Mengapa Nabi Meminta Ampunan dalam Doa di Malam Lailatulqadar?


Penulis: KH Hafidz Abdurrahman, M.A.


MuslimahNews.com, NAFSIYAH — Dituturkan dalam hadis:

عن عائشة رضي الله عنها أنها قالت: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَيُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ القَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا؟ قَالَ: «قُولِي: اللَّهُمَّ إِنَّكَ عُفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي». سنن الترمذي (3513)، السلسلة الصحيحة (3337).

Dari Aisyah radhiya-Llahu ‘anha, berkata, “Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana petunjukmu, jika aku mendapati salah satu malam Lailatulqadar, apa yang aku panjatkan?’ Baginda saw. menjawab, ‘Ucapkanlah: Allahumma innaka afuwwun tuhibbu al-afwa fa’fu anni (Ya Allah, Engkau adalah Maha Pemaaf. Engkau suka memaafkan, maka maafkanlah hamba).’” (HR At-Tirmidzi, 3513, Silsilah Hadis Sahih, 3337)

Doa Nabi saw. ini mengandung sebab dikabulkannya doa yang paling agung. Yaitu, tawasul kepada Allah Azza wa Jalla, setelah itu baru diikuti dengan permintaan (doa).

Tawasul dalam konteks doa Nabi ini dimulai dengan Nama-Nya, Al-Afwu, Yang Mahasuka Memaafkan. Setelah itu, baru disampaikan permohonan:

«فاعفُ عني»،

“Maka, maafkanlah hamba.”

Ini di antara doa yang paling banyak berisi tawasul kepada Allah Azza wa Jalla, dan permohonan kepada-Nya dengan menggunakan Nama-Nya. Sebagaimana yang difirmankan-Nya,

وَلِلَّهِ الأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا.

“Allah mempunyai nama-nama yang indah, maka berdoalah kepada-Nya dengan Nama-Nama itu.” (QS Al-A’raf: 180)

Jadi, Al-Afwu mengandung dua makna: Pertama, Allahlah Zat yang Maha Memaafkan keburukan, dengan cara menghapusnya, meninggalkannya, dan tidak menyiksa kita karenanya.

Kedua, Allah Maha Menutupi dosa orang yang berdosa, dan mengampuninya. Karena itu, tak ada seorang pun yang bisa mengetahuinya. Ini di antara bentuk kemurahan-Nya, karena Dia menyelamatkan kita dari kesalahan, menghapusnya, dan Dia tidak menelanjangi Anda dengan dosa-dosa itu. Sebaliknya, Dia menutupi Anda. Ini adalah bentuk pengulangan anugerah dan nikmat kepada manusia.

Kemudian kita memuji-Nya,

«تحب العفو»

“Engkau Maha Menyukai ampunan.”

Ini adalah doa dan tawasul kepada Allah. Zat yang Maha Mengampuni ini menyukai ampunan, maka Dia memberikan balasan dengan pahala yang luar biasa.

Setelah itu, baru kita ucapkan,

«فاعفُ عني»

“Ampunilah keburukan amal perbuatanku.”

Keburukan di sini meliputi dua jenis: Pertama, meninggalkan kewajiban. Meninggalkan kewajiban itu merupakan keburukan yang membutuhkan ampunan. Begitu juga kelalaian di dalamnya.

Kedua, perbuatan yang termasuk dalam keburukan adalah menodai kesucian, baik kesucian darah, harta dan kehormatan. Semuanya itu merupakan keburukan, yang Anda ingin Allah hapus.

Sebagaimana yang tampak dalam doa kita,

«اللهم إنك تحب العفو فاعفُ عني».

“Ya Allah, Engkau Zat Yang Maha Menyukai maaf, maka maafkanlah hamba.”

Ketika Allah memaafkan manusia, menggugurkan dosanya, maka Dia akan memperbaiki seluruh urusannya, baik di dunia dan akhirat. Mengampuninya dari azab karena dosa-dosanya dan segala konsekuensinya, seperti penyakit dan mengalami penganiayaan orang. Semua itu termasuk dalam ampunan, termasuk keselamatan di akhirat.

