Editorial: Moderasi Beragama, Solusi Problem Utama Bangsa (?)

MuslimahNews.com, EDITORIAL — Hingga hari ini, topik moderasi beragama (baca: moderasi Islam) masih saja mengarus di berbagai forum dan media massa. Berbagai simposium, seminar, dan pidato para pejabat masih mengangkat narasi ini dengan berbagai pendekatan.

Tekad presiden untuk menjadikan Indonesia sebagai “poros moderasi Islam dunia” yang disampaikan pada KTT Islam tiga tahun lalu tampaknya memang tak main-main. Terbukti, proyek moderasi beragama ini masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2020—2024.

Bahkan, baru-baru ini Menag menyatakan bahwa tahun 2021 harus menjadi tahun implementasi moderasi beragama di Indonesia. Oleh karena itu, pihaknya sudah siap meluncurkan Peta Jalan Moderasi Beragama yang telah disusun tim pokja khusus agar proyek ini berjalan sesuai yang diharapkan.

Peta jalan ini rencananya tak hanya untuk diimplementasikan di Kemenag saja, tapi juga untuk kementerian/lembaga serta institusi lainnya. Karenanya, saat ini Kemenag sedang mendorong terbitnya Peraturan Presiden yang akan menjadi payung hukum, sekaligus menjadi panduan bersama untuk menyukseskan moderasi beragama.


SELAMA dua tahun terakhir ini, narasi moderasi beragama memang begitu gencar diaruskan, bersamaan dengan proyek-proyek liberalisasi ekonomi yang juga gencar dilakukan.

Demi sukses moderasi, pihak pemerintah—khususnya Kemenag—telah melakukan berbagai langkah, mulai dari riset-riset, diklat-diklat, training for trainer, sosialisasi konten di berbagai kanal medsos, deteksi dini konflik keagamaan, hingga memasifkan agenda-agenda dialog antaragama di berbagai level.

Tak hanya itu, proyek moderasi juga diimplementasikan dalam bentuk perubahan kurikulum pesantren dan madrasah. Terutama untuk kajian fikih dan sejarah, yang selama ini dipandang mengajarkan Islam garis keras. Buku-buku yang mengajarkan Islam kafah, termasuk jihad dan Khilafah, pun disensor sudah.

Sehingga, jika diperhatikan, proyek ini memang menyasar semua lini massa. Mulai dari kalangan pejabat dan pegawai pemerintah/BUMN, termasuk para guru dan para dosen, mahasiswa dan para pelajar, para ulama, ustaz dan ustazah, bahkan hingga majelis-majelis taklim yang isinya ibu-ibu rumah tangga. Bahkan untuk ASN, pemerintah khususnya Kemenag sudah melakukan “pembersihan” mereka-mereka yang diduga terpapar ideologi radikal.

Tentu semua ini membutuhkan usaha yang luar biasa. Namun, itulah bentuk keseriusan pemerintah menyukseskan proyek primadona pembangunan kabinet jilid dua ini.

Baca juga:  [Diskusi WAG] Keluarga Moderat= Sakinah Mawaddah wa Rahmah?

Sebagai bentuk keseriusannya, Kemenag pun siap melahirkan instruktur nasional moderasi beragama. Sehingga kelak di Indonesia akan ada para master, fasilitator, maupun narasumber khusus moderasi beragama. Selain itu, juga akan menyiapkan kantor sekretariat pokja yang khusus mengurus Moderasi Beragama Kementerian Agama.


BEGITU istimewanya proyek moderasi beragama, khususnya moderasi Islam bagi pemerintahan sekarang. Proyek ini terus digadang-gadang bisa menjadi solusi problem utama bangsa. Bahkan dipandang amat penting bagi kemajuan Islam dan juga dunia secara keseluruhan.

Masalahnya, apa yang dibaca sebagai problem utama bangsa tak lain adalah sikap intoleransi dan radikalisme beragama yang terus menerus ditudingkan kepada Islam. Kedua sikap ini dianggap sebagai akar perpecahan bangsa, sekaligus memicu munculnya aksi-aksi teror atas nama Islam yang mencederai ketenteraman dan persatuan.

Pertanyaannya, benarkah intoleransi dan radikalisme adalah problem utama bangsa hingga pembangunan harus fokus pada moderasi beragama? Jika pun kasus-kasus intoleransi, radikalisme, dan teror memang ada, haruskah Islam kafah yang dipersalahkan hingga harus menjadi korban proyek moderasi beragama?

Dengan berpikir jujur dan objektif, maka akan tampak bahwa problem utama bangsa ini sejatinya bukan intoleransi, radikalisme, dan terorisme sebagaimana yang ditudingkan. Selain kasuistik, fakta-fakta itu nyatanya hanyalah satu cabang dari masalah besar berupa penerapan sistem sekuler kapitalis neoliberal.

Sistem ini jelas-jelas telah memproduksi berbagai keburukan di berbagai aspek kehidupan. Termasuk munculnya ketakadilan, krisis ekonomi, krisis moral, krisis politik, dan krisis hukum yang memperlemah posisi kekuasaan. Dampak lanjutannya, kondisi inilah yang memberi ruang lebar bagi munculnya aksi-aksi melawan kemapanan dan pemikiran anti kekuasaan.

Itu pun kalau konklusi keberadaan kelompok radikal itu benar. Karena tak sedikit yang berkeyakinan bahwa semua narasi tentang terorisme dan radikalisme Islam itu hanyalah bagian dari konspirasi global.

Maklum, bangkitnya gagasan Islam politik atau Islam ideologis yang menyodorkan solusi Islam atas problem keterpurukan dunia, nyatanya telah menjadi lonceng kematian bagi hegemoni kapitalisme global. Islam politik atau Islam ideologis memang satu-satunya ideologi yang bisa menghancurkan dominasi penjajahan kapitalisme atas dunia.

