Muhammad Muhadzdzab Hafaf, Syahid Melawan Rezim Qadzafi (1947—1983)


Penulis: M. Ali Dodiman*


MuslimahNews.com, KISAH INSPIRATIF — Sebelum penulis memaparkan sosok aktivis syariah dan Khilafah di Libya ini, alangkah baiknya sedikit mengenal sosok Qadzafi dan gambaran negeri Libya. Mengapa? Karena sebagian umat Islam telanjur menokohkannya tanpa tahu lebih dalam “rapor merahnya” dalam hal perlakuan terhadap para pejuang Islam dan lawan politiknya.

Libya adalah sebuah negeri Islam di benua Afrika yang kaya akan minyak. Pada 24 Desember 1951, Libya merdeka dipimpin Raja Idris. Berbicara tentang Libya, maka tak akan lepas dari sosok Mu’ammar Qadzafi.

Mu’ammar Qadzafi adalah penguasa otoriter Libya yang telah berkuasa sejak kudeta 1 September 1969. Nama lengkapnya yaitu Mu’ammar Muhammad Abu Minyar al-Qadzafi. Dia lahir di Sert, Tripolitania, pada 19 Juni 1942.

Mu’ammar merupakan anak tunggal dari orang tuanya yang bernama Abu Minyar dan Aisya al-Qadzafi, berasal dari suku Qadzafi yang bermukim di padang pasir. Keduanya sangat bangga dengan kesukuannya, sebab merasa masih mempunyai pertalian darah dengan Nabi Muhammad saw..

Foto: wikipedia.org — Bahasa Arab: معمر القذافي

Mu’ammar Qadzafi adalah anak termuda dari sebuah keluarga miskin Badawi yang nomaden di daerah gurun pasir di Sirte. Ibunya adalah seorang Yahudi yang mulai memeluk agama Islam sejak usia sembilan tahun.

Mu’ammar Qadzafi dianggap sebagai pemikir yang menggabungkan antara sosialisme dan Islam. Seperti dalam sistem politiknya di Libya, ia membuat sistemnya sendiri, yang diklaimnya sebagai gabungan dari sosialisme dan Islam, yang disebut oleh Qadzafi sebagai Teori Internasional Ketiga (The Third International Theory).

Selain itu, pada tahun 1977, ia memperkenalkan sistem kenegaraan yang disebutnya sistem Jamahiriya atau Negara Rakyat, di mana kekuasaan tertinggi berada pada sebuah “komite rakyat” yang jumlah anggotanya mencapai ribuan.

Mu’ammar Qadzafi mengklaim dirinya sebagai Pemimpin Revolusi. Selama tahun 1970-an sampai 80-an, dia menggunakan dana minyak untuk mempromosikan ideologinya ke luar Libya.

Dia juga banyak dituduh membantu tindakan-tindakan terorisme dan subversi di luar negeri. Untuk menilai Mu’ammar Qadzafi sebagai penganut ideologi sosialisme, tampak jelas dalam “kitab suci”-nya,  yakni Buku Hijau (Green Book).

The Green Book by Muammar Al Gathafi — Foto: amazon.com

Namun demikian, sama seperti pemimpin-pemimpin sosialis Arab lainnya, Qadzafi memanipulasi Islam untuk mendapat dukungan dari rakyat Libya yang mayoritas muslim.

Memang, banyak retorika Qadzafi yang sepertinya sejalan dengan Islam. Namun demikian, Buku Hijau-nya membuktikan bahwa dia tidak lebih daripada seorang sosialis. Dia berusaha menggabung-gabungkan ide Islam dengan sosialisme, akan tetapi hasilnya adalah tetap saja ide sosialisme yang notabene bertentangan dengan Islam.

Mu’ammar Qadzafi banyak melakukan pembantaian terhadap aktivis Islam yang dia anggap mengancam kedudukannya. Para aktivis Islam yang syahid karena kezaliman rezim Qadzafi tersebut dapat Anda baca antara lain di situs fathifadhli[dot]com [sudah tidak aktif. Situs tersebut milik seorang penulis Libya bernama Dr. Fathi Fadhli, ed.]

Nah, di dalam situs inilah penulis menemukan kisah sosok Asy-Syahid Muhammad Muhadzdzab Hafaf, salah seorang aktivis dakwah syariah dan Khilafah di Libya.

