Ramadan di Jerman, Kumandang Azan Membahana

Masa pandemi ini membawa berkah bagi muslim Jerman. Pemerintah Jerman mengizinkan azan dikumandangkan melalui pengeras suara selama bulan Ramadan.


MuslimahNews.com, RAMADAN SEDUNIA — Di Jerman, terdapat sekitar 3,5 juta muslim yang mayoritas merupakan pendatang. Sementara penduduk asli Jerman mencapai 600 ribu orang.

Dengan banyaknya warga muslim,  Jerman menjadi negara berpenduduk muslim terbesar kedua setelah Prancis. Namun, muslim di Jerman tetaplah minoritas, sehingga suasana Ramadan di Jerman tidak seperti di negara muslim.

Durasi puasa di Jerman bisa mencapai 19 jam, ini merupakan durasi yang sangat panjang. Maka para orang tua biasanya memberikan hadiah berupa kurma berlapis coklat bagi anak-anak yang belajar berpuasa.

Kurma coklat  diletakkan di dalam kotak. Setiap kotak disertai tanggal, mulai hari pertama Ramadan hingga Idulfitri. Anak yang berhasil menjalankan puasa sehari penuh akan berhak mendapatkan hadiah yang legit ini tersebut.

Selain kurma coklat, di Jerman ada tradisi Kleinmarkthalle, yaitu sebuah pasar tradisional di Frankfurt yang menyediakan kue-kue manis dan berbagai macam olahan kurma. Kuliner ini biasanya dinikmati saat berbuka. Di Jerman, kurma diolah menjadi makrout, juga disisipi aneka isian, mulai kacang hingga krim jeruk.

Baca juga:  [Ramadan Sedunia] Ramadan di Bosnia, Wangi Pitaljka dan Maktab yang Dicintai

Aktivitas Ramadan di Jerman berpusat di masjid, salah satunya adalah Masjid Indonesia Frankfurt yang sering menggelar buka puasa bersama. Biasanya, setelah berbuka dengan kurma dan segelas teh hangat, kegiatan di masjid dilanjutkan dengan salat magrib berjamaah. Lalu, disajikan Harira, sup khas Maroko yang terbuat dari kombinasi kacang-kacangan dengan daging kambing atau sapi.

Menu makan malam terdiri dari kuliner khas Timur Tengah seperti sellou (kue-kue kecil terbuat dari wijen dan kacang almond) serta msemen, semacam pancake, yang kemudian disajikan dengan madu atau diisi dengan daging giling.

Masa pandemi ini membawa berkah bagi muslim Jerman. Pemerintah Jerman mengizinkan azan dikumandangkan melalui pengeras suara selama bulan Ramadan. Hal ini tentu disambut gembira oleh umat Islam di sana. Penggunaan pengeras untuk azan dulu merupakan hal yang terlarang di Jerman, kecuali pada acara-acara khusus.

Sebagaimana di negara Eropa lainnya, muslim di Jerman mengalami pertumbuhan yang pesat. Sebagian besar dari mereka tinggal di Ibu Kota Berlin dan kota-kota besar bekas Jerman Barat. Komunitas Muslim besar juga ada di beberapa pedesaan seperti di Baden-Württemberg, Hesse, Bavaria, dan Rhine-Westphalia Utara.

Sejarah Jerman memiliki kaitan yang erat dengan umat Islam. Muslim pertama kali migrasi ke Jerman sebagai bagian dari hubungan bilateral antara Jerman dan Khilafah Utsmaniyah pada abad ke-18. Pada tahun 1745, Frederick II dari Prusia mendirikan sebuah unit muslim dalam tentara Prusia yang disebut “Penunggang Muslim”. Anggota unit ini mayoritas berasal dari Bosnia, Albania, dan Tatar.

Baca juga:  Ramadan di Jepang, Mendulang Yen dengan Wisata Halal

Masjid pertama di Jerman dibangun pada tahun 1915. Setelah Perang Dunia I, ada 3.000 muslim di Jerman. Pada tahun 1961, Pemerintah Jerman Barat mengundang pekerja asing (“Gastarbeiter”) dan jumlah muslim meningkat tajam menjadi 4,3 juta dalam dua dekade.

Demikianlah Jerman di masa lampau memiliki hubungan yang erat dengan umat Islam. Kini muslim bisa tinggal di sana meski dengan berbagai batasan. Kelak, umat Islam di sana dan seluruh dunia akan lebih terpenuhi haknya ketika ada institusi politik global yaitu Khilafah yang melindungi mereka. [MNews/Rgl]

Tinggalkan Balasan