Baca juga:  [News] Moderasi Beragama Kebutuhan Dunia Global?

AS sebagai kampiunnya, menggagas narasi kebangkitan monster teroris internasional demi melegitimasi gerakan global war on terrorism yang diikuti semua negara di dunia. Lalu dilanjut sekuelnya, yakni gerakan global war on radicalism.

Lalu berdasar riset panjang lembaga think tank-nya, dimunculkanlah proyek-proyek memoderasi Islam yang include dengan deradikalisasi sekaligus deideologisasi Islam. Dengan cara itu, AS bisa mengamankan posisinya sekaligus menancapkan kuku imperialismenya atas dunia dalam waktu yang lebih panjang.


BAGI umat Islam, moderasi beragama tentu tak bisa dianggap biasa-biasa. Selain ada sisi politis yakni kepentingan melanggengkan penjajahan, narasi ini pun nyatanya telah menyasar hal-hal yang sangat prinsip dalam Islam.

Penanaman nilai-nilai toleransi berbasis paham sekularisme, pluralisme, dan relativisme atas nama moderasi misalnya, jelas-jelas telah membuat ajaran Islam terkebiri dari jati dirinya yang asli, yakni sebagai petunjuk dan solusi problem hidup, bukan hanya untuk umat Islam sendiri, tapi umat manusia secara keseluruhan.

Terlebih, moderasi Islam pun sering disebut-sebut ingin mengembalikan jati diri Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin. Tapi nyatanya, moderasi telah menjadikan Islam sebagai agama yang kehilangan power untuk mewujudkan rahmat bagi seluruh alam itu sendiri. Karena sejatinya, kerahmatan itu justru akan mewujud saat syariat Islam diterapkan secara sempurna, bukan malah dimandulkan!

Bukankah Allah Swt. telah menegaskan dengan firman-Nya,

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

“Dan tidaklah Kami mengutusmu (Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.” (QS Al-Anbiya : 107)

Jelas bahwa kerahmatan terkait dengan adanya risalah Nabi Muhammad saw. Sedangkan risalah Islam, adalah seluruh ajaran yang dibawanya, yakni seluruh isi Al-Qur’an dan seluruh sunah beliau saw. Yakni, seluruh perbuatannya, perkataannya, maupun legitimasinya atas perbuatan sahabat yang dilakukan atas sepengetahuannya, mulai dari urusan bangun tidur, hingga urusan bangun negara, dan hubungan mancanegara.

Kemudian semua ajaran itu diterapkan oleh para sahabat sepeninggalnya, dan terus dilanjutkan generasi-generasi terbaik setelahnya. Hingga Islam benar-benar mewujud dalam kehidupan, dan masyarakat Islam pun tampil sebagai entitas yang memiliki berbagai keistimewaan tersebab syariat Allah yang ditegakkan secara keseluruhan.

Baca juga:  Pengarusutamaan Moderasi Beragama, Penguatan Liberalisme Mengalihkan Problem Hakiki Bangsa

Hal ini terus berjalan dari masa ke masa, dan dengan segala kebaikannya, Islam menyebar ke seluruh alam. Hingga ada saat di mana musuh-musuh peradaban Islam melakukan berbagai rekayasa serangan pemikiran, dan akhirnya Islam politik mulai lemah dipahami umat Islam. Bahkan di 14 abad setelahnya, yakni di tahun 1924, umat Islam kehilangan institusi politiknya yakni Khilafah Islamiyah.

Justru setelah itulah kehidupan umat Islam dikuasai kegelapan. Sistem sekuler kapitalis neoliberal mulai mencengkeram kehidupan umat Islam lebih dalam, hingga segala yang mereka miliki lambat laun hilang. Nyawa, harta kekayaan, kehormatan, dan kemuliaan raib di tangan kafir penjajah.

Kaum kafir ini terus berusaha memastikan, agar umat tetap dalam kondisi demikian. Sehingga tatkala ada suara-suara kebangkitan dan dakwah politik yang membuat umat menengok kembali ajarannya yang hakiki, kaum kafir dan anteknya bersegera membuat perlawanan.

Mereka tak ingin umat ini menemukan jati diri Islam. Mereka jauhkan umat dari pemahaman Islam yang benar. Mereka rekayasa Islam agar sesuai nilai-nilai Barat dan ramah terhadapnya. Mereka sibukkan umat dan penguasanya dengan berbagai proyek yang menutup agenda liberalisasi dan penjajahan.

Umat dipaksa berpikir dengan kacamata mereka. Hingga lemah dalam membaca akar masalah, apalagi berpikir tentang solusinya. Bahkan, umat digiring memusuhi sesamanya dan meminta obat penawar masalah pada musuh yang justru menjadi penyebabnya.


MAKA, hingga kapan umat dibodoh-bodohi sedemikian parah? Padahal, semua kunci-kunci kebaikan dan jalan keluar masalah hidup ada pada agama mereka! Yakni Islam ideologi yang begitu sempurna.

Semoga umat segera sadar, bahwa kemuliaan mereka sejatinya hanya ada pada Islam. Meski tantangan dakwah makin berat, namun semoga para pengemban dakwahnya diberi kesabaran dan keistikamahan. Dan semoga pula semua perjuangan ini akan berujung pada kemenangan.

Dari Abu Hurairah ra, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

“Islam datang dalam keadaan yang asing, akan kembali pula dalam keadaan asing. Sungguh beruntunglah orang yang asing.” (HR Muslim no. 145) [MNews/SNA]

Tinggalkan Balasan