Tanda-Tanda Takwa


Penulis: Arief B. Iskandar


MuslimahNews.com, TSAQAFAH — Ramadan akan segera meninggalkan kita. Suasana Idulfitri pun akan segera kita rasakan. Dalam hal ini, kita tentu penting merenungi: Sukseskah puasa Ramadan kita selama ini? Berhasilkah kita mewujudkan takwa sebagai “buah” dari puasa Ramadan yang telah kita jalani? Pantaskah kita nanti merayakan Hari Kemenangan, yakni Idulfitri? Menangkah kita dalam melawan hawa nafsu dan godaan setan selama Ramadan, juga selepas Idulfitri?

Jika jawabannya ya, tentu itu yang kita harapkan. Namun, jika jawabannya tidak, tentu puasa Ramadan kita yang selama ini sia-sia belaka. Kita pun sesungguhnya tak layak merayakan Hari Kemenangan ‘Idulfitri’.

Sebabnya, sebagaimana dinyatakan oleh sebagian ulama, “Laysa al-‘id li man labisa al-jadid walakin al-‘id li man takwahu yazid (Idulfitri bukanlah milik orang yang mengenakan segala sesuatu yang serba baru. Namun, Idulfitri adalah milik orang yang ketakwaannya bertambah).”

Pertanyaannya: Apakah ketakwaan kita bertambah selepas puasa Ramadan dan Idulfitri? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita tentu mesti mengetahui hakikat takwa sekaligus tanda-tanda (ciri-ciri)-nya.

Siapa Orang Bertakwa?

Imam ath-Thabari saat menafsirkan QS Al-Baqarah ayat 2, mengutip sejumlah pernyataan tentang hakikat orang-orang bertakwa. Al-Hasan, misalnya, menyatakan, “Orang-orang bertakwa adalah mereka yang takut terhadap perkara apa saja yang Allah haramkan atas mereka dan melaksanakan apa saja kewajiban yang Allah titahkan atas mereka.”

Baca juga:  Ramadan Bulan Mewujudkan Dua Junnah

Ibn Abbas berkata, “Orang-orang bertakwa adalah orang-orang yang khawatir terhadap azab Allah ‘Azza wa Jalla jika meninggalkan petunjuk-Nya yang telah mereka ketahui dan berharap pada rahmat-Nya dengan membenarkan apa saja yang datang kepada dirinya (berupa Al-Qur’an, pen.).”

Ibn Mas’ud menuturkan dari sekelompok sahabat Nabi saw. bahwa orang-orang yang bertakwa dalah orang-orang mukmin.

Abu Bakr ‘Ayyas berkata, “Orang-orang bertakwa adalah mereka yang menjauhi dosa-dosa besar.” Demikian pula disepakati oleh Al-A’masyi.

Qatadah berkata, “Orang-orang bertakwa adalah mereka yang disifati dengan sifat—sebagaimana dalam ayat berikutnya, pen.—yaitu: orang yang mengimani perkara gaib, menegakkan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang telah Allah limpahkan kepada mereka.”

Ibn Abbas juga menyatakan bahwa orang-orang bertakwa adalah mereka yang takut menyekutukan Allah Swt. dan mengamalkan apa saja yang telah Allah Swt. wajibkan atas mereka (Lihat: Ath-Thabari,  Jami’ al-Bayan li Ta’wil al-Qur’an, I/232-233).

Al-Qur’an pun banyak mengungkap ciri orang-orang yang bertakwa, di antaranya sebagaimana dinyatakan dalam QS Al-Baqarah ayat 3—5. Demikian juga dalam Hadis. Begitu pun yang dinyatakan oleh para Sahabat dan banyak ulama dari generasi salafushshalih. Di antaranya adalah yang dinyatakan oleh Al-Hasan.

Baca juga:  [Ramadan Sedunia] Ramadan di Rusia, Pesatnya Pertumbuhan Muslim di Negeri Beruang Putih

Al-Hasan berkata, “Orang bertakwa memiliki sejumlah tanda yang dapat diketahui, yakni: jujur/benar dalam berbicara; senantiasa menunaikan amanah; selalu memenuhi janji; rendah hati dan tidak sombong; senantiasa memelihara silaturahmi; selalu menyayangi orang-orang lemah/miskin; memelihara diri dari kaum wanita; berakhlak baik; memiliki ilmu yang luas; senantiasa bertakarub kepada Allah.” (Ibn Abi ad-Dunya, Al-Hilm, I/32)

Terkait jujur dalam bicara, senantiasa menunaikan amanah dan selalu memenuhi janji, Rasulullah saw. pernah bersabda, “Ada empat perkara yang siapa saja termasuk di dalamnya maka dia benar-benar orang munafik, meski ia salat atau puasa dan mengklaim dirinya muslim. Jika ia memiliki satu saja dari empat perkara tersebut maka ia memiliki salah satu tanda kemunafikan hingga ia meninggalkannya: Jika ia berbicara, ia berdusta; jika berjanji, ia ingkari; jika diberi amanah, ia khianati; jika ia membuat kesepakatan, ia langgar sendiri.” (Al-Ghazali, Al-Ihya’, III/272).

Terkait takwa pula, Wahab bin Kisan bertutur bahwa Zubair ibn al-Awwam pernah menulis surat yang berisi nasihat untuk dirinya. Di dalam surat itu dinyatakan, “Amma ba’du. Sesungguhnya orang bertakwa itu memiliki sejumlah tanda yang diketahui oleh orang lain maupun dirinya sendiri, yakni: sabar dalam menanggung derita, rida terhadap qadha’, mensyukuri nikmat, dan merendahkan diri (tunduk) di hadapan hukum-hukum Al-Qur’an.” (Ibn al-Jauzi, Shifat ash-Shafwah, I/170; Abu Nu’aim al-Asbahani, Hilyah Awliya’, I/177).

Baca juga:  Maksud Hadis "Setan Dibelenggu pada Bulan Ramadan"

Muhammad bin Husain berkata bahwa Abu al-Husain juga pernah menyatakan, “Seorang mukmin (yang bertakwa) itu memiliki empat tanda: kata-katanya adalah zikir; diamnya adalah tafakur; pandangannya adalah ibrah; dan ilmunya adalah kebaikan.” (Abu Nu’aim al-Asbahani, Hilyah Awliya’, IV/354).

Semoga kita benar-benar menjadi orang bertakwa, lengkap dengan segala atribut dan tanda-tanda (ciri-ciri)-nya. Wa ma tawfiqi illa bilLah. [MNews/Rgl]

Tinggalkan Balasan