Kelahiran dan Riwayat Pendidikan Asy-Syahid

Asy-Syahid Muhammad Muhadzdzab Hafaf dilahirkan di desa yang disebut Ghuryan (Libya) pada 1947. Beliau menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah, di desa yang sama.

Beliau mendapatkan ijazah sekolah menengah dan ijazah sekolah menengah umum (SMU) di Ghuryan pada tahun 1968. Kemudian beliau bergabung dengan jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Libya di Tripoli pada tahun 1971.

Keluarga Asy-Syahid terdiri dari ayah, ibu, serta delapan anak (tiga laki-laki dan lima anak perempuan), beliau adalah anak terbesar. Beliau dianggap sebagai kepala keluarga.

Keluarga beliau hidup di bawah garis kemiskinan. Sebagaimana diketahui, keluarga yang mulia ini sangat komitmen terhadap Kitabullah dan Sunah Nabi saw.. Bahkan, sejak masa kecilnya, telah tampak komitmen keagamaan dalam diri “Muhammad”.

Meskipun keluarganya tidak dapat berusaha maksimal dalam hal pendidikan, namun Asy-Syahid memiliki kelebihan dalam studinya. Beliau membantu orang lain dalam mengajarkan pelajaran dan mengerjakan tugas mereka.

Asy-Syahid memberikan kajian mingguan dan mengatur berbagai dialog tanya jawab dengan orang-orang dari kampung halamannya, terutama dari kalangan pelajar, guru, dan tokoh.

Sosok dan Kepribadian Asy-Syahid Muhammad Hafaf

Asy-Syahid orangnya tinggi, kulitnya sawo matang, bertingkah laku sopan dan santun (sesuai namanya Muhadzdzab), rajin, tekun, elegan, tawaduk, dan mulutnya senantiasa dihiasi senyuman.

Beliau orang yang berani dan lantang, terutama dalam hal yang menuntut sikap demikian. Beliau keras kepala dalam hal kebenaran, tidak menjilat, tanpa kompromi, dan tidak takut terhadap celaan dari orang-orang yang suka mencela. Oleh karena itu, Muammar Qadzafi benar-benar benci dan dendam.

“Pemikiran Islam Asy-Syahid telah menyatu antara perkataan dan perbuatannya. Beliau salat berjemaah bersama masyarakat, menyelenggarakan halqah-halqah Al-Qur’an dan kajian mingguan,” demikian ungkap sahabat Asy-Syahid kepada Dr. Fathi Fadhli.

Dr. Fathi Fadhli has been living in exile from Libya for 30 years, but plans to return after the apparent downfall of dictator Moammar Gadhafi. (Credit: CBS). 2011

Berdasar kesaksian dari semua orang, Asy-Syahid adalah seorang yang baik, ramah, komitmen terhadap Kitabullah dan Sunah Nabi kita yang mulia. Beliau berkomitmen terhadap nilai-nilai Islam, baik dalam pikiran, keimanan, maupun tingkah laku.

Beliau orang yang murah hati dan bersih. Beliau juga aktif memberikan kuliah, bergabung dalam lokakarya dan seminar, serta memberikan kontribusi pada banyak aspek, baik tsaqafah, sosial, maupun intelektual. Selain sifat yang baik itu semua, beliau juga unggul dalam studinya.

Aktivitas Pergerakan Asy-Syahid

Beliau banyak mengenal gerakan Islam. Pernah bergabung dengan Ikhwanul Muslimin, tapi tidak berlangsung lama.

Beliau pernah menggagas untuk mendirikan organisasi dengan nama Hizbul Wathan ‘Partai Tanah Air’, tapi ide tersebut beliau simpan setelah ia merasa sulit untuk mengembangkan program secara terpadu bagi organisasi.

Terakhir, beliau bergabung dengan dakwah pengusung syariah dan Khilafah hingga syahid di tiang gantungan.

Asy-Syahid memiliki hubungan yang baik dengan semua kalangan, baik intelektual, politikus, maupun para pemimpin Islam; ketika di dalam maupun di luar penjara.

