Keluarga Moderat= Sakinah Mawaddah wa Rahmah?


Penulis: Ustazah Najmah Saiidah


MuslimahNews.com, FOKUS — Di tengah maraknya kasus kekerasan terhadap perempuan, terutama yang terjadi dalam rumah tangga, akhirnya muncul perbincangan tentang, “Seperti apa keluarga ideal itu?”

Sekitar bulan September 2020, muncul propaganda dari teks pidato pengukuhan guru besar Alimatul Qibtiyah (UIN Sunan Kalijaga) yang kental feminisme, bertajuk “Keluarga Ideal Adalah Keluarga Feminis”.

Ide feminisme adalah turunan dari ide sekuler kapitalisme. Maka bisa dipastikan, jika akarnya batil, cabang-cabangnya pun batil, menyimpang dari Islam.

Dilansir dari ibtimes.id, poster kampanye mengungkapkan narasi, ringkasnya: keluarga feminis mendorong suami dan istri bebas memilih peran terbaiknya, pilihan bebas tanpa paksaan. Sesuai ajaran Islam bahwa Allah hanya melihat kualitas ketakwaan. Keluarga feminis menganggap, baik suami atau istri, memiliki tanggung jawab atas dirinya sendiri, anak-anak, dan masyarakat.

Dalam keluarga feminis, suami dan istri harus saling menghormati, menyayangi, dan mendukung perkembangan diri dan membantu kesulitan masing-masing, dengan sepadan. Dalam keluarga feminis, jika terjadi bentrok kepentingan, suami dan istri menyelesaikannya dengan cara kompromi dan negosiasi, bukan siapa yang lebih mendominasi.

Kesimpulan mereka, hakikat keluarga feminis yaitu hubungan kesalingan (mubadalah) dan keluarga sakinah yang membahagiakan orang lain dan diri sendiri.

Beberapa bulan belakangan ini pun muncul konsep keluarga ideal yang diusung kalangan pendukung Islam moderat. Mereka menyebutnya dengan “Keluarga Moderat”.

Slamet Hasanudin, S.H.I. (Penyuluh Agama Islam Kab. Batang) menyatakan bahwa membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah (samawa) ibaratnya seperti membangun sebuah bangunan rumah. Sebuah rumah akan kuat apabila dibangun di atas fondasi yang kuat, ditopang oleh pilar yang kukuh, serta atap yang teduh dan mengayomi.

Bangunan keluarga sakinah mesti dibangun di atas tiga fondasi utama yakni muadalah (keadilan), mubadalah (kesalingan), dan muwazanah (keseimbangan). Ini bisa diwujudkan dalam keluarga moderat.

Selanjutnya, pada tataran kepatuhan pada batasan-batasan moderasi, keluarga yang moderat akan selalu menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan menjaga ketertiban umum dan lingkungan masyarakat secara luas. Implementasi ini sebagai bentuk eksistensi keluarga yang bisa mewujudkan konsep mashlahah. (jateng.kemenag.go.id)

Apa yang Dimaksud Keluarga Moderat?

Dalam tulisannya, Slamet Hasanudin menegaskan bahwa keluarga yang moderat berarti keluarga yang bisa memperlihatkan prinsip dan batasan dalam moderasi beragama. Keluarga tersebut menjalankan konsensus bersama, bahkan mulai awal dimulainya kehidupan rumah tangga melalui akad nikah yang prosesnya didaftarkan dan dicatatkan di KUA. Dengan demikian pernikahan yang tidak dicatatkan di KUA termasuk berkontribusi pada munculnya keluarga yang tidak moderat.

Melihat perkembangan zaman yang semakin maju, di mana konten-konten kekerasan yang mudah diakses di mana pun dan kapan pun melalui media digital, menjadikan moderasi beragama berbasis keluarga menjadi hal yang sangat penting. (jateng.kemenag.go.id)

Penulis buku Qira’ah Mubadalah, DR. K.H. Faqihuddin Abdul Kadir, menjelaskan keluarga moderat menjalankan prinsip dan nilai mubadalah, yang menjadi fondasi untuk orang-orang moderat dalam menjalankan hidup berelasi, baik relasi rumah tangga secara khusus maupun relasi sosial secara umum.

Baca juga:  Sekularisasi Atas Nama Deradikalisasi dan Moderasi

Inti dari mubadalah adalah bagaimana seseorang berelasi dengan orang lain untuk saling bekerja sama dalam mewujudkan kebaikan. “Yang satu tidak merendahkan yang lain, tetapi saling bekerja sama, saling menguatkan, dan menolong satu sama lain.”

Menurutnya, mubadalah merupakan nilai kedua belah pihak yang basisnya adalah kesetaraan. Jadi, ia memandang orang lain sebagaimana dirinya memandang diri sendiri sebagai manusia yang bermartabat, bukan sebagai orang lain.

