Mari Menggapai Lailatuqadar (Tafsir QS Al-Qadr: 1—5)

MuslimahNews.com, TAFSIR AL-QUR’AN —

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ ﴿١﴾

وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ ﴿٢﴾

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ ﴿٣﴾

تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ ﴿٤﴾

سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ ﴿٥﴾

“Sungguh Kami telah menurunkan Al-Qur’an pada malam Qadar (kemuliaan). Tahukah kamu apakah malam Qadar itu? Malam Qadar itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun para Malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu penuh kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS Al-Qadr: 1—5)

Tafsir Ayat

Allah Ta’ala berfirman, “Inna anzalnahu fi laylah al-qadr (Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Qur’an pada malam kemuliaan).” Dalam ayat ini digunakan frasa Inna (sesungguhnya Kami), bukan Inni (sesungguhnya Aku).

Dijelaskan Fakhruddin ar-Rasi, kata tersebut tidak boleh dimaknai li al jam’i (untuk menunjukkan makna jamak). Sebab, hal itu mustahil ditunjukkan kepada Allah, Zat Yang Maha Esa. Karena itu, kata tersebut harus dimaknai sebagai li at-ta’zhim (untuk mengagungkan).

Huruf al-ha’ (dhamir al-ghaib, kata ganti pihak ketiga) dalam ayat ini, tidak memiliki al ism azh-zhahir yang menjadi rujukannya. Meskipun demikian, para mufasir sepakat bahwa dhamir tersebut menunjuk pada Al-Qur’an.

Menurut al-Qurthubi, tidak disebutkan kata Al-Qur’an karena maknanya sudah maklum. Fakhruddin ar-Razi dan Az-Zamakhsyari menjelaskan, ketiadaan al-ism azh-zhahir itu menjadi salah satu aspek yang menunjukkan keagungan Al-Qur’an.

Adapun Al-Khaththabi dan Abu Hayyan al-Andalusi mengaitkannya dengn surat sebelumnya, “Iqra bi (i)smi Rabbika” sehingga seolah dikatakan: Bacalah apa yang Kami turunkan kepadamu berupa firman Kami, “Inna anzalnahu laylah al-qadr.”

Dalam ayat ini diberitakan bahwa Al-Qur’an diturunkan pada malam Al-Qadr. Secara fakta, Al-Qur’an turun kepada Rasulullah saw. secara bertahap selama dua puluh tiga tahun: siang dan malam, dalam berbagai bulan dan keadaan. Jika demikian, apa makna Al-Qur’an diturunkan pada suatu malam yang disebut sebagai malam Al-Qadr itu?

Setidaknya ada dua keterangan, pertama, turunnya Al-Qur’an yang diberitakan dalam ayat ini adalah turunnya Al-Qur’an secara sekaligus dari al-lawh al-Mahfudz ke Bayt al-Izzah di langit dunia.

Baca juga:  Menggapai Lailatul Qadar

Selanjutnya, Al-Qur’an turun kepada Rasulullah saw. selama 23 tiga tahun secara bertahap setiap saat. Penjelasan ini disampaikan Ibn ‘Abbas: juga dipilih oleh beberapa mufasir seperti Al-Alusi, Al-Baghawi, Asy-Syaukani, As-Samarqandi, dan yang lainnya.

Kedua, turunnya Al-Qur’an pertama kali. Ini merupakan pendapat Asy-Syatibi dan yang lainnya. Intinya, awal diturunkannya Al-Qur’an dan diutusnya Rasulullah saw. terjadi pada malam Al-Qadr itu. Peristiwa ini terjadi pada bulan Ramadan (QS Al-Baqarah: 185).

Mengapa malam itu disebut sebagai malam Al-Qadr? Menurut Ibn ‘Abbas, Qatadah, dan lain-lain, dinamakan Al-Qadr karena di dalamnya terjadi penentuan ajal, rezeki, dan berbagai kejadian di dunia yang diberikan kepada malaikat untuk dikerjakan.

Pendapat ini juga dipilih Az-Zamakhsyari, Asy-Syaukani, dan Al-Baghawi, karena dinilai sejalan dengan QS Ad-Dukhan (4). Adapun Az-Zuhri memaknai laylah al-qadr sebagai malam al ‘azhamah wa asy-syaraf (keagungan dan kemuliaan).

Pengertian ini juga sejalan dengan ayat berikutnya yang menjelaskan bahwa malam tersebut lebih baik dari seribu bulan. Ada juga yang memilih kedua pendapat itu tanpa menafikan salah satunya, seperti Al-Baidhawi, As-Samarqandi, As-Sa’di dan Al-Zuhaili. .

Jika diikuti penjelasan ayat-ayat sesudahnya, kedua pendapat itu sama-sama memiliki pijakan yang kuat. Tidak harus dipilih salah satunya dan menegasikan makna lainnya.

Kemudian Allah Ta’ala berfirman, “Wama adraka ma laylah al-Qadr (Tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?)” Kalimat istifham ini memberikan makna tafkhim sya’niha (memuliakan urusannya), seolah-olah perkara tersebut keluar dari pengetahuan makhluk, dan tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah Ta’ala.

Demikian penjelasan Asy-Syaukani. Tidak jauh berbeda, As-Syamarqandi juga menafsirkan sebagai ta’zhlim (an) laha (mengagungkan, memuliakan).

Pertanyaan itu lalu dijelaskan dalam ayat berikutnya, “Laylah al-qadr khayr min alfi syahr (in) (Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan).”

