[News] Penerapan Al-Qur’an (Justru) Solusi Keragaman

MuslimahNews.com, NASIONAL — Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas mengajak seluruh umat Islam untuk kembali menerapkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan berbangsa, terutama untuk menyikapi keragaman yang ada.

“Peringatan Nuzulul Qur’an yang jatuh tepat di bulan Ramadan adalah bagian penting dari keislaman kita, Nuzulul Qur’an adalah momentum untuk terus mendekatkan diri dengan Al-Qur’an, meneladani spirit Al-Qur’an dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia,” tuturnya sebagaimana dirilis dari laman resmi Kemenag (30/4/2021).

Menurutnya, di dalam Al-Qur’an terdapat petunjuk bagaimana seorang muslim bersikap dalam kehidupan bermasyarakat di antaranya dalam menyikapi keragaman sebagai sebuah sunatullah. “Keragaman di dalam Al-Qur’an disinggung dalam surah Al-Hujurat ayat 13,” ujarnya.

Keragaman merupakan sebuah keniscayaan. Indonesia sebagai negara majemuk harus saling menghargai dan menghormati satu sama lain. “Indonesia satu di antara bangsa yang dianugerahi keragaman, dari Sabang sampai Merauke berjajar ragam budaya yang menyajikan keindahan harmoni bangsa,” katanya.

Keragaman adalah Fitrah

Mengutip dari media Kaffah, Islam adalah agama yang mulia. Islam memosisikan keragaman bahasa dan warna kulit sebagai fitrah alami manusia. Keragaman sekaligus membuktikan kekuasaan Allah Swt..

وَمِنْ آيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافُ أَلْسِنَتِكُمْ وَأَلْوَانِكُمْ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّلْعَالِمِينَ

Baca juga:  Ustaz MIY: Pluralisme Agama, Kerusakan Luar Biasa

“Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan langit dan bumi serta ragam bahasa dan warna kulit kalian. Sungguh pada yang demikian benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.” (QS Ar-Rum: 22)

Di Kaffah juga disebutkan penjelasan Imam as-Suyuthi bahwa segala ciptaan-Nya ini sebagai petunjuk bagi orang yang mempunyai akal dan ilmu. Bahkan, Islam juga memandang keberagaman suku-bangsa sebagai sarana untuk saling mengenal. Sesuai firman-Nya,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Hai manusia! Sungguh Kami telah menciptakan kalian dari laki-laki dan perempuan. Kemudian Kami menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal. Sungguh yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Mahatahu lagi Mahateliti.” (QS Al-Hujurat: 13)

Media ini juga menyoroti Rasulullah saw. dalam berbagai sabdanya mempertegas bahwa kemuliaan seseorang bukan ditentukan oleh warna kulit maupun suku bangsa, tetapi ditentukan oleh ketakwaannya kepada Allah Swt..

Pesan Rasulullah saw. saat Haji Wada’ menarik untuk diperhatikan. Beliau menyampaikan pesannya saat tiba di Namirah, sebuah desa sebelah timur Arafah. Di depan ribuan jemaah haji, beliau antara lain bersabda,

Baca juga:  Dakwah Ramah untuk Halau Radikalisme?

“Sungguh ayahmu satu. Semua kalian berasal dari Adam. Adam diciptakan dari tanah. Tiada kelebihan orang Arab atas non-Arab. Tiada kelebihan non-Arab atas orang Arab kecuali karena ketakwaan. Tiada pula kelebihan orang putih atas orang hitam. Tiada kelebihan orang hitam atas orang putih kecuali karena ketakwaan.”

Khilafah Menyatukan Keragaman

Dalam Kaffah dipaparkan dalam perjalanan sejarahnya, Islam saat diterapkan dalam sistem Khilafah, terbukti berhasil menyatukan manusia dari berbagai ras, warna kulit dan suku-bangsa hampir 2/3 dunia selama lebih dari sepuluh abad. “Hal ini tak mampu dilakukan oleh ideologi lain,” jelasnya

Wilayah-wilayah yang dibebaskan oleh Khilafah Islam diperlakukan secara adil. Mereka tidak dieksploitasi seperti yang dilakukan oleh negara-negara imperialis pengemban peradaban demokrasi-kapitalisme.

“Dakwah Islam oleh Khilafah dilakukan tanpa memaksa nonmuslim untuk memeluk Islam. Islam hadir untuk memberikan rahmat untuk alam semesta, bukan hanya manusia. Islam mampu menyatukan umat manusia dari berbagai ras, warna kulit, suku bangsa, maupun latar belakang agama menjadi sebuah masyarakat yang khas. Semua itu terwujud dalam suatu naungan sistem Khilafah Islam,” terangnya.

Media ini mempertegas melalui sejarawan Barat Will Durant dalam bukunya berjudul The Story of Civilization,

“Islam telah menguasai hati ratusan bangsa di negeri-negeri yang terbentang mulai dari Cina, Indonesia, India hingga Persia, Syam, Jazirah Arab, Mesir bahkan hingga Maroko dan Spanyol. Islam telah mewujudkan kejayaan dan kemuliaan bagi mereka sehingga jumlah orang yang memeluk dan berpegang teguh pada Islam pada saat ini (1926) sekitar 350 juta jiwa. Islam telah menyatukan mereka dan melunakkan hati mereka walaupun ada perbedaan pendapat maupun latar belakang politik di antara mereka.” [MNews/Ruh]

Tinggalkan Balasan