Ramadan, Momentum Mengukuhkan Persatuan Umat


Penulis: Dedeh Wahidah Achmad


MuslimahNews.com, FOKUS — Ramadan, bulan berkah yang di dalamnya penuh kebaikan, yang akan dilimpahkan kepada orang beriman yang melakukan berbagai amal saleh.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ bersabda,

Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), ‘Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabb-nya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.'” (HR Bukhari no. 1904, 5927; dan Muslim no. 1151)

Salah satu kebaikan yang sangat terasa saat Ramadan adalah kebersamaan yang mungkin sulit terjadi di bulan lain, baik kebersamaan dengan keluarga maupun kebersamaan di tengah masyarakat.

Pada bulan Ramadan, banyak kesempatan yang bisa digunakan untuk saling bertemu, di antaranya momen sahur, buka puasa, salat fardu dan tarawih berjemaah, juga di penghujung Ramadan ada aktivitas iktikaf berburu Lailatulqadar, serta dilengkapi dengan salat sunah Idulfitri.

Saat aktivitas-aktivitas tersebut, biasanya umat Islam berkumpul dan beribadah bersama. Pertemuan mereka menampakkan kebersamaan dan persatuan. Tentu saja kita berharap persatuan yang terbentuk merupakan persatuan hakiki yang tidak akan hilang sekalipun bulan Ramadan telah berlalu.

Persatuan ini akan tetap ada bahkan mampu membangun sebuah kekuatan untuk mewujudkan umat terbaik. Karena itulah, penting untuk membahas apa sebenarnya persatuan hakiki umat Islam itu? Serta apa sajakah unsur-unsur yang harus ada?

Makna Persatuan Hakiki

Persatuan hakiki di antara umat Islam tidak terbatas waktu, tidak ditentukan tempat, juga bukan karena kesamaan suku bangsa dan keturunan. Gambaran demikian seperti yang disampaikan Rasulullah ﷺ dalam khotbah beliau ketika Haji Wada.

Beliau mengingatkan, “Hai manusia, sesungguhnya Rabb kalian itu satu. Bapak kalian juga satu. Kalian berasal dari Adam dan Adam berasal dari tanah. Yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling bertakwa kepada Allah. Tidak ada kelebihan orang Arab dari orang ajam, selain karena ketakwaan.

Baca juga:  Membingkai Takwa dengan Islam Kafah

Dalam hadis tersebut, Baginda ﷺ menyatakan bahwa umat Islam adalah satu dan memiliki kesamaan di hadapan Allah Swt., ketakwaanlah yang akan menentukan derajat seseorang.

Maka, Ramadan merupakan salah satu momen yang disediakan Allah Swt. untuk meraih derajat takwa tersebut, sebagaimana firman-Nya,

Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS Al-Baqarah: 183)

Dengan karakter takwa yang diperoleh dari amaliah Ramadan itu, semestinya seorang muslim makin mengukuhkan persaudaraan dan persatuannya dengan sesama muslim. Dia akan makin peka dengan kesulitan dan penderitaan saudaranya, seperti kepedulian yang ditunjukkannya saat Ramadan dengan memperbanyak infak, sedekah, dan membayar zakat pada sesamanya yang membutuhkan.

Iman Dasar Persatuan Hakiki

Persatuan hakiki akan kuat dan mengakar jika dasarnya kukuh. Imanlah penentu kekukuhan persatuan sesama muslim. Semestinya, persatuan itu ada ketika keimanan hadir, dan akan gugur manakala iman itu hilang. Allah Swt. berfirman,

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.” (QS Al-Hujurat: 10)

Gambaran kedekatan yang indah yang seharusnya tumbuh dalam persaudaraan sesama orang beriman ditunjukkan oleh sabda Rasulullah ﷺ,

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى.

“Perumpamaan kaum mukminin dalam cinta-mencintai, sayang-menyayangi, dan bahu-membahu, [adalah] seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuhnya sakit, maka seluruh anggota tubuhnya yang lain ikut merasakan sakit juga, dengan tidak bisa tidur dan demam.” (HR Al-Bukhari no. 6011)

Jika seruan Rasulullah ﷺ ini betul-betul dilaksanakan, tidak akan ada penderitaan muslim yang dibiarkan oleh muslim lainnya; layaknya anggota tubuh yang spontan akan merasakan demam ketika bagian tubuh yang lain sakit. Bahkan, otak akan mengirimkan sinyal agar tangan berupaya mengobati rasa sakit tersebut.

Penderitaan muslim Palestina, kesulitan muslim Suriah, ancaman dan intimidasi yang dialami muslim Uighur, juga berbagai kezaliman yang ditimpakan rezim pada aktivis dakwah dan para ulama, akan menjadi masalah yang diperhatikan seluruh muslim untuk dicari solusinya.

Bukan sebaliknya, mereka tidak peduli kepada nasib saudaranya dan hanya disibukkan dengan urusan pribadi atau kelompoknya semata.

Persatuan dalam Rangka Melaksanakan Ajaran Islam

Persatuan di antara orang beriman memiliki ikatan jelas dan tujuan tertentu, yakni dalam rangka untuk berpegang kepada tali agama Allah. Sebagaimana firman Allah Swt.,

Baca juga:  Yuk, kita Sempurnakan Saum Ramadan dengan Saum Syawal

وَٱعۡتَصِمُواْ بِحَبۡلِ ٱللَّهِ جَمِيعٗا وَلَا تَفَرَّقُواْۚ

Dan berpegang teguhlah kalian pada tali (agama) Allah seraya berjemaah, dan janganlah kamu bercerai berai.” (QS Ali Imran [3]: 103)

Dalam ayat tersebut, Allah Swt. memerintahkan pada orang beriman untuk terikat dengan ajaran Islam secara bersama-sama. Islam dilaksanakan secara berjemaah, bukan sendiri-sendiri. Persatuan itulah yang akan menguatkan orang beriman. Sebaliknya, mereka akan lemah ketika hidup bercerai-berai.

