Ramadan di Italia, Dulu Sisilia Kelak Roma

MuslimahNews.com, RAMADAN SEDUNIA – Italia merupakan negara mayoritas Kristen Katolik Roma dan berdekatan dengan Vatikan, tempat Paus bertakhta. Namun, sejarah Italia tak lepas dari Islam.

Data Pew Research Center tahun 2015 menyebutkan bahwa umat Islam di Italia mencapai 2,2 juta jiwa dan menjadi agama terbesar kedua di Italia. Mereka mayoritas imigran yang berasal dari Maroko, Albania, Tunisia, Senegal, Mesir, Aljazair, dan negara-negara Afrika Utara serta Timur Tengah.

Untuk aktivitas ibadah umat Islam, terdapat delapan masjid resmi dan banyak masjid tak resmi. Salah satu masjid resmi ada di Kota Roma yaitu Grande Moschea atau Masjid Agung yang mampu menampung sekitar 40.000 jemaah. Sebelumnya, telah ada dua masjid besar yang ada di Kota Catania dan Milan.

Selain masjid resmi yang besar, terdapat pula masjid kecil yang tak resmi. Misalnya Masjid Al-Manar yang sekaligus merupakan Islamic Center di Roma. Setiap malam, sekitar 300 muslim melakukan salat tarawih di masjid yang awalnya adalah sebuah garasi bawah tanah ini.

Di Milan, kota terbesar kedua di Italia, belum ada masjid resmi meski terdapat sekitar 100.000 muslim di sana. Mereka menggunakan gym dan lapangan sepak bola sebagai tempat ibadah. Bahkan sebagian salat di atas trotoar jalan yang terdapat di sejumlah masjid.

Baca juga:  [Ramadan Sedunia] Ramadan di Finlandia, Nikmatnya 22 Jam Berpuasa

Ketika berbuka puasa di masjid, muslim Italia biasa menyediakan makanan khas Timur Tengah seperti roti, kue manis, kurma, dan pizza khas Timur Tengah. Juga ada sup kacang, opor ayam, dan gulai daging sapi.

Waktu puasa di Italia terbilang panjang, sekitar 16 jam. Azan subuh pukul 04.30 dan waktu salat magrib baru jatuh pada pukul 20.20. Saat musim panas, suhu bisa mencapai 39 derajat Celcius, sehingga menjadi ujian tersendiri bagi yang berpuasa.

Jumlah umat Islam di Italia mengalami peningkatan selama 15 tahun terakhir. Peningkatan migrasi muslim ke Italia disebabkan konflik yang memicu adanya gelombang pengungsi.

Menurut statistik terbaru, terdapat 350 masjid dan pusat kebudayaan muslim di Italia. Sayangnya, didorong Islamofobia, penguasa setempat menutup ratusan masjid yang diklaim ilegal. Akibatnya, umat Islam di sana terpaksa beribadah di tempat parkir, gang-gang sempit, trotoar, dan tempat yang dimungkinkan untuk beribadah.

Nicolo Degiorgis, seorang fotografer asal Italia menggambarkan perjuangan kaum muslimin Italia untuk menunaikan salat melalui bidikan kameranya. Selama empat tahun, Degiorgis menjelajah berbagai kota di Italia guna mengabadikan momen umat Islam beribadah. Tampak bahwa umat Islam di sana harus mengubah garasi, memermak pasar ikan, memanfaatkan gudang kosong, atau menggunakan lahan parkir untuk salat.

Baca juga:  [Ramadan Sedunia] Dentuman Meriam Utsmani Meriahkan "Ramazan" di Turki

Melalui karyanya yang berjudul “Hidden Islam” dan meraih penghargaan the Paris Photo-Aperture Foundation, Degiorgis menyampaikan ironi bahwa hanya ada delapan masjid bagi seluruh muslim Italia. Delapan masjid itu merupakan masjid-masjid yang resmi diakui pemerintah. Ratusan masjid lainnya yang merupakan hasil swadaya muslim Italia, dianggap ilegal.

Padahal Islam sudah lama masuk ke Italia dan bahkan pernah berjaya di Sisilia. Pulau ini merupakan sebuah daerah otonomi Italia dan pulau terbesar di Laut Tengah. Sisilia ditaklukkan pada rentang abad kesembilan dan kesebelas.

Pulau Sisilia menjadi benteng Islam. Di bawah pemerintahan Islam, orang Kristen dan Yahudi Sisilia dilindungi keamanannya dan dijamin kebebasannya dalam beribadah. Mereka hanya diwajibkan membayar jizyah.

Pada Abad Pertengahan, di mana secara umum Eropa berada dalam abad kegelapan, para cendekiawan Arab telah membantu Sisilia berkembang melalui seni, sains, pertanian, dan arsitektur. Secara fisik dan budaya, masyarakat Sisilia memiliki ciri khas Islam abad pertengahan.

Misalnya di kota tua Mazara del Vallo, kita masih bisa menemui gang-gang putih dan sempit dengan rumah berpintu biru yang mengingatkan pada desa-desa di Maroko. Gereja-gereja di Palermo dibangun di atas situs bekas masjid dan masih mempertahankan arsitektur Islam.

Baca juga:  Ramadan di Jerman, Kumandang Azan Membahana

Terdapat lebih dari 500 kata Arab dalam dialek Sisilia. Banyak kota di Sisilia mengambil nama mereka dari bahasa Arab. Juga nama keluarga lokal, jika diakhiri dengan ‘-ala’, berasal dari kata ‘Allah’, itu merupakan tanda keturunan muslim.

Islam memang tak bisa dipisahkan dengan Italia. Bahkan Rasulullah saw. mengabarkan berita gembira bahwa kelak Kota Roma akan ditaklukkan oleh umat Islam. Insyaallah. [MNews/Rgl]

Tinggalkan Balasan