaran dan lebih tinggi darinya, namun Allah pasti menghancurkan dan menghapus kebatilan tersebut. Dan menjadikan kemenangan untuk al-Haq dan ahlu al-haq.” (Fath al-Qadir, hal. 3/75).

وَلَقَدْ سَبَقَتْ كَلِمَتُنَا لِعِبَادِنَا الْمُرْسَلِينَ * إِنَّهُمْ لَهُمُ الْمَنصُورُونَ * وَإِنَّ جُندَنَا لَهُمُ الْغَالِبُونَ

“Dan sesungguhnya telah tetap janji Kami kepada hamba-hamba Kami yang menjadi Rasul,(yaitu) sesungguhnya mereka itulah yang pasti mendapat pertolongan. Dan sesungguhnya tentara Kami itulah yang pasti menang.” (QS Ash-Shaffat [37]: 171—173)

Keyakinan yang kuat akan janji Allah dan kabar gembira dari Rasulullah saw. telah mengantarkan Muhammad Al-Fatih kepada kesuksesannya. Beliau sosok pemimpin yang meyakini bahwa sabda Rasulullah saw. adalah sebuah kebenaran, yakni kemenangan pasukan Islam untuk menundukkan benteng Konstantinopel adalah perkara yang akan terjadi, sebagaimana dikabarkan oleh Rasulullah saw. dalam sebuah hadis,

“Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” (HR Ahmad bin Hanbal al-Musnad)

 2) Menempuh sababiyah kemenangan.

Datangnya kemenangan bukan ditunggu dengan berpangku tangan semata, melainkan harus dijemput dan diupayakan dengan penuh kesungguhan. Allah Swt. berfirman,

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggetarkan musuh Allah, musuhmu, dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah, niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).” (QS Al-Anfal: 60)

Siapa pun yang berharap mendapatkan kemenangan, tentu saja harus memahami upaya apa saja yang harus ditempuh, serta langkah mana yang harus dijalani agar harapan tersebut terealisasi.

Pemahaman yang benar tentang hakikat kemenangan telah ditunjukkan oleh Muhammad Al-Fatih. Berbagai upaya telah dilakukan Al-Fatih dalam menggapai kemenangan. Beliau membuat persiapan luar biasa berupa kapal-kapal, persenjataan, hingga membuat strategi jitu yang mampu mengungguli rintangan alam.

Beliau mengangkat perahu melewati perbukitan, sesuatu yang dianggap aneh dan mustahil oleh kebanyakan orang. Beliau juga membekali kekuatan ruhiyah pada pasukannya dengan memerintahkan mereka saum sunah dan salat tahajud sebelum hari pertempuran terjadi, untuk takarub kepada Allah dan bermohon pertolongan-Nya. Semua upaya inilah yang mengantarkan kepada kemenangan gemilang.

Di antara sebab kemenangan yang disebutkan Allah dalam firman-Nya adalah:

Pertama, menyatukan antara keimanan dengan amal saleh, dan membuktikan keyakinan dengan ketaatan. Seperti dalam firman-Nya,

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا ۚ وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS An-Nuur: 55)

Kedua, memadukan antara iman dan takwa.

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالأرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS Al-A’raf: 96)

Dalam ayat di atas, Allah Swt. menjadi iman sebagai sebab datangnya kemenangan berupa dibukanya pintu keberkahan dari langit dan bumi.

Ketiga, menjadikan Rasulullah saw. sebagai pemutus perkara dan mereka rida dengan keputusan tersebut.

Allah Swt. berfirman bahwa seorang muslim dituntut untuk menunjukkan keimanan yang benar.

فَلا وَرَبِّكَ لا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad saw) hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS An Nisa: 65)

 Keempat, berteguh hati, istikamah, dan bersabar di jalan perjuangan.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا لَقِيتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوا

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kalian memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kalian.” (QS Al-Anfal: 45)

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, ‘Tuhan kami ialah Allah,’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istikamah), maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan, ‘Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan bergembiralah dengan jannah (surga) yang telah dijanjikan Allah kepadamu.'” (QS Fushilat [41]: 30)

وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا ۗ إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ

“Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikit pun tidak mendatangkan kemudaratan kepadamu. Sesungguhnya Allâh mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.” (QS Ali Imran: 120)

Bagi pejuang yang mengharapkan kemenangan, rintangan dan hambatan adalah sunatullah yang akan makin menguatkan keyakinan atas pertolongan Allah dan kian menempanya menjadi pribadi muslim sejati.

