Toleransi Bablas dalam Bingkai Pluralisme dan Semangat Moderasi Beragama


Penulis: Juanmartin, S.Si., M.Kes.


MuslimahNews.com, OPINI — Banyak yang menganggap bahwa identitas agama menjadi dasar fundamentalisme yang menafikan nilai-nilai kebenaran dari kelompok lain. Hal inilah yang memicu munculnya ide pluralisme yang menganggap semua agama sama.

Kemunculan ide pluralisme–terutama pluralisme agama—didasarkan pada sebuah keinginan untuk melenyapkan truth claim yang dianggap sebagai pemicu munculnya ekstremisme, radikalisme agama, perang atas nama agama, konflik horizontal, serta penindasan antarumat beragama.

Menurut pluralis (penganut pluralisme, ed.), konflik dan kekerasan dengan mengatasnamakan agama, baru sirna jika masing-masing agama tidak lagi menganggap agamanya paling benar (lenyapnya truth claim).

Sebagaimana yang ramai diberitakan, belum lama ini viral seorang yang dikenal publik sebagai ustaz, menghadiri peresmian Gereja Bethel Indonesia (GBI) Amanat Agung di Penjaringan, Jakarta.

Dalam kesempatan itu, Ia memberikan nasihat berupa untaian kalimat yang disebut sebagai ekspresi toleransi terhadap sesama penganut agama. Pada kesempatan itu, hadir juga Gubernur DKI Jakarta.

Di atas mimbar, dengan disaksikan oleh beberapa jemaah, Gubernur DKI Jakarta, Pendeta, dan si Ustaz memberikan nasihat soal persatuan.

Seolah ingin menggambarkan adanya potensi konflik dengan segala perbedaan ajaran yang ada pada masing-masing agama, pembahasan masalah persatuan dalam semangat kebangsaan menjadi perkara krusial untuk dibahas. Padahal, selama kurang lebih 70 tahun negara ini berdiri, keragaman sudah menjadi perkara lumrah.

Moderasi Beragama Bersenyawa dengan Semangat Pluralisme

Pluralisme dan sinkretisme bukanlah isu baru, khususnya di negeri ini. Sejak lama, para pengusungnya berupaya untuk mencangkokkan ide ini ke dalam ajaran Islam kafah. Setelah sekian lama diaruskan, tak sedikit umat Islam yang memandang adanya pemikiran nyeleneh dalam konsep pluralisme.

Ya, nyatanya pluralisme adalah ide liberal yang menyesatkan. Paham yang memandang semua agama sama ini, bahkan tak sesuai dengan realitas kehidupan beragama itu sendiri. Mengapa? Karena masing-masing agama memiliki perbedaan. Memaksakan seluruhnya sama adalah sikap intoleran yang nyata.

Baca juga:  Pengarusutamaan Moderasi Beragama, Penguatan Liberalisme Mengalihkan Problem Hakiki Bangsa

Namun, para pengusung pluralisme tak patah semangat. Di tengah gencarnya isu terorisme dan pengarusan ide moderasi beragama, penjaja pluralisme seolah mendapatkan jalan. Atas nama menjaga persatuan bangsa dan merawat kebudayaan, pluralisme melenggang bersenyawa dengan konsep moderasi beragama.

Agar ide ini terkesan urgen, diwacanakanlah pentingnya menjaga persaudaraan, yang meliputi merawat persaudaraan umat seagama, memelihara persaudaraan sebangsa dan setanah air, serta mengembangkan persaudaraan kemanusiaan.

Semangat pluralisme ini adalah jembatan untuk menyatukan perbedaan dari aspek teologi. Seolah agama adalah sumber konflik dari segala konflik yang terjadi.

Tentu saja pandangan ini tak berpijak pada fakta yang sahih. Mengingat berbagai konflik yang terjadi di dunia lebih banyak terjadi karena hegemoni kapitalisme global atau perebutan kekuasaan, juga karena kepentingan politik negara-negara besar.

Khusus dalam konteks Indonesia, pluralisme yang disandingkan dengan isu moderasi beragama dipandang perlu sebagai strategi kebudayaan dalam merawat keindonesiaan.

Seakan tak ada agama yang memiliki kejelasan konsep bagaimana merawat keragaman, semangat kebangsaan membutakan mereka akan konsep toleransi dalam Islam yang agung.

Di saat yang sama, pluralis dari generasi muda muslim juga menunjukkan sifat apologia defensif saat membela Islam yang dituduh teroris. Alih-alih membela Islam, sikap mereka justru mengaburkan ajaran Islam yang damai sesuai sesuai tuntunan syariat, bahkan melacurkan ajaran Islam itu sendiri.

