Mengajak Anak Menghidupkan Lailatulqadar


Penulis: Nabila Ummu Anas


MuslimahNews.com, KELUARGA — Kaum muslimin bergembira dengan kehadiran bulan Ramadan. Di antara keistimewaan bulan Ramadan adalah adanya satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, Lailatulqadar.

Allah Swt. berfirman, “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam Qadar. Dan tahukah kamu apakah malam Qadar itu? Malam Qadar itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu, turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) keselamatan sampai terbit fajar.” (QS Al Qadar: 1—5)

Keluarga Muslim Bersiap untuk Bertemu Lailatulqadar

Sebuah keistimewaan jika bertemu dengan Lailatulqadar. Ibadah yang dilakukan di malam tersebut lebih baik dari seribu bulan. Setiap muslim akan berusaha bisa beribadah di malam kemuliaan ini.

Begitu besar imbalan yang akan Allah berikan kepada hamba-Nya yang menghidupkan Lailatulqadar. Rasulullah saw., bersabda, Barang siapa salat pada malam Lailatulqadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.(HR Bukhari)

Berbagai persiapan fisik dan mental dilakukan. Tidak hanya mengurangi aktivitas fisik yang melelahkan di siang hari, menjaga kesehatan, istirahat yang cukup, juga berdoa memohon kepada Allah agar dipertemukan dengan Lailatulqadar.

Baca juga:  Ramadan, Bulan Turunnya Al-Qur'an Petunjuk Kehidupan

Mengajak Anak Menghidupkan Lailatulqadar

Hendaknya orang tua tidak melupakan untuk mengajak anak-anaknya menghidupkan Lailatulqadar dengan beribadah, taqarrub ilallah.

Ibadah adalah manifestasi dari garizah tadayyun (naluri beragama). Adalah bagian dari penguatan garizah tadayyun anak dengan mengajaknya beribadah di malam Qadar. Orang tua mulai mempersiapkan dengan mengikutsertakan anak-anaknya, mulai dari mencari Lailatulqadar di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan.

Rasulullah Muhammad saw. bersabda, “Carilah Lailatulqadar pada tanggal-tanggal ganjil dari sepuluh hari akhir bulan Ramadan.” (HR Bukhari)

Anak usia prabalig dipahamkan tentang keutamaan Lailatulqadar dan beribadah di dalamnya. Seribu bulan jika dikonversi ke dalam tahun, maka sekitar delapan puluh tiga tahun. Maka, salat di malam Qadar seperti halnya melakukan salat selama delapan puluh tiga tahun, masyaallah.

Selain dari besarnya pahala yang akan didapatkan, juga dosa-dosa yang telah lalu akan diampuni oleh Allah Swt.. Doa-doa yang dipanjatkan akan dikabulkan.

Pada malam Qadar semua malaikat termasuk malaikat Jibril turun ke bumi dan mengaminkan setiap doa hamba yang menghidupkan malam Qadar. Semua dilakukan hamba dengan landasan keimanan dan mengharapkan pahala dari Allah Swt..

Meneladani Aktivitas Rasulullah saw. di Sepuluh Terakhir Ramadan

Ceritakan kepada anak bagaimana Rasulullah Muhammad saw. disaat sepuluh hari terakhir bulan Ramadan. Sebab, Nabi Muhammad saw. adalah uswah dan qudwah bagi seluruh kaum muslimin. Beliau saw. adalah teladan anak-anak muslim.

Baca juga:  Menggapai Lailatul Qadar Saat Haid atau Nifas

Dari Aisyah ra., “Rasulullah saw. sangat bersungguh-sungguh (beribadah) pada sepuluh hari terakhir (bulan ramadan), melebihi kesungguhan beribadah di selain (malam) tersebut.” (HR Muslim)

Aisyah ra. juga menuturkan, “Rasulullah saw. biasa ketika memasuki 10 Ramadan terakhir, beliau kencangkan ikat pinggang (bersungguh-sungguh dalam ibadah), menghidupkan malam-malam tersebut dengan ibadah, dan membangunkan istri-istrinya untuk beribadah.” (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Ali bin Abi Thalib ra. berkata: “Rasulullah saw.. membangunkan keluarganya dalam sepuluh hari terakhir bulan Ramadan.” (HR Turmudzi).

Anak pun mengetahui dan diajak meneladani kesungguhan Nabi Muhammad saw.. dalam beramal di sepuluh hari terakhir Ramadan.

Iktikaf dan Memperbanyak Berdoa

Mengajak anak ke masjid dan berniat iktikaf di sepuluh malam terakhir Ramadan. Iktikaf terutama di malam-malam ganjil, dengan berharap dipertemukan dengan Lailatulqadar di Rumah Allah.

Tentu dimasa pandemi hari ini, jika memungkin iktikaf maka dilakukan dengan melaksanakan protokol kesehatan.

Sebab Aisyah ra. juga berkata, “Nabi saw.. melakukan iktikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan sampai beliau meninggal. Kemudian, istri-istrinya yang melakukan iktikaf sepeninggal beliau.” (HR Bukhari-Muslim)

Dari Abdullah bin Umar ra., “Rasulullah saw. beriktikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan.“ (HR Muttafaq ‘alaih)

Baca juga:  Meraih Keutamaan Lailatul Qadar

Ummul mukminin Aisyah ra. juga pernah bertanya kepada Rasulullah saw., “Wahai Rasulullah, seandainya aku bertepatan dengan malam Lailatulqadar, doa apa yang aku katakan?” Rasulullah saw. menjawab, “Katakan, Allahumma innaKa afuwwun tuhibbul afwa fa’fu annii (Ya Allah Engkau Maha Pemaaf dan Engkau mencintai orang yang meminta maaf, karenanya maafkanlah aku.)” (HR Tirmidzi)

Memberikan pemahaman kepada anak prabalig tentang Lailatulqadar adalah bagian dari penguatan keimanannya kepada Islam. Mengajak anak menghidupkan Lailatulqadar dengan beribadah taqarrub ilallah akan menguatkan nafsiyah (pola sikap) pada anak.

Penempaan selama sebulan Ramadan dan dikuatkan pada sepuluh malam terakhir, akan sangat membantu upaya orang tua melahirkan anak yang saleh dan salihah, generasi taat, serta bertakwa. Insyaallah. [MNews/Juan]

Tinggalkan Balasan