Mewaspadai Menyia-nyiakan Harta Menjelang Hari Kemenangan


Penulis: Najmah Saiidah


MuslimahNews.com, FOKUS TSAQAFAH — Sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadan adalah hari-hari yang sangat dinanti oleh kaum muslimin. Sebab, pada salah satu malam dari sepuluh malam terakhir, terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan, yaitu Lailatulqadar.

Dalam beberapa hadis dijelaskan bahwa Lailatulqadar jatuh pada salah satu malam ganjilnya. Karenanya, di malam-malam ini biasanya kaum muslimin memperbanyak ibadah sunah.

Ironisnya, pada hari-hari mendekati Idulfitri, banyak juga kaum muslimin yang rela berdesak-desakan di mal atau pusat perbelanjaan lainnya untuk berburu baju lebaran dan kebutuhan-kebutuhan lainnya, padahal saat ini masih pandemi.

Beberapa hari kemarin, berita-berita menunjukkan sesaknya pasar Tanah Abang oleh pengunjung, protokol kesehatan pun seolah tidak diperhatikan. Seolah tak masalah bagi sebagian mereka jika harus merogoh kocek dalam-dalam demi memuaskan perilaku konsumtif jelang Lebaran.

Tak sedikit pula yang akhirnya harus mengutang sana-sini, menggadaikan barang berharga, atau mengambil pinjaman riba di bank, semata-mata demi memenuhi “tradisi serba ada dan serba baru” di saat Idulfitri.

Tak heran jika bagi kalangan produsen, saat-saat menjelang Lebaran adalah masa-masa panen keuntungan, karena volume penjualan barang yang mereka produksi atau yang mereka jual biasanya meningkat berkali-kali lipat. Lalu, bagaimana pandangan Islam tentang fenomena ini?

Islam Mengatur Pembelanjaan Harta

Sebagai din yang sempurna, Islam tidak hanya mengatur bagaimana seseorang memperoleh harta atau sebab-sebab kepemilikan harta (asbabu at-tamaluk), tapi Islam pun mengatur bagaimana mengembangkan harta, sekaligus cara membelanjakannya.

Islam telah menetapkan metode pembelanjaan harta sekaligus menentukan tata caranya. Sistem Islam sangat berbeda dengan sistem kapitalisme sekuler yang diterapkan saat ini, yang mengagungkan kebebasan pemilikan dan berperilaku, menjadikan manfaat sebagai asasnya.

Dalam Islam, seorang pemilik harta tidak dibiarkan bebas mengelola dan membelanjakan harta, sekalipun harta itu secara hukum, sah merupakan miliknya. Rasulullah saw. bersabda,

«لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ»

Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya; dari mana diperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya.” (HR Tirmidzi)

Hadis yang agung ini menunjukkan kewajiban mengatur pembelanjaan harta dengan menggunakannya untuk hal-hal yang baik dan diridai oleh Allah, karena pada hari kiamat nanti manusia akan dimintai pertanggungjawaban tentang harta yang mereka belanjakan sewaktu di dunia. Lalu, bagaimana Islam mengajarkan kita mengatur harta?

  1. Israf, Tabzir, dan kikir hukumnya Haram

Islam telah melarang seseorang bertindak israf atau tabzir ketika membelanjakan harta, sekaligus melarang seseorang bersikap kikir atau taqtir. Sebagaimana firman Allah :

قَوَامًا ذَلِكَ بَيْنَ وَكَانَ يَقْتُرُوا وَلَمْ يُسْرِفُوا لَمْ أَنْفَقُوا إِذَا وَالَّذِينَ

“Dan (hamba-hamba Allah yang beriman adalah) orang-orang yang apabila mereka membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan mereka) di tengah-tengah antara yang demikian.” (Qs. al-Furqan: 67).

“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat israf (berlebih-lebihan)” (QS Al-A’raf : 31)

Israf dalam pengertian syariat bermakna mengeluarkan harta dalam perkara yang haram atau kemaksiatan atau bukan di jalan yang haq, sekalipun yang dikeluarkan jumlahnya hanya sedikit. Sedangkan kikir (taqtir) terhadap diri sendiri bermakna menahan diri dari kenikmatan yang dibolehkan syari’ah (Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani dalam kitab Nidzham al-Iqtishadi fil Islam). Keduanya merupakan perkara yang dicela oleh Allah Swt..

Syaikh Abdurrahman Al-Jaili bahwa berlebih-lebihan yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah setiap pembelanjaan harta pada selain jalan Allah, sedangkan kikir yang dimaksud adalah mencegah pembelanjaan harta di jalan Allah (dengan tidak menjalankan kewajiban). (Muhammad Yusuf Abu Hayyan Al-Andalusy, Al-Bharul Muhith).