“Saya mengetahui Asy-Syahid Muhammad Muhadzdzab Hafaf sekitar tahun 1972—1973-an. Beliau beraktivitas bersama kelompok itu—di Libya—dalam rangka melangsungkan kehidupan Islam dengan menegakkan Khilafah Rasyidah. Kemudian, saya lebih mengenal beliau setelah tagut Qadzafi melakukan kejahatan terhadap aktivis kelompok itu. Kami sama-sama ditahan di penjara militer di Tripoli Barat (Libya). Kemudian kami dipindahkan ke penjara sipil, setelah sebelumnya selama tiga bulan mengalami siksaan yang biadab dari Qadzafi—musuh Allah, Rasul-Nya, dan kaum mukminin—,” demikian kata salah seorang pemuda yang pernah bersama-sama dengan Asy-Syahid Muhammad Muhadzdzab Hafaf, sebagaimana dikutip dalam majalah Al-Waie.

Asy-Syahid bergabung dalam barisan dakwah ini sejak masih muda. Selama beliau menjalani kuliahnya di universitas, semangatnya berkobar untuk beraktivitas dakwah melangsungkan kehidupan Islam dengan menegakkan Khilafah Rasyidah. Asy-Syahid tidak takut—di jalan Allah—terhadap celaan orang-orang yang suka mencela.

Baca juga:  [News] Ustaz MIY: Memandang 2021, Otoritarianisme Makin Lengkap

Peristiwa Berdarah

Beliau ditangkap pada April 1973, yaitu pada tahun-tahun akhir perkuliahannya (tahun kelima). Langsung terjadi setelah pidatonya yang dikenal sebagai “Khithab az-Zuwarah” yang mengakibatkan gelombang penangkapan kaum intelektual, politisi, dan orang-orang pada umumnya berpendidikan, dan juga berdampak pada penyesuaian budaya asing, yang disebut sebagai “Revolusi Kebudayaan”.

Revolusi itu menjelma dalam bentuk pelarangan, pembakaran, penyitaan buku-buku dan perpustakaan, dan larangan berpikir kreatif. Selain itu, diumumkannya hukum adat dan berbagai kekacauan pun dialami Libya hingga hari ini.

Syekh Dr. Fathi Fadhli (dalam situsnya tadi) menuturkan mengenai cuplikan-cuplikan peristiwa yang dialami Asy-Syahid Muhammad Muhadzdzab Hafaf. Berikut ini adalah petikannya:

“Sesungguhnya, adegan berdarah yang akan kami bicarakan, mencerminkan apa yang terjadi pada rezim sadis ini, yang menunjukkan kebencian mereka kepada rakyat, negeri, dan risalah dari Nabi Muhammad saw..

Rezim Libya telah memaksa mahasiswa, dosen, dan karyawan Universitas Libya, pelajar sekolah menengah umum dan sekolah menengah pertama, untuk berkumpul di halaman Fakultas Teknik, Tripoli, tanpa mengumumkan tentang sebab yang mendorong pengumpulan tersebut.

Maka, para mahasiswa pun berusaha untuk menerka-nerka kejutan apa yang menanti mereka. Mereka saling bertanya tentang apa yang sedang terjadi di antara mereka:

Mengapa dan dalam rangka apa pengumpulan ini? Apakah dalam rangka untuk menghormati para dosen universitas dan mahasiswa? Atau untuk peresmian perguruan tinggi, laboratorium, dan perpustakaan baru? Atau untuk menghormati tamu dari Pusat Kebudayaan Dunia (Al-Ausath ats-Tsaqafiyatu al-‘Alamiyatu)?

Atau untuk merayakan kemenangan “Revolusi” sebagai hadiah ilmiah? Atau mungkin hanya untuk menonton pidato dari sang “Pemimpin Revolusi”, yang mana ia akan berbicara tentang strategi pendidikan dan prestasi-prestasi ilmiah besar yang dilakukan oleh sistem Al-Jamahiriyyah ‘Negara Rakyat’ yang baru?

Di tengah kerumunan orang-orang yang sederhana dan kepolosan orang-orang yang tidak memahami doktrin revolusioner, tiang gantungan didirikan di tengah lapangan.

Sebuah mobil berhenti di dekat halaman Fakultas Teknik, lalu turun darinya salah seorang warga negara Libya, dikelilingi para kacung; menendang, membentak, menampar, kepada siapa pun yang dilewatinya, sebagai bentuk dari ritus budaya ilmiah dan revolusioner.