Menurut Abu Hayyan, seribu bulan yang dimaksud adalah jumlah sebenarnya, yakni 83 tahun. Al-Hasan mengatakan, “Beramal pada malam al-qadr itu lebih utama daripada beramal pada bulan-bulan itu.” Menurut Anas, amal, sedekah, salat, dan zakat pada Lailatulqadar lebih baik daripada seribu bulan.

Baca juga:  Hidup Mulia Bersama Alquran

Pendapat yang sama juga dikemukakan oleh Mujahid, Amrun bin Qays al Malai, Ibnu Jarir, Ibnu Katsir, dan As-Samarqandi. Bahkan menurut as-Syaukani, kesimpulan tersebut (beramal di malam itu lebih baik daripada seribu bulan, selain yang di dalamnya terdapat malam Al-Qadr) merupakan pendapat sebagian besar mufasir.

Mengenai keutamaan beramal pada malam itu juga ditegaskan Rasulullah saw. dalam sabdanya, “Barang siapa melaksanakan salat pada Lailatulqadar, karena iman dan mengharapkan pahala dari Allah, dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan Nasa’i, Ahmad)

Kemudian Allah Ta’ala menjelaskan keutamaan lain Malam Lailatulqadar dengan firman-Nya, “Tanazzalu al-malaikah wa al-Ruh fiha bi idzni Rabbihim min kulli amr (in) (Pada malam itu turun para Malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan).”

Pada malam itu, para Malaikat merupakan athf al-khash ‘ala al-amm (menambahkan yang khusus atas yang umum). Biasanya itu berguna untuk menunjukkan kemuliaan dan keagungan atas yang lain (QS al-Baqarah: 98).

Menurut Ibn Katsir, banyaknya Malaikat yang turun karena banyaknya berkah. Malaikat turun dengan membawa berkah dan rahmat sebagaimana mereka turun ketika ada tilawah Al-Qur’an. Mereka (Malaikat) mencari majelis zikir dan meletakkan sayapnya mengitari orang-orang yang mencari ilmu untuk memuliakannya.

Dipaparkan ar-Razi, penyebutan “bi idzni Rabbihim”, memberikan isyarat bahwa para Malaikat itu tidak bertindak apa pun selain dengan izin-Nya. Adapun kata Rabbbihim berguna sebagai ta’zhim (an) li al-malaikah wa tahqir (an) li al-ashah (untuk memuliakan Malaikat dan melecehkan para pelaku maksiat).

Menurut Qatadah dan lainnya, frasa “bi idzni Rabbihim min kulli amr (in) (dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan),” memberikan pengertian bahwa pada malam itu diputuskan berbagai urusan ditetapkannya ajal dan rezeki. Hal ini sejalan dengan QS, al-Dukhan ayat 4.

Allah Ta’ala menutup ayat ini dengan firman-Nya, “Salam (un) hiya hatta mathla’ al fjar (Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” Dijelaskan Mujahid, bahwa keselamatan itu berarti salimah (selamat); setan tidak mampu berbuat kejahatan atau melakukan perbuatan yang mencelakakan.

Baca juga:  Idulfitri, Taat Ilahi Sepenuh Hati

Qatadah mengatakan bahwa frasa tersebut berarti kebaikan semua. Tidak ada di dalamnya keburukan hingga terbit fajar. Menurut As-Sya’bi, saat memberikan keselamatan kepada penghuni masjid mulai dari terbenamnya matahari hingga terbitnya fajar, malaikat melewati setiap mukmin dan berkata, “As-Salamu ‘alayka ayyuha all-Mu’min”. (Semoga keselamatan atas kalian, wahai Mukmin).

Keagungan Al-Qur’an dan Lailatulqadar

Al-Qur’an kitab yang diturunkan kepada Nabi saw., berisi penjelasan segala sesuatu, yang kaitan dengan kehidupan manusia, berupa petunjuk, rahmat, dan kabar gembira bagi mukmin/muslim (QS an-Nahl: 89). Dalam surat ini pengagungan Al-Qur’an tampak dalam beberapa hal.

Pertama: keagungan dan kemasyhuran Al-Qur’an dalam berbagai hal, kendati tidak disebutkan secara zhahir, tidak ada perbedaan bahwa dzamir al-ghaib ini merujuk kepada Al-Qur’an. Karena itu, meskipun tidak disebutkan secara zhahir, maknanya sudah sangat jelas.

Kemudian keagungan Zat yang menurunkan Al-Qur’an adalah Allah Azza wa Jalla, sebagai kitab yang berasal dari Zat Yang Mahabenar dan Mahaadil, kitab yang diturunkan-Nya pun demikian, shidqa (an) wa ad-la (a) (benar dan adil, lihat QS al-An’am: 115).

Al-Qur’an dipilih pada waktu yang amat mulia dan penuh berkah (lihat QS ad-Dukhan: 3), yang lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu, para Malaikat, termasuk Jibril turun ke bumi. Ini menunjukkan betapa mulia dan pentingnya malam itu. Sebab para Malaikat itu tidak turun kecuali ada peristiwa besar.

Rasulullah saw. dalam sabdanya, “Sesungguhnya Lailatulqadar itu adalah malam kedua puluh tujuh atau kedua puluh sembilan. Sesungguhnya para Malaikat pada malam itu di bumi lebih banyak daripada jumlah kerikil.” (HR Ahmad dari Abu Hurairah)

Sudah sepatutnya kaum mukminin berusaha keras menggapai Lailatulqadar di bulan Ramadan, bulan yang lebih mulia dibanding dengan bulan-bulan lainnya. Tinggalkan dunia dan kejarlah ampunan (maghfirah-Nya), sehingga menjadi orang-orang yang muttaqin. [MNews/Rgl]

Tinggalkan Balasan