Ramadan di Libya, Istikamah Ibadah di Tengah Konflik

MuslimahNews.com, RAMADAN SEDUNIA — Ramadan di Libya selalu semarak dengan agenda besar, misalnya Majelis Tilawatil Quran (MTQ). Biasanya, MTQ tersebut rutin dilaksanakan pada setiap perayaan rakyat Libya pada bulan Ramadan.

Untuk buka puasa, ada satu menu istimewa di Libya yaitu burdim. Burdim merupakan daging kambing yang dipotong besar-besar, diberi bumbu garam dan merica, kemudian dimasukkan ke dalam panci besar yang ditanam di dalam tanah dan dimasak dengan bara api selama 2 jam lebih.

Mencari rumah makan untuk berbuka puasa merupakan hal yang sulit di Libya. Rakyat Libya memiliki tradisi menutup tokonya di dua minggu pertama Ramadan. Setiap toko yang dimiliki warga Libya pasti sudah tutup menjelang Maghrib, yaitu sekitar jam 08.00 malam.

Libya memiliki tradisi Islam yang mengakar kuat. Negara di Afrika Utara ini telah tersentuh dakwah Islam sejak masa Khalifah kedua, Umar bin Khaththab.

Panglima Amr Ibn al-Ash memimpin pasukan Islam menjelajahi Afrika Utara dan berhasil menguasai Tripolitania pada 647 M. Di Afrika Utara, pasukan Islam melakukan aktivitas dakwah dan menjalin hubungan kemasyarakatan dengan menikahi perempuan setempat.

Meskipun awalnya mendapat penolakan dari suku Berber, namun selanjutnya suku ini masuk Islam dan menjalankan syariatnya. Libya senantiasa berada dalam naungan Khilafah selama berabad-abad.

Baca juga:  [Ramadan Sedunia] Ramadan di Kuba, Hanya Ada Satu Masjid

Sungguh sayang, ketika Khilafah Utsmaniyah melemah, Libya direbut Italia dan menjadi daerah jajahannya. Terjadilah upaya menjauhkan Islam dari masyarakat Libya.

Sejak tergulingnya kekuasaan Muammar al-Gaddafi pada 2011 melalui gerakan Arab Spring, Libya selalu berada dalam intervensi negara asing seperti Amerika dan Perancis. Libya tenggelam dalam konflik internal berkepanjangan, sehingga menimbulkan banyak korban jiwa dan memperburuk ekonomi.

Warga Libya pun terpaksa menjalankan ibadah Ramadan di tengah konflik. Semoga umat Islam di Libya segera bisa bersatu sehingga tahun depan bisa menikmati Ramadan dalam perdamaian hakiki di bawah perlindungan Khilafah. Aamiin. [MNews/Rgl]

Tinggalkan Balasan