Para civitas academica terkejut dan tercengang, kecuali para kacung yang telah mengikat korban ke tiang gantungan, yang dengan senang hati, semangat, dan penuh dedikasi.

Lalu, dilakukanlah penggantungan terhadap seorang warga negara Libya “Muhammad Muhadzdzab Hafaf” di depan kumpulan besar para akademisi. Bukan hanya itu, bahkan salah seorang pakar “Revolusi Kebudayaan Hijau”, mengayunkan tubuh korban sambil berteriak, “Ini adalah antek! Ini antek!”

Sebab Perseteruan dengan Qadzafi

Asy-Syahid bentrok dengan seorang Mayor Basyir Hawariy dan Mayor Umar al-Mahisyi, anggota Dewan Komando Revolusi, dalam sebuah seminar yang dikenal sebagai “Simposium Pemikiran Revolusioner ” diadakan pada Mei 1970.

Asy-Syahid juga bentrok dengan Mu’ammar Qadzafi. Sudut pandang Asy-Syahid dalam dialog ini lebih dalam dan lebih objektif daripada yang diajukan, baik oleh Qadzafi maupun oleh anggota Dewan Komando Revolusi.

Bahkan, sudut pandang Asy-Syahid muncul dari kecerdasan dan pandangan ke depan, serta pemahaman mendalam terhadap arena politik di Libya dan dunia Islam. Maka, mulailah sejak saat itu, kedua pihak—Dewan Komando Revolusi dan Mu’ammar Qadzafi—benci dan iri hati terhadap sosok Asy-Syahid.

Foto: antaranews.com

Asy-Syahid Muhammad Hafaf dan rekan-rekannya ditangkap dan dipenjarakan di Al-Hishan al-Aswad dengan tuduhan “propaganda menentang revolusi” dan “percobaan penggulingan pemerintah.”

Asy-Syahid dan rekan-rekannya ke ruang sidang pada 1 Juli 1974. Beberapa orang dibebaskan, kemudian sebagian yang lain lagi, termasuk Asy-Syahid “Muhammad”.

Kemudian mereka semua dihadapkan kembali ke Pengadilan Nasional (Mahkamah asy-Sya’bi) pada tahun 1977. Mereka divonis penjara selama lima belas tahun.

Muammar Qadzafi marah dan berkata, “Mereka seharusnya dihukum hingga menghabiskan hidupnya di penjara seumur hidup atau mati.” Maka, vonis pun berubah oleh kekuatan penguasa menjadi seumur hidup.

Terakhir, keputusan hukum atas Asy-Syahid adalah hukuman mati (gantung). Asy-Syahid pun bentrok dengan Mu’ammar Qadzafi di penjara terkait adanya sistem tawar-menawar dalam memvonis, yang mana hal tersebut telah meninggalkan prinsip-prinsip mereka sendiri.

Secara eksplisit, Asy-Syahid jelas dan tegas dalam menyampaikan ide-idenya dan prinsip-prinsipnya untuk membela dan menanggapi Mu’ammar, tanpa ragu-ragu dan bimbang sampai beliau berada di dalam penjara.

Kezaliman Rezim Qadzafi Vs Keteguhan Asy-Syahid

Seperti yang telah disebutkan, pidatonya di Zuwarah telah mengakibatkan dikembalikannya beliau ke penjara hingga mengalami penyiksaan yang sadis.

Demikian pula, bagaimana peradilan Libya yang bisa dikendalikan oleh penguasa otoriter Qadzafi, sehingga keputusan pengadilan bisa berubah-ubah; dari dibebaskan, berubah menjadi penjara selama lima belas tahun, kemudian berubah kembali menjadi penjara seumur hidup, dan terakhir diputuskan hukuman mati (di tiang gantungan).

Hukuman gantung atas Asy-Syahid dilaksanakan di halaman Fakultas Teknik, pada suatu peristiwa berdarah. Asy-Syahid dieksekusi tidak jauh dari perpustakaan universitas, ruang kelas, dan laboratorium, tempat ia kuliah.

Sementara, mahasiswa dan mahasiswi dari universitas dan siswa sekolah tinggi menyaksikan adegan ini. Tergambar di wajah mereka, ekspresi tak berdosa, kebingungan, tidak percaya, juga marah.