Untuk memaknai wujud berpegang teguh dalam ayat tersebut, Prof. Dr. Wahbah al-Zuhaili dalam Tafsir Al-Munîr (IV/32), mengaitkan dengan ayat selanjutnya (lihat: QS Ali Imrân [3]: 104), yakni mendakwahkan din Islam dan melakukan amar makruf nahi mungkar.

Rasulullah ﷺ memerintahkan pada seluruh muslim untuk berpegang teguh, sebagaimana dalam sabdanya,

عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ، عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

“Hendaklah kalian berdiri di atas sunahku dan sunah para khalifah yang mendapatkan petunjuk. Gigitlah oleh kalian hal tersebut dengan gigi geraham yang kuat.” (HR Ahmad, Ibn Majah, Al-Hakim, dan Al-Baihaqi)

Jadi, arah persatuan yang harus direalisasikan adalah semata untuk menjalankan Islam secara sempurna, sebagaimana dicontohkan oleh khulafaurasyidin dan para khalifah setelahnya.

Dimulai dengan kebersamaan dalam kelompok dakwah (lihat: QS Ali Imran:104) yang menyerukan Islam, mengajak kepada yang makruf, serta mencegah kemungkaran. Itulah wujud persatuan hakiki. Bukan semata berkumpul sekadar bersama-sama untuk tujuan yang semu.

Imam (Khalifah) Penjaga Persatuan Hakiki

Sudah masyhur bahwa Ramadan adalah momen untuk meraih ketakwaan. Dengan amaliah Ramadan, selayaknya seorang mukmin memiliki benteng supaya terjaga dalam ketaatan dan terlindungi dari perbuatan maksiat.

Aktivitas puasa merupakan latihan untuk senantiasa menjaga batas-batas syariat agar puasanya tidak batal dan balasan pahalanya tidak gugur disebabkan melakukan perkara yang dilarang.

Penjagaan sebulan penuh diharapkan akan memiliki pengaruh pada bulan-bulan berikutnya, sehingga dia tetap istikamah dalam ketaatan. Namun, realitas menunjukkan, tidak sedikit orang yang selepas Ramadan kembali pada kebiasaan semula, yakni melanggar dan mengabaikan rambu-rambu syariat. Berbagai maksiat terus dilakukan seolah amaliah Ramadan tiada berbekas.

Diskotek dan tempat wisata malam kembali dibuka. Selama 24 jam tempat-tempat itu memfasilitasi kemaksiatan, seperti miras, narkoba, perjudian, dan perzinaan. Tayangan TV pun berjalan seperti biasa: mengumbar aurat, campur baur laki-laki dan perempuan bukan mahram, juga tayangan pornografi dan pornoaksi yang terus disuguhkan.

Baca juga:  [Nafsiyah] Syakban di Antara Dua Bulan Mulia

Sarana kemaksiatan pun makin dekat dan mudah diakses. Hanya dengan ujung jari di layar gadget, semua bisa dikonsumsi siapa pun, termasuk anak-anak dan generasi muda.

Mengapa itu semua terjadi? Di sinilah penting untuk dipahami, bahwa menjadi takwa itu tidak bisa sendirian. Benteng yang sudah dibangun oleh individu muslim bisa goyah bahkan hancur jika berhadapan dengan kondisi masyarakat yang tidak sejalan. Terlebih banyak godaan, serangan, dan ancaman yang memang sengaja dilancarkan.

Karenanya, umat membutuhkan kehadiran benteng dan perisai hakiki yang akan melindungi mereka dari apa pun yang membahayakannya. Yakni seorang imam yang akan mengurusi setiap permasalahan mereka dengan penerapan syariat Islam secara kafah, menjaga serta melindungi mereka dari ancaman dan serangan.

Rasulullah ﷺ bersabda,
الصيام جنة من النار كجنة أحدكم من القتال

“Puasa adalah perisai dari neraka, seperti perisai salah seorang di antara kamu dari peperangan.” (HR Ahmad, An-Nasai, dan Ibnu Majah)

Rasulullah ﷺ bersabda,

إنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ، …

“Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu perisai, di mana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)nya…” (HR Al-Bukhari, Muslim, An-Nasa’i, Abu Dawud, Ahmad)

Makna “al-imamu junnah” menunjukkan pujian terhadap imam dengan tugas luar biasa sebagai pelindung rakyatnya.

Hal demikian disampaikan oleh Al-Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim,

“(Imam itu perisai) yaitu seperti as-sitr (pelindung), karena imam (khalifah) menghalangi musuh dari mencelakai umat Islam, dan mencegah antarmanusia satu dengan yang lain untuk saling mencelakai, memelihara kemurnian ajaran Islam, dan manusia berlindung di belakangnya dan mereka tunduk di bawah kekuasaannya.” Adanya pujian pada hadis tersebut menunjukkan bahwa tuntutannya bersifat wajib.

Demikianlah, Ramadan adalah kesempatan untuk menempa ketakwaan individu muslim sebagai perisai dari kemaksiatan. Mereka adalah kader-kader tangguh yang akan membangun persatuan umat dan menghadirkan perisai hakiki. Yakni lahirnya pemimpin sejati yang akan menyelesaikan seluruh urusan mereka dengan penerapan Islam secara sempurna, insyaallah. [MNews/Gz]

Tinggalkan Balasan