Idulfitri, Taat Ilahi Sepenuh Hati

MuslimahNews.com, KAFFAH – Alhamdulillah, meski masih dalam kondisi pandemi, kita sampai juga ke penghujung Ramadan. Ramadan akan segera berakhir. Idulfitri akan segera hadir. Seharusnya Idulfitri tahun ini, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, kita bisa berbahagia. Berkumpul bersama keluarga, orang tua, dan saudara. Menyambung tali silaturahmi. Namun demikian, wabah Corona yang tak jelas rimbanya, menjadikan kita tak bisa ke mana-mana. Kita hanya bisa menyapa orang tua, keluarga, dan saudara melalui telepon genggam. Sebagian hanya bisa berdoa. Sebagian lagi hanya bisa meneteskan air mata karena tak bisa lagi bertemu dengan mereka yang sudah pergi untuk selamanya.

Sungguh, hanya orang yang beriman yang bisa mengambil pelajaran. Betapa lemahnya manusia. Hanya dengan makhluk Allah Swt. yang tidak kasat mata, virus Corona, manusia sedunia tak berdaya. Lalu apa yang patut kita sombongkan? Kekayaan, jabatan, atau kekuasaan? Semuanya tak berguna.

Sebentar lagi kita merayakan Idulfitri, Hari Kemenangan. Menang karena kemampuan dan kemauan kita mengalahkan hawa nafsu. Meninggalkan hal-hal yang sebenarnya dihalalkan pada waktu siang. Tak berani berbuka sebelum waktunya karena merasa diawasi oleh Zat Yang Maha Mengawasi.

Hakikat Idulfitri, sebagaimana disampaikan oleh Imam Ali radhiyalLahu ‘anhu, adalah,

لَيْسَ الْعِيْدُ لـِمَنْ لَبِسَ الـْجَدِيْدَ، وَإِنَّمَا الْعِيْدُ لـِمَنْ أَمِنَ الوَعِيْدَ؛

لَيْسَ الْعِيْدُ لـِمَنْ لَبِسَ الـْجَدِيْدَ، إِنَّـمَا الْعِيْدُ لـِمَنْ طَاعَاتُهُ تَزِيْدُ؛

لَيْسَ الْعِيْدُ لـِمَنْ تـَجَمَّلَ بِالِّلبَاسِ وَالرُّكُوْبِ، إِنـَّمَا الْعِيْدُ لـِمَنْ غُفِرَتْ لَهُ الذُّنُوْبُ. (لطائف المعارف، 277)

“Idulfitri bukanlah bagi orang yang memakai pakaian baru.

Idulfitri adalah bagi orang yang aman dari ancaman (neraka).

Idulfitri bukanlah bagi orang yang memakai pakaian baru.

Idulfitri adalah bagi orang ketaatannya bertambah.

Idulfitri bukanlah bagi orang yang bagus pakaian dan kendaraannya.

Idulfitri adalah bagi orang yang diampuni dosa-dosanya.”

Manusia yang bebas dari ancaman neraka, yang ketaatannya bertambah, dan yang diampuni dosa-dosanya hanyalah mereka yang bertakwa. Inilah buah puasa Ramadan, sesuai dengan firman-Nya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana puasa itu diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa.” (TQS al-Baqarah [2]: 183)

Baca juga:  [Nafsiyah] Ketika Tiga Kekuatan Menyatu Saat Bulan Ramadan

Kata “taqwa” berasal dari kata “waqa”. Artinya, melindungi. Maknanya, melindungi diri dari murka dan azab Allah Swt. Wujudnya dengan menjalankan semua perintah Allah Swt. dan menjauhi segala larangan-Nya. Yang halal dilakukan. Yang haram ditinggalkan. Dalam seluruh aspek kehidupan. Tak ada rasa keberatan sedikit pun terhadap aturan Allah dan keputusan Rasulullah saw., sebagaimana firman-Nya,

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُوْنَ حَتّٰى يُحَكِّمُوْكَ فِيْمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوْا فِيْٓ اَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

“Demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka atas keputusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (TQS an-Nisa’ [4]: 65)

Imam ath-Thabari, saat menafsirkan QS al-Baqarah ayat 2, mengutip sejumlah pernyataan tentang hakikat orang-orang bertakwa. Al-Hasan, misalnya, menyatakan, “Orang-orang bertakwa adalah mereka yang takut terhadap perkara apa saja yang Allah haramkan atas mereka dan melaksanakan apa saja kewajiban yang Allah titahkan atas mereka.”

