Menjemput Lailatulqadar “Edisi Pandemi”


Penulis: Ummu Fairuzah


MuslimahNews.com, NAFSIYAH — Menakjubkan kehidupan mukminin. Bila mendapatkan berkah dan kebaikan mereka senantiasa bersyukur, dan bila mendapat ujian mereka memilih bersabar. Ya, tahun 1442 H ini Ramadan tahun kedua umat masih menjalankan ibadah puasa dalam suasana pandemi.

Namun pandemi tak mengurangi esensi bulan Ramadan, bahkan Ramadan menjadi pelipur lara orang-orang yang beriman. Di antaranya ada malam-malam Ramadan yang lebih baik daripada seribu bulan.

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam Qadar. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Rµh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan. Sejahteralah (malam itu) sampai terbit fajar.” (TQS al Qadr: 1—5)

Menyambut Sepuluh Hari Terakhir

Bukan parcel, bukan mudik, bukan pula baju baru yang mesti dipersiapkan. Esok semoga Allah Swt. memperkenankan keluarga mukmin sampai pada sepertiga akhir bulan Ramadan tahun ini dan mempertemukan mereka dengan malam Lailatulqadar. Aamiin.

Mempersiapkannya tentu sudah sejak awal Ramadan. Bersama keluarga, menjaga stamina dan frekuensi ibadah beserta seluruh amalan nafilah di dalamnya. Namun bagi yang belum sempurna dalam mempersiapkan, tidak ada kata terlambat untuk memulai kebaikan.

Baca juga:  Membingkai Takwa dengan Islam Kafah

Di beberapa hari terakhir menjelang sepertiga akhir Ramadan, ada baiknya segera menyelesaikan berbagai tanggungan, baik tugas-tugas rumah tangga maupun tugas-tugas dakwah. Tinggalkan thulul amal atau panjang angan-angan menunda pekerjaan. Jangan lupa, libatkan anak-anak dalam mempersiapkan datangnya malam-malam penuh kemuliaan itu. Bagus untuk mereka memahami seputar malam Lailatulqadar.

Secara sederhana kita bisa sampaikan bahwa Lailatulqadar adalah malam yang istimewa, penuh berkah dan diberkahi oleh Allah Swt. Sangat istimewanya malam itu, karena ketaatan di dalamnya bernilai lebih baik berbanding masa 83 tahun 3 bulan.

Padahal, usia manusia jaman sekarang jarang yang mencapainya. Saat itu para Malaikat yang mulia beserta Jibril turun, membawa Al-Qur’an, menebar rahmat dan kedamaian hingga terbitnya Fajar (Subuh). Saat itu juga “proposal takdir” kita dari tahun ke tahun ditetapkan.

Menghidupkan Lailatulqadar

Baginda saw. bersabda, “Carilah Lailatulqadar di sepuluh malam yang terakhir di bulan Ramadan.” (HR Bukhari).

“Siapa saja yang berpuasa Ramadan karena iman dan semata-mata mengharap rida Allah, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Siapa saja yang menghidupkan Lailatulqadar karena iman dan semata-mata mengharap rida Allah, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ahmad).

Baca juga:  Ramadan dan Ketakwaan Hakiki

Maka, kita perlu menyimak bagaimana manusia paling mulia mencontohkan cara menghidupkan Lailatulqadar. Dalam hadis Abi Sa’id al-Khudri ra., dituturkan bahwa Nabi saw. telah melakukan iktikaf dan menyatakan siapa saja di antara para sahabatnya yang ingin melakukan iktikaf, hendaklah mereka tidak meninggalkan iktikafnya.

Dalam riwayat Aisyah ra. ketika telah memasuki sepuluh hari terakhir, Beliau saw. mengikat sarungnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya. Nabi saw. beserta keluarga menghidupkannya dengan salat, doa, tilawah Al-Qur’an dan ketaatan yang lainnya. Bahkan dalam riwayat lain, Rasulullah saw. telah melakukan Fathul Makkah juga pada 20 Ramadan 8 H.

Iktikaf Bersama Keluarga

Iktikaf bahkan telah menjadi tradisi. Laki-laki, perempuan, tua, muda semua meramaikan masjid. Pintu-pintu masjid yang selama ini ditutup pada malam hari, kini dibuka lebar, berbagai kegiatan digelar. Bahkan sejumlah masjid menyiapkan menu sahur bersama bagi yang beriktikaf di malam hari. Pandemi bukanlah penghalang selama protokol kesehatan tetap diperhatikan. Alangkah sayang sekali bila ananda tidak kita ajak berburu Lailatulqadar.

Ayah bunda bisa menyiapkan semua perlengkapan, mulai pakaian ganti, jaket, makanan dan minuman ringan, buku-buku islami, mushaf Al-Qur’an, sajadah, mukena, dan sarung, bisa juga bantal kecil kesayangan ananda. Pada malam-malam ganjil sepuluh hari terakhir Ramadan “rihlah” bersama keluarga di masjid. Bisa juga untuk melepas penat karena banyak di rumah selama pandemi. Yang paling inti adalah membiasakan mereka menikmati “tradisi” iktikaf.

Baca juga:  Shaum Ramadan di Tengah Badai Qawl az-Zur

Ayah bunda ajak ananda semampunya beribadah sepanjang malam beriktikaf. Ajak ananda qiyamul lail berjemaah, tadarus Al-Qur’an, mengulang dan menambah hafalan ayat, hadis, atau doa harian, berdoa dan selawat untuk kebaikan Islam dan kaum muslimin. Menengadahkan tangan seraya meminta kemenangan umat Islam, tegaknya syariat dan Khilafah. Memohon dilepaskannya seluruh umat dari kezaliman dan aniaya, dibebaskannya Al-Aqsa.

Ayah bunda bisa juga mengajak beberapa teman ananda untuk iktikaf bersama dengan ijin orang tua mereka. Lakukan halqah kids berstandar prokes bersama mereka yang telah mumayiz, membahas sirah dan tarikh Islam. Lebih bagus lagi bila orang tua teman ananda turut juga iktikaf bersama. Prinsipnya tetap kreatif dan optimis menghidupkan malam terakhir Ramadan di tengah keterbatasan dan ujian pandemi.

Bila keluarga mukmin mengetuk pintu-pintu langit pada malam kemuliaan Lailatulqadar dengan penuh kepasrahan dan tawakal maksimal, fa insya Allah kebaikan dan keberkahan yang besar akan segera menemui umat Islam ini. Aamiin Yaa Mujiibas Saailiin. [MNews/Gz]

Tinggalkan Balasan