Inilah yang setidaknya tecermin dari bagaimana Ustaz yang sedang viral karena menghadiri peresmian gereja tadi mengatakan, “Saya sering menyiarkan Islam Nusantara, Islam dengan karakteristik Indonesia. Karena saya memahami, ketika kita meletakkan agama dan budaya secara benar, maka akan menjauhkan agama dari kekerasan…”

Baca juga:  Ustaz MIY: Pluralisme Agama, Kerusakan Luar Biasa

Ini adalah apa yang diungkapkannya saat melakukan silaturahmi dengan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Juni 2020 lalu.

Pluralisme, Paham Berbahaya

Sejak lama, Barat berupaya untuk  melakukan demonisasi ajaran Islam. Tak cukup melakukan demonisasi, mereka juga menstigmakan kaum muslimin yang berpegang teguh pada syariat sebagai kaum intoleran.

Ghazwul fikr (perang pemikiran) yang dilancarkan Barat melalui perang istilah pun terus diaruskan. Dengan memanfaatkan cendekiawan muslim yang pemikirannya telah terjajah pemikiran Barat, mereka mereduksi ajaran Islam dengan timbangan tafsir hermeneutika.

Dengan metode ini, para agen Barat—seperti muslim liberal dan moderat—mendekonstruksi makna toleransi sebagai paham pluralisme teologis.

Oleh mereka, Islam rahmatan lil ’alamin ditafsirkan dengan makna menerima kebenaran segala keragaman agama, budaya, dan politik. Hasil liberalisasi Islam ini pada akhirnya memunculkan paham pluralisme. Dalam konteks keindonesiaan, ide ini menggunakan paham kebangsaan sebagai “kuda troya”.

Harus dipahami, pluralitas adalah fakta sosiologis yang memang tak bisa ditolak. Sebaliknya, pluralisme adalah sinkretisme teologis wajib ditolak.

Keragaman agama bukan sebuah masalah dalam Islam. Namun, mencampuradukkan ajaran Islam dengan agama lain dengan dalih toleransi adalah kemungkaran.

Problem terbesar manusia adalah ketika mereka tak berhukum dengan hukum Allah. Padahal, hukum Allah telah mengatur banyak hal, tak terkecuali masalah bagaimana menyikapi perbedaan akidah, keberagaman etnis, dan keragaman lainnya.

Sekularisme jelas tidak memiliki aturan jelas mengenai itu semua, hingga apa yang dihasilkan dari aturan sekularisme justru menuai konflik, pertentangan, dan perbedaan di antara umat manusia.

Baca juga:  [Diskusi WAG] Keluarga Moderat= Sakinah Mawaddah wa Rahmah?

Islam sendiri telah dijamin sebagai—satu-satunya—agama yang sempurna atas agama yang lain. Maka, jika dilihat melalui kacamata akidah Islam, Islam adalah satu-satunya agama yang diridai di sisi Allah. Dengan sendirinya, pluralisme agama bertentangan secara total dengan akidah Islam.

Pluralisme agama menyatakan bahwa semua agama adalah benar. Jadi, Islam benar, Nasrani benar, Yahudi pun benar, dan semua agama apa pun juga adalah sama-sama benar. Ini menurut pluralisme.

Adapun menurut Islam, Islamlah satu-satunya agama yang benar. Sebagaimana firman Allah, “Sesungguhnya agama yang diridai di sisi Allah adalah Islam. (QS Ali Imran: 19)

Demikian juga dalam firman-Nya di ayat lainnya, “Maka mengapa mereka mencari agama yang lain selain agama Islam? Padahal, apa yang ada di langit dan di bumi berserah diri kepada-Nya, (baik) dengan suka maupun terpaksa, dan hanya kepada-Nyalah mereka dikembalikan.(QS Ali Imran: 83).

Dan barang siapa mencari agama selain agama Islam dia tidak akan diterima, dan di akhirat di termasuk orang-orang yang rugi.”  (QS Ali Imran: 85)

Ini adalah dalil yang tak terbantahkan. Allah sendiri yang menjamin agama Islam sebagai satu-satunya agama yang benar. Karenanya, konsep pluralisme beragama adalah konsep berbahaya atas nama apa pun.

Konsep pluralisme tak lebih merupakan senjata pemikiran Barat untuk memalingkan umat Islam dari ajaran Islam yang sahih, sekaligus menjauhkan umat Islam dari keinginan untuk menerapkannya dalam institusi pemerintahan.

Sudah selayaknya kaum muslimin tidak silau dengan pemikiran Barat, apalagi kebablasan “mengawinkan” ajaran Islam yang mulia dengan berbagai paham yang bertentangan dengan akidah Islam. [MNews/Gz]

Tinggalkan Balasan