Hukuman gantung atas Asy-Syahid dilaksanakan setelah sepuluh tahun dari intimidasi, penahanan, dan pengasingan, agar ia meninggalkan prinsip-prinsip (agama)nya. Akan tetapi, iman, tekad, dan kehendak Asy-Syahid di luar perkiraan, melebihi ambisi para tiran.

Baca juga:  Syekh Yusuf Ahmad Mahmud as-Sabatin (Abu Izz), Imam Keluarga Pengemban Dakwah (1928—2005)

Siksaan, godaan, dan ancaman tidak memalingkan tekad “Muhammad”. Beliau dan teman-temannya berkomitmen terhadap prinsip-prinsip agama mereka.

Dalam kesehariannya, Asy-Syahid Muhammad Muhadzdzab Hafaf tidak membunuh seorang pun, tidak mencuri, tidak membawa pedang, belati, atau pistol.

Asy-Syahid tuga tidak membakar masjid-masjid, tidak meledakkan pasar, tidak pula meracuni sumur, tidak berbohong, tidak bergabung dengan intelijen asing, tidak menzalimi pekerja, tidak menghisap darah orang-orang, dan tidak menganiaya kerah biru.

Asy-Syahid pun tidak ambil bagian dalam sebuah kudeta melawan revolusi. Jika Asy-Syahid tidak melakukan segala kejahatan ini, jadi mengapa beliau menjalani hukuman sesadis ini?

Media-Media yang Memaparkan Kezaliman Qadzafi

Dalam majalah Al-Audah yang diterbitkan oleh Wihdatu asy-Syahid cabang Persatuan Umum Mahasiswa Libya, dikatakan,

“Asy-Syahid Muhamad Hafaf bisa saja keluar dari penjara ketika ada tawaran dengan menjual martabatnya. Tetapi beliau memilih jalan para syuhada dan orang-orang saleh.

Beberapa dari Anda mungkin masih ingat suatu situasi di mana sejarah mencatat Asy-Syahid Muhammad Hafaf, suatu hari pernah menjanjikan untuk menghentikan penghambaan terhadap martabat, kebanggaan, dan keagungan.

Ketika itu, Mu’ammar “Sang Tiran” mengancam akan memenjarakannya seumur hidup. Namun, apa yang dikatakan Asy-Syahid yang bergema kuat dengan penuh ketulusan dan keimanan? “Hal itu merupakan kebanggaan dan kehormatan tersendiri bagi saya!”

Dalam rangka menghormati Asy-Syahid, Persatuan Umum Mahasiswa Libya mengadakan konferensi mahasiswa yang ketiga pada bulan Zulkaidah 1403 (Agustus 1983), di bawah tajuk “Konferensi Muhammad Muhadzdzab Hafaf: Untuk Esok yang Lebih Baik.”

Majalah Al-Muslim juga memuat sebuah artikel berjudul “Al-Masyhad ar-Rahiib wa Al-Mujrimu al-‘Atiid (Adegan Mengerikan dan Penjahat yang Akan Datang)” yang memaparkan kisah sebagai berikut:

“Ribuan mahasiswa, dosen-dosen, dan karyawan universitas dikumpulkan, ditambah siswa-siswi sekolah di Tripoli dan sekitarnya, di halaman besar Universitas  Tripoli.

Pada awalnya, orang-orang tidak tahu alasan pengumpulan ini, sebagian orang menduga bahwa Qadzafi akan memperdengarkan sebuah pidato yang tidak menyenangkan.

Tetapi mereka terkejut, sekitar jam setengah sepuluh pagi itu, dengan tergesa-gesa, didirikan tiang gantungan. Mobil Qadzafi mengiringi dan mengikuti seorang laki-laki dari penjara.

Dia (Asy-Syahid) digantung di hadapan semua orang. Salah seorang pengikut Qadzafi yang panggilannya “Nashrul Mabruk” menarik kaki yang tergantung dengan gembira.

Peristiwa tersebut membuat orang-orang tercengang, sedih, dan mual (atas tindakan biadab tersebut). Sebagian siswa kembali ke keluarga mereka dalam keadaan sangat trauma.

