Ramadan di Yunani, Perjuangan Mendirikan Sebuah Masjid

MuslimahNews.com, RAMADAN SEDUNIA — Ada sekitar 660 ribu muslim di Yunani. Mereka termasuk minoritas di antara populasi Yunani yang berjumlah 10 juta jiwa.

Meski mayoritas warga Yunani beragama Kristen Ortodoks, nuansa Ramadan tetap terasa di kawasan yang didiami komunitas muslim. Di pusat kota Athena, terutama kawasan Kolonos, Metaxourgeio, kita bisa menyaksikan suasana yang berbeda selama Ramadan. Toko dan kedai kopi dihiasi dengan lentera tradisional khas Ramadan yang biasa disebut Fanoos.

Muslim Yunani berasal dari etnis yang berbeda, yaitu Turki, Pomaks, Roma, dan muslim Yunani. Imigran muslim di Yunani kebanyakan berasal dari Palestina. Sejak 1990, imigran muslim yang datang ke Yunani makin meningkat jumlahnya. Selain dari Palestina, imigran tersebut juga berasal dari Albania, Timur Tengah, Pakistan, India, dan Bangladesh

Muslim Yunani senantiasa menjadi komunitas yang termarginalkan dan kerap diabaikan pemerintah. Tiga ratus ribu muslim yang bermukim di Athena selama puluhan tahun tidak diizinkan memiliki sebuah masjid. Mereka terpaksa beribadah di ruang-ruang bawah tanah tanpa udara dan jendela atau gudang-gudang yang telah disulap menjadi masjid.

Jika ingin ke masjid, muslim Athena harus menempuh perjalanan ke Thrace yang berjarak 700 kilometer dari Athena. Thrace merupakan wilayah di utara Yunani yang berbatasan dengan Turki dan dihuni 150 ribu muslim Turki. Di sana terdapat masjid-masjid peninggalan Utsmaniyah.

Baca juga:  Ramadan di Sudan, "Begal Ramadan" di Negeri Dua Nil

Sebenarnya terdapat juga masjid-masjid peninggalan Utsmaniyah di Athena, seperti yang berada di alun-alun pusat monastiraki. Namun masjid tersebut telah diubah menjadi museum dan tidak boleh difungsikan sebagai masjid.

Dulu, selama berabad-abad, Yunani masuk dalam wilayah kekuasaan Khilafah Utsmaniyah. Setelah keruntuhan Utsmaniyah, penguasa Yunani berupaya menghapus jejak Islam di Yunani. Saat itu, kaum muslim yang jumlahnya mencapai 97 persen dari penduduk Yunani yang berjumlah sekitar 11 juta orang dibaptis menjadi Kristen Ortodoks.

Sejak itu, Islamofobia terasa di Yunani. Kaum muslim menghadapi rasisme dan terkadang bahkan kekerasan oleh militan neo-Nazi. Meski secara umum warga muslim dan Kristen bisa hidup berdampingan secara damai. Mereka juga tidak diizinkan memiliki pemakaman muslim.

Mendirikan masjid resmi di Athena merupakan hal yang sulit dan harus melalui prosedur rumit. Sehingga warga muslim Athena berinisiatif mendirikan masjid yang tak resmi, yaitu Masjid Al Jabbar yang terletak di kawasan perbelanjaan Athena sejak 2017.

Alhamdulillah pada 3 November 2020 akhirnya muslim Athena memiliki sebuah masjid yang resmi. Masjid itu diberi nama Votanikos atau Athens New Mosque.

Perjuangan mendirikan masjid di Athena telah dimulai sejak tahun 1979. Namun akibat pertentangan dari Gereja Ortodoks Yunani, izin pembangunan masjid baru turun tahun 2006. Pembangunan masjid pun sempat tersendat hingga 14 tahun hingga akhirnya terealisasi pada 2020.

Baca juga:  [Ramadan Sedunia] Ramadan di Vietnam, Tali Darah Muslim Boyan dan Bawean

Alotnya pembangunan masjid karena  pengaruh dari Gereja Ortodoks Yunani. Mereka tidak siap menerima masjid di tengah negara Yunani yang Kristen Ortodoks.

Penolakan juga datang dari wali kota dan penduduk setempat. Mereka mengklaim, masjid akan menjadi salah satu bangunan yang pertama kali terlihat dari bandara, sehingga merusak citra dan karakter Yunani sebagai mayoritas Ortodoks.

Sulitnya pembangunan masjid dan pemakaman di Athena merupakan akibat penerapan Perjanjian Lausanne, yaitu perjanjian antara Turki dan Yunani pasca runtuhnya Khilafah Utsmaniyah.

Menurut perjanjian tersebut, kaum muslim Yunani Epirus, Yunani Makedonia, dan Yunani Utara diharuskan untuk pindah ke Turki. Sementara orang-orang Kristen yang tinggal di Turki diharuskan untuk pindah ke Yunani.

Adapun komunitas Muslim Thrace Barat dan Kristen dari Istanbul dan pulau-pulau dari Gokceada dan Bozcaada (Imvros dan Tenedos) adalah satu-satunya populasi yang tidak dipertukarkan. Akibatnya, Pemerintah Yunani tidak mengakui keberadaan minoritas Turki di Yunani Utara, termasuk Athena.

Umat Islam di bagian lain di negara tersebut terpaksa harus ke Thrace untuk mendapatkan pengakuan negara dalam urusan pernikahan dan pemakaman. Satu-satunya pemakaman Muslim terletak di Thrace Barat. Ini merupakan kebijakan yang menyulitkan bagi kaum muslim Yunani.

Baca juga:  [Ramadan Sedunia] Ramadan di Cina, Berusaha Taat meski Tekanan Makin Kuat

Semoga perjuangan kaum muslim Yunani untuk mendapatkan hak-haknya segera meraih keberhasilan. Semoga Khilafah Islam kelak mampu mengembalikan Yunani ke pangkuan Islam dan mengembalikan fungsi masjid yang diubah menjadi museum. [MNews/Rgl]

Tinggalkan Balasan