Ibn Abbas berkata, “Orang-orang bertakwa adalah mereka yang khawatir terhadap azab Allah ‘Azza wa Jala jika meninggalkan petunjuk-Nya yang telah mereka ketahui dan mengharapkan rahmat-Nya dengan membenarkan apa saja yang datang kepada dirinya (berupa Al-Qur’an, red.).”

Ibn Mas’ud menuturkan dari sekelompok Sahabat Nabi saw. bahwa orang-orang yang bertakwa adalah orang-orang mukmin.

Abu Bakr ‘Ayyas berkata, “Orang-orang bertakwa adalah mereka yang menjauhi dosa-dosa besar.”

Qatadah berkata, “Orang-orang bertakwa adalah mereka yang disifati dengan sifat—sebagaimana dalam ayat berikutnya, red.—yaitu: orang yang mengimani perkara gaib, menegakkan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang telah Allah limpahkan kepada mereka.”

Ibn Abbas juga menyatakan bahwa orang-orang bertakwa adalah mereka yang takut menyekutukan Allah Swt. dan mengamalkan apa saja yang telah Allah Swt. wajibkan atas mereka (Lihat: Ath-Thabari, Jâmi’ al-Bayân li Ta’wîl al-Qur’ân, I/232—233).

Baca juga:  Ramadan Bulan Turunnya Alquran Petunjuk Kehidupan

Al-Qur’an pun banyak mengungkap ciri orang-orang yang bertakwa. Di antaranya sebagaimana dinyatakan dalam QS Al-Baqarah ayat 3—5. Demikian juga dalam al-Hadis. Begitu pun yang dinyatakan oleh para Sahabat dan banyak ulama dari generasi salafush-shalih.

Di antaranya adalah yang dinyatakan oleh al-Hasan, “Orang bertakwa memiliki sejumlah tanda yang dapat diketahui, yakni: jujur/benar dalam berbicara; senantiasa menunaikan amanah; selalu memenuhi janji; rendah hati dan tidak sombong; senantiasa memelihara silaturahmi; selalu menyayangi orang-orang lemah/miskin; memelihara diri dari kaum wanita; berakhlak baik; memiliki ilmu yang luas; senantiasa ber-taqarrub kepada Allah.” (Ibn Abi ad-Dunya’, Al-Hilm, I/32).

Terkait ciri orang yang bertakwa pula, Wahab bin Kisan bertutur bahwa Zubair ibn al-Awwam pernah menulis surat yang berisi nasihat untuk dirinya.

Di dalam surat itu dinyatakan, “Amma ba’du. Sesungguhnya orang bertakwa itu memiliki sejumlah tanda yang diketahui oleh orang lain maupun dirinya sendiri, yakni: sabar dalam menanggung derita, rida terhadap qadha’, mensyukuri nikmat dan merendahkan diri (tunduk) di hadapan hukum-hukum Al-Qur’an.” (Ibn al-Jauzi, Shifat ash-Shafwah, I/170; Abu Nu’aim al-Asbahani, Hilyah Awliya’, I/177).

Karena itu sebagai manusia yang insya Allah lulus dari medan Ramadan, tak layak kita mengabaikan dan mencampakkan Al-Qur’an. Al-Qur’an rutin dibaca, tetapi tak berbekas pada jiwa. Al-Qur’an bahkan dilombakan, tetapi tak dipahami dan diamalkan. Peristiwa turunnya Al-Qur’an diperingati, tetapi isinya tak diikuti. Al-Qur’an disakralkan, tetapi hukum-hukumnya tak dijadikan aturan kehidupan.

Fisik Al-Qur’an dijaga dari pemalsuan, tetapi kandungannya tak dijaga dari penyimpangan. Al-Qur’an diklaim sebagai pedoman, tetapi tak dijadikan sebagai aturan kehidupan. Al-Qur’an dijadikan sebagai penenang hati dengan lantunan yang mengalun, tetapi tak dijadikan sebagai sumber hukum. Yang menyedihkan, Al-Qur’an mulia dianggap oleh negara sebagai hukum negatif yang harus diabaikan.

Jika demikian, berhati-hatilah! Seperti yang dikatakan oleh Anas bin Malik, yang ditulis oleh Imam al-Ghazali, dalam kitab Al-Mursyid al-Amin, halaman 65,

 رُبَّ قَارِئٍ لِلْقُرْآنِ وَاْلقُرْآنُ يَلْعَنُهُ

“Banyak orang yang membaca Al-Qur’an, tetapi Al-Qur’an justru melaknat dirinya.”

Mengapa? Karena mereka mencampakkan Al-Qur’an. Apalagi para penguasa yang diberi kesempatan untuk menerapkan seluruh isi Al-Qur’an, tetapi mereka tidak menerapkan Al-Qur’an, padahal mereka punya kekuasaan.

Baca juga:  Hukum Shalat Tarawih, Sahur, dan Niat Puasa sebelum Terbuktinya Rukyatul Hilal Ramadan

Tanpa berpegang teguh pada Al-Qur’an, negara berantakan. Ini karena hawa nafsu dikedepankan. Ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya dikebelakangkan. Jangan heran jika Islam malah dituduh sebagai sumber perpecahan, ancaman persatuan, bahkan dituding menginspirasi radikalisme dan ekstremisme.

Inilah kezaliman nyata di depan mata kita. Yang benar dianggap salah. Yang salah dianggap benar. Yang berkuasa bertindak seenaknya. Yang lemah diinjak-injak seperti sampah tak berguna. Hilang kasih sayang. Yang muncul nafsu kekuasaan.

Padahal Islam ya’lu wala yu’la. Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi dari Islam. Islam diturunkan oleh Zat Yang Mahamulia, melalui malaikat yang paling mulia, Jibril ‘alaihissalam, kepada manusia paling mulia, Rasulullah Muhammad saw. Bagaimana mungkin Islam menyebabkan kerusakan, kehancuran dan keterbelakangan?

Justru dengan Islam kaum muslim akan menjadi umat terbaik, khayru ummah. Islam dengan sistemnya, Khilafah, akan mengangkat derajat manusia dari kezaliman, keterpurukan, keterbelakangan, ketertindasan menuju peradaban agung yang diridai Allah Swt.

Karena itulah Idulfitri harus menjadi momentum kita semua untuk berubah. Menjadi manusia baru. Laksana kupu-kupu yang indah memesona, yang baru melewati masa kepompong selama Ramadan. Taat kepada Allah dan Rasul-Nya secara totalitas, tanpa batas.

Akhirnya, mari bergandeng tangan. Eratkan ukhuwah dan kesampingkan perbedaan furu’iyyah. Perjuangkan syariat. Tegakkan sistem hidup berdasarkan Al-Qur’an dan Sunah. Hidup mulia dengan Islam. Ingatlah seruan Allah Swt.,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ

“Hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul-Nya jika dia menyeru kalian pada sesuatu yang memberikan kehidupan kepada kalian.” (TQS al-Anfal [8]: 24)

Semoga Allah Swt. menolong kita. Menerima puasa kita. Mengabulkan doa-doa kita. Juga menempatkan kita semua di jannah-Nya. Amin. [MNews/Rgl]

Sumber: Buletin Dakwah Kaffah No. 192 (25 Ramadan 1442 H/07 Mei 2021 M)

Tinggalkan Balasan