Orang-orang pun bertanya, “Siapa laki-laki yang digantung itu? Apa kejahatannya yang menghukumnya dengan digantung?”

Kemudian datanglah jawaban, “Dia adalah seorang pemuda yang suci, pemaaf, orang yang wara’,  (yakni) Muhammad Muhadzdzab Hafaf.”

Ia ditangkap bukan untuk sesuatu yang dilakukan, tetapi karena ia mengemban pemikiran Islam. Dia seorang mahasiswa akhir dari Fakultas Teknik.

Dia dikirim ke penjara tanpa diadili selama beberapa tahun. Mahkamah Peradilan sempat membebaskannya karena tidak ada cukup bukti. Bagaimana ada bukti, toh pada dasarnya dia tidak melakukan kejahatan sama sekali?”

Selanjutnya majalah Al-Muslim menuturkan proses awal penangkapan Asy-Syahid:

“Muhammad Muhadzdzab Hafaf melakukan perjalanan ke kota asalnya, Gharyan, dan ketika tiba di rumah, di sana beliau menjumpai orang yang akan menangkapnya dan membawa kembali ke penjara.

Setelah itu dialihkan ke penjara yang lain. Melalui pengadilan militer, beliau dijatuhi hukuman penjara selama lima belas tahun.

Di sana, beliau terus dizalimi. Sampai datangnya orang yang mengambil beliau untuk digantung. Hukum gantung yang tanpa dasar hukum, (diputuskan) melalui pengadilan yang konyol.

Sesungguhnya, kesalahan dan kejahatan Muhammad Hafaf adalah bahwa ia mengemban pemikiran-pemikiran Islam. Beliau tidak mencuri, tidak berzina, tidak membegal, tidak melawan Allah dan Rasul-Nya, tidak berbuat kerusakan di muka bumi.

Beliau digantung karena berkata, “Rabb-ku adalah Allah.” Kata tersebutlah yang telah membinasakan para tiran dan Fir’aun-Fir’aun, karena lisan para nabi, wali, dan orang-orang saleh.”

Al-Wihdatu asy-Syahid juga menambahkan,

“Para kacung tiran menggelar tiang gantungan di halaman Fakultas Teknik di Universitas Tripoli. Kemudian mereka menghadirkan salah satu dari orang-orang muda terbaik dari Libya, yaitu tuan “Muhammad Muhadzdzab Hafaf”.

Setelah itu, mereka melakukan kejahatan yang paling keji, kejahatan hina, Asy-Syahid digantung di tiang gantungan, bukan karena suatu dosa, tetapi karena ia berkata, ‘Sesungguhnya Rabb-ku adalah Allah.’

Kejahatan mereka tidak cukup sampai di sini, akan tetapi mereka mengambil tubuh Asy-Syahid yang suci dan memukuli jasadnya yang tergantung. Mereka sengaja memperlihatkan kejahatan yang keji tersebut di hadapan seluruh mahasiswa. Mereka mendapati setelah perlakukan keji tersebut, sebagian mahasiswi tidak tahan melihatnya. Di suatu tempat yang dekat dengan tempat kejadian, mereka berusaha memukuli para mahasiswi tadi.”

Respons Organisasi

Setelah kejadian keji tersebut, Organisasi dakwah—yang Asy-Syahid bergabung di dalamnya—mengeluarkan pengumuman dan menyebarkannya kepada kaum muslimin. Pengumuman tersebut disebarkan dalam bentuk nasyrah yang isinya sebagai berikut:

Bismillahirrahmaanirrahiim

Demi langit yang mempunyai gugusan bintang.

Dan hari yang dijanjikan.

Dan yang menyaksikan dan yang disaksikan.

Binasalah orang-orang yang membuat parit.

Yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar.

Ketika mereka duduk di sekitarnya.

Sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang  yang beriman.

Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa dan Maha Terpuji.

Yang Mempunyai Kerajaan langit dan bumi, dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.

Sesungguhnya, orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang yang mukmin laki-laki dan perempuan, kemudian mereka tidak bertobat, maka bagi mereka azab yang jahanam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar (lihat: QS Al-Buruj: 1—10)

Ya, demi Allah, tidaklah musuh Allah, musuh Rasul-Nya, musuh Islam, dan musuh kaum muslimin—yakni Qadzafi—, membenci terhadap syabab (pemuda) kami, kecuali dikarenakan mereka beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa dan Maha Terpuji, beraktivitas untuk mengembalikan hukum Allah di muka bumi, mengemban Islam sebagai risalah ke seluruh alam dengan metode menegakkan Khilafah.