Imam Nakhai dalam tulisannya di mubadalah[dot]id, menekankan bahwa dalam konteks keluarga, Rasulullah mencontohkan bagaimana menjadi laki-laki baru. Rasulullah mencontohkan bahwa relasi suami istri adalah relasi yang dibangun di atas dasar “kehendak berdua, keridaan berdua, dan musyawarah” dalam hal-hal rumah tangga sekecil apa pun. Rasulullah mencontohkan bahwa relasi suami istri bukan relasi yang menguasai, mengalahkan, dan merendahkan, melainkan relasi yang saling berbagi, melindungi, dan menghormati.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa Rasulullah mencontohkan bahwa pekerjaan rumah tangga (al-a’mal al-manziliyyah) bukanlah kewajiban istri, pun juga bukan kewajiban suami, melainkan kewajiban kedua belah pihak atas dasar keadilan dan keseimbangan (al-adalah wa al-muwazanah). Rasulullah menjahit sepatunya sendiri yang robek, mencuci bajunya, dan kerja rumah tangga lainnya.

Dalam konteks pengasuhan anak, Rasulullah juga mencontohkan bahwa mengasuh anak (menggendong, memandikan, bermain-main, mengantar sekolah, menidurkan, dst.) juga bukan hanya tugas istri, melainkan juga tugas suami. Lihat bagaimana dua cucu kesayangannya, Hasan dan Husein, sering kali bermain-main bersama Rasulullah bahkan naik ke punggung Rasulullah ketika beliau salat. (mubadalah.id, 12/04/2021).

Miitsaaq al-Usrah fii al-Islaam (Piagam Keluarga Islam) yang dikeluarkan oleh Komite Islam Internasional untuk Perempuan dan Anak (IICWC) disebutkan, dalam keluarga tidak ada persaingan atau kontradiksi antara suami dan istri. Keduanya saling terintegrasi, berkoordinasi, dan bekerja sama dalam menjalani bahtera rumah tangga.

Dari beberapa penjelasan beberapa tokoh ini, kita bisa menyimpulkan bahwa keluarga moderat adalah keluarga yang menjalankan prinsip nilai mubadalah dan konsep kesetaraan. Dengan konsep kesetaraan ini, mereka berpendapat akan dicapai tujuan berkeluarga yaitu sakinah, mawaddah, warahmah. Benarkah?

Akankah Terwujud Samawa dalam Keluarga Moderat?

Sepintas lalu, tampaknya konsep yang mereka tawarkan ini baik dan akan memberikan solusi terhadap permasalahan rumah tangga yang marak terjadi. Relasi suami istri dibangun berdasarkan kesetaraan, kehendak, dan keridaan berdua, saling berbagi, bahkan keduanya bisa saling bertukar peran. Tetapi, apakah benar demikian?

Secara fakta kita akan melihat, bagaimanapun dalam sebuah institusi mau tidak mau harus ada pemimpin. Demikian halnya sebuah keluarga, sebagai institusi terkecil dalam kehidupan bermasyarakat, maka bagaimanapun dibutuhkan adanya seorang pemimpin. Tentu saja pemimpin hanya satu di dalam satu institusi, demikian halnya dalam keluarga.

Baca juga:  Bunuh Diri Politik di Balik Pengarusan Istilah Berbau Moderasi Islam

Bagaimana mungkin bisa diwujudkan ketenteraman dan ketenangan jika ada dua kepemimpinan dalam sebuah keluarga? Sesungguhnya pernyataan ini sangat mudah untuk dipahami. Terlebih lagi Allah Swt. Al-Khalik Al-Mudabbir telah menjelaskan kepada kita,

“Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum perempuan, lantaran terhadap apa yang telah dilebihkan Allah sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan terhadap apa-apa yang telah mereka (laki-laki) nafkahkan dari harta-hartanya.” (QS An-Nisa: 34)

Sangat jelas bahwa konsep kesetaraan ini bertentangan dengan Islam. Selanjutnya, kita membahas perincian dari konsep keluarga moderat ini, di mana diungkapkan oleh Dr. Nyai Nur Rofiah bahwa pemerkosaan dalam perkawinan dapat dipahami sebagai hubungan seksual dalam ikatan perkawinan yang berlangsung tanpa persetujuan bersama, baik korban dalam kondisi sadar atau tidak, ataupun disertai ancaman dan kekerasan fisik maupun tidak. (mubadalah[dot]id)

Maka, hal itu pun telah sangat jelas bertentangan dengan hadis Rasulullah saw.,

“Apabila seorang suami mengajak istrinya ke ranjangnya, lalu istri enggan sehingga suami bermalam dalam keadaan marah, maka malaikat melaknat sang istri sampai pagi.” (HR Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu)

Dari beberapa konsep yang disodorkan oleh pengusung keluarga moderat ini, sesungguhnya sangat jelas terjadinya pertentangan dengan hukum-hukum Islam.

Selanjutnya, akankah terwujud keluarga yang samawa, yaitu keluarga yang penuh dengan ketenteraman, ketenangan, kenyamanan, serta kehidupan keluarga yang dipenuhi cinta dan kasih sayang, jika di dalamnya terdapat pertentangan terhadap hukum-hukum syariat? Kita semua telah menemukan jawabannya!

