[Remaja] Sujud “Free Style”, Buah Kebebasan yang Kebablasan


Penulis: Asy Syifa Ummu Sidiq


MuslimahNews.com, OPINI — Ibadah adalah aktivitas yang bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Apalagi di saat bulan Ramadan seperti saat ini. Pahala melakukan ibadah dilipatgandakan. Kaum muslimin pun beramai-ramai datang ke masjid untuk melaksanakan salat tarawih, yaitu salat yang hanya dilakukan di bulan puasa saja.

Dalam beribadah, syarat dan rukunnya sudah ditetapkan. Kita tinggal mengikuti saja. Namun, bagaimana jadinya jika ada orang-orang yang sengaja melanggarnya?

Ibadah Bukan Main-Main

Seperti yang sedang viral saat ini, dikenal istilah “sujud free style“. Beberapa anak muda terekam kamera melakukan sujud dengan kaki ke atas saat salat. Adegan ini konon katanya terpengaruh oleh gerakan di Game Free Fire. Selain bisa membahayakan diri sendiri dan sangat mengganggu masyarakat, tentu termasuk pelecehan terhadap ibadah.

Mengapa bisa terjadi?

Sebenarnya kejadian ini tak lepas dari pola pendidikan. Ibadah harusnya merupakan aktivitas sakral bagi umat beragama. Khususnya kaum muslimin, sebagai bentuk ketundukan dan pasrah kepada Allah Swt. Terutama saat sujud, menurut Ketua Majelis Dakwah dan Pendidikan Islam (Madani) Ainul Yaqin, sujud adalah bagian gerakan salat yang merendah dan menghamba pada Allah Swt.. Jadi, tidak bisa dibuat permainan atau sebatas “guyonan”. (sindonews.com, 27/4/21)

Baca juga:  "Disertasi Sampah" dan Bahaya Logika Mantik dalam Pengambilan Hukum

Buah Pemikiran Liberal

Game online adalah salah satu permainan yang menggunakan kecanggihan teknologi. Tidak bisa dimungkiri, ternyata isi game tergantung pada siapa yang membuatnya. Jika yang membuat adalah seorang yang taat, game yang dihasilkan pun akan bermanfaat. Begitu pula sebaliknya, jika pembuatnya meyakini kebebasan berekspresi, akan dihasilkan game yang penuh sensasi. Game yang dibuat hanya untuk memenuhi hasrat pemain.

Walhasil, mereka hanya mementingkan keuntungan yang diperoleh. Bagi produsen akan mengutamakan keuntungan materi, sedangkan bagi konsumen yang terpenting menyenangkan. Tidak peduli apakah game itu bermanfaat dari sisi pendidikan atau tidak.

Gaya berpikir seperti ini diperoleh dari pengaruh pemikiran liberal, pemahaman yang mengedepankan kebebasan. Setiap orang boleh beraktivitas dan memproduksi apa pun sesuai keinginannya.

Paham liberal hanya tumbuh di lingkungan yang tak mengenal agama. Bisa saja, mereka beragama, tapi tak menjadikan agama sebagai panduan utama hidupnya. Inilah yang membuat perilaku anak menjadi kebablasan.

Model lingkungan seperti ini umumnya ditemui di Barat. Serangan budaya Barat yang membawanya hingga sampai negeri ini. Pemikiran kebebasan ala Barat telah memengaruhi pemikiran banyak orang. Tak terkecuali anak-anak sebagai konsumen, penikmat game online. Mereka bagaikan kertas putih yang akan mengikuti si pemberi warna.

Baca juga:  Kemiskinan Menggurita, Kapitalisme Bukan Jalan Sejahtera

Jika pemikiran kebebasan dan menjadikan materi sebagai standar kebahagiaan sudah tertanam sejak kecil, tidak heran kalau mereka menganggap ibadah sebagai bahan candaan.

Menanamkan Pemahaman yang Benar

Tindakan “sujud free style” diakui bukanlah tindakan yang benar. Oleh karena itu, kita perlu meluruskan dan memperbaiki pemahaman mereka.

Sebagaimana telah dijelaskan, perilaku anak-anak tersebut karena adanya pengaruh pemikiran liberal., maka kita perlu menghilangkan pemikiran itu.

Mengikis liberalisme dari pemikiran anak-anak dapat dilakukan dengan memberikan pemahaman yang benar tentang Islam. Dengan memahami Islam, mereka akan mampu membedakan benar dan salah. Sehingga, mereka dapat memilah mana perilaku yang baik dan buruk.

Cara ini tentu tak bisa dilakukan seorang diri. Perlu dukungan dari seluruh elemen. Mulai dari keluarga, masyarakat, hingga negara.

Keluarga, berperan sebagai pendidik pertama. Orang tua berkewajiban mendidik anak dengan menanamkan akidah yang kuat. Mereka menunjukkan mana aktivitas yang boleh dilakukan dan tidak. Saat menonton tv, video, atau bermain game online, orang tua wajib mendampingi serta memberikan pengarahan mana yang benar dan salah.

Masyarakat, berkewajiban mengontrol pergaulan dan perilaku anak. Jika anak-anak melakukan kesalahan di luar rumah, masyarakat perlu mengingatkan. Lingkungan yang memiliki pemikiran dan perasaan Islam akan mudah menjaga dan memberikan suasana keimanan pada anak.

Baca juga:  Rezim Jokowi Berubah jadi Pembela Ekonomi Asing

Negara, memiliki kewajiban membentuk dan menjaga pendidikan anak. Melalui sistem pendidikan berbasis Islam, dapat membentuk anak berkepribadian Islam. Selain itu negara juga berkewajiban mengontrol tontonan berikut game yang lalu-lalang. Dengan begitu, pemikiran dan perilaku anak-anak akan terjaga. Tontonan atau game yang beredar tidak sekadar berorientasi materi, tapi juga memberikan edukasi dan tidak melanggar hukum syariat.

Sayangnya, peran tiga pilar ini tidak dapat berperan maksimal akibat budaya Barat telanjur merasuk ke pemikiran keluarga, masyarakat, maupun negara. Sistem pemerintahan yang bukan Islam telah menghalangi penerapan solusi Islam secara sempurna. [MNews/Gz]

Facebook Notice for EU! You need to login to view and post FB Comments!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.