Baca juga:  [News] Ustaz MIY: Memandang 2021, Otoritarianisme Makin Lengkap

Sesungguhnya, kami pada bulan yang utama–bulan Ramadan mubarak, bulan Al-Qur’an, bulan pengorbanan dan kesungguhan, bulan di mana gugurnya para syuhada yang pertama dari kalangan Sahabat yang mulia pada Perang Badar al-Kubra ini mengumumkan kepada umat Islam tentang syahidnya 13 orang pemuda, dari Libya, Yordania, dan Palestina, di tangan tagut yang zalim dan gemar menumpahkan darah, yakni Qadzafi di Libya.

Rasulullah saw. bersabda, “Penghulu para syuhada adalah Hamzah dan seorang laki-laki yang berdiri  di depan penguasa yang jahat, kemudian dia memerintahnya (untuk berbuat makruf) dan melarangnya (dari berbuat mungkar), maka (penguasa itu) membunuhnya.”

Para syuhada tersebut adalah: Nashir Siris, ‘Ali Ahmad ‘Audlallah, Badi’ Hasan Badr, Nimr Salim ‘Isa, ‘Abdullah Hamudah, ‘Abdullah al-Musalaatiy, Al Kurdiy, Shalih An-Nuwal, keponakannya, Muhammad Muhadzdzaf Hafaf.

Telah terjadi penggantungan dan pembunuhan mereka di sekolah-sekolah dan universitas-universitas, di hadapan guru-guru perempuan, murid-murid sekolah, dan di depan keluarga serta anak-anak mereka.

Salah seorang dari mereka ada yang telah diturunkan (dari tiang gantungan) dan masih terlihat tanda-tanda masih hidup setelah penggantungan dilakukan, maka (para eksekutor) untuk kedua kali kembali menggantungnya. Kemudian diturunkan dan diikat dan dimasukkan ke belakang mobil. Disaksikan oleh keluarga dan anak-anaknya, serta para guru wanita dan murid-murid sekolah.

Adapun tiga orang lainnya, mereka adalah: Majif al-Quds ad-Duwaik, Muhammad Bayumi, dan Al-Faaquuri. Mereka telah dibunuh dengan keji oleh para intel di Tharablus (Tripoli).

“Kejahatan” ketiga belas orang pemuda itu adalah karena mereka dari kelompok ini dan karena mereka mengemban Islam dan beraktivitas untuk menegakkan Khilafah Islamiah.

 Menjadi pengemban dakwah Islam saat ini dan beraktivitas mengembalikan hukum Allah di muka bumi merupakan kejahatan bagi para penguasa muslim yang zalim, fasik, dan jahat.

‘Abdullah Al-Musalaati telah divonis penjara selama 20 tahun sejak tahun 1973, telah menjalani di penjara selama sepuluh tahun. Kemudian mereka menghadapkan ke pengadilan dengan tuduhan bahwa dia telah mengumpulkan (merekrut) orang-orang (narapidana lainnya) di dalam penjara  ke dalam kelompok dakwah ini.

Maka, vonis pengadilan atasnya adalah diubah menjadi hukuman gantung. Qadzafi menuntut mereka dengan tuduhan beraktivitas untuk menumbangkan sistem pemerintahan di Libya.

Sesungguhnya, yang mendorong musuh Allah (Qadzafi) melakukan kejahatannya yang keji ini dan pembantaiannya yang mengerikan adalah karena kedengkiannya kepada kelompok ini dikarenakan telah mengirim sebagian pemudanya sebagai utusan kepada Qadzafi.

Para syabab berdiskusi dengan Qadzafi terkait pernyataannya yang mengingkari kehujahan hadis-hadis Rasulullah saw.. Para pemuda ini pun duduk berdebat/berdiskusi dengan Qadzafi selama empat jam.