2) Berfoya-foya atau menghambur-hamburkan harta, dilarang oleh Allah.

Islam juga melarang kaum muslimin untuk berfoya-foya atau menghambur-hamburkan harta. Allah Swt. berfirman dalam QS. Al-Waqi’ah : 41-45, yang artinya “Golongan kiri, siapakah golongan kiri itu? Dalam (siksaan) angin yang amat panas. Dan air panas yang mendidih dalam naungan asap hitam. Tidak sejuk dan tidak menyenangkan. Sesungguhnya mereka sebelum itu hidup berfoya-foya atau bermewah-mewah.

Di antara perilaku penghuni neraka selama di dunia adalah mereka suka berfoya-foya dan tidak berusaha untuk mengerjakan ibadah. Imam Jalaluddin al-Mahalli dalam Tafsir Jalalain menjelaskan bahwa kata dzalika merujuk pada kehidupan di dunia. Sementara kata mutrafin (bermewahan) maksudnya adalah hidup enak, tetapi tidak mau berusaha untuk menjalankan ibadah dan tidak taat pada aturan Allah Swt.. Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa yang dimaksud bermewah-mewah adalah hidup senang dan bergelimangan dalam kemewahan dan mengejar kesenangan diri mereka tanpa melirik dengan sebelah mata pun kepada apa yang disampaikan kepada mereka oleh para rasul.

Imam al-Alusi dalam kitab tafsirnya menambahkan, siksaan yang diterima penghuni neraka merupakan akibat dari perbuatan yang mereka lakukan di dunia. Ini menunjukkan kalau Allah Swt. tidak menyiksa hambanya tanpa sebab. Lafal mutrafin dalam ayat 45 sebetulnya berati dza tarafin atau orang yang memperoleh kenikmatan. Kenapa orang yang memperoleh kenikmatan disiksa? Ulama memberikan jawaban berbeda-beda terkait masalah ini. Ada yang berpendapat bahwa mutrafin adalah orang yang memperoleh kenikmatan dan membuatnya lupa akan akhirat. Mereka mendapatkan nikmat yang berlebih, sehingga kenikmatan ini membuat mereka lupa ibadah dan melupakan bekal akhirat. Naudzubillaahi min dzalika

3) Menyia-nyiakan harta (idha’atul maal), amalan yang tidak disukai Allah.

Islam tidak menganjurkan kita untuk menyia-nyiakan harta (idha’atul maal), yaitu menafkahkan harta pada barang-barang yang sesungguhnya tidak kita butuhkan, sehingga akhirnya barang tersebut tidak terpakai bahkan akhirnya terbuang, tersia-sia. Rasulullah saw. bersabda, “… dimakruhkan atas kamu banyak bicara dan banyak bertanya (tentang hal-hal yang sifatnya khayalan) serta menyia-nyiakan harta.”

Telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami Jarir dari Suhail dari ayahnya dari Abu Hurairah dia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah menyukai bagimu tiga perkara dan membenci tiga perkara; Dia menyukai kalian supaya beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, kalian berpegang teguh dengan agama-Nya dan tidak berpecah-belah. Dan Allah membenci kalian dari mengatakan sesuatu yang tidak jelas sumbernya, banyak bertanya dan menyia-nyiakan harta.”

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Abdurrahman telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mubarak telah mengkhabarkan kepada kami ‘Amru bin Waqid telah menceritakan kepada kami Yunus bin Halbas dari Abu Idris Al Khaulani dari Abu Dzarr dari Nabi saw., beliau bersabda, “Zuhud terhadap dunia bukan berarti mengharamkan yang halal dan bukan juga menyia-nyiakan harta, akan tetapi zuhud terhadap dunia adalah keyakinan apa yang ada di tanganmu tidak lebih kuat dari apa yang ada di tangan Allah dan engkau berada dalam pahala musibah jika tertimpa musibah, lebih kau senangi daripada jika itu tetap ada padamu.”

4) Tidak israf dan tidak kikir, tapi di tengah-tengah di antara keduanya.

Inilah pembelanjaan harta yang diperintahkan Allah Swt. , sebagaimana dalam QS Al-Furqan: 67. Dalam tafsir Al Jalalain dijelaskan bahwa yang dimaksud adalah berinfak pada keluarga mereka tidak berlebihan dan tidak pelit. Mereka membelanjakan harta mereka di tengah-tengah keadaan berlebihan dan meremahkan. Intinya infak mereka bersifat pertengahan.

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah mereka tidak mubadzir (boros) kala membelanjakan harta mereka, yaitu membelanjakannya di luar hajat (kebutuhan). Mereka tidak bersifat lalai sampai mengurangi dari kewajiban sehingga tidak mencukupi. Intinya mereka membelanjakan harta mereka dengan sifat adil dan penuh kebaikan. Sikap yang paling baik adalah sifat pertengahan

Yang dimaksud pembelanjaan tidak israf dan tidak kikir, tapi di tengah-tengah di antara keduanya. Para ulama menyatakan mutawasith, yaitu yang menjalankan kewajiban atau penunaian kewajiban harta yang telah difardukan, mencukupi kebutuhan diri dan orang yang wajib dinafkahi, serta tidak berlebih-lebihan dan berfoya-foya.

Lalu, bagaimana dengan fenomena yang kerap terjadi menjelang Idulfitri di negeri kita ini, apakah terkategori israf (boros/berlebihan) atau taftur (berfoya-foya/bermewah-mewah) atau menyia-nyiakan harta?

Dari penjelasan makna tentang israf, maka dapat kita simpulkan, jika membelanjakan hartanya untuk hal-hal yang mubah atau untuk ketaatan dengan menjaga niat karena Allah, maka perilaku seperti ini tidak terkatagori israf atau tabzir. Akan tetapi, jika mereka membelanjakan hartanya untuk aktivitas yang diharamkan Allah walaupun hanya sedikit, semisal membeli minuman keras atau membeli pakaian yang diharamkan dipakai di tempat umum karena membuka aurat misalnya maka itu termasuk perilaku israf atau tabzir yang diharamkan, tanpa melihat besar kecilnya jumlah harta yang dibelanjakan .

Akan tetapi tentu saja kita harus berhati-hati dari tindakan foya-foya, yaitu membelanjakan harta demi kesombongan atau berbangga diri. Jadi, bukan semata-mata membelanjakan harta untuk menikmati kekayaan. Karena pada dasarnya, Islam tidak melarang kita untuk menikmati dan merasakan nikmatnya rezeki yang telah Allah anugerahkan.

Allah Swt. berfirman, “Qul man harrama ziinatallaahil latii akhraja li ‘ibaadihii wath-thayyibaati minar-rizq,” yang artinya, “Katakanlah siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah Dia keluarkan untuk hamba-hamba-Nya, juga rezeki-Nya yang baik-baik?”

Imam at-Tirmidzi juga meriwayatkan hadits dari Abdullah bin Amr ra yang mengatakan, bahwa Nabi Saw pernah bersabda, “Sesungguhnya Allah suka untuk melihat tanda-tanda kenikmatan-Nya pada hamba-Nya.” Bahwa Allah suka jika hamba-Nya menikmati nikmat dari Allah sekaligus merasakan rezeki-Nya yang baik-baik, yang telah Allah anugerahkan kepadanya oleh Sang Pencipta alam semesta ini.

Akan tetapi Allah membenci banyaknya kenikmatan yang mengakibatkan lahirnya sikap arogan, sombong dan membangkang yaitu ketika terjadi tindakan tarfu atau berfoya-foya ataupun sikap menyia-nyiakan harta. Nah, perilaku konsumtif yang muncul termasuk saat menjelang Idulfitri ini, bisa menjerumuskan seseorang pada tindakan tarfu/berfoya-foya yang diharamkan Allah atau menyia-nyiakan harta yang tidak dianjurkan oleh Allah. Karena biasanya, perilaku konsumtif muncul didorong oleh nafsu ingin dipuji, ingin diakui eksistensi atau karena senang berbangga diri ataupun menjerumuskan diri pada perilaku menyia-nyiakan harta. Naudzubillahi min dzalika.

Jika demikian halnya, maka seorang yang mengaku telah beriman kepada Allah dengan keimanan yang lurus, tentu tidak layak terjebak dalam perilaku seperti ini.

Khatimah

Perilaku konsumtif saat ini memang tengah mengancam kehidupan umat, telah menjebak umat Islam pada aktivitas mengejar kesenangan jasadi semata yang akan mendorong seseorang pada perbuatan yang menyalahi hukum-hukum syariat. Bahkan lebih jauh lagi, akan membuat umat Islam berpaling dari tujuan hidup sebenarnya, yakni menjaga Islam dan memperjuangkan kemuliaannya

Penyakit ini akan terus berkembang dan meracuni umat Islam selama sistem kapitalisme sekuler yang melandasinya masih mendominasi kehidupan umat Islam.

Karena itu, saatnya kaum muslimin mencampakkan sistem yang rusak dan merusak ini, kemudian menggantinya dengan sistem kehidupan Islam yang menjamin kemuliaan hakiki.

Caranya adalah dengan berupaya berdakwah membangun kesadaran masyarakat dengan Islam kafah dan berupaya menegakkannya dalam wadah Khilafah Islamiah. [MNews]

Tinggalkan Balasan