Kelima, menolong agama Allah.

Menolong agama Allah akan mengundang datangnya pertolongan Allah—sesuatu yang sangat kita butuhkan. Allah Swt. berfirman,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ تَنْصُرُوا اللّٰهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ اَقْدَامَكُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS Muhammad: 7)

3) Menjauhi penghambat kemenangan.

Di antara yang bisa menghambat datangnya kemenangan adalah kondisi berpecah-belah di antara umat Islam. Allah Swt. berfirman,

“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara, sedangkan (ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah, Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.” (QS Ali Imran: 103)

Imam al-Qurthubi berkata tentang tafsir ayat ini, “Sesungguhnya Allah Ta’ala memerintahkan persatuan dan melarang dari perpecahan. Karena sesungguhnya perpecahan merupakan kebinasaan dan al-jama’ah (persatuan) merupakan keselamatan.” [Al-Jami’ Li Ahkamil Qur’an 4/159]

Sikap berbantah-bantahan di kalangan umat Islam juga bisa menyebabkan hilangnya kekuatan dan berujung pada jauhnya kemenangan. Allah Swt. berfirman,

وَلا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ

“Dan janganlah kalian berbantah-bantahan, yang menyebabkan kalian menjadi gentar dan hilang kekuatan kalian.” (QS Al-Anfal: 46)

4) Berdoa dan mohon kemenangan dan pertolongan.

Manusia itu lemah, tanpa pertolongan Allah dan petunjuk-Nya, niscaya bukan kemenangan yang diraih, melainkan kerugian dan kecelakaan.

Karena itu, libatkan Allah dalam setiap langkah yang kita lakukan dengan memastikan bahwa jalan tersebut sesuai dengan ketentuan syariat. Libatkan Allah dalam setiap helaan napas kita dengan senantiasa melantunkan doa dan permohonan.

Demikianlah yang dicontohkan uswatuh hasanah kita, Rasulullah Saw., pada hari-hari beliau menunggu musuh. Ketika memasuki petang hari, beliau berdiri di hadapan kaum muslim dan bersabda,

” يَا أَيُّهَا النَّاسُ، لَا تَتَمَنَّوْا لِقَاءَ الْعَدُوِّ، وَاسْأَلُوا اللَّهَ الْعَافِيَةَ، فَإِذَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاصْبِرُوا وَاعْلَمُوا أَنَّ الْجَنَّةَ تَحْتَ ظِلَالِ السُّيُوفِ”. ثُمَّ قَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ: ” اللَّهُمَّ، مُنزل الْكِتَابِ، ومُجري السَّحَابِ، وهازم الأحزاب، اهزمهم وانصرنا عليهم”

“Hai manusia, janganlah kalian berharap untuk bertemu dengan musuh, tetapi mohonlah keselamatan kepada Allah. Dan apabila kalian bertemu dengan musuh, hadapilah dengan sabar (keteguhan hati), dan ketahuilah bahwa surga itu terletak di bawah naungan pedang (senjata). Kemudian Nabi  berdoa, ‘Ya Allah, wahai Yang menurunkan Al-Kitab (Al-Qur’an), Yang menggiring awan, Yang mengalahkan golongan-golongan bersekutu, kalahkanlah mereka dan tolonglah kami dalam menghadapi mereka.'” (HR Bukhari dan Muslim)

Semoga selepas Ramadan ini, kita dimudahkan Allah untuk istikamah dalam ketakwaan dan menjadikannya sebagai modal untuk meraih kemenangan hakiki. Bukan hanya kesuksesan seorang muslim dalam menundukkan hawa nafsunya saat Ramadan, tapi keberhasilan kita dalam menunjukkan keunggulan Islam di hadapan ideologi lain dengan tegaknya Khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah. Wallahu a’lam. [MNews/Gz]

Tinggalkan Balasan