Para utusan ini menjelaskan bahwa Hadis Rasulullah saw. sebagaimana Al-Qur’an, adalah dalil-dalil syar’i yang wajib (bagi kaum muslimin) untuk mengambilnya. Demikian pula, para utusan kelompok dakwah (hizb) ini, menjelaskan bahwa mengingkari kehujahan hadis Rasulullah saw. adalah kufur.

Kami telah membawakan kepada para utusan catatan tentang hal itu. Kami juga telah mencetak dan menyebarkan catatan tersebut kepada kaum muslimin di dunia Islam.

Musuh Allah dan Rasul-Nya, Qadzafi, marah dan benar-benar kalap dengan hal tersebut. Kebenciannya yang sangat terhadap kelompok kami inilah yang telah mendorongnya melakukan penumpahan darah yang suci dari para pemuda tersebut.

Kami memohon kepada Allah agar menjadikan darah mereka darah syahid dan menambahkan kebaikan kepada Islam dan kaum muslimin.

Semoga Allah meninggikan derajat mereka dan menjadikan mereka bersama orang-orang yang telah Allah beri nikmat atas mereka dari kalangan para nabi, orang-orang yang shiddiq, para syuhada, dan orang-orang saleh; membaguskan kedudukan mereka dan memberikan balasan/pahala yang besar kepada kita dan keluarga mereka.

Semoga Allah memberikan kepada kita dan (keluarga) mereka kesabaran, sebagaimana juga kami memohon kepada Allah Swt. agar menjadikan darah mereka menjadi kebahagiaan dan kebaikan bagi Islam dan kaum muslimin, serta menjadi berita gembira akan adanya pertolongan Allah, [berupa] tegaknya Khilafah dan terbitnya cahaya Islam, dan kembalinya Islam dalam realitas kehidupan.

Sesungguhnya, kami para pemuda, mengatakan kepada Qadzafi–musuh Allah, Rasul-Nya dan kaum muslimin—, “Sesungguhnya darah mereka yang suci akan menjadi laknat selamanya atasmu. Sesungguhnya penumpahanmu terhadap darah yang suci bersih ini tidak akan pernah menambah bagi kami kecuali menjadi azam dan kebulatan tekad kami; dan menambah keimanan kami kepada Allah dan percaya akan dekatnya pertolongan-Nya. Pada saat itu, orang-orang zalim akan mengetahui tempat kembali mereka.”

Kepada Allah kami tunduk dan memohon agar menurunkan laknat-Nya kepada musuh Allah, Qadzafi. Merenggutnya dengan Kekuasaan dan Keperkasaan-Nya, dan membalaskan bagi kami melalui tangan kami*.

Dan semoga Allah menjadikan hal itu dekat, dengan tegaknya Daulah Khilafah. Allah berkuasa atas segala sesuatu, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.”

[Bulan Ramadan Mubarak, 1403 H/1983 M]

*Allah Swt. kemudian membalas kejahatan Qadzafi pada 2011 lalu, dalam keadaan terhina, meskipun tidak diadili dalam peradilan Khilafah yang dicita-citakan para pemuda.

Demikianlah pengumuman yang disebarkan oleh organisasi tempatnya bergabung, sebagai respons atas tindakan biadab Qadzafi terhadap para aktivisnya.

Kebiadabannya sudah tidak lagi memiliki sedikit pun rasa kemanusiaan. Pembantaian yang dilakukan pun dipaksakan agar disaksikan oleh keluarga dan anak-anaknya, serta guru-guru perempuan dan murid-murid sekolah, yang tentunya akan menyebabkan trauma yang berkepanjangan kepada mereka.

Semoga Allah Swt. menempatkan Asy-Syahid Muhammad Muhadzdzab Hafaf dan teman-temannya sesama pejuang Islam rahimakumullah, di surga-Nya bersama para nabi, orang-orang yang benar (shiddiqiin), para syuhada, dan orang-orang saleh.

Adapun Qadzafi serta para pendukungnya, telah Allah Swt. berikan balasan setimpal atas kejahatannya di dunia. Sesungguhnya, pada suatu hari kelak di akhirat, mereka akan terbelalak atas balasan yang Allah Swt. berikan atas kejahatan mereka. [MNews/SNA-Juan]

*Penulis buku Memoar Pejuang Syariah dan Khilafah, Al-Azhar Fresh Zone Publishing, 2012

Tinggalkan Balasan