Keluarga Samawa Terwujud jika Sesuai Tuntunan Syariat

Sebagai risalah yang sempurna dan menyeluruh, Islam telah memberikan tuntunan tentang tujuan sebuah pernikahan yang harus dipahami kaum muslimin. Hal ini agar pernikahan dan kehidupan berkeluarga menjadi berkah, bernilai ibadah, dan memberikan ketenangan bagi suami istri beserta anggota keluarga lainnya, sehingga langgeng dan bahagia.

Menggapai rida Allah sebagai tujuan tertinggi adalah hal yang harus ada pada setiap muslim, termasuk ketika akan menikah. Rida Allah Swt. akan terwujud jika diniatkan ikhlas dan sesuai syariat.

Islam telah memberikan aturan yang khusus kepada suami dan istri untuk mengemban tanggung jawab kepemimpinan dalam rumah tangga. Suami sebagai kepala dan pemimpin keluarga, sedangkan istri sebagai pemimpin rumah suaminya sekaligus pemimpin bagi anak-anaknya.

Rasulullah saw. bersabda, sebagaimana dituturkan Ibn ’Umar,

“Setiap kalian adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang amir (kepala pemerintahan) adalah pemimpin rakyatnya, yang akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya; seorang laki-laki adalah pemimpin rumah tangga, yang akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya; seorang perempuan adalah pemimpin atas rumah tangga suaminya dan anak-anaknya yang akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya; seorang pelayan adalah pemimpin atas harta tuannya, yang akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Ingatlah setiap kalian adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR Bukhari-Muslim)

Baca juga:  Doa Lintas Agama: Bentuk Pluralisme yang Diharamkan!

Peran kepemimpinan dalam hadis ini sama sekali tidak menunjukkan adanya legitimasi atau superioritas derajat yang satu atas yang lain. Pemimpin negara tidak dianggap lebih mulia dari rakyatnya. Seorang laki-laki sebagai suami tidak pula dianggap lebih mulia dibandingkan dengan istri dan anak-anaknya.

Kepemimpinan adalah tanggung jawab dan amanat yang dibebankan oleh Allah Swt. untuk dilaksanakan, selanjutnya dipertanggungjawabkan sebagai sebuah amal ibadah.

Islam menetapkan peran dan fungsi suami adalah menjadi pemimpin rumah tangga yang memiliki kewajiban untuk menafkahi dan melindungi seluruh anggota keluarganya. Ia adalah nakhoda yang akan mengendalikan ke mana biduk akan diarahkan, dan kepemimpinan tersebut telah Allah amanahkan ke pundak suami.

[ الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ [النساء : ٣٤

“Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita.” (QS An-Nisaa[4]: 34)

Sebagai pemimpin keluarga, suami berkewajiban memberi nafkah yang layak kepada istri dan anak-anaknya. Ketentuan ini tampak dalam firman Allah Swt.,

“Kewajiban ayah memberikan makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang makruf.” (QS Al-Baqarah[2]: 233)

Suami yang baik dalam perspektif Islam adalah orang yang sungguh-sungguh dalam bekerja demi memenuhi kebutuhan nafkah keluarganya secara makruf. Selain itu, Allah memerintahkan kepada suami agar bergaul secara makruf dengan istrinya.

Firman Allah Swt., “Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang makruf.” (QS Al-Baqarah[2]: 228)

Berkaitan dengan ayat di atas, Ibnu Abbas menuturkan,

“Para istri berhak atas persahabatan dan pergaulan yang baik dari suami mereka, sebagaimana mereka wajib taat (kepada suaminya) dalam hal yang memang diwajibkan atas mereka terhadap suami mereka.”

Islam pun memberi kewajiban, peran, dan fungsi mulia bagi istri. Ia berkewajiban untuk menaati suaminya. Di samping kewajiban, taat pada suami juga merupakan karakter seorang istri salihah. Allah Swt. menegaskan hal tersebut dalam firman-Nya,

فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّه [النساء: 34

“Maka perempuan-perempuan yang saliha itu adalah mereka yang taat dan menjaga diri ketika suaminya tidak ada.” (QS an-Nisaa[4]:34)

Khatimah

Siapa pun akan berharap rumah tangga yang dibangunnya dipenuhi suasana sakinah, mawaddah, wa rahmah (tenang, tentram, dan penuh kasih sayang), dengan pasangan yang saleh atau salihah, suami atau istri yang menyejukkan mata dan jiwa, serta anak-anak yang cerdas dan berbakti. Hanya saja tidak lantas kita “bunuh diri” dengan menjadikan ide Islam moderat sebagai rujukan yang telah sangat jelas bertentangan dengan Islam.

Keluarga yang penuh ketenteraman dan keberkahan hanya akan terwujud jika aturan Islam—aturan yang datang dari Allah Al-Khalik al Mudabbir—diterapkan dan ditegakkan secara kafah dalam kehidupan. Wallahu a’lam bishshawwab. [MNews/Tim WAG]

Facebook Notice for EU! You need to login to view and post FB Comments!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *