Memakaikan Baju Takwa Anak Gadis Kita


Penulis: Ummu Fairuzah


MuslimahNews.com, KELUARGA – Alhamdulillah, ananda sudah terbiasa saum Ramadan. Sejak ananda kecil ayah bunda sudah membiasakannya ikut berpuasa.

Kini ananda sudah menginjak usia remaja. Fase kehidupan baru yang akan ananda lalui saat ini tentu tidak sama dengan fase sebelumnya yang dominan bermain sambil belajar pembiasaan-pembiasaan baik.

Sebagai remaja, ananda telah memiliki tanggung jawab lebih sesuai dengan perkembangan kadar akalnya. Terutama tanggung jawab untuk menjalankan taklif-taklif syariat.

Bukan sebatas salat, saum dan thalabul ilmi (menuntut ilmu). Di antara taklif syariat yang penting bagi ananda, misalnya taklif untuk menutup aurat secara sempurna. Ada sejumlah hukum terkait dengannya yang penting untuk dipahami.

Pakaian adalah simbol kemajuan peradaban manusia. Sebaliknya, ketelanjangan adalah simbol kehidupan tanpa peradaban layaknya binatang.

Islam datang meninggikan kehidupan manusia pada puncak peradaban. Sangat wajar bila Islam memberikan kewajiban menutup aurat kepada manusia, baik laki-laki maupun perempuan.

Menutup Aurat itu Satu Kewajiban

Mengingat pandangan Islam terhadap perempuan sebagai kehormatan yang wajib dijaga, hukum-hukum syariat terkait perempuan sangat banyak dan terperinci. Sangat penting anak gadis kita diberikan penjelasan tentangnya.

Apalagi hari ini kehidupan hedonis sangat kental menyelimuti kehidupan mereka. Tanpa kecukupan maklumat sangat menghawatirkan ananda akan terbawa arus iming-iming hedonisme.

Padahal, Allah Swt. telah berfirman,

“Katakanlah kepada perempuan yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak darinya. (QS an-Nur: 31)

Baca juga:  Kontroversial, Sinta Nuriyah menyatakan Jilbab tidak Wajib. Pakar Politik Asma Amnina: Corong Liberalisasi Islam

Menurut Imam al-Thabari, makna yang lebih tepat untuk “perhiasan yang biasa tampak” adalah muka dan telapak tangan.

Aisyah ra. telah menceritakan, bahwa Asma binti Abu Bakar masuk ke ruangan perempuan dengan berpakaian tipis, maka Rasulullah saw. pun berpaling seraya berkata,

 “Wahai Asma’ sesungguhnya perempuan itu, jika telah balig, tidak pantas menampakkan tubuhnya kecuali ini dan ini (sambil menunjuk telapak tangan dan wajahnya).” (HR Muslim)

Meski ulama berbeda pendapat tentang batasan aurat perempuan, namun  jumhur ulama mengatakan bahwa aurat perempuan adalah seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan.

Maka, perempuan yang telah balig berkewajiban menutup seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan di hadapan laki-laki yang bukan mahram, di mana pun mereka berada, baik dalam kehidupan khusus (di rumah) maupun dalam kehidupan umum (di luar rumah).

Kewajiban Kedua: Berkerudung

Subhanallah, syariat Islam memang sempurna. Bukan sekadar ada kewajiban menutup aurat, seorang perempuan juga mendapatkan kewajiban menutup bagian atas tubuhnya dengan kerudung (khimar).

Syariat telah menjelaskan batasan lebar kerudung syar’i. Dalam surah yang sama—An-Nur ayat 31—Allah Swt. berfirman,

“Katakanlah kepada perempuan yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak darinya. Dan hendaklah mereka menutupkan khumur (kain kudung) ke dadanya.”

Lanjutan ayat ini menjelaskan kepada siapa saja selain muka dan telapak tangan boleh ditampakkan.

Baca juga:  Menggugat Kewajiban Jilbab berarti Melawan Alquran dan Para Ulama Salaf

“..dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau perempuan-perempuan Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” 

Penting bagi anak gadis Ayah Bunda untuk memahami perinciannya. Mereka perlu bimbingan intensif tentang memahami tata pergaulan dalam Islam. Sehingga, mereka siap berinteraksi dengan lingkungannya dengan bekal tsaqafah yang cukup. Mereka tidak lagi senantiasa bersama Ayah Bunda sepanjang hari, bukan?

Sempurna dengan Berjilbab

Apakah cukup seorang anak perempuan yang telah haid, keluar rumah hanya dengan menutup aurat dan berkerudung?

Ternyata pakaian perempuan dewasa dalam kehidupan umum, memiliki jenis yang khas disebut “jilbab”. Jilbab yang dimaksud bukanlah kerudung.

Jilbab adalah pakaian penutup tubuh perempuan sampai menutup kaki yang dipakai ketika mereka ke luar rumah, baik ke pasar, masjid, mal, sekolah, dan tempat umum lainnya. Dalilnya ada pada surah Al-Ahzab.

Baca juga:  Industri Games dan Arah Kurikulum Pendidikan Bangsa

Allah Swt. berfirman,

“Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS Al-Ahzab: 59)

Di dalam kamus Al-Muhith dinyatakan, bahwa jilbab itu seperti sirdab (terowongan) atau sinmar (lorong), yakni baju atau pakaian longgar bagi perempuan selain baju kurung atau kain apa saja yang dapat menutup pakaian kesehariannya seperti halnya baju kurung.

Obral Pahala Setiap Hari

Masyaallah, betapa bahagianya menjadi muslimah. Sebab, seorang perempuan balig yang keluar rumah karena ketaatan, dia menutup aurat dengan pakaian yang sempurna maka baginya setidaknya 3 (tiga) pahala sekaligus.

Di antaranya adalah pahala menutup aurat (satru al aurat), pahala berkerudung (khimar), dan pahala berjilbab. Paket lengkap 3 in 1 ini spesial untuk ananda salihah, dan kebahagiaan yang paling utama itu ketika Allah Swt. rida kepadanya.

Jadi, cantik itu salihah. Cantik itu taat syariat. Begitulah Islam memandang kecantikan perempuan. Tentunya kecantikan yang disukai dan diridai Allah Swt., yang akan mengantarkan pelakunya mendapatkan pahala dan Jannah.

Berikan motivasi iman dan takwa dalam memahamkan remaja-remaja kita, agar menjadi ringan dan bersemangat dalam menjalankan syariat, Wallaahu a’lam. [MNews/Juan]

Tinggalkan Balasan