Kadang manusia melakukan takarub dan ketaatan di bulan yang mulia ini, tetapi dia melakukan kelalaian, melampaui batas, atau kurang ikhlas. Sesuatu yang mendorongnya untuk memohon kepada Tuhannya agar diberi ampunan.

Karena itu, Nabi saw. mengajarkan doa ini kepada Aisyah untuk dipanjatkan pada malam Lailatulqadar. Dengannya dia mendapatkan ampunan Allah setelah dia memberikan ketaatan pada bulan Ramadan, dan malam Lailatulqadar secara khusus.

Jiwa manusia sering tertipu, sehingga mengira dia telah memberikan hak Allah, seperti puasa, qiyamul lail, dan zikir. Namun, ketika Anda membayangkan doa ini pada malam Lailatulqadar, doa hamba yang penuh aib dan kelalaian kepada Allah Swt., kemudian dia tawasul dengan Nama-Nya agar layak mendapatkan ampunan dan kasih sayang.

Inilah keadaan yang Dia inginkan dari kita. Hamba yang tertawan dosa kemudian meratap di pintu tobat, ampunan dan kasih sayang-Nya. Bukan hamba yang merasa sempurna, tak membutuhkan apa pun dari-Nya. Atau hamba yang merasa yakin amalnya diterima oleh Allah.

Sebaliknya, hamba yang fakir, hina dina, dan suka tawasul kepada Rabb-nya agar Dia ampuni, dan terima amalnya dengan segala kekurangan dan kelalaiannya.

Al-Hafidz Ibn Jauzi berkata, “Titah-Nya agar kita meminta ampunan pada malam Lailatulqadar setelah bersungguh-sungguh berjuang di malam itu dan sepuluh hari terakhir. (Karena) orang arif akan sadar, setelah dia bekerja keras lalu dia melihat ternyata mendapati amalnya, ucapan, dan hal ihwalnya belum layak, maka dia pun kembali meminta ampunan, sebagaimana seorang pendosa yang melakukan kelalaian.”

Karena itu, memohon ampunan dengan doa seperti ini merupakan kebaikan dunia dan akhirat.

Maka, hadirkankah makna ini saat Anda berdoa dengan doa ini. Dengan harapan, Zat yang Maha Agung dan Pengampun itu berkenan mengampuni dosa kita. Menutupi aib kita dan kekurangan dalam ketaatan kita, serta meninggikan derajat kita.

Perhatikanlah, bagaimana Nabi menangis sepanjang malam ketika mengisi malam-malam sepuluh hari terakhirnya, baik saat di rumah maupun saat peperangan.

Bayangkan, Nabi yang maksum masih memohon ampun kepada Allah hingga menangis begitu rupa hingga air matanya banjir. Begitulah seharusnya kita.

Maka, ulama salaf begitu peduli dengan sepuluh hari terakhir bulan Ramadan ini. Demi menyambutnya, mereka pun mandi tiap malam sebagaimana yang dilakukan Imam an-Nakha’i. Begitu juga Ayyub as-Sakhtiyani mandi pada malam 23 dan 24, lalu memakai baju baru dan wewangian.

Anas bin Malik juga diriwayatkan melakukan hal yang sama pada malam 24. Mandi, memakai kain dan sorban. Tsabit al-Banani dan Humaid at-Thawil juga memakai pakaian terbaiknya, memakai wangi-wangian.

Tsabit mengatakan, sahabat Nabi, Tamim ad-Dari mempunyai jubah yang dibeli seharga 1.000 Dinar, yang dipakai hanya saat malam yang diharapkan Lailatulqadar datang saat itu.

Begitulah mereka menyambut Lailatulqadar dan mengisinya dengan munajat, memohon ampunan kepada Allah Swt.. Ya Rabb, anugerahkanlah hamba ampunan. Anugerahkanlah hamba Lailatulqadar. Aamiin. [MNews/Nsy-Gz]